Allahumma innii a’uudzubika minal hammi wal hazan

Satu doa yang selalu saya amalkan setiap kali selesai sholat adalah doa yang disunahkan oleh Rasulullah

yang menjadi salah satu dzikir dalam Al Ma’tsurat. Doa tersebut adalah :

اللّهمّ إنّى أعوذ بك من الهمّ والحزن وأعوذ بك من العجز والكسل وأعوذ بك من الجبن والبخل وأعوذ بك من غلبة الدّين وقهر الرّجال

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari rundungan sedih dan duka.

Aku berlindung kepadaMu dari sifat lemah dan malas.

Aku berlindung kepadaMu dari sifat pengecut dan bakhil.

Aku berlindung kepadaMu dari beban hutang dan penindasan orang.”

Saat itu, motivasi saya untuk mengamalkan doa tersebut selain karena mengikuti apa

yang telah disunahkan oleh Rasulullah, saya memang mengharapkan perlindungan

Allah atas apa yang menjadi makna doa tersebut.

Berlindung dari sifat lemah, berlindung dari sifat malas,

berlindung dari sifat pengecut, berlindung dari sifat bakhil,

berlindung dari beban hutang dan berlindung dari penindasan manusia lainnya.

Tapi, wawasan saya tentang doa ini menjadi semakin tercerahkan setelah mendengar dan membaca orasi Anis Matta yang beliau sampaikan di hadapan kader partai beliau dalam sebuah majelis di Selat Boshporus Turki. Dalam orasinya, Anis Matta memaparkan sebuah pemahaman yang lebih luas tentang doa tersebut. Bukan sekedar perlindungan dari segala sifat buruk tersebut, namun lebih dari itu, doa tersebut, menurut Anis Matta, merupakan sebuah anjuran bagi setiap Muslim untuk terus memelihara kegembiraan di dalam jiwa-jiwa mereka.

“Kegembiraan ini saudara-saudara sekalian, saya perlu menggarisbawahi, Sumber energi kita, kekuatan kita, dalam mencapai hal-hal besar di dalam hidup kita itu ditentukan oleh kemampuan kita mempertahankan sumber kegembiraan itu. Karena itu tidak boleh ada peristiwa di dalam hidup ini yang bisa mencabut kegembiraan dari hati kita semuanya. Tidak boleh ada. Jangan biarkan ada peristiwa dalam hidup ini yang bisa mencabut kegembiraan dari hati kita. Kalau kita punya kegembiraan di dalam hati kita, yang akan muncul kemudian itu adalah perasaan berdaya. Keberdayaan ini ikhwah sekalian, saudara sekalian, ini juga yang menentukan seberapa jauh kaki kita bisa melangkah. Banyak hal-hal besar yang bisa kita lakukan, tapi seringkali kita tidak melakukannya karena kita punya perasaan tidak berdaya.” (Anis Matta)

Dalam doa tersebut, disebutkan virus-virus yang merupakan pembunuh yang akan mematikan sumber kegembiraan dalam diri manusia.

Allahumma innii a’uudzubika minal hammi wal hazan, wa a’uudzubika minal ‘ajzi wal kasal. Virus yang pertama adalah Al Hammu dan Al Huzn merupakan virus yang tampil dalam bentuk gundah gulana dan kesedihan. Menurut Anis Matta, emosi yang merupakan antitesa iman dan paling sering diulang-ulang dalam Alqur’an adalah Al Huzn atau kesedihan dan Al Khauf atau rasa takut. Jika dua virus ini sudah menetap dalam diri kita maka, yang muncul selanjutnya adalah virus yang kedua yaitu Al ‘Ajz yang dalam bahasa arab bermakna lemah atau tidak berdaya. Jika seseorang sudah merasa tidak berdaya maka ia akan cenderung merasakan kemalasan atau yang disebut dengan Al Kasl. Dua sifat ini merupakan sesuatu yang mempengaruhi kedalam diri manusia itu sendiri yang akan membentuk karakter yang tampak dari dirinya.

Karakter lemah dan malas tersebut, akan mempengaruhi pembentukan karakternya yang berhubungan dengan masyarakat atau sosial politiknya. wa a’uudzubika minal jubni wal bukhl. Dari karakter tersebut akan memunculkan karakter selanjutnya yaitu menjadi pengecut dan bakhil. Seseorang yang lemah dan malas akan menjadi pribadi yang pengecut, selalu dihantui ketakutan, tidak berani menghadapi resiko, sulit untuk berkorban. Karakter ini akan mempengaruhi hubungan seseorang dengan masyarakatnya.

Dari sini, yang muncul selanjutnya adalah realitas sosial. wa a’uudzubika min ghalabatid daini wa qahri rijaal. Hidup yang terlilit hutang dan ditindas oleh orang lain. Pada akhirnya manusia tersebut akan termarginalkan secara ekonomi dan secara politik. Maka menurut Anis Matta, akar dari semua realitas ekonomi dan realitas politik yang dihadapi oleh kaum Muslimin hari ini pada dasarnya berakar dari Al Hammu wal hazan tersebut, Itu merupakan akar psikologisnya.

Karena kita perlu mempertahankan sumber kebahagiaan kita, bahwa dunia ini ternyata kecil-kecil saja, tidak sebesar yang kita duga. Bahwa masalah yang kita hadapi ternyata tidak sebesar yang kita duga. Bahwa sebenarnya cita-cita yang ingin kita capai, Insyallah ada dalam jangkauan kaki kita dan ada dalam jangkauan tangan kita, Insyallah. (Anis Matta)

Subhanallah,..saya tidak menyangka bahwa dimensi doa tersebut begitu luas. Tidak hanya melingkupi apa yang kita inginkan untuk diri kita, akan tetapi ada dimensi sosial yang juga akan terpengaruh dari apa yang kita doakan tersebut. Maka wajarlah jika Rasulullah mengamalkan doa ini sebagai doa harian beliau karena makna yang luar bisa yang terkandung di dalamnya.

Maka, saya merasa memiliki motivasi lebih untuk terus mengamalkan doa ini,..semoga doa kecil yang kita bisikkan dengan tulus dalam munajat kita kepada Allah, tidak hanya memberikan manfaat bagi diri kita, namun juga berperan dalam perubahan bagi masyarakat kita. Aamiin…

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s