Urgensi Khilafah dan Upaya Mendirikannya Kembali (konsep Ikhwanul Muslimin )

“Setiap jengkal tanah yang di atasnya ada seorang muslim yang mengucapkan Tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad rasulullah, adalah bagian dari Negara kami (Islam), maka kami akan menuntut kemerdekaan dan membebaskannya dari imperialis asing yang zhalim, kami akan berjuang untuk memperjuangan hal itu dengan sepenuh kekuatan yang kami miliki. Negara yang membentang dari perbatasan Negara Indonesia di sebelah Timur hingga ke perbatasan gedung putih di sebelah barat, harus menikmati udara kemerdekaan, persatuan dan kedamaian, di bawah naungan ikatan, sistem dan kondisi yang telah ditetapkan Al Quranul karim. Hingga dating hidayah Islam sebagai agamanya, akidah, sistem dan syariatnya.

“Ikhwan berkeyakinan bahwa khilafah adalah lambing kesatuan Islam dan bentuk formal dari ikatan antar bangsa muslim. Ia merupakan identitas Islam yang mana kaum muslimin wajib memikirkan dan menaruh perhatian dalam merealisasikannya.”

“Khalifah adalah tempat rujukan bagi pemberlakuan hukum Islam. Oleh karena itu, para sahabat lebih mendahulukan mengurus masalah kekhilafahan daripada mengurus jenazah Rasulullah Saw. (ketika beliau wafat), sampai mereka menyelesaikan tugas tersebut (memilih khilafah) dan menyelesaikannya dengan mantap. Banyaknya hadits yang menyebutkan tentang kewajiban mengangkat imam, penjelasan tentang hukum-hukum imamah, dan perincian segala sesuatu yang terkait dengannya adalah bukti nyata bahwa diantara kewajiban kaum muslimin ialah menaruh perhatian serius untuk memikirkan masalah khilafah, sejak manhaj khilafah itu digulirkan sampai kemudian terbengkalai seperti sekarang ini.”

“Oleh karena itu, Ikhwanul Muslimin menjadikan fikrah tentang khilafah dan upaya mengembalikan eksistensinya sebagai agenda utama dalam manhajnya.”

Ikhwanul Muslimin juga turut berjuang mengembalikan eksitensi Negara untuk umat Islam dan berupaya mewujudkan kemajuan dan perkembangan di tengah umat, dan memiliki andil positif di dunia internasional. Langkah-langkah yang diambil berupa langkah-langkah sangat beragam, variatif, dan gradual, walaupun hasilnya secara kasat mata belum begitu terlihat jelas; karena besarnya tujuan dan target yang ingin dicapai. Ada target besar yang ingin dicapai, dan persiapan panjangan yang sedang diupayakan. Betapapun berat rintangan yang menghalang, namun hal itu tidak berpengaruh terhadap keimanan dan upaya mereka untuk mewujudkan tujuan mulia ini.

Fase-fase utama untuk mewujudkan tujuan:

Imam Syahid telah menetapkan peta perjalanan untuk mewujudkan hal ini. Setelah berdirinya Negara-negara Islam di beberapa negeri kaum muslimin dan diterapkannya sistem pemerintahan Islam dan masyarakat Islam sesuai dengan manhaj dan koridor yang telah beliau jelaskan, yaitu dengan bertaut eratnya persatuan diantara mereka dan loyalitas mereka terhadap Daulatul Umm (Negara induk) atau Negara yang memimpin –maksud beliau adalah Negara Mesir sebagai Negara induk umat Islam yang akan memimpin seluruh Negara-negara muslim yang lain.

Beliau berkata: “Kami berharap Mesir bisa menjadi Negara muslim yang mendukung setiap upaya dakwah Islamiyah, menyatukan seluruh potensi bangsa Arab, berjuang untuk kebaikan mereka, melindungi kaum muslimin di seluruh penjuru bumi dari segala bentuk permusuhan, dan menebarkan kalimat Allah serta menyampaikan risalah-Nya, sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama semua hanya milik Allah”

“Sesungguhnya kami semua meyakini bahwa Islam yang hanif adalah Negara dan agama, dan kami menganggap Mesir adalah negera Islam, bahkan pemimpin Negara-negara Islam.”

