HATI YANG KHUSYUK (TUNDUK ) MENGINGAT ALLAH

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ ﴿١٦﴾
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyuk (tunduk) hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. Q.S. Al-Hadiid: 16.

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’dy – semoga Allah merahmatinya – berkata dalam tafsirnya:
“Yaitu: belumkah datang waktu yang dengannya hati-hati mereka melembut dan khusyuk (tunduk) mengingat Allah, yang itu berupa Al-Qur’an dan mematuhi perintah-perintah serta larangan-larangan-Nya. Dan juga (ketundukan) kepada kebenaran yang telah dibawa Nabi Muhammad – shalallahu ‘alaihi wasallam .

Dan ini terkandung di dalamnya:
– Anjuran untuk bersungguh-sungguh diatas ketundukan hati kepada Allah dan apa yang Dia turunkan dari Al-Qur’an dan al-hikmah(sunnah).
– Agar orang-orang yang beriman mengingat nasehat-nasehat ilahi dan hukum-hukum syar’i di setiap waktu.
– Dan untuk mereka intropeksi (menilai) diri mereka di atasnya.

وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ
dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka,

Yaitu: Janganlah mereka seperti orang-orang yang telah diturunkan Al-Kitab kepada mereka yang mengharuskan ketundukan hati dan kepatuhan yang sempurna. Lalu, mereka tidak konsisten dan tidak kokoh di atasnya.
Bahkan, berlalu zaman yang panjang dan kelalaian terus-menerus bersama mereka, sehingga sirna keimanan mereka dan musnah keyakinan mereka.
فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ
Lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.
Maka, hati-hati itu butuh untuk setiap saat diingatkan kepada apa yang Allah turunkan (dari kebenaran) dan (untuk hati itu) berbicara tentang hikmah. Dan tidak pantas untuk lalai darinya karena itu adalah sebab mengerasnya hati dan pandangan yang jumud(kaku).
(Taisirul Kariimir Rahman, As-Sa’di, hal. 999 – 1000)

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s