Umat Islam dan Perang peradaban

Jika kita berbicara tentang peradaban Islam, maka hal itu sangat ditentukan oleh bagaimana penerapan konsepnya secara praktis atau peradaban Islam yang berkesesuaian dengan manhaj Allah dan pengamalannya, maka demikian pula kematangan dan pencapaiannya hingga ke puncak peradaban. Setiap peradaban di setiap Negara memiliki timbangan rabbany (ketuhanan) dan sunnah alam yang telah ditetapkan oleh Allah Swt.. jika Umat manusia menggunakannya, maka ia akan berkembang dan mencapai kecemerlangan hingga saat ini, namun jika ia melanggar dan menyepelekannya, maka ia akan hancur dan punah. Peradaban hakikat yang sempurna adalah yang berdiri di atas prinsip-prinsip Islam dan syariatnya, titik tolaknya adalah keimanan, tujuannya adalah Allah yang maha tinggi, dan ia merupakan peradaban model yang paripurna, yang memiliki kelayakan dan kepantasan memimpin dan menguasai secara sempurna di bumi.

Islam memandang hubungan dan interaksi dengan peradaban-peradaban yang lain harus berlandaskan kepada hal-hal berikut: yaitu dakwah dan menyampaikan risalah Islam kepada seluruh umat manusia; mendorong kerjasama dan saling mengenal antar sesama; menciptakan pertautan antar bangsa-bangsa di dunia sesuai dengan nilai-nilai keadilan dan prinsip-prinsip kemanusiaan yang mulia, yang memberikan hak kepada setiap orang.

Peradaban Islam memiliki kelapangan hati terhadap seluruh bangsa-bangsa di dunia, terhadap peradaban dan nilai-nilai yang dimilikinya secara khusus, dan diantara haknya adalah masing-masing berhak merasa bangga dengan kebangsaannya, tanpa ada tekanan dari orang lain. Islam menimbang aset, peninggalan dan peradaban masing-masing bangsa dengan timbangan Islam dan nilai-nilainya, apa saja yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam maka ia menerimanya, adapun yang bertentangan maka ia akan menyampaikan sikapnya, dan ia akan mengambil apa saja yang bermanfaat berupa pemakmuran bumi dan alam semesta, mencelupkannya dengan shibghah Islam, dan mengarahkannya dengan pengarahannya yang bermanfaat untuk kemaslahatan manusia.

Umat Islam juga meyakini sunnah pertentangan di alam semesta. Dengan begitu merupakan sebuah kemestian adanya sekelompok da’I yang mengusung kebenaran, suatu umat yang memikul dan membenarkan prinsip-prinsipnya, yang memberikan kebebasan dan perlindungan kepadanya, serta menolak segala bentuk penindasan dan kezhaliman di bumi.

Umat Islam memandang konflik peradaban sebagai konflik yang diciptakan oleh pengusung kebatilan, penguasa zhalim dan kediktatoran. Islam mengajak manusia untuk bersepakat mengganti konsep tersebut dengan nilai-nilai kemanusiaan, menjadikan peradaban manusia bertitik tolak dari keimanan, akhlak dan tidak menyembah selain kepada Allah, serta peradaban Islam –yang merupakan model petunjuk yang bersumber dari syariat rabbaniyah- yang berperan di dalam dakwah dan memberikan hidayah kepada manusia serta sampainya umat manusia kepada ketinggian nilai peradaban keimanan.

Umat Islam meletakkan standar hubungan yang sama dengan dengan bangsa-bangsa yang lain, dan memelihara kemuliaan dan izzah yang dimilikinya; barangsiapa yang menerima, maka ia akan menerimanya, barangsiapa yang memusuhi dan menindasnya maka ia menolak penindasan tersebut, melawan dan menghentikan kezhalimannya.

