“Perangkat-Perangkat Tarbiyah ” dalam Islam

Tarbiyah dalam manhaj Ikhwan memiliki urgensi yang sangat penting karena langkah yang paling efektif untuk proses perbaikan adalah pembinaan pribadi sesuai dengan nilai-nilai Islam dan sistemnya untuk mengantarkannya kepada suatu tujuan, yaitu masyarakat muslim, lalu umat muslim, kemudian negara Islam yang menegakkan syariat Allah. Tahapan aktivitas dalam Jamaah ini ada tiga, yaitu: ta’rif (pengenalan), takwin (pembinaan), serta tanfizh (pelaksanaan), dan setiap tahapan itu akan tegak hanya dengan tarbiyah. Dalam buku ini berisi dua pokok bahasan yaitu tujuan-tujuan tarbiyah dan sarana-sarana tarbiyahnya.

Tujuan Tarbiyah Islamiyah
Secara global, tujuan atau sasaran tarbiyah islamiyah adalah : menciptakan kondisi yang kondusif bagi manusia untuk dapat hidup di dunia secara lurus dan baik, serta hidup di akhirat dengan naungan ridha dan pahala Allah swt. Tujuan atau sasaran tarbiyah islamiyah dapat diuraikan menjadi:
1. Ibadah kepada Allah semata sesuai dengan syariat-Nya (Qs.Adz-Dzariat 56)
2. Tegaknya Khilafah Allah di muka bumi (Qs. Al-Baqarah 30)
3. Saling mengenal sesama manusia (Qs Al-Hujurat 13)
4. Kepemimpinan dunia (Qs. An-Nur 55)
5. Menghukum dengan syariat (Qs. Al-Jatsiyah 18 dan Qs. Al-Maidah 49)

Tarbiyah Ikhwaniyah dan Tujuan
Tujuan tarbiyah menurut Ikhwanul Muslimin terdiri dari dua tujuan besar: Tujuan permanen, yakni menyangkut penerapan tarbiyah islamiyah; dan Tujuan konstektual, yakni dengan pengamatan terhadap arus berbagai nilai yang mewarnai masyarakat dan bagimana mencari perangkat yang dapat digunakan untuk menghadapinya dalam prespektif syariat Islam.
Secara global aspek tarbiyah dalam Jamaah Ikhwanul Muslimin adalah sebagai berikut:
1. Tarbiyah individu muslim, dengan tarbiyah Islam yang integral.
2. Tarbiyah keluarga muslim, dengan tarbiyah Islam yang efektif dan integral.
3. Tarbiyah masyarakat muslim, dengan pola pembinaan Islam yang juga efektif dan komprehensif yang dilandasi dengan semangat amar ma’ruf nahi munkar, keadilan, ihsan, dan cinta jihad di jalan Allah.
4. Mempersiapkan umat Islam, dengan persiapan yang memungkinkannya memanggul beban-beban dakwah dan jihad di jalan Allah.
5. Bekerja dalam rangka mewujudkan pemerintahan Islam, yang dapat mengantarkan tegaknya agama Allah di tengah manusia dan menghukumi mereka dengan syariat-Nya.
6. Mewujudkan sikap adil di tubuh umat Islam, agar mereka menjadi pemandu alam ini karena itulah kadar yang harus dimilikinya. Ialah perintah Allah swt. Kepada mereka, “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (Umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”

Fikrah Jamaah, antara Tujuan dan Perangkat
Pemahaman yang komprehensif dan utuh tentang Islam dalam diri Ikhwanul Muslimin menghasilkan keuniversalan fikrahnya yang menyentuh semua aspek reformasi umat dan tercermin pula di dalamnya semua ide perbaikan. Fikrah Ikhwanul Muslimin adalah:
1. Dakwah Salafiyah, karena mereka menyeru untuk mengembalikan Islam kepada sumbernya yang jernih, yakni Kitab Allah dan Sunah Rasul-Nya.
2. Thariqah Suniyyah, karena dengan segenap kemampuannya mereka membawa dirinya untuk beramal dengan landasan Sunah yang suci dalam segala hal, khususnya dalam aqidah dan ibadah.
3. Haqiqah Shufiyah, karena mereka memahami bahwa asas kebaikakn adalah kesucian jiwa, kejernihan hati, kontinyuitas amal, berpaling dari ketergantungan makhluk, kecintaan karena Allah, dan komitmen dengan kebajikan.
4. Hai’ah Siyasiyah, karena menuntut perbaikan hukum dari dalam, meluruskan presepsi seputar hubungan umat Islam dengan bangsa-bangsa lain di luar negeri, serta mendidik masyarakat untuk memiliki kehormatan, harga diri, dan kemauan yang kuat untuk mempertahankan jati dirinya, sampai batas maksimal.
5. Jama’ah Riyadhiyah, karena mereka sangat memperhatikan fisiknya dan menyadari bahwa mukmin yang kuat lebih baik daripada mukmin yang lemah. Nabis saw. bersabda,”Sesungguhnya badanmu memupnyai hak atas dirimu.” Sesungguhnya semua tuntutan Islam, tidak bisa ditunaikan dengan sempurna dan benar kecuali dengan dukungan fisik yang kuat.
6. Rabithah ‘Ilmiyah Tsaqafiyah, karena Islam menjadikan aktivitas mencari ilmu sebagai satu kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Bagitu juga karena forum-forum Ikhwan pada dasarnya adalah madrasah-madrasah taklim dan peningkatan wawasan, serta lembaga-lembaga untuk mentarbiyah fisik, akal pikiran, dan ruhani.
7. Syirkah Iqtishadiyah, karena Islam sangat memperhatikan pendistribusian harta dan perolehannya. Itulah yang dinyatakan oleh Nabi saw.,
‘Sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh orang shalih.’
8. Fikrah Ijtima’iyah, karena ereka sangat memperhatikan penyakit-penyakit yang melanda masyarakat Islam dan berusaha memberikan terapi serta solusinya.