“Kepada Mesir-lah pusat kepemimpinan adab dan sosial, sehingga kepadanya harapan dan cita-cita disandarkan.”

Imam Syahid berkata, “Kendati demikian, Ikhwan juga meyakini bahwa semua itu membutuhkan banyak persiapan yang harus diwujudkan. Langkah untuk mengembalikan eksistensi khilafah harus didahului oleh langkah-langkah berikut:

– Harus ada konsolidasi antara bangsa-bangsa muslim, menyangkut masalah politik, ekonomi, sosial, pertahanan keamanan, dan peradaban Islam secara umum.

– Setelah itu membentuk persekutuan dan koalisi di antara mereka untuk mendirikan lembaga-lembaga keumatan dan mengadakan muktamar antar Negara.

– Setelah itu mewujudkan Persekutuan bangsa-bangsa Muslim. Jika hal itu bisa diwujudkan dengan sempurna, akan dihasilkan sebuah kesepakatan untuk mengangkat imam yang satu, dimana ia merupakan penengah, pemersatu, penentram hati, dan perantara bagi naungan Allah di muka bumi.

“setelah itu, kami menginginkan agar setiap jengkal dari negeri-negeri kami yang muslim bergabung bersama kami”

“oleh karena itu, kami tidak mengakui adanya pembagian-pembagian territorial yang bersifat politis dan berbagi kesepakatan internasional yang ada setelahnya, karena hal itu semualah yang telah menjadikan Negara Islam yang besar ini terpecah menjadi Negara-negara kecil yang lemah, sehingga mudah dikuasai oleh penjajah”

“Kami tidak akan tinggal diam terhadap proyek pemberangusan kemerdekaan bangsa dan membiarkan mereka menjadi budak bagi bangsa lainnya. Mesir, Suriah, Irak, Hijaz, Libya, Tunisia, Al Jazair, Mauritania, dan setiap jengkal tanah yang di dalamnya terdapat seorang muslim yang berseru “laailaaha illallah”, semua itu adalah Negara Islam raya. Kami berusaha untut memerdekakan, menyelamatkan, membebaskan, dan mempersatukan antara satu dengan lainnya.”

Pengembalian eksistensi Negara untuk umat Islam sangat berperan sebagai bagian dari proses persiapan yang sangat penting sebelum pendeklarasian khilafah, dan mendirikannya, kemudian ustaziyatul ‘alam (kepemipinan dunia).

Fase ini dilakukan dengan cara melakukan pendekatan antara Negara-negara Islam, memperkokoh persatuan secara konkret dalam pelbagai aspek; budaya dan sosial, mewujudkan hubungan dan kerjasama di bidang ekonomi, kerakyatan dan kelembagaan, dengan menyempurnakan proses pembebasan Negara-negara Islam yang lain, memanfaatkan faktor-faktor kebangkitan dan sumber-sumber kekuatan, sehingga kita bisa mengembalikan posisi secara nasional-internasional, serta kewibawaan dan kontribusinya di kancah internasional.

Imam Syahid berkata, “Pengembalian eksistensi Negara Islam dilakukan dengan cara membebaskan seluruh negeri, membangun kejayaannya, mendekatkan peradabannya, dan menyatukan katan-katanya sehingga dapat mengembalikan tegaknya kekuasaan khilafah yang telah hilang dan terwujudnya persatuan yang diimpikan bersama.”

Dengan demikian terbentuklah cikal bakal khilafah Islamiyah yang menyokong kekuatan persatuan antara umat Islam dan mendukung kemajuan dan perkembangannya, serta demi membebaskan seluruh negeri-negeri muslim dan mendirikan Negara Islam di atasnya. Maka wilayah Islam akan semakin luas, bertambahnya kerjasama, dan terwujudnya persatuan antara Negara-negara Islam, untuk kemudian pada tahap akhir adalah mendeklarasikan berdirinya khilafah Islamiyah yang mulia.