Umat Islam menyadari pengalaman sejarah dan mengenal baik terhadap kekuatan yang menghadang dakwah dan karakteristiknya sejak hari pertama. Al Quran dan hadits Rasulullah Saw. telah menjelaskan kepada kita tentang karakter perseteruan dan tahapan-tahapannya. Sesungguhnya itu tiada lain adalah upaya kebatilan, syaithan dan bala tentaranya dalam memerangi cahaya kebenaran dan manhaj Islam, serta orang-orang yang mengusungnya, dan bukan sesuatu yang mustahil bahwa kebatilan akan hancur dan musnah -sesuai dengan janji Allah dan ketentuannya- jika kita menggunakan faktor-faktor keteguhan dan kemenangan sebagaimana yang Allah tetapkan.

“Dan Katakanlah: “Yang benar Telah datang dan yang batil Telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (Al Isra: 81)

Namun pertempuran sengit ini, tidak membuat umat Islam menjadi beringas, lalim dan melakukan penindasan.

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al Maidah: 8)

Allah Swt. menetapkan perseteruan antara hak dan batil ini tiada lain adalah untuk menyaring antara yang baik dengan yang buruk, dan dengan begitu nilai-nilai kebenaran dan keadilan akan tertanam kokoh ketika menghadapi kebatilan di muka bumi. Perseteruan dimulai pada saat pengusung kebenaran masih sangat sedikit, tidak memiliki sarana dan kemampuan yang memadai, sementara mereka harus memikul beban dan pengorbanan yang tidak sedikit, pada waktu yang sama di hadapan mereka terdapat pengusung kebatilan yang sangat banyak dan memiliki pelbagai sarana-sarana material, dan mereka (pengusung kebatilan) akan mengerahkan seluruh kemampuan yang mereka miliki, meski demikian mereka tidak akan pernah berhasil atau memenangkan pertempuran, firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. mereka akan menafkahkan harta itu, Kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan”. (Al Anfal: 36)

Berikut kami sampaikan petikan pemahaman dalam pembahasan ini, dan realitas empiriknya di lapangan:

– Peradaban Islam adalah peradaban yang hakiki dan mencakup materi dan ruhi secara bersamaan. Ia sesuai dengan ketentuan alam dan fitrah manusia dan mempunyai keunggulan hakiki di segala sisi.

– Peradaban ini bediri di atas manhaj Rabbani (berprinsip ketuhanan) yaitu Islam, yang membuatnya layak memimpin umat manusia dan memimpin alam seluruhnya (ustaziyatul a’lam).

Ini adalah anugerah bagi umat Islam, sebagaimana dalam firman Allah:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia”. (Ali Imran:110)

Syaratnya adalah dengan mengikuti manhaj Allah dan menjalankan risalah Islam. Ia adalah anugerah dakwah dan manhaj, bukan anugerah golongan, suku atau fanatisme.

Imam Syahid berkata, “Islam telah menetapkan kepemimpinan umat Islam terhadap alam semesta dalam banyak ayat dalam Al-Quran, kemudian mewajibkan umat ini untuk menjaga kepemimpinan yang ada dan memerintahkannya untuk mempersiapkan bekal serta menyempurnakan kekuatan sehingga kebenaran akan berjalan seiring dengan kekuatan pemerintah dan bersinar dengan cahaya hidayah,

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi” [Al-Anfal:6]

Beliau juga berkata, “Ini artinya, Al-Quran Al-Karim menempatkan kaum muslimin sebagai pemimpin bagi manusia dan memberikan mereka hak kekuasaan dan kepemimpinan atas dunia demi menjalankan kepemimpinan yang mulia ini. Dengan demikian maka kepemimpinan ini adalah hak kita dan bukan hak Barat, untuk peradaban Islam dan bukan peradaban materialisme Barat.”

Imam Syahid mengingatkan dari penyimpangan dalam melaksanakan kepemimpinan ini, “Janganlah lalai dari peringatan (yang Allah Swt. sampaikan) dalam surat Al Nasr, yaitu tumbuhnya rasa bangga diri (angkuh), dan apa saja yang membuatnya jauh dari keadilan dan pelanggaran hak.

