Kupasan Surat Al-hadid ayat 16

BismillahirRahmanirRahim

Juz 27 muka surat 7179 (khusus ayat 16).

“Belum sampaikah lagi masanya bagi orang² yang beriman, untuk khusyuk hati mereka mematuhi peringatan dan pengajaran Allah serta mematuhi kebenaran (Al-Quran) yang diturunkan (kepada mereka)?”

Ayat ini berupa pertanyaan, dan pertanyaan itu dihadapkan kepada orang yang telah mengaku beriman sendiri. Hendaknya sesudah kita mengakui diri kita beriman, haruslah terbukti pada sikap hidup kita sendiri.

Terutama bahwa orang yang beriman itu hati mereka akan selalu khusyu’ kepada Allah.

Di ayat 2 daripada Surah an-Anfal “Sesungguhnya orang² yang beriman itu (yang sempurna imannya) ialah mereka yang apabila disebut nama Allah (dan sifat²-Nya) gementarlah hati mereka; dan apabila dibacakan kepada mereka ayat²-Nya, menjadikan mereka bertambah iman, dan kepada Tuhan mereka jualah mereka berserah.” ditunjukkan salah satu tanda bagaimana pengaruh adanya iman kepada jiwa dan sikap didalam hidup kita.

Dikatakan bahwa orang yang beriman itu bila disebut orang sahaja nama Allah,
– tersentuh hatinya dan apabila dibacakan orang kepadanya ayat² Allah,
– imannya pun bertambah,
– dan dia pun semakin bertawakkal pula dirinya kepada Allah.

Maka apabila kita pertemukan diantara ayat 2 Surah an-Anfal ini kepada ayat 16 surah al-Hadid, dapatlah perkhabaran dan tanda² di ayat yang pertama dengan ayat 16 dari Surah 57 ini, bahwa pertanyaan ini bukan hanya dari Tuhan sahaja, bahkan satu persoalan dari kita sendiri kepada diri sendiri, sudahkah saya ini beriman? Dan kalau belum, bilakah lagi akan saya buktikan?

Khusyu’, artinya hati yang rendah dan tunduk kepada Tuhan, insaf akan kerendahan dan kelemahan diri berhadapan dengan Kuatkuasanya Illahi.

Bilakah lagi hati ini akan khusyu’ apabila mengingat kepada Allah?
– apabila nama Tuhan disebut orang,
– dan bila mendengar orang memberikan pengajaran,
– apabila mendengar orang membaca al-Quran,

adakah hati ini bergetar atau tidak? Dan setelah mendengar itu semua wujudkah tekad hendak melaksanakan apa yang diperintahkan olehNya? Menurut keterangan Abdullah bin al-Mubarak yang diterimanya daripada Shalih al-Murri daripada Qatadah, dan Qatadah dari Ibnu Abbas;

‘Pertanyaan ini datang dari Tuhan setelah 13 tahun masa sejak ayat pertama turun.’ Bahkan menurut suatu riwayat dari Abdullah bin Mas’ud,: ‘Setelah 4 tahun kami menerima Islam, datanglah pertanyaan ayat ini kepada kami.’

Yang terpenting sekali dalam ayat ini ialah bahwa ilmu manusia dapat bertambah dan ayat² dapat turun satu ayat, dua ayat dan seterusnya. Namun satu hal yang lekas hilang dari sebahagian orang Mukmin ialah rasa khusyu’nya kepada Tuhan. Syaddad bin Aus mengatakan bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَايُرْفَعُ مِنَ النـَّاسِ الْخُشُوْعُ

“Sesungguhnya yang mula-mula diangkatkan Allah dari hati manusia ialah rasa khusyu’ itu!”

Selanjutnya Tuhan bersabda: “Dan janganlah pula mereka menjadi seperti orang² yang telah diberikan Kitab sebelum mereka,” Yang dimaksudkan dengan orang² yang kedatangan kitab sebelum al-Quran itu ialah orang Yahudi dengan kedatangan kitab Taurat yang dibawa oleh Nabi Musa A.S serta orang Nasrani dengan kedatangan Injil yang dibawa oleh Nabi Isa Al-Masih. “..setelah orang² itu melalui masa yang lanjut maka hati mereka menjadi keras,..”