Kemudian yang tersisa adalah upaya untuk mengembalikan umat Islam ke negeri-negerinya yang pernah dirampas, dimana hari itu mereka merasakan kedamaian di bawah panji Islam, dan ditinggikannya kumandang azan.

Imam Syahid berkata tentang pengembalian negeri-negeri muslim, “Andalusia, Shaqlia, Balkan, Italia Barat, pulau-pulau di Laut Romawi, semuanya adalah Negara-negara muslim yang terjajah yang harus kita kembalikan ke pangkuan Islam, kita harus mengembalikan Laut Putih dan Laut Merah sebagai dua kolam yang dimiliki umat Islam, sebagaimana dahulu.”

Begitu pula halnya dengan Negara-negara muslim yang terjajah dan umat Islam secara keseluruhan –di seluruh fase-fasenya- mereka harus bahu membahu menyebarkan dakwah dan menjelaskan tentang kemuliaan agama Islam dan keindahan manhajnya di seluruh belahan dunia dan dengan menggunakan pelbagai sarana, sebagai proses ustaziyaul alam.

“Dalam beberapa tahun lagi[1164]. bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, Karena pertolongan Allah. dia menolong siapa yang dikehendakiNya. dan dialah Maha Perkasa lagi Penyayang”. (Rum: 4-5)

Imam Syahid berkata tentang tujuan ini, yaitu tentang peran internasional, “Islam dianggap mampu mengemban risalah Allah di muka bumi, oleh karena itu ia mampu memimpin dunia.”

“Islam menetapkan kepemimpinan umat Islam dan kekuasaannya di bumi di banyak ayat dalam Al Quran.”

Kemudian Islam mewajibkan kepada umat untuk menjaga kepemimpinan ini dan memerintahkan untuk mempersiapkan kekuatan, sehingga kebenaran dipayungi oleh keagungan kekuasaan, dan menebarkan cahaya hidayah.

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.” (Al Anfal: 60)

Dan hendaknya ia tidak lupa dengan peringatan Al Quran dalam Surat Al Nasr, agar ia terhindar dari sifat ghurur (lupa diri), meninggalkan keadilan dan menghancurkan hak-hak.

Dengan himpunan Negara-negara Islam dan persatuannya, Imam Syahid menyebutkan tentang kawasan yang sangat luas yang mencakup seluruh Negara-negara Timur dalam menghadapi Negara-negara imperalis Barat. Dengan demikian maka terbangun sebuah kawasan yang sangat luas yang memiliki pengaruh, kerjasama, koordinasi dan himpunan dari pelbagai Negara-negara di dunia, dan inti dari perhimpunan dan kepemimpinan di tangan umat Islam, yang menyebarkan pilar-pilar kebenaran, persamaan, bekerja untuk kemuliaan manusia, kerjasama dan saling tolong menolong, serta menghadapi ambisi Negara-negara imperialis.

Imam Syahid adalah orang pertama yang menyerukan tentang politik ketidakberpihakan terhadap penjajah, dan beliau menulis surat kepada raja-raja dan pemimpin Arab.

Himpunan Negara-negara internasional Islam ini bukan bermaksud melakukan perang, tujuannya adalah untuk perdamaian dunia yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan keadilan, serta melawan semua jenis permusuhan, kezhaliman, dan ambisi Negara-negara raksasa, serta melindungi Negara-negara lemah, pertumbuhannya dan dalam rangka membangun peradaban manusia internasional, dimana Islam meletakkan nilai dan prinsip-prinsipnya di muka bumi; agar seluruh umat manusia bisa menikmatinya.