– Ini adalah misi dan kepentingan yang dibawa oleh umat Islam setelah Rasulullah Saw. dan dengan peradaban Islam yang ada ia dapat memimpin dunia. Imam Syahid menjelaskan bahwa sikap jauh dari agama dan substansinya dan tidak mengambil sebab-sebab kekuatan, menyebabkan bersambungnya episode kelemahan dan kejatuhan dalam tubuh umat Islam, seperti tersebarnya perselisihan politik dan fanatisme golongan, perebutan kepemimpinan dan jabatan, perselisihan mazhab dan konflik agama, berpaling dari agama sebagai pilar aqidah, ruh dan kehidupan, tenggelam dalam kemewahan, kemegahan, syahwat dan kediktatoran pemerintah, tertipu dengan sarana musuh dan orang-orang munafik serta menyepelekan ilmu-ilmu praktis dan pengetahuan alam.

– Kemudian datanglah -dengan kondisi umat yang seperti itu-upaya musuh-musuh Allah untuk menghancurkan umat Islam. Imam Syahid menjelaskan benih permusuhan dan perang terhadap umat Islam ini, “Upaya-upaya ini mulai dilakukan di dalam tubuh daulah Islamiyah dan umat Islam. Umat yang sedang down ini menyangka bahwa kesempatan itu telah tiba untuk mengambil bagian dan menghancurkan daulah Islamiyah yang pernah membuka kawasan tersebut sebelumnya, dan mengubah petunjuknya di segala sisi kehidupan”

Beliau juga berkata, “Dan mereka (para musuh Islam) pun berpecah belah dalam kepentingan dan berselisih dalam permusuhan. Namun ada satu hal yang mereka sepakati dan mereka berbagi untuk melaksanakannya, yaitu menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Inilah dendam salibis dan politik raj’iyyah (timbal balik) yang mendorong mereka untuk melakukan aksi yang gila dan menakutkan”

Jangan kalian menipu diri sendiri, wahai kaum muslimin. Cukup sudah kelalaian yang ada dan prasangka baik terhadap hari-hari yang ada. Sesungguhnya Allah sudah menjelaskan sifat mereka kepadamu dalam kitab-Nya. Allah berfirman:

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” [Al-Baqarah: 217]

Dan Dia (Allah) bahkan telah menjelaskan kepada nabi-Nya yang lebih jelas dari itu.

Mereka tidak akan puas kecuali jika kalian murtad dan tunduk. Dan di balik semua itu, mereka memendam perasaan dengki yang mendorong adanya permusuhan terhadap kalian.

Orang-orang Eropa berhasil dalam fase ini menyebarkan peradaban materialismenya. Imam Syahid berkata, “Orang-orang Eropa telah berusah dengan sungguh-sungguh untuk memenuhi bumi dengan paham materialisme ini, dengan penampilannya yang rusak dan virus yang membunuh, ke seluruh negara-negara Islam yang bermitra dengan mereka. Selain umat Islam, mereka juga berusaha untuk menghalangi umat lainnya dari unsur-unsur kebaikan dan kekuatan yang berupa ilmu dan pengetahuan perindustrian serta tatanan kehidupan yang bermanfaat. Mereka mengatur taktik perang sosial ini dengan sangat teliti, memanfaatkan kecerdikan politik yang mereka miliki, kekuatan militer yang mereka punyai, sehingga apa yang mereka inginkan dapat tercapai.

Setelah itu mereka mampu mengubah aturan hukum, ketetapan dan pendidikan, dan mewarnai tatanan politik, hukum dan kebudayaan dengan warna murni mereka di negara Islam terkuat.

Beliau juga berkata, “Namun peradaban barat ini telah memerangi kita dengan kuat dan ganas, dengan pendidikan, ekonomi, politik, kemewahan, kesenangan, permainan dan pola kehidupan yang menggiurkan. Kita terdorong untuk mengubah prinsip dan mewarnainya dengan warna Eropa, kita membatasi kekuasaan dalam kehidupan dalam hati dan mihrab-mihrab, dan kita memisahkannya dari praktek kehidupan.

