Berharap Ramadhan Sepanjang Tahun?

Allah SWT sediakan “bonus” berupa balasan dan ganjaran berlipat di bulan Ramadhan. Jika saja Kaum Muslimin mengetahui keseluruhan atau hakekat dari ganjaran yang Allah SWT sediakan, mereka akan berharap Ramadhan sepanjang tahun. Rasulullah saw bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Mas’ud Al-Ghifari: “Kalau hamba-hamba Allah SWT mengetahui balasan dan keutamaan Ramadhan, maka umatku pasti akan berharap agar sepanjang tahun menjadi Ramdahan”. (HR. Tabrani, Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi).

Jika diperhatikan bunyi redaksi hadits Rasul saw tersebut di atas menggunakan kata-kata “kalau” dalam petikan “kalau hamba-hamba Allah SWT mengetahui balasan dan keutamaan Ramadhan”. Dari sini bisa dipahami hadits tersebut dengan dua pemahaman, pertama, bahwa hamba-hamba Allah tidak mengetahui balasan tersebut. Kedua, bahwa hamba-hamba Allah belum mengetahui hakekat atau keseluruhan balasan tersebut. Namun, pemahaman kedua lebih tepat; bahwa manusia belum mengetahui (hakekat atau keseluruhan) balasan tersebut, karena Allah SWT dan Rasul-Nya telah menginformasikan bentuk-bentuk balasan dan keutamaannya, namun informasi yang disampaikan belum secara keseluruhan dan Kaum Muslimin belum mengetahui hakekat atau keseluruhan balasan dan keutamaan Ramadhan.

Bagi Kaum Muslimin, kira-kira bila ditanya tentang siapkah mereka jika Ramadhan menjadi sepanjang tahun? Puasa, menahan lapar dan dahaga di siang hari sepanjang tahun, tidak ada hari Raya Idul Fitri. Siap tidak? Menjawabnya pasti ragu-ragu. Itu karena -melihat konteks hadits Rasul saw di atas- Kaum Muslimin belum mengetahui keseluruhan atau hakekat balasan dan keutamaan yang Allah SWT sediakan di bulan Ramadhan, karena jika mereka mengetahui hal tersebut maka –sesuai hadits Rasul- pasti mereka berharap sepanjang tahun menjadi Ramadhan.

Keutamaan Shaaim

Tentang keutamaan orang yang berpuasa, Rasul saw pernah bersabda misalnya dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah ra: “Bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah SWT ketimbang aroma kasturi”. (HR. Bukhari). Ada juga yang menyampaikan hadits bahwa “tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah”. Hadits ini memang hadits dhaif, tetapi secara logika, benar bahwa tidur orang yang berpuasa adalah ibadah, dalam kondisi berpuasa seseorang berada dalam ibadah selama ia meninggalkan larangan Allah SWT.

Jika tidurnya saja bernilai ibadah, bagaimana dengan nilai perbuatan amal kebaikannya? Jika bau mulutnya mulia di sisi Allah SWT. Bagaimana dengan baca Al-Qur’annya? Zikir dan ucapan baiknya? Pasti Allah SWT lipatgandakan ganjaran dan keutamaannya.

Keutamaan Bulan Ramadhan

Cukuplah kemuliaan Ramadhan ketika para Sahabat Rasulullah saw memohon kepada Allah SWT untuk disampaikan kepada Ramadhan sejak enam bulan menjelang Ramadhan, dan enam bulan setelahnya, mereka memohon agar amal mereka selama Ramadhan diterima. Cukuplah kemuliaan Ramadhan sebagai bulan diturunkan Al-Qur’an, bahkan kitab suci para Nabi sebelum Rasulullah saw. Diriwayatkan dari Watsilah bin Asqa’, bahwa rasulullah saw bersabda: “Shuhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, Taurat diturunkan pada malam keenam Ramdahan, Injil diturunkan pada malam ketiga belas Ramadhan dan Al-Furqan (Al-Qur’an) diturunkan pada malam keduapuluh empat Ramadhan”. (HR. Ahmad).

Ramadhan adalah bulan yang diberkahi. Rasulullah saw sampaikan dalam sabda beliau yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra: “Telah datang kepada kalian Ramadhan sebagai bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan puasa atas kalian, pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu Neraka ditutup, setan dibelenggu, di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan, siapa yang terhalang dari kebaikannya sungguh ia benar-benar telah terhalang dari segala kebaikan”. (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Baihaqi).

Berkah artinya tambah dan tumbuh. Nilainya bisa tambah dan tumbuh. Karena itu, malam lailatul qadar sebagai malam diturunkannya Al-Qur’an juga Allah SWT sebut sebagai malam yang diberkahi. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya kami menurunkan Al-Qur’an pada malam yang diberkahi, sesungguhnya kami pemberi peringatan”. (QS. Ad-Dukhan: 3).

Lailatul qadar, malam diturunkannya Al-Qur’an disebut sebagai malam yang diberkahi, karena itu nilainya bertambah menjadi lebih baik dari seribu bulan. Sebagaimana pahala shalat di Masjid yang diberkahi, Masjidil Haram sebanding dengan seratus ribu kali lipat shalat di Masjid biasa. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya rumah Allah pertama yang dibangun untuk manusia adalah yang di Mekah yang diberkahi”. (QS. Ali Imran:96). Shalat di Masjid Al-Aqsha sebanding dengan lima ratus kali lipat shalat di Masjid biasa, karena diberkahi. Allah SWT berfirman: “Maha suci Allah SWT yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari masjidilharam menuju masjid Al-Aqsha yang kami berkahi sekelilingnya”. (QS. Al-Israa’: 1).