Pada fase internasional, Ikhwanul Muslimin juga bermaksud mengadakan perbaikan dan ishlah terhadap organisasi-organisasi dunia, seperti PBB, Dewan Keamanan PBB dan organisasi-organisasi dunia yang lain, agar ia bisa dikeluarkan dari dominasi penjajah, imperialis dan Yahudi yang telah memandulkan peran-peran strategisnya dan menjadikannya sebagai alat untuk memenuhi kepentingan dan nafsu Amerika dan Yahudi.

Kita juga harus mendirikan lembaga-lembaga dan instansi yang bisa menyampaikan nilai-nilai kebenaran dan keadilan, dan pada saat itu maka himpunan Negara-negara Islam akan memiliki sarana-prasarana yang memungkinkannya melakukan perubahan Negara yang diinginkan, dan sesungguhnya Allah menguasai seluruh urusannya, namun banyak manusia yang tidak mengetahuinya.

Ikatan negara-negara Timur bukan sebuah himpunan poros yang memusuhi Barat, ia hanyalah ikatan emosional, kerjasama, serta menghimpun semua Negara yang menerima kerjasama, serta menjalankan hubungannya atas asas keadilan dan persamaan.

Imam Syahid menjelaskan tentang sikaf dakwah terhadap perseteruan antara Barat dan Timur, “Ada sebagian orang yang menyerukan kesatuan ketimuran. Saya menduga bahwa tidak mungkin benih propaganda ini merasuki orang-orang yang mempercayainya kecualiakibat fanatisme orang-orang Barat terhadap bangsa-bangsa Timur. Tentu dalam hal ini mereke salah. Jika orang-orang Barat tetap dengan pendirian ini, maka hal itu akan menjerumuskan mereka kepada kepedihan dan kesengsaraan.

Ikhwanul Muslimin tidak melihat adanya kesatuan ketimuran, kecuali sekedar ekspresi dari perasaan senasib karena sama-sama dijajah bangsa Barat. Bagi Ikhwan, Timur dan Barat sama saja jika keduanya lurus dalam bersikap terhadap Islam. Ikhwan tidak memandang manusia kecuali dengan standar ini.”

Imam Syahid berkata, “Paham ketimuran juga mempunyai tempat tersendiri dalam dakwah kami, kendati makna yang menyatukan antar perasaan manusia yang ada di dalamnya adalah makna yang bersifat temporer dan incidental. Makna yang tersirat dari istilah tersebut, kelahirannya dipicu oleh kepongahan Barat dengan peradaban materialisnya, serta sikap keterlaluan mereka dalam mempromosikan kemajuan dan kemodernan masyarakatnya. Barat berusaha mengambil jarak dari bangsa-bangsa kita, dan mereka menjuluki kita denga sebutan bangsa Timur. Pada saat yang sama, mereka membagi belahan dunia ini menjadi dua: Barat dan Timur. Mereka terus-menerus mempropagandakan pemilahan ini, sampai-sampai salah seorang penyair mereka dengan arogan berucap, Timur adalah Timur, Barat adalah Barat. Tidak mungkin keduanya akan bersatu.

Latar belakang inilah yang memaksa bangsa-bangsa Timur menyatukan diri mereka menjadi sebuah kubu, dalam upaya menghadapi bangsa Barat. Namun, jika Barat (pada saatnya nanti) mau bersikap objektif, serta meninggalkan sikap pertentangan dan kolonialnya, niscaya akan hilang pula fanatisme yang temporer tersebut dan diganti dengan sebuah fikrah kerjasama antar bangsa, demi kebaikan dan peningkatan kemakmuran bersama.”

Imam Syahid kembali menegaskan bahwa sesungguhnya himpunan Negara-negara Arab bukanlah sebuah kubu permusuhan, ia semata-mata untuk kemaslahatan kemanusiaan dan kemaslahatan dunia Islam. Beliau berkata, “Kami meyakini bahwa sesungguhnya ketika kami bekerja untuk kemaslahatan Arab, maka sesungguhnya di waktu yang sama kami bekerja untuk kebaikan Islam dan dunia seluruhnya.”

