Menutup Aurat! Bukan Membungkus Aurat

“Hai Asma’! Sesungguhnya seorang perempuan apabila telah datang waktu haidh, tidak patut diperlihatkan tubuhnya melainkan ini dan ini (Rasulullah berkata sambil menunjuk muka dan kedua telapak tangannya hingga pergelangannya).” (HR. Abu Daud)

Wanita adalah manusia yang paling berharga. Segala sesuatu dari wanita perlu dijaga, mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut. Wanita itu diibaratkan sebuah barang yang mudah pecah. Jika sudah pecah tidak akan kembali sempurna seperti sedia kala. Adakalanya diperbaiki dengan cara di lem atau sejenisnya, itu juga tidak akan pernah sama dengan sedia kala. Untuk itu, wanita seyogyanya menjaga diri sebaik mungkin meskipun hanya sehelai rambut. Salah satu usaha menjaga diri seorang wanita adalah dengan menutup aurat. Karena, menutup aurat merupakan sebuah perintah Allah SWT: “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan…” (QS. Al-A’raf : 26)

Di zaman sekarang ini pada dasarnya semua wanita terutama yang sudah baligh mengetahui akan perintah menutup aurat tapi tidak memahami bagaimana cara menutup aurat yang benar. Banyak sekali busana muslimah yang nyatanya tidak muslimah, banyak wanita berpakaian tapi telanjang, dan berjilbab yang mengedepankan modis daripada syari’at. Untuk itu, perlu difahami beberapa kriteria yang baik dan benar dalam mengenakan pakaian sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah SAW.

* Benar-benar berfungsi sebagai penutup aurat.

Hendaklah wanita berpakaian dengan menutup seluruh bagian tubuh baik rambut selembarpun terkecuali muka dan telapak tangan sebagaimana dalam hadits yang tertulis di awal tadi.

* Tidak ketat.

Fatimah putri Rasulullah SAW pernah berkata kepada Asma: “Wahai Asma! Sesungguhnya Aku memandang buruk apa yang dilakukan oleh kaum wanita yang mengenakan baju yang dapat menggambarkan bentuk tubuhnya.” (HR. Abu Nu’aim). Sekarang ini, telah banyak kita jumpai wanita-wanita yang menutup seluruh tubuhnya dengan pakaian. Tapi, pakaian tersebut sangat ketat sehingga tergambar bentuk tubuhnya. Yang demikian ini adalah perilaku membungkus aurat, bukan menutup aurat.

* Tidak transparan.

“Suruhlah istrimu untuk mengenakan kain tipis (ghilalah) lagi di bagian dalamnya, karena sesungguhnya akan khawatir kalau sampai lekuk tubuhnya tampak.” Perintah tersebut diberikan Rasulullah SAW kepada Usamah bin Zaid ketika ditanya oleh Nabi SAW tentang kain tipis (al-qabthiyah). Usamah pun menjawab bahwa ia telah mengenakannya kepada istrinya. Artinya, Rasulullah menyuruh agar memakai lagi kain tipis sebagai pakaian bagian dalam dan ditutup kembali dengan pakaian yang lebih tebal dengan bertujuan agar tidak terlihatnya warna kulit dan lekuk tubuh.

* Tidak menyerupai pakaian laki-laki.

“Tidak termasuk golongan kami para perempuan yang menyerupai diri dengan kaum laki-laki dan kaum laki-laki yang menyerupakan diri dengan kaum perempuan.” (HR. Ahmad dan Abu Nuaim). Dari hadits tersebut, dapat disimpulkan bahwa laki-laki menyerupai perempuan atau sebaliknya merupakan suatu perkara yang dilarang.

* Tidak menyerupai pakaian wanita kafir

Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh ini merupakan pakaian orang-orang kafir, maka janganlah engkau memakainya.” Oleh karena itu, seorang wanita muslimah tidak boleh berpakaian seperti orang kafir. Karena, sesungguhnya kaum muslimin dan muslimah mempunyai ciri khas yang membedakan mereka dengan orang kafir dalam segi berpakaian.

* Pakaian yang berupa jilbab.

“Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu….” (QS. AL-Ahzab:59). Yang dimaskud dengan jilbab itu sendiri bisa bermakna milhafah (baju kurung atau semacam abaya yang longgar dan tidak tipis), kain (kisa’) yang dapat menutupi seluruh tubuh bagian tubuh.

* Memperpanjang ujung pakaian.

Wanita diperintahkan memanjangkan bajunya sejengkal dan ditambah sehasta . Tapi, bukan untuk disombongkan melainkan untuk memenuhi syarat dalam menutup aurat secara sempurna.

* Bukan diniatkan untuk perhiasan.

Pakaian muslimah bukan berfungsi sebagai perhiasan sebagaimana dalam firman Allah SWT: “Dan janganlah kaum wanita itu menampakkan perhiasan mereka…” (QS. An-Nur : 31). Perintah mengenakan jilbab bagi wanita adalah untuk menutupi perhiasan wanita bukan menjadi perhiasan bagi wanita.

* Tidak diberi wewangian atau farfum.

“Siapapun wanita yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkanbaunya, maka ia adalah pezina.” (HR. An-Nasai, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.

* Bukan untuk popularitas.

“Barangsiapa mengenakan pakaian syuhrah (untuk mencari popularitas) di dunia, niscaya Allah mengenakan kepadanya pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.” (HR. Ibnu Majah dan Abu Dawud). Oleh karena itu, bagi setiap muslimah hendaknya tidak menggunakan pakaian dengan tujuan syuhrah dan senantiasa niat berpakaian untuk beeribadah kepada Allah SWT.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s