Kehidupan barat yang diliputi fatamorgana dan fitnah ini, dengan segenap penampilannya yang materialistis mencoba untuk menguasai bagian vital kehidupan kita yang tersisa”

Beliau juga berkata, “Setelah itu kita mampu berkata, peradaban barat dengan pondasi materislistiknya telah memenangkan perang sosial ini atas peradaban Islam yang mempunyai pondasi kuat dan mencakup materi dan ruhi di kawasan Islam sendiri, dan dalam perang dahsyat yang lokasinya adalah diri, jiwa, keyakinan dan akal kaum muslimin sendiri, sebagaimana mereka juga telah menang di bidang politik dan militer. Tidak ada yang aneh dalam hal ini. Ekspresi kehidupan adalah sesuatu yang tak terpisahkan. Kekuatan adalah kekuatan di dalam fenomena kehidupan itu semuanya dan kelemahan juga demikian halnya.

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)” (Ali Imran; 14)

– Bagaimanapun kuatnya serangan, pilar Islam tetap kuat. “Pilar Islam dan pendidikannya tetap kuat, terus memberikan kesuburan dan kehidupan, tetap memikat dengan segala keindahannya, dan akan tetap seperti itu. Sebab ia adalah Al Haq, dan kehidupan manusia tidak tegak berdiri dengan sempurna tanpanya, sebab ia juga adalah ketentuan Allah dan selalu berada dalam penjagaannya.

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9)

“Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai”. (Al-Taubah: 32)

– Kini menjadi kewajiban mengembalikan kembali peran kita dan menegakkan kebangkitan dan peradaban. Imam Syahid berkata, “Demikianlah, wahai saudara-saudara sekalian. Allah menginginkan kita untuk mewarisi peninggalan yang berat ini dengan komitmen, memancarkan cahaya dakwah kalian di tengah kegelapan ini dan mempersiapkan kalian untuk meninggikan kalimat-Nya, menegakkan syariat-Nya dan kembali mendirikandaulah Islamiah.”

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa” ( Al-Hajj: 40)

Beliau juga berkata, “Kondisi ini memaksa kita terpaksa harus menelan kesalahan masa lalu, dan merasakan kepahitannya. Namun, hendaklah kita bisa kembali mengikat yang bercerai berai, menambal pecahan, menyelamatkan diri dan anak-anak kita, mengembalikan kehormatan dan kemuliaan kita, dan menghidupkan peradaban dan pendidikan agama kita”

– “Untuk itu, Al-Ikhwan Al-Muslimun mengajak untuk menjadikan asas kebangkitan adalah menyatukan pola kehidupan praktis dalam umat ini atas dasar Islam dan tata aturannya“.

Bagi umat ini ada jalan panjang membentang untuk mewujudkan keinginan ini. “Kewajiban umat ini hanyalah mempersiapkan diri untuk sebuah pengorbanan yang panjang, perang yang sengit antara al haq dan kebatilan, antara manfaat dan bahaya, antara pihak yang benar dan yang mencoba untuk mengotorinya, antara yang menempuh jalan kebenaran dan yang menyimpang darinya, antara yang ikhlas dan bersemangat dengan yang mengaku-ngaku dan pura-pura. Umat ini haruslah tahu bahwa jihad itu berarti bekerja keras, dan kerja keras itu adalah lelah dan susah payah.

