MENYIKAPI PERBEDAAN PENDAPAT SECARA PROPORSIONAL

Di dalam umat terjadi perbedaan yang melahirkan komunitas Islam ‘bersaing’: Sunni, Syiah dan Khawarij yang masing-masing mengklaim monopoli kebenaran. Yang terpenting dalam mengepresikan religiusitas Islam adalah dilakukan dialog terus menerus dengan menjernihkan mana masalah yang bersifar aksidensial dan mana yang bersifat subtansial. Sehingga mengepresikan religuitas Islam berarti juga mencegah terjadinya perselisihan besar di kalangan umat atau al-finah al-kubra.” (Suara Muhammadiyah edisi 16-30 April 2012).

Dalam persyarikatan Muhammadiyah, dikenal adanya “Majelis Tarjih” yang bertugas membahas masalah-masalah keagamaan yang memilih dan meneliti di antara dalil-dalil berkaitan masalah tersebut, mana yang terkuat dipilih menjadi acuan pengamalan dalam berislam.

Di antara diktum yang tercantum dalam HPT cetakan II, halaman 11 disebutkan: Kemudian daripada itu, maka kalangan umat yang terdahulu, yakni mereka yang terjamin keselamatannya (al firqah an najiah minas salaf)… Dalil dari pernyataan ini ialah Hadis Nabi saw: Dan bahwasanya Bani Israil telah bercerai-berai menjadi 73 aliran, semuanya masuk neraka kecuali satu aliran. Kata Sahabat, ‘siapakah aliran yang satu itu wahai Rasulullah?’ Rasulullah menjawab, ‘adalah mereka yang mengikuti jejakku dan sahabat-sahabatku’.”. (H.R. Tirmidzi).

Jadi Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar yang ingin mengantar anggota dan simpatisannya bahkan umat Islam lainnya kegerbang kebahagiaan dunia dan akhirat, harus selalu memiliki pemahaman dan pengamalan berdasarkan al Quran dan Hadis sesuai pemahaman dan pengamalan para sahabat dan generasi yang dekat masanya dengan Rasululah saw, yaitu tabi’in, dan tabi’ tabi’in, Termasuk para imam yang muktabar, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal. Dengan jalan tersebut Muhammadiyah termasuk dalam golongan firqah an najiyah min as salaf, yang selamat dan selalu merujuk dalam pemahaman dan pengamalan agama kepada pendahulu Islam (Assabiqun al Awwalun, min al Muhajirin wal Anshar, wa alladzina ittaba’u hum bi Ihsan).

Tentang sikap Muhammadiyah terhadap Syiah, Prof. Dr. Yunahar Ilyas, berdasarkan sidang pleno PP Muhammadiyah, menyatakan bahwa Muhammadiyah secara tegas menolak berbagai akidah Syiah yang bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya, di antaranya, Petama, Muhammadiyah meyakini bahwa hanya Nabi saw yang ma’shum. Oleh karena itu Muhammadiyah menolak konsep kesucian Imam-imam (‘ismatul aimmah) dalam ajaran Syiah. 2. Muhammadiyah meyakini bahwa Nabi Muhammad saw tidak menunjuk siapa pun pengganti beliau sebagai khalifah, kehalifaan setelah beliau diserahkan kapada musyawarah umat, jadi kekhalifaan Abu Bakar as Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, radhiallahu ‘anhum adalah sah. Oleh sebab itu Muhammadiyah menolak konsep Rafidah-nya Syiah. 3. Muhammadiyah menghormati Ali bin Abi Thalib sebagaimana sahabat-sahabat yang lain, tapi Muhammadiyah menolak kultus individu terhadap Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. 4. Syiah hanya menerima Hadis dari jalur Ahlul Bait, ini berakibat ribuan Hadis shahih -walaupun riwayat Bukhari Muslim- ditolak oleh Syiah. Dengan demikian, banyak sekali perbedaan antara Syiah dan Ahlussunnah, baik masalah akidah, ibadah, munakahat, dan lain-lainnya.

Sikap tersebut hendaknya menjadi pedoman bagi warga Muhammadiyah khususnya dan umat Islam pada umumnya, sehingga dengan demikian kita harus bersikap waspada terhadap ajaran dan doktrin Syiah yang memang sangat berbeda dengan paham Ahlussunnah yang dianut oleh mayoritas umat Islam Indonesia.

Di samping itu realitas, fakta, dan kenyataan, menunjukkan kepada kita bahwa di mana suatu negara ada Syiah, hampir dapat dipastikan terjadi konflik horizintal. Hal tersebut tentu harus menjadi perhatian kita semua jika kita ingin Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap utuh dan ukhuwah Islamiah tetap terjaga. (Majalah Tabligh Jumadil Awaal-Jumadil Akhir, 1422H).