Cukuplah sifat Ramadhan sebagai bulan yang diberkahi dalam hadits Rasulullah menjadi keutamaan tersendiri. Bulan yang bertambah pahala, ganjaran dan keutamaan. Keutamanan lain? Ramadhan adalah bulan kemenangan bagi Umat Islam, sejarah kemenangan fenomenal Rasulullah dan para Sahabat, selanjutnya dalam perjuangan Kaum Muslimin, dan jangan salah, kemerdekaan tanah air Indonesia juga pada bulan Ramadhan.

Keutamaan Ibadah dan Kepedulian

Ramadhan bulan peningkatan ibadah, dan lipat ganda pahala Allah SWT janjikan di bulan ini. Bulan yang menghimpun ibadah-ibadah utama. Ibadah puasa dan sedekah adalah dua ibadah yang menghantarkan seorang hamba menuju Surga Allah SWT. Diriwayatkan dari Ali ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya di Surga ada kamar-kamar yang luarnya bisa terlihat dari dalam, dan dalamnya bisa terlihat dari luar. Mereka (Sahabat) bertanya: “Untuk siapa itu wahai Rasulullah? Rasul menjawab: “Untuk siapa yang baik tutur katanya, member makan, membiasakan puasa dan shalat malam sementara manusia tidur”. (HR. Ahmad, Abu Ya’la dan Tabrani). Semua bentuk ibadah dan perbuatan yang disebut dalam hadits ada di bulan Ramadhan. Seorang mukmin melakukan puasa, qiyam, sedekah dan bertutur baik, karena orang yang berpuasa dilarang mengucapkan perkataan dusta dan keji .

Puasa juga melatih kepeduliaan. Motivasi Rasulullah saw untuk menumbuhkan kepedulian terutama di bulan Ramadhan ini dalam sabda beliau yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra: “Sebaik-baik sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan”. (HR. Tirmidzi). Kepedulian itu juga bisa ditumbuhkan dengan latihan memberi makan kepada orang yang berbuka puasa. Betapa ganjaran yang Allah SWT sediakan begitu besar sebagai stimulus agar Muslim tidak meninggalkan salah satu sarana pendidikan kepedulian terhadap sesama. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dari Rasulullah saw, beliau bersabda: “Siapa yang memberi buka terhadap orang yang berpuasa, baginya pahala orang yang berpuasa, tidak dikurangi sedikitpun”. (HR. At-Tabrani).

Ramadhan momentum kepedulian, tak terkecuali Ramadhan 1434 H ini. Sebagian saudara Muslim di belahan penjuru bumi masih terus membutuhkan kepedulian saudara sesama Muslim.

Di Tanah Air, di Bener Meriah Aceh, ratusan jumlah pengungsi yang harus menjalani Ramadhan di kamp-kamp pengungsian. Di Mesir, sekitar delapan jutaan Muslim tumpah ruah melakukan aksi damai, terus berjuang membela hak mereka, melawan kesewenangan dan menjunjungtinggi keadilan. Di Suriah perang masih terus bergejolak, diselimuti tembakan peluru dan dentuman bom. Bisa dibayangkan bagaimana saudara Muslim di sana menjalankan puasa, tarawih, tilawah Al-Qur’an dalam kondisi tersebut; mencekam dan memprihatinkan. Kondisi itu menggelitik rasa kepedualian saudara mereka yang dibuktikan dalam bentuk amal nyata. Dan momentum kepedulian Ramadhan 1434 membuka lebar-lebar ganjaran dan keutamaan dari Allah SWT.

Kepedulian bisa dalam bentuk doa. Rasulullah saw menjelaskan keutamaan berdoa untuk saudara Muslim dalam hadits yang diriwayatkan Abu Darda’ ra: “Doa seorang Muslim untuk saudaranya dalam keadaan zahril gaib (tidak bersama saudara yang didoakan) mustajab, (dan) di atas kepalanya (orang yang mendoakan) ada Malaikat yang diutus, setiap kali orang itu berdoa untuk kebaikan saudaranya, maka Malaikat itu akan berkata “dan bagimu seperti itu juga”.(HR. Muslim).

Dengan mendoakan saudara Muslim, maka Malaikat akan memohon kebaikan bagi yang mendoakan tersebut; yang mendoakan akan didoakan Malaikat. Jadi diantara keutamaan berdoa untuk sesama Muslim adalah mendapat permohonan dari Malaikat, dan permohonan Malaikat akan diterima Allah SWT. Ini juga bisa menjadi diantara “siasat” terpenuhinya kebutuhan. Sebagaimana “siasat” agar didoakan Malaikat juga bisa dilakukan dengan bentuk kepedulian lain yaitu berinfak. Diriwayatkan dari Abu Darda’ ra, Rasulullah saw bersabda: “Setiap kali datang pagi hari yang menerpa para hamba ada dua Malaikat yang turun ke bumi seraya berdoa “Wahai Tuhanku berikanlah ganti kepada orang yang berinfak dan turunkanlah kerugian kepada orang yang menghalangi diri dari berinfak”.(HR. Bukhari).

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s