Tiadalah persiapan umat ini dalam perjalanan yang menakutkan ini selain jiwa yang beriman, keinginan kuat yang kokoh dan benar, kesiapan berkorban, keberanian menghadapi resiko. Tanpa itu, umat ini akan terkalahkan dan akan melahirkan kegagalan”

Kemudian Allah Swt. menjelaskan bahwa seorang mukmin dalam menempuh tujuan mulia ini telah menjual diri dan hartanya untuk Allah. Tidak ada bagian untuk dirinya sedikitpun. Ia semata-mata berbuat untuk keberhasilan dakwah ini dan menyampaiakannya ke hati-hati umat manusia

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka”. (At-Taubah: 111]

Itulah sebabnya setiap muslim menjadikan dunianya sebagai wakaf bagi dakwahnya agar ia bisa mendapatkan akhirat sebagai balasan dari Allah atas pengorbanannya. Itu pula sebabnya seorang pejuang muslim adalah juga seorang guru yang memiliki semua sifat yang semestinya ada pada seorang guru; cahaya, hidayah, rahmat dan kelembutan. Sehingga pembebasan Islam berarti juga pembebasan demi peradaban, kemajuan, pengajaran dan bimbingan kepada seluruh umat manusia. Samakah ini dengan dominasi Barat sekarang, yang mewujud dalam bentuk imperialise dan penindasan.”

Asas tegaknya kesatuan internasional

Imam Syahid berkata, “Dari sini, wahai saudara-saudara sekalian, kita bisa melihat sahabat-sahabat mesjid, ahli-ahli ibadah dan para penghapal Al-Quran, bahkan putera-puteri salaful umah -semoga Allah meridhai mereka-, tidak puas dengan kemerdekaan negeri mereka sendiri, namun mereka berpindah ke belahan bumi yang lain, berjalan ke segenap penjuru negeri menjadi pembuka kawasan dan guru. Mereka ikut berjuang memerdekakan umat-umat sebagaimana mereka telah merdeka, memberi mereka petunjuk dengan cahaya Allah sebagaimana mereka telah beroleh petunjuk, dan menuntun mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Mereka tidak ekstrim, tidak berkhianat, tidak menzhalimi orang lain, tidak bermusuhan, dan memperhambakan manusia yang dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan merdeka.”

“Kesatuan intenasional ini tegak di atas manhaj Islam dan pondasinya, kepada kepemimpinan umat Islam yang berpegang teguh terhadap ajaran-ajaran agamanya dan untuk seluruh dunia. Sungguh Islam telah mendesain jalan ini untuk dunia. Maka satukanlah akidah terlebih dahulu, kemudian tata aturannya dan setelah itu realisasi amal”

“Saya benar-benar ingin menegaskan kepada para hadirin sekalian bahwa politik Islam, dalam dan luar negeri, menjamin hak-hak non muslim sepenuhnya, baik itu hak internasional maupun hak dalam negeri para minoritas non muslim. Sebab kemuliaan Islam yang integral adalah kemuliaan kemuliaan paling suci yang dikenal oleh sejarah. Allah Swt. Berfirman:

“Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, Maka kembalikanlah Perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat”. (Al-Anfal: 58]

Dia juga berfirman:

“Kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah Mengadakan Perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, Maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya[629]. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa”. (At-Taubah: 04]

Islam menjamin hak-hak minoritas dengan nash Al-Quran, yaitu firman Allah:

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu Karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. (Al-Mumtahanah:8)

Imam Syahid juga mengisyaratkan bahwa hubungan antara suku dan bangsa lainnya tegak di atas pilar dakwah dan saling tolong menolong untuk kebaikan kemanusiaan. Tentang hal ini beliau berkata: “Dan kaum yang tidak demikian (non muslim) kita tidak terikat dengan mereka dengan ikatan ini (Islam), untuk mereka kita akan berdamai dengan mereka selama mereka berdamai dengan kita, kita senang berbuat baik kepada mereka selama mereka tidak memusuhi kita. Kita yakin bahwa antara kita dan mereka terdapat ikatan, yaitu ikatan dakwah. Kita wajib mengajak mereka kepada apa yang kita rasakan saat ini sebab itu adalah kebaikan untuk manusia seluruhnya. Untuk kesuksesan dakwah ini, kita menempuh jalan dan sarana yang telah ditentukan oleh agama. Siapa yang memusuhi kita maka akan kita balas permusuhan ini dengan yang lebih baik dari apa yang dilakukan oleh kelompok yang bermusuhan.

