PUASA DAN NILAI-NILAI KETAQWAAN

Secara jelas Al-Quran menyatakan bahwa tujuan puasa yang hendaknya diperjuangkan adalah untuk mencapai ketakwaan atau la’allakum tattaqun.

Dalam rangka memahami tujuan tersebut agaknya perlu digarisbawahi beberapa penjelasan dari Nabi Saw.misalnya,

“Banyak di antara orang yang berpuasa tidak memperoleh sesuatu dari puasanya, kecuali rasa lapar dan dahaga.”
Ini berarti bahwa menahan diri dari lapar dan dahaga bukan tujuan utama dari puasa. Kegiatan ini hanyalah sebagian kecil daripada amalan puasa. Hal ini dikuatkan pula dengan firman-Nya bahwa “Allah menghendaki untuk kamu kemudahan bukan kesulitan.”
Di sisi lain, dalam sebuah Hadits qudsi, Allah berfirman,
“Semua amal putra-putri Adam untuk dirinya, kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang memberi ganjaran atasnya.”
Ini berarti pula bahwa puasa merupakan satu ibadah yang unik.

Tentu saja banyak segi keunikan puasa yang dapat dikemukakan, misalnya bahwa puasa merupakan rahasia antara Allah dan pelakunya sendiri.

Bukankah manusia yang berpuasa dapat bersembunyi untuk minum dan makan? Bukankah sebagai insan, siapa pun yang berpuasa, memiliki keinginan untuk makan atau minum pada saat-saat tertentu dari siang hari puasa? Nah, kalau demikian, apa motivasinya menahan diri dan keinginan itu? Tentu bukan karena takut atau segan dari manusia, sebab jika demikian, dia dapat saja bersembunyi dari pandangan mereka.

Di sini disimpulkan bahwa orang yang berpuasa, melakukannya karena Allah Swt. Demikian antara lain penjelasan sementara ulama tentang keunikan puasa dan makna hadis qudsi di atas.

Sementara pakar ada yang menegaskan bahwa puasa dilakukan manusia dengan berbagai motif, misalnya, protes, turut belasungkawa, penyucian diri, kesehatan, melakukan ritual-ritual tertentu dan sebagainya.

Tetapi seorang yang berpuasa Ramadhan dengan benar, sesuai dengan cara yang dituntut oleh Al-Quran, maka pastilah ia akan melakukannya karena Allah semata. Di sini Anda boleh bertanya, “Bagaimana puasa yang demikian dapat mengantarkan manusia kepada takwa?”

Untuk menjawabnya terlebih dahulu harus diketahui apa yang dimaksud dengan takwa.
Puasa dan Nilai-nilai Ketakwaan

Takwa terambil dari akar kata yang bermakna menghindar, menjauhi, atau menjaga diri. Kalimat perintah ittaqullah yang secara harfiah berarti, “Hindarilah, jauhilah, atau jagalah dirimu dari Allah”

Makna ini tidak lurus bahkan mustahil dapat dilakukan makhluk. Bagaimana mungkin makhluk menghindarkan diri dari Allah atau menjauhi-Nya, sedangkan “Dia (Allah) bersama kamu di manapun kamu berada.” Karena itu perlu disisipkan kata atau kalimat untuk meluruskan maknanya. Misalnya kata siksa atau yang semakna dengannya, sehingga perintah bertakwa mengandung arti perintah untuk menghindarkan diri dari siksa Allah.

Syaikh Muhammad Abduh menulis, “Menghindari siksa atau hukuman Allah diperoleh dengan jalan menghindarkan diri dari segala yang dilarangnya serta mengikuti apa yang diperintahkan-Nya. Hal ini dapat terwujud dengan rasa takut dari siksaan dan atau takut dari yang menyiksa (Allah Swt ). Rasa takut ini, pada mulanya timbul karena adanya siksaan, tetapi seharusnya ia timbul karena adanya Allah Swt. (yang menyiksa).”

Perasaan takut akan siksa Allah akan menjadikan manusia untuk senantiasa taat dan bersungguh sungguh untuk menjauhkan diri bermaksiat kepada-Nya. Dari perasaan takut ini akan senantiasa menjadikan manusia untuk selalu merasakan keberadaan Allah di sampingnya. Bahwa Dia-lah yang Maha Mengetahui akan apa yang sedang dia kerjakan.

