Khusyu’ Adalah Buah Manis Dari Ilmu Yang Bermanfaat…

Dalam sebuah hadits yang shohih, Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam pernah berdo’a,
اللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا
Allaahumma inniy a’uudzubika min ‘ilmin laa yanfa’u, wamin qolbin laa yakhsya’u, wamin nafsin laa tasyba’u, wamin da’watin laa yustajaabu lahaa

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dan dari hati yang tidak khusyu’, dan dari jiwa yang tidak pernah puas, serta dari do’a yang tidak dikabulkan.”
{Shahih Muslim, Kitab adz-Dzikr, Bab at-Ta’awwudz Min Syarri Ma Amila, 4/2088, no. 2722.}

Dalam hadits yang agung ini, Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam menggandengkan empat perkara yang tercela ini, sebagai isyarat bahwa ilmu yang tidak bermanfaat memiliki tanda-tanda buruk, yaitu hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak pernah puas, dan do’a yang tidak dikabulkan. {Lihat kitab tuhfatl ahwadzi,9/319 dan faidhul qodir,2/108.} Na’udzubillah min dzalik.

Imam Ibnu Rojab rohimahullaah berkata, “Hadits ini menunjukkan bahwa ilmu yang tidak menimbulkan (sifat) khusyu’ dalam hati maka ini adalah ilmu yang tidak bermanfaat.” {warosatul anbiya’ (majmu’u rosa-ilil hafizh ibnu rojab al-hambali,1/17.} Sehingga hadits ini merupakan argumentasi yang menunjukkan bahwa sifat khusyu’ adalah termasuk buah yang manis dan agung dari ilmu yang bermanfaat.
Imam Al-‘Ala-I rohimahullaah berkata, “Ketika Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam (dalam hadits ini)

menggandengkan antara memohon perlindungan (kepada Allah) dari ilmu yang tidak bermanfaat dan dari hati yang tidak khusyu’, (maka) ini mengisyaratkan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah yang mewariskan sifat khusyu’ (dalam diri manusia).” {Dinukil oleh Imam Al-Munawi dalam kitab Faidhul Qodir,2/153.}

Lebih lanjut, Imam Ibnu Rojab rohimahullaah menjelaskan keterkaitan antara ilmu yang bermanfaat dengan sifat khusyu’ dalam ucapan beliau, “Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang merasuk dan menyentuh hati manusia, kemudian menumbuhkan ma’rifatullaah dalam hati (mengenal Allah dengan Nama-NamaNya Yang Maha Indah dan Sifat-SifatNya Yang Maha Sempurna) dan meyakini kemahabesaranNya; (demikian pula) rasa takut, pengagungan, pemuliaan dan cinta (kepadaNya).

Tatkala sifat-sifat ini telah mapan dalam hati (seorang hamba), maka hatinya akan khusyu’ lalu semua anggota badannya pun akan khusyu’ mengikuti kekhusyu’an hatinya.” {warosatul anbiya’ (majmu’u rosa-ilil hafizh ibni rojab al-hambali, 1/16.}

Inilah keutamaan khusyu’ yang merupakan buah utama ilmu yang bermanfaat, sekaligus merupakan ilmu yang pertama kali diangkat oleh Allah dari muka bumi. {Lihat Khusyu’ fish sholah, hal.15.} Sebagaimana dalam hadits riwayat Abud Darda’ rodhiyallaahu ‘anhu bahwa Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa’alaa aalihi wasallam bersabda yang artinya,
أَوَّل مَا يُرْفَعُ مِن هَذِهِ الأُمَّةِ الْخُشُوعُ حَتَّى َلَا تَرَى فِيهَا رَجُلًا خَاشِعًا
“YANG PERTAMA KALI DIANGKAT (OLEH ALLAH) DARI UMAT INI ADALAH SIFAT KHUSYU’, SEHINGGA (NANTINYA) KAMU TIDAK AKAN MELIHAT LAGI SEORANG YANG KHUSYU’ (DALAM IBADAHNYA).” {HR. Ath-Thobroni dalam Musnadusy Syaamiyyiin,2/400}, dinyatakan shohih oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Jaami’,no.2569.}

{Dikutip dari artikel Al-Ustadz ‘Abdullah bin Taslim Al-Buthoni, MA. Berjudul “Meraih khusyu’ dalam beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala”, Majalah As-Sunnah edisi khusus, no. 03-04/thn. XVII.}

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s