Yahudi dan Nashrani keyakinan kepada kitab-kitabnya :
Sehingga kitab² yang mulia itu dibaca setiap hari,
– bahkan dihafal akan artinya, namun tidak ada pengaruh kepada hati, sebab hati itu sudah menjadi kasar. Kitab sudah lama diterima, namun tidak berbekas dihatinya lagi: “dan banyak di antaranya orang² yang fasik – durhaka.”

Ibnu Katsir dalam tafsirannya yang dapat kita renungkan dalam hal ini. Kata beliau: Allah telah melarang orang² yang beriman menyerupai orang yang menerima kitab terdahulu dari mereka, iaitu Yahudi dan Nasrani.kitab² yang mulia itu dibaca setiap hari,
– bahkan dihafal akan artinya, namun tidak ada pengaruh kepada hati, sebab hati itu sudah menjadi kasar. Kitab sudah lama diterima, namun tidak berbekas dihatinya lagi: “dan banyak di antaranya orang² yang fasik – durhaka.”

Setelah lama diantaranya,
– telah mereka menukar saja kitab yang ada ditangan mereka itu dengan kitab lain,
– lalu mereka jual dengan harga yang sedikit,
– sedang kitab yang asli mereka buang jauh,
– dan mereka lebih pentingkan pendapat sendiri daripada ayat² yang diturunkan Allah,
– bahkan mereka tukar,
– lalu timbul perselisihan diantara satu sama lain,
– lalu mereka ikutilah pendapat manusia didalam mempertimbangkan Hukum Allah,
– maka lebih dari itu mereka ambil pendeta² mereka dan Rahib² mereka menjadi Tuhan pula disamping Allah.
– Lantaran itu hati mereka pun menjadi kusut dan kasar,
– sehingga mereka tidak mau menerima ganjaran lagi dari yang lain dan tidak ada lagi hati yang lunak untuk menerima peringatan dan – pengajaran, dan banyaklah diantara mereka yang fasik.
Lantaran itu pula berani mereka mengubah-ngubah ayat al-Kitab itu atau memberikan tafsiran menurut apa yang enak di fikiran mereka sahaja.

Hal yang seperti inilah yang diperingatkan dalam ayat 16 ini kepada Umat Nabi Muhammad SAW sendiri, sehingga menurut riwayat yang telah disebutkan sebelum ini (13 tahun al-Quran turun/4 tahun setelah Ibnu Mas’ud masuk Islam).

Diterangkan dalam ayat tentang orang yang hati menjadi kesat serta menjadi kasar sikap mereka, padahal mereka patut memahamkannya dengan khusyu’. Al-Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya bahwa begitulah kelakuan dari pendeta² Nashara yang menguasai kitab² suci itu, sehingga apa yang mereka putuskan itulah yang mesti diterima dan tidak boleh dibantah lagi.

Akhirnya kita lihat sendiri timbulnya peperangan diantara pemeluk suatu agama iaitu Katholik dan Protestan, keduanya mendakwa dirinya dipihak yang benar, dan lawannya dikafirkan, dimusuhi dan dibunuh, Maka seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir tadi, ayat ini sebagai memberi peringatan kepada Umat Nabi Muhammad SAW bahwasanya ayat² Allah didalam al-Quran hendaklah menimbulkan khusyu’ hingga terciptalah cita² yang tinggi dalam hendak mengamalkan isi kandungannya,

janganlah sampai kita yang dimisalkan Allah didalam al-Quran, ‘laksana keledai memikul kitab², walaupun seberat mana yang dipikulnya namun dia tidak tahu akan apa isinya.’

Wallahu’allam bissawab.

Ada dua kisah menarik yang disebut didalam kitab Tafsir ayat 16 Surah al-Hadid karangan Prof. Dr. Hamka ini, namun itu akan ku tangguhkan dahulu. Kerana dikhuatiri sang pembaca menjadi bosan membaca kerana terlalu kepanjangan. Semoga apa yang ku perkongsikan kali ini membawa manfaat kepada kalian.

Rabbana latuzigh Qulubana Ba’adaiz hadaitana wahablana min Ladunka Rahmatan innaka antal wahabbbb… “Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau memesongkan hati kami sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan kurniakanlah kepada kami limpah rahmat dari sisiMu; sesungguhnya Engkau jualah Tuhan Yang melimpah-limpah pemberianNya.”

Sekian. Wassalamualaikum wr wb.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s