Dengan demikian orang yang bertakwa adalah orang yang merasakan kehadiran Allah Swt. setiap saat, seperti disebutkan dalam salah satu Hadits “Bagaikan melihat-Nya atau kalau yang demikian tidak mampu dicapainya, maka paling tidak, menyadari bahwa Allah melihatnya.”

Tentu banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencapai hal tersebut, antara 1ain dengan jalan berpuasa. Puasa seperti yang dikemukakan di atas adalah satu ibadah yang unik. Keunikannya antara lain karena ia merupakan upaya manusia meneladani Allah Swt. Suatu tindakan yang sangat terpuji jika manusia benar-benar ingin meneladani sifat-sifatnya Allah Swt.
Puasa Meneladani Sifat-sifat Allah swt

Beragama menurut sementara pakar adalah upaya manusia meneladani sifat-sifat Allah, sesuai dengan kedudukan manusia sebagai makhluk. Nabi Saw. memerintahkan, “Takhallaqu bi akhlaq Allah” (Berakhlaklah (teladanilah) sifat-sifat Allah).
Meneladani sifat-sifat Allah adalah sesuatu yang diperintah oleh Nabi saw.

Bahwasanya Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Damai, Maha Kuat, Maha Mengetahui dan lain-lain. Kesemuanya itu tidak akan tercapai kecuali setelah manusia sudah mendapatkan derazat ketaqwaannya. Dengan berpuasa kita bisa berupaya untuk meneladani sifat-sifat Allah tersebut.

Karena puasa berusaha menjaga diri kita dari sesuatu yang membatalkan puasa, artinya menjauhkan diri dari pada maksiat kepada-Nya. Upaya meneladani sifat Allah swt mutlak dilakukan karena upaya peneladanan ini dapat mengantarkan manusia menghadirkan Tuhan dalam kesadarannya, dan bila hal itu berhasil dilakukan, maka takwa dalam pengertian di atas dapat pula dicapai.

Karena itu, nilai puasa ditentukan oleh kadar pencapaian kesadaran tersebut –bukan pada sisi lapar dan dahaga–sehingga dari sini dapat dimengerti mengapa Nabi Saw.menyatakan bahwa, “Banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak memperoleh dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” Hadits ini memberikan gambaran kepada kita bahwa betapa banyak diantara kaum muslimin yang melaksanakan ibadah puasa namun tidak ada yang didapatkan dari puasanya kecuali hanya lapar dan haus saja.
Keistimewaan Bulan Ramadhan

Dalam rangkaian ayat-ayat yang berbicara tentang puasa, Allah menjelaskan bahwa Al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan. Dan pada ayat lain dinyatakannya bahwa Al-Quran turun pada malam Qadar. Ini berarti bahwa di bulan Ramadhan terdapat malam Qadar itu, yang menurut Al-Quran lebih baik dari seribu bulan. Para malaikat dan Ruh (Jibril) silih berganti turun seizin Tuhan, dan kedamaian akan terasa hingga terbitnya fajar.

Di sisi lain –sebagaimana disinggung pada awal uraian—bahwa dalam rangkaian ayat-ayat puasa Ramadhan, disisipkan ayat yang mengandung pesan tentang kedekatan Allah Swt. Kepada hamba-hamba-Nya serta janji-Nya untuk mengabulkan doa –siapapun yang dengan tulus berdoa.

Dari hadis-hadis Nabi diperoleh pula penjelasan tentang keistimewaan bulan suci ini. Namun seandainya tidak ada keistimewaan bagi Ramadhan kecuali Lailat Al-Qadr, maka hal itu pada hakikatnya telah cukup untuk membahagiakan manusia. Karena ibadah di malam lailat al-Qadar lebih baik dari pada seribu bulan.

Kebahagiaan yang akan diterima oleh umat manusia tentu tidak akan sebanding dengan apa yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. Karena itu, agama memerintahkan manusia untuk bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadan ini. Keistimewaan yang dijanjikan Allah di bulan suci ini tidak akan dijumpai di bulan-bulan yang lain. Pelipat gandaan pahala yang dilakukan pada bulan puasa ini hendaknya memotivasi manusia untuk memperbanyak ibadah. Ibadah yang dilakukan dengan penuh ketulusan akan menjadikan kita sebagai insan yang bertaqwa seperti yang telah dijelaskan di atas. Dan nilai-nilai taqwa itu akan terpancar di hari-hari setelah bulan Ramadlan.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s