Jadi yang disebut oleh Bapak Achmad Zubair dalam Suara Muhammadiyah edisi 16-30 April 2012 di atas agar kita (Sunni) selalu berdialog dengan Syiah, adalah benar dengan catatan kita sebelumnya telah mempunyai sikap yang jelas tentang Syiah bahwa paham Syiah itu bertentangan dengan pemahaman yang benar dalam agama Islam, berarti Syiah menyimpang sehingga pada saat kita berdialog dengan mereka tujuan kita ialah mengajak mereka untuk kembali ke jalan yang benar yaitu Ahlussunnah wal Jamaah dalam arti yang luas.

Sikap Muhammadiyah di atas sangat cocok dengan jiwa fatwa MUI dan Edaran Depag sebagai berikut: a) Syiah (Imamiah) tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya (Edaran Depag No: D/BA.01/4865/1983). b) Ajaran Syiah mempunyai perbedaan mendasar, perbedaan pokok dengan Ahlussunnah wal Jama’ah terutama mengenai ‘Imamah’ atau pemerintahan, sehingga perlu ditingkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya Syiah tersebut. (Rekomendasi MUI, Jakarta 7 Maret 1984). c) Ajaran Syiah tidak diakui dan ditolak oleh mayoritas umat Islam Indonesia yang menganut paham Sunni (Ahlussunnah wal Jamaah). (Fatwa MUI, tentang Nikah Mut’ah, Jakarta 25 Oktober 1997). d) Ajaran Syiah (khususnya Imamiah Itsna Asyariah atau yang menggunakan nama samaran Madzahab Ahlul Bait) dan semisalnya serta ajaran-ajaran yang mempunyai kesamaan dengan faham Syiah Imamiah Itsna Aysariah adalah sesat dan menyesatkan. (Fatwa MUI Jatim, no: Kep-01/Skf-MUI/JTM/2012).

Supaya jelas bagi kita, mana perbedaan pendapat yang ditolerir dan mana yang tidak boleh ditolerir. MUI dalam keputusan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa seindonesia 2006 memutuskan: 1. Perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan umat Islam merupakan suatu yang wajar, sebagai konsekwensi dari pranata “ijtihad” yang memungkinkan terjadinya perbedaan. 2. Sikap yang merasa hanya pendapatnya sendiri yang paling benar serta cenderung menyalahkan pendapat orang lain dan menolak dialog, merupakan sikap yang bertentangan dengan prinsip toleransi (al-tasamuh) dan sikap tersebut merupakan ananiyah (egoisme) dan ‘ashabiyyah hizbiyyah (fanatisme kelompok) yang berpotensi mengakibatkan saling permusuhan, pertentangan, dan perpecahan. 3. Dimungkinkannya perbedaan pendapat di kalangan umat Islam harus tidak diartikan sebagai kebebabasan tanpa batas. 4. Perbedaan yang dapat ditoleransi adalah perbedaan dalam majal al ikhtilaf (wilayah perbedaan). Sedangkan perbedaan di luar majal al ikhtilaf tidak dikategorikan sebagai perbedaan, melainkan sebagai penyimpangan, seperti munculnya perbedaan terhadap masalah yang sudah pasti. 5. Dalam menyikapi masalah-masalah perbedaan yang masuk dalam majal al ikhtilaf sebaiknya diupayakan dengan jalan mencari titik temu untuk keluar dari perbedaan dan semaksimal mungkin menemukan persamaan. 6. Majal al ikhtilaf adalah suatu wilayah pemikiran yang masih berada dalam koridor ma ana ‘alaihi wa ashhaby, yaitu paham keagamaan Ahlusunnah wal Jamaah dalam pengertian yang luas.
Ahlussunnah wal Jamaah dalam pengertian khusus di Indonesia adalah NU, yaitu golongan yang mengamalkan agama, dalam bidang akidah merujuk kepada Imam Hasan Al-Asy’ari atau Imam Al Maturidi, dalam bidang fikih merujuk kepada Imam Syafi’i atau para imam yang empat, serta dalam bidang tasawuf merujuk kepada Imam Al Gazali dan Imam Asy Syadzaliy. Dan Ahlussunnah wal Jamaah dalam pengertian yang luas Muhammadiyah termsuk di dalamnya. Jadi, pernyataan bahwa Muhammadiyah bukan Sunni dan bukan pula Syiah, tapi Islam adalah keliru. Yang benar adalah Muhammadiyah umat Islam yang Sunni.
Bahaya sikap dioalog terus menerus dengan Syiah tanpa kesadaran bahwa paham tersebut menyimpang dan perlu diluruskan, ialah masyarakat yang awam dan masyarakat yang hanya mencari gampang dan enaknya saja akan mudah beralih menjadi penganut Syiah, karena penyebaran dakwah Syiah ditopang dengan personal yang militan, cerdas dan cakap, serta organisasi yang rapi. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam!

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s