Imam Syahid mengenalkan bangsa Arab dengan mengatakan, “Di antara ungkapan yang paling menakjubkan dalam masalah ini adalah apa yang telah dikemukan oleh Rasulullah Saw. tentang makna Arab, dimana beliau memaknainya sebagai bahasa dan lisan.

Diriwayatkan oleh Al Hafidz Ibnu Asakir dengan sanad dari Malik, bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

ياأيهاالناس, إن الرب واحد, والأب واحد, وإن الدين واحد, وليست العربية بأحدكم من أب ولا أم, و إنما هي اللسان, فمن تكلم بالعربية فهو عربي.

“wahai sekalian manusia, sesungguhnya Tuhan itu satu, bapak itu satu, dan agama itu satu. Bukanlah Arab itu di kalangan kamu berasal dari bapak atau ibu (yang berkebangsaan Arab). Sesungguhnya, Arab itu adalah lisan (bahasa), maka barangsiapa yang berbicara dengan bahasa Arab, dia adalah orang Arab.”

Imam Syahid juga berkata, “Diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dari Mu’adz bin Jabal –semoga Allah meridhainya-:

إن العربية اللسان, إن العربية اللسان

“Ingatlah, sesunguhnya Arab itu adalah bahasa, sesungguhnya Arab adalah bahasa.”

Dari sinilah, maka wujud kesatuan Arab adalah suatu keharusan demi mengembalikan kejayaan Islam, tegaknya daulah dan kehormatan kekuasaannya.”

Contoh dan model-modelnya di bidang ini:

Untuk merealisasikan proyek-proyek yang tersebut di atas, maka bisa ditempuh dalam pelbagai tahapan berikut:

– Bekerja di skala Negara

– Bekerja di skala masyarakat dan lembaga-lembaga masyarakat perkotaan.

– Bekerja di skala para da’I dan yayasan-yayasan keIslaman.

Hal itu kemudian ditempuh dalam beberapa langkah utama, yang mencakup:

– Bekerja di wadah-wadah publik yang telah ada dan proyek-proyek yang ada di antara Negara-negara Islam, baik di skala masyarakat maupun di skala pemerintah, dengan mengoptimalkan perannya, kegiatannya, mendorong dan menyembuhkan kelemahan dan kerusakan yang ada di dalamnya, termasuk menghadapi ambisi-ambisi Barat yang ingin menggunakan wadah ini untuk melayani kepentingan Barat dan bukan untuk kepentingan dunia Islam.

– Mendorong dan membantu pelbagai bentuk kerjasama antara bangsa dan Negara-negara Islam, terutama di bidang ekonomi, kerjasama keilmuan, baik di skala swasta maupun pemerintah.

– Menjalin ikatan, mendirikan himpunan-himpunan kerjasama untuk saling tolong-menolong dan koordinasi, terutama di lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan.

– Menghidupkan pikiran di dalam jiwa dan menghilangkan syubhat-syubhat dan tuduhan yang mengotorinya.

– Membantu pers, memberikan arahan pikiran untuk saling membantu dan menguatkan makna persatuan dan kesatuan.

Langkah-langkah di atas bisa berupa kerja-kerja konkret berikut:

– Koordinasi antara asosiasi, himpunan, universitas, organisasi dan yayasan-yayasan kebajikan antara negera-negara Islam, serta meningkatkan hubungan kerjasama dan persatuan hingga ke tingkat yang lebih tinggi, termasuk lembaga-lembaga ekonomi, sosial, kegiatan politik, baik dengan partai parpol, parlemen dan para eksekutif.

– Mendorong pemerintah untuk menghilangkan semua kendala, mengoptimalkan keberlangsungan, berupaya untuk mengoptimalkan sesuai kemampuan.

– Memberikan perhatian besar terhadap peran Al Azhar dan mendukungnya untuk kemaslahatan dunia Islam.

