MEMETIK BUAH TAQWA

ISLAM dengan ajarannya yang indah mengajarkan bahwa perbedaan hakiki manusia tidak berada pada kedudukan, jabatan, pangkat, kekayaan dan lainnya. Manusia dibedakan dengan kadar dan bobot (berat, kualiti, dalamnya) nilai mereka di mata Allah. Perbedaan antara manusia di dalam Islam terletak pada sejauh mana manusia mampu mengoptimalkan kadar ruhaninya untuk mendekat pada Tuhannya. Perbedaan manusia dan kemuliaan manusia ditentukan oleh nilai dan kadar taqwanya yang bergolak dalam dadanya.
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.” (Al-Hujurat: 13)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudhari disebutkan,
“Hendaknya kamu bertaqwa sebab ia adalah kumpulan segala kebaikan, dan hendaknya engkau berjihad karena ia sikap kependetaan seorang muslim, dan hendaknya engkau selalu berdzikir menyebut nama Allah karena dia cahaya bagimu.” (HR. Ibnu Dharis dari Abu Said Al-Khudhari)

TAQWA adalah kumpulan semua kebaikan yang hakikatnya merupakan tindakan seseorang untuk melindungi dirinya dari hukuman Allah dengan ketundukan total kepada-Nya. Asal-usul TAQWA adalah menjaga dari kemusyrikan, dosa dan kejahatan dan hal-hal yang meragukan (syubhat). Seruan Allah pada surat Ali Imran ayat 102 yang berbunyi,
“Bertaqwalah kamu sekalian dengan sebenar-benarnya TAQWA dan janganlah kamu sekali-kali mati kecuali dalam keadaan muslim”
Ini bermakna bahwa Allah harus dipatuhi dan tidak ditentang, diingat dan tidak dilupakan, disyukuri dan tidak dikufuri.

TAQWA adalah bentuk peribadatan kepada Allah seakan-akan kita melihat-Nya dan jika kita tidak melihat-Nya maka ketahuilah bahwa Dia melihat kita.

TAQWA adalah tidak terus menerus melakukan maksiat dan tidak terpedaya dengan ketaatan.

TAQWA kepada Allah adalah jika dalam pandangan Allah seseorang selalu berada dalam keadaan tidak melakukan apa yang dilarang-Nya, dan Dia melihatnya selalu melakukan kebaikan.

Menurut Sayyid Qutb dalam tafsirnya, Fi Zhilal al-Qur`an — TAQWA adalah kepekaan hati, kehalusan perasaan, rasa khawatir yang terus menerus dan hati-hati terhadap semua duri kehidupan.

Saat Umar Radhiallahuanhu bertanya kepada Ubay bin Ka’ab apakah TAQWA itu? Dia menjawab;
“Pernahkah kamu melalui jalan berduri?” Umar menjawab; “Pernah!” Ubay menyambung, “Lalu apa yang kamu lakukan?” Umar menjawab; “Aku berhati-hati, waspada dan penuh keseriusan.” Maka Ubay berkata; “Maka demikian pulalah TAQWA!”
Demikian banyak ayat Al-Qur`an yang menyerukan kita untuk bertaqwa dalam bingkai TAQWA yang sebenarnya, dalam kadar TAQWA yang semestinya, dalam bobot TAQWA yang mampu kita lakukan. Lihat umpamanya (Al-Ahzab : 70) dan (At-Taubah : 119).

Dalam hadits juga sangat banyak seruan agar TAQWA menjadi penghias perilaku kita dan menjadi mutiara batin kita. Seperti sabda Rasulullah, :
اتق الله حيثما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن (رواه الترمذي وأحمد و الدارمي)

“Bertaqwalah kamu kepada Allah, dimanapun kamu berada, dan ikutilah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus keburukan itu. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi, Ahmad dan Ad-Darimi)

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s