Mengutamakan “Kualitas PUASA”

Setiap Muslimin yang beriman berkeinginan dapat melaksanakan ibadah Puasa Ramadhan sebulan penuh. Tetapi kadangkala ada saja halangannya sehingga puasa terpaksa batal dan mesti diganti pada hari lain.

Dulu, dan mungkin juga saat ini, kita akan merasa senang dan bangga  apabila ibadah puasa yang kita lakukan tidak ada yang batal, atau kalaupun ada hanya beberapa hari saja. Akan tetapi disamping memperhatikan jumlah berapa hari kita berpuasa, yang lebih penting lagi adalah kualitas daripada ibadah puasa yang kita kerjakan.

Kalau kita hanya terpaku kepada jumlah hari, berapa hari kita tidak makan atau tidak minum, semua itu belum menjamin seseorang akan mencapai “TAKWA” yang menjadi tujuan akhir dari ibadah puasa Ramadhan. Karena cukup banyak orang yang berpuasa tetapi yang diperolehnya hanya rasa “HAUS” dan “LAPAR” saja. Sebagaimana disabdakan Nabi SAW : “Berapa banyak dari orang yang berpuasa tidak ada didapatnya dari puasanya itu, melainkan lapar dan dahaga” (HR. Ibnu Majah).

Betapa ruginya seseorang yang berpuasa tetapi dalam kenyataannya tidak memperoleh pahala atau nilai dari ibadah puasanya.

Lalu, bagaimana mungkin seseorang akan memperoleh predikat “TAKWA”, kalau di samping puasa tetapi ia tetap saja mengerjakan kemaksiatan dan kemungkaran lainnya. Tetap senang melakukan perbuatan tercela. Karena hakikat puasa yaitu bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi lebih dari itu perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji dan dilarang ALLOH SWT, Rasulallh SAW bersabda : “Puasa itu bukan sekedar meninggalkan makan dan minum, tetapi puasa adalah menahan diri dari omong kosong dan berkata kotor”.

Untuk mencapai derajat “TAKWA”, setiap muslim dituntut untuk mengisi hari-harinya dengan melaksanakan amal ibadah dan kebaikan-kebaikan lainnya seperti :

Menjadi orang yang bermanfaat

Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya agar memiliki jiwa yang gemar memberi manfaat dan tidak bersandar kepada orang lain. Oleh karena itu juga Rasulullah SAW bersabda : “bersemangatlah kalian kepada apa yang bermanfaat bagi kalian, mintalah pertolongan Allah dan jangan malas” (HR. Bukhari – Muslim). Seorang mukmin selalu memikirkan bagaimana hidupnya dapat bermanfaat bagi orang lain.

Menyenangkan hati saudaranya

Dalam riwayat At Tirmidzi juga Rasulullah SAW bersabda : “barangsiapa yang menghilangkan salah satu kesulitan seorang mukmin maka Allah kelak akan hilangkan salah satu kesulitannya pada hari kiamat”. Siapa di antara kita yang tidak ingin dihilangkan kesulitannya di hari kiamat? Karena kesulitan di hari kiamat lebih dahsyat dan lebih keras. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Manusia berkata : “Kapankah hari kiamat itu (terjadi)?” Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata : “Ke manakah tempat melarikan diri?” Sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung!”(QS. Al Qiyamah: 7-11).

Ia juga berfirman (yang artinya), “Apabila datang suara yang memekakkan pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya” (QS. Abasa: 33-37).

Memberi makan orang yang kelaparan

Kemudian kata Rasulullah SAW, “.. atau engkau hilangkan kelaparannya”. Seorang mukmin jangan sampai membiarkan tetangganya kelaparan atau saudaranya sesama Muslim lain kelaparan. Terkadang karena sikap acuh tak acuh, banyak orang kaya yang tidak peduli bahwa di kampung-kampung masih banyak kaum mukminin yang kelaparan. Akhirnya apa yang terjadi? Mereka menjadi korban-korban yang empuk bagi kristenisasi. Akhirnya mereka pun menggadaikan aqidahnya demi mendapat sesuap nasi. Maka Rasulullah SAW mengatakan bahwa menghilangkan kelaparan dari seorang Muslim itu amalan yang sangat dicintai oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala.

Membantu orang yang terbelit hutang

Kemudian kata Rasulullah SAW amalan yang dicintai Allah selanjutnya, “.. atau engkau membayarkan hutang untuknya”.

Dahulu, ada seorang laki-laki yang suka berbaik hati memberikan hutangan kepada orang lain. Kemudian ia berkata kepada pelayannya, “wahai pelayan coba kamu lihat, adakah diantara mereka yang sulit membayar hutang? Jika ada bebaskan saja hutangnya”. Maka kata Rasulullah SAW tentang lelaki ini, pada hari kiamat Allah akan berkata kepadanya, “Aku lebih berhak kepadanya dari engkau, wahai Malaikat bebaskan ia dari api neraka” (HR. Muslim).

Karena itu perlu kita renungkan hari-hari puasa yang telah beberapa hari kita jalani. Apakah sudah kita isi dengan memperbanyak amal ibadah atau belum.

Apakah kita sudah mengerjakan shalat terawih, witir, dan tadarrus Al-Qur’an sepanjang malam di samping melaksanakan shalat wajib? Apakah kita sudah membaca buku-buku agama dan bacaan yang berfaedah lainnya untuk meningkatkan wawasan dan keimanan kita kepada ALLOH SWT? Apakah kita sudah mengeluarkan sebagian harta yang kita miliki buat fakir miskin atau untuk kepentingan agama?Apakah kita sudah berbuat baik dengan keluarga, tetangga dan masyarakat disekitar kita?

Begitu banyak hal lain yang bermanfaat dan memiliki nilai kebaikan yang dapat kita lakukan dan kita perbuat selama bulan suci Ramadhan. Jangan biarkan nafsu memperbudak diri kita …

Selamat menjalankan ibadah puasa dan mari berlomba untuk memperbanyak amal-amal shaleh yang dicintai ALLOH SWT dan disunnahkan oleh Nabi SAW .. 🙂

 

 

 

 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s