– Menjalin hubungan dan koordinasi dengan organisasi-organisasi Islam yang bergerak di bidang dakwah dan tidak menyimpang dari prinsip-prinsip dan ajaran Islam, serta berupaya untuk bekerja dalam sebuah struktur yang rapi, muktamar-muktamar regular, hingga meningkat sampai ke tarap ikatan dan himpunan-himpunan organisasi.

– Mendorong produksi dalam negeri, termasuk bidang pariwisata, kerjasama dan pers.

– Mendorong pemerintah untuk mendirikan ikatan-ikatan dan fakta-fakta dagang dan politik dengan Negara-negara Islam di dunia yang telah membutuhkan himpunan, dan mengoptimalkan badan-badan kerjasama yang telah ada. Mulai dari Liga Arab, Rabitah Alam Islami, Organisasi Negara-negara Islam, dan lain-lain.

– Mengenal Negara-negara di dunia, ikut memperhatikan problematikanya, mengenal pemimpin dan tokoh-tokoh, mengikuti berita-berita dan perkembangannya, memperhatikan problema Negara-negara Islam, dan bisa menentukan sikap positif bersamanya.

– Memperhatikan duta-duta bangsa, utusan-utusan dari Negara-negara Islam.

– Mengenal dan mempelajari sejarah penyebaran dakwah Islam di dunia serta kontribusi dan peradaban yang dipersembahkan untuk Negara-negara dunia sepanjang sejarah.

Seluruh sarana-sarana ini dan yang lain merupakan bagian dari cara mewujudkan tujuan ini, yang tentunya membutuhkan kesabaran yang panjang, pekerjaan yang berkesinambungan, tenang, dan berkelanjutan, serta membutuhkan realisasi gerakan dan amal. Pekerjaan berat ini membutuhkan waktu yang panjang, estafeta generasi yang silih berganti, namun ia tidak akan sirna sesaatpun dari proyek besar Islam kita, dan kita tidak akan lupa membantu dan menyusun strategi untuk itu.

Jawaban terhadap klaim bahwa Barat telah mengepung kita:

Imam Syahid membantah klaim yang mengatakan bahwa perhimpunan Negara-negara Islam dan menghidupkan kembali Negara Islam akan menimbulkan ketakutan Negara-negara Barat, dan mereka akan melakukan konspirasi terhadap kita dan akan berkoalisi menyerang kita. Beliau berkata, “Mungkin juga ada yang mengatakan, “Berterus-terang untuk kembali kepada sistem Islam akan membuat Negara-negara asing dan bangsa Barat ketakutan, sehingga mereka akan membuat konspirasi untuk menyerang kita. Dan kita tidak akan mampu untuk menghadapinya.

Pernyataan ini merupakan wujud dari sikap inferior (minder) akut, picik pandanga, dan sempit wawasan. Cobalah kita melihat lebih jauh, bukankah kita sudah melaksanakan sistem Negara-negara tersebut, mengadopsi warna kehidupannya, dan mengikuti peradabannya? Namun, mana hasilnya? Apakah dengan mengikuti peradabannya kita bisa menghalau makarnya? Apa dengan begitu kita bisa menghalanginya untuk tidak kembali menjajah negeri kita, merampas kemerdekaan kita, dan mengeruk harta kekayaan kita, kemudian mereka pun melakukan muktamar atau konferensi internasional untuk merampas hak-hak kita, menabur problem di wilayah kita, sehingga setumpuk kesulitan dan rintangan di depan mata kita? Itu tidak lain hanyalah demi menjaga kondisi dan kepentingannya saja.

Satu hal yang lebih penting lagi bahwa mereka melakukan semuanya itu karena mereka adalah Nashrani. Pada perang yang lalu (maksudnya PD I dan II), kita bisa melihat bagaimana mereka melumat habis sebagian kita dengan sebagian yang lain. mereka semua adalah Nashrani. Lihatlah bagaimana mereka (orang-orang Nashrani) juga bersekutu dengan Zionisme, padahal ia adalah musuh bebuyutan bagi mereka. Mereka bisa bersatu karena dipersatukan oleh kepentingan materi dan ambisi imperialisme. Dan ini adalah sesuatu yang sudah dipahami dalam percaturan politik Barat.”

