Ramadhan Sepanjang Tahun

Ramadhan memang hanya datang satu kali dalam satu tahun.  Lamanya pun hanya satu bulan.  Bulan Ramadhan boleh saja berakhir ketika datang tanggal satu Syawal. Namun, semestinya amal-amal baik yang sudah biasa dilakukan pada bulan Ramadhan tidak lantas berhenti.  Ramadhan adalah bulan penyucian jiwa, bulan untuk menempa diri untuk meraih takwa.  Ibarat fase kepompong pada perkembangan seekor ulat menjadi kupu-kupu.  Ketika menjadi kepompong tampak diam, lemah dan tidak bergerak.  Tatkala masa kepompong selesai, maka segera akan keluar kupu-kupu nan cantik yang akan menarik hati siapapun yang melihatnya.  Artinya, apa yang dialami ulat semasa menjadi kepompong kadang tidak mengenakkan dan tidak menarik.  Hasilnya baru terlihat ketika sudah menjadi kupu-kupu.  Begitupun aktivitas Ramadhan, mungkin saja terasa berat dan banyak godaan.  Namun hakikatnya, di balik semua yang terasa berat itu ada keberkahan dan pahala yang tidak ternilai besarnya.  Mestinya bagi orang-orang yang berhasil melewati Ramadhan akan merasakan hasilnya  sampai kapan pun. Dia akan memperoleh energi baru untuk menjalani hari-hari selama 11 bulan ke depan.  Energi tersebut merupakan hasil tempaan amaliah Ramadhan yang dilaksanakan selama sebulan penuh.  Dengan kata lain, amalan-amalan Ramadhan akan terlihat hasilnya pasca Ramadhan sebagai wujud ketakwaan.

 

 

 

 

Kedua,  al-‘amal bi at-tanzil; Melaksanakan ketentuan hukum yang tertera dalam wahyu Allah yang telah diturunkan baik yang ada dalam al-Quran maupun yang terdapat dalam hadis Rasulullah saw.  Ramadhan adalah bulan turunnya al-Quran (lihat: QS al-Baqarah [2]: 185). Firman Allah SWT dalam ayat ini jelas sekali menyatakan bahwa al-Quran yang diturunkan pada bulan Ramadhan merupakan petunjuk bagi manusia.  Karena itu, bulan ini merupakan momen yang tepat untuk membaca, mempelajari, mendalami maksud dan kandungannya, melaksanakan seruannya, serta mengajarkan dan mendakwahkannya di tengah-tengah manusia.  Dengan begitu fungsi al-Quran sebagai petunjuk dan pedoman hidup manusia betul-betul terealisasi dalam kehidupan nyata, dan tidak berhenti pada tataran pengetahuan.  Pada bulan Ramadhan kita dididik untuk senantiasa berpegang pada hukum-hukum yang diturunkan Allah SWT.  Shaum, shalat fardhu, shalat tarawih, infak dan zakat serta amal-amal lainnya senantiasa akan disesuaikan dengan aturan-Nya supaya semua amalan Ramadhan tersebut diterima Allah dan mendapat balasan pahala.  Selepas Ramadhan keterikatan pada al-Quran dan wahyu Allah yang ada dalam hadis ini akan terus dipelihara dan dipertahankan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ketika Ramadhan telah berlalu tidak berarti bahwa semangat ber’amal juga menurun.  Karenanya penting sekali memelihara supaya semangat tersebut tetap menyala dan kita istiqamah dalam ketaatan sebagaimana yang terjadi dibulan Ramadhan. Peran keluarga sangatlah penting agar supaya nuansa Ramadhan terus hadir.  Di antara peran tersebut adalah: Pertama, senantiasa menjaga kesadaran bahwa kita harus menjadi orang bertakwa sepanjang hayat.  Kesadaran ini terus dipupuk dengan selalu mengkaitkan dengan sifat-sifat Allah, seperti Allah Maha Pembalas amal, Allah Maha Pemberi rizqi, Allahlah Yang menghidupkan dan mematikan serta hanya kepada Allahlah kita akan kembali untuk mempertanggung jawabkan amal kita di dunia.  Dengan pengaitan ini, diharapkan akan muncul sikap takut, harap, dan taat pada Allah.

 

 

Keempat, memahami bahwa untuk meraih ketakwaan sempurna tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi juga harus didukung dengan ketakwaan kolektif.  Individu yang berjuang untuk senantiasa bertakwa akan menghadapi kesulitan ketika masyarakat dan lingkungan sekitar kontra produktif dengan semua yang dia upayakan. Semangat ketaatan individu boleh jadi akan dilemahkan dengan rongrongan kemaksiatan yang ada dimana-mana.  Sebaliknya, dorongan ketakwaan individu akan tetap terpelihara jika dipadu dengan semangat masyarakat untuk senantiasa taat pada aturan Allah, baik aturan yang menyangkut individu, keluarga, masyarakat maupun negara; serta ketakutan dan kekhawatiran kalau tetap hidup dalam sistem yang jauh dari sistem Allah; memunculkan kesadaran pada masyarakat untuk senantiasa memperjuangkan tegaknya seluruh aturan Allah dalam naungan Khilafah.  Sebab, hanya dengan Khilafahlah kita akan mampu melakukan ketaatan yang kaffah. WalLahu a’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s