Beliau berkata, ”Adapun universalitas dan kemanusiaan, maka itu adalah cita-cita kita tertinggi, tujuan kita yang agung dan episode penutup dalam serial perbaikan.”

“Sesungguhnya Ikhwan Muslimin menginginkan kebaikan untuk seluruh alam.”

“Kita menginginkan perdamaian untuk seluruh alam.”

“Kita cinta dan saling tolong menolong dengan pihak lain.”

Beliau mengisyaratkan bahwa perkembangan bangsa dan masa akan mengawali pemikiran universal ini: “Semua itu adalah awal permulaan berkuasanya pemikiran universal untuk kemudian menggantikan pemikiran nasionalisme dan kesukuan.”

Peran yang dapat kita lakukan pada fase ini untuk mencapai cita-cita kita tertinggi

Imam Syahid berkata, “Cukuplah darinya kita menjadikan tujuan dan meletakannya di depan mata. Kita letakkan batu bata dalam bangunan kemanusiaan ini tanpa harus menunggu bangunan ini sempurna. Setiap sesuatu itu ada ketentuanya.”

“Dari sini ada beberapa fase. Kita berharap semua fase ini akan terwujud dengan konsisten dan kita bisa menyelesaikan seluruhnya, kemudian setelah itu kita bisa sampai kepada target yang dituju.”

“Merupakan bagian dari dakwah kalian, wahai saudara-saudara tercinta, turut berperan dalam kedamaian universal dan membangun hidup yang baru bagi manusia, dengan menunjukkan kepada mereka kebaikan agama kalian, kemuliaan dasar dan pendidikannya”

Dengan adanya gambaran yang sempurna seputar seluruh tujuan ini, maka membangun dan mengerjakan fase-fase dan tujuan semula membentuk planning-planning dasar untuk mencapai dan mewujudkan tujuan akhir ini. Hal-hal yang kita perlukan dalam fase pertama pembinaan untuk mencapai tujuan mulia ini, tercermin dalam:

– Kejelasan pandangan seputar tujuan dan peran.

– Keimanan dan keyakinan untuk bisa mewujudkannya, dan bahwa ia akan terlaksana seperti apa yang telah diberitakan oleh Nabi Muhammad Saw.

– Tidak melupakan dan melalaikannya. Menguatkan keimanan terhadapnya, usaha yang sungguh-sungguh, dan selalu menghidupkan perasaan terhadapnya di dalam jiwa.

– Mengambil sarana-sarana awal dalam mewujudkannya, berupa saling menyempurnakan dan tolong menolong diantara masyarakat-masyarakat Islam, meningkatkan ikatannya dengan segala jalan dan sarana yang ada untuk seluruh tingkatan; individu, yayasan-yayasan, lembaga-lembaga, bangsa-bangsa dan segenap penjuru dunia. Berusaha untuk mengembalikan bentuk eksistensi universal untuk umat Islam dan beramal untuk meninggikan dan memajukannya.

Sesungguhnya hal ini membutuhkan waktu yang panjang dan banyak fase kehidupan. Tahapan dengan bentuk seperti ini ke tingkatan yang lebih tinggi dari ikatan dan saling tolong menolong adalah awalan untuk mengkristalkan mabda’ini di kalangan bangsa-bangsa, juga merupakan awalan di setiap sisinya dan mendirikan kekhalifahan.

– Ketelitian untuk mewujudkan langkah-langkah ini, mewujudkan tujuan setiap fase, dan tidak terburu-buru dengan berlebihan dan melompat terlalu jauh.

Oleh karena itu, Ikhwan mendukung seluruh kerja kolektif dan seluruh bentuk tolong-menolong dan bekerja sama diantara bangsa dan negara di dunia Islam, walaupun bentuknya tidak lengkap dan sedikit memberi hasil. Fase ini bertahap, sehingga nantinya kita bisa sampai kepada apa yang kita inginkan dari kesatuan dan adanya ikatan.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s