Beliau menambahkan, “Akan tetapi, menghindar dari Islam akan menjadi sebuah bencana besar dalam konteks keberadaan kita sendiri. Jika kita jauh dari mengakses ruhiyahnya dan merealisasikan hukum-hukumnya, maka kitalah sesungguhnya yang akan bingung, yang dengan begitu eksistensi kita akan hancur, terpecah-belah, dan akhirnya membuat kita tidak berdaya.”

Bagaimana mewujudkan Ustaziyatul ‘Alam (kepemimpinan dunia)

Imam memaparkan target-target dalam fase terakhir ini dengan isyarat yang sangat umum dan tidak terperinci; karena ini merupakan fase pertama. Realitas yang ada sangat mudah berubah sesuai dengan zamannya, dan tidak mungkin dapat diperinci.

– Yang pertama dalam target terakhir ini adalah munculnya Daulah Namuzajy (Negara model), yang telah menggunakan manhaj Islam di dalam pemerintahan, dan telah diterapkan di beberapa Negara muslim, dan telah berhimpun di seputar Negara inti atau Negara induk yang berperan sebagai sarana penghubung, dengan demikian ia menjadi pondasi inti untuk berdirinya Negara khilafah Islamiyah.

– Kemudian dilakukan upaya mengembalikan eksistensi Negara Islam, meningkatkan dan memajukannya di pelbagai aspek kehidupan.

– Lalu Negara-negara muslim yang lain bergabung di bawah satu naungan –yaitu naungan khilafah- dan hal itu dilakukan dengan metode dakwah dan tarbiyah masyarakat, dengan menggunakan pelbagai sarana yang bisa mewujudkan persatuan dan penyatuan di seluruh strata kehidupan. Dan hal itu berada di bawah tuntutan dan tekanan masyarakat muslim yang sadar, yang akan menyingkirkan kendala dan keragu-raguan.

– Negara khilafah akan tegak dengan perhatian dan dukungan seluruh masyarakat dan minoritas muslim yang tertindas, dan itu akan menjadi penyokong dan pelindung, yang akan menumpas kezhaliman dan membantu kemerdekaan dan mendapatkan hak-haknya kembali.

Dengan demikian terwujudlah persatuan Islam antara kawasan dan Negara-negara Islam di seluruh belahan dunia di bawah satu komando kepemimpinan, yaitu khilafah Islamiyah, dan terwujudlah hubungan dengan seluruh kaum muslimin di dunia yang akan mewujudkan kesatuan yang dicita-citakan, serta saling kerjasama dalam menyebarkan dakwah Islam dan menebar keindahannya di masyarakat.

Selanjutnya kesatuan umat Islam ini akan mendapatkan jalan mewujudkan kemajuan keilmuan, peradaban dan memiliki semua potensi kekuatan di pelbagai bidang, baik ekonomi, politik, sosial, budaya, keilmuan, dan lain-lain.

Dengan jangkauan, keluasan dan kekuatannya, khilafah Islamiyah akan menjadi pusat penting di dunia internasional, ia akan melakukan peran dakwahnya secara sempurna, menyampaikan keindahan Islam dan manhajnya, dan menjadi dakwah untuk seluruh umat manusia, serta mengedepankan realisasi amal-amal praktis dan hasil-hasilnya dalam kehidupan manusia.

Umat Islam akan membangun makna keadilan, persamaan dan kebebasan, membela orang-orang dizhalimi dan membimbing orang-orang yang zhalim.

Hal itu secara konkret akan menciptakan penyebaran Islam dan masuknya sejumlah besar orang-orang ke dalam Islam yang berasal dari berbagai Negara. Dengan begitu peradaban Barat –yang banyak menciptakan kerusakan dan kesengsaraan- tidak akan mampu bertahan lama di hadapan cahaya Islam dan petunjuknya yang mulia.

Khilafah Islamiyah memberikan kebebasan kepada seluruh umat manusia untuk memeluk Islam dan mengambil petunjuk dari ajaran-ajarannya, serta memelihara kekebasan tersebut di seluruh belahan dunia. Jika terjadi penindasan dari pemerintah atau Negara manapun terhadap hak-hak kebebasan ini atau terhadap kaum muslimin untuk berpegang teguh terhadap agama mereka, maka khilafah Islamiyah akan andil memberikan perlindungan dan menolak penindasan dan kezhaliman ini.

Dengan itu, maka terwujudlah ustaziyatul ‘alam (kepemimpinan dunia) dan Islam menjadi soko guru dengan agama dan manhajnya di seperempat dunia. Umat manusia akan berlindung di bawah naungannya, menikmati kebebasan, keadilan dan persamaan hak, baik yang sudah beriman maupun yang belum beriman, sebagaimana hidayah Islam pada masa Rasulullah Saw. dan masa khulafaur Rasyidin terhadap warga negaranya.

Kita harus memahami secara jelas bahwa nilai-nilai ajaran Islam, prinsip-prinsip dan manhajnya yang diturunkan Allah Swt., akan menjadi penopang peradaban dunia dan kesempurnaan nilai-nilai kemanusiaan, serta merupakan ketinggian nilai yang dicita-citakan manusia, yang tidak ada tandingannya oleh manhaj atau dakwah manapun di atas permukaan dunia. Hasil konkret dari penerapan manhaj rabbani ini terhadap umat Islam adalah, realitas hadarah Islamiyah (peradaban Islam) sepanjang sejarah. Jadi sejauhmana pengamalan, realisasi dan komitmennya terhadap agama, baik pemahaman, penerapan, dakwah dan harakah, maka akan semakin mendekatkannya kepada model peradaban Islam yang sempurna.

Kemajuan keilmuan yang sesuai di segala zaman, ketenangan dan kesejahteraan manusia, merupakan corak yang beragam dari penerapan manhaj. Ia adalah hasil yang bisa dihasilkan oleh siapa saja yang mampu menggunakan faktor-faktor dan ketentuannya yang ada, namun ia tidak akan mampu merealisasikan kebahagiaan dan kemenangan untuk umat manusia kecuali dengan manhaj Islam.

Imam Syahid menyebutkan tentang faktor-faktor kesuksesan umat Islam dalam mengajak umat manusia menuju peradaban Islam. Beliau berkata, “wahai kaum muslimin, ingatlah bahwa dunia tidak akan mendengarkan kalian dan tidak akan menyambut seruan kalian, kecuali jika kalian menjadi qudwah yang shalih terhadap nilai-nilai yang kalian serukan, serta mengamalkan manhaj yang mulia ini, yakni kitab Allah yang telah diturunkan kepada manusia.

“Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji”. (Fushilat: 42)

Dan kalian bersama-sama bahu membahu, sehati dan sejiwa, satu tujuan; karena Islam adalah persatuan dan kemanunggalan, dan tidak ada yang lain.

Sesungguhnya persatuan, kesatuan kalimat, perpaduan hati adalah intisari Islam yang sesungguhnya –tidak diragukan lagi-, dan umat Islam adalah umat yang satu; di dalam ikatan ukhuwah Islamiyah.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (Ali Imran: 103)

Sabda Rasulullah Saw, “Kalian tidak akan beriman sehingga kalian saling mencintai..”

Imam Syahid turut menegaskan dalam hal ini tentang urgensi persatuan umat dan kesatuan kalimat, serta komitmen untuk menerapkan syariat Islam di dalam diri mereka sendiri sebelum mendakwahkannya kepada orang lain, dan cukuplah bagi kita dengan kenangan sejarah yang mulia tentang peradaban Islam.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s