Beberapa perangkat tarbiyah Ikhwanul Muslimin
Perangkat tarbiyah yang digunakan beragam dan secara bertahap. Beragam berarti ada yang umum dan ada yang khusus. Bertahap dari keterikatan secara umum, lalu keterikatan dalam persaudaraan, kerterikatan dalam aktivitas, hingga keterikatan dalam jihad. Dimensi fundamental dalam tarbiyah adalah manhaj yang jelas, perangkat yang komprehensif, dan adanya pemimpin yang tegas, terpercaya. Manhaj yang jelas adalah manhaj yang sesuai dengan Kitabullah, sunah rasul-Nya, hokum-hukum islam yang bersih dari bid’ah dan segala bentuk penyimpangannya
Perangkat-perangkat tarbiyah yang digunakan dan yang komprehensif itu diantaranya:

1. Usrah:
Bagi ikhwanul muslimin usrah merupakan bata-bata pertama dalam bangunan jamaah. Pondasi dalam tarbiyah yang terpenting. Merupakan bentuk tarbiyah terkecil namun paling penting dalam membangun karakter anggotanya / ikhwah. Usrah dapat dikatakan sebagai kumpulan orang yang terikat dengan kepentingan bersama, anggotanya seperti sebuah keluarga dan kerabatnya, menjadi perisai perlindungan yang kokoh bagi anggotanya.
Tujuan usrah secara umum adalah membentuk kepribadian islami secara integral pada setiap individu muslim, mentarbiyah, dan mengembangkannya sesuai etika dan nilai islam. Aspek kepribadian yang penting adalah aqidah, ibadah, moral,dan wawasan pengetahuan. Usrah yang baik adalah usrah yang produktif yang banyak melahirkan kader calon naqib ( murobi atau pemimpin usrah).
Rukun-rukun usrah:
– Ta aruf (saling mengenal) Qs Al-Hujurat 10
– Tafahum (saling memahami) Qs Ali-Imran 103
– Takaful (saling menanggung beban) Qs Al-Fath 29

2. Katibah:
Merupakan pola spesifik dalam mentarbiyah sekolompok anggota yang bertumpu pada tarbiyah ruhani, pelembutan hati, penyucian jiwa, dan membiasakan fisik beserta seluruh anggota badan untuk melaksannkan ibadah secara umum, juga tahajud, dzikir, tadabur, dan berpikir kritis. Dalam jamaah ikhwah, katibah berarti kumpulan beberapa usrah. Setiap katibah harus selesai programnya dalam 40 pekan atau 40 kali pertemuan.
Tujuan katibah secara umum adalah menciptakan keharmoniann bangunan kepribadian islam yang utuh pada seseorang, dekat dengan Allah, taat kepada-Nya.

3. Rihlah:
Katibah dan rihlah merupakan tarbiyah kolektif. Rihlah lebih tercurah pada aspek fisik. Umumnya dilakukan setiap sekali sebulan, biasanya dimulai setelah shalat subuh dan berakhir pada saat maghrib. Di dalam rihlah para peserta diberi kebebasan bergerak, berolah raga, berlatih, bersabar untuk bekerja secara sungguh-sungguh, serta menahan rasa haus dan lapar dengan kadar yang tidak mungkin diperoleh dalam pertemuan usrah, tidak juga katibah. Dilihat dari tipe peserta, ada beberapa macam rihlah:
· Rihlah para aktivis
· Rihlah keluarga ikhwah
· Rihlah putra ikhwah
· Rihlah putri ikhwah
· Rihlah da’i ikhwah

4. Mukhayam / Mu’asykar:
Mukhayam / Mu’asyakar dalam sejarah jamaah ikhwah merupakan penerapan dan pengembangan dari sistem jawalah. System jawalah adalah pengembangan dari kelompok rihlah.Tujuan Mukhayam secara umum ada tiga pokok:
– Pengumpulan . meliputi pengumpulan tingkat kaum muslim secara umum, tingkat aktivis ikhwah dari berbagai usrah, tingkat para pemimpin ikhwah, hingga tingkat internasional.
– Tarbiyah. Memeberi celupan kehidupan pribadi peserta dengan celupan islam.
– Latihan. Melatih interaksi, fisik, tanggung jawab, manajemen mukhayam melatih menjaga kerahasiaan, dan sebagainya.

5. Daurah
Merupakan aktivitas berkala, dilaksanakan pada setiap waktu tertentu secara rutin. Aktivitasnya mengumpulkan sejumlah ikhwah yang relatif banyak di suatu tempat untuk mendengarkan ceramah, kajian, dan pelatihan tentang suatu masalah dengan tema tertentu yang dirasa penting bagi keberhalangsungan amalan islami. Daurah adalah forum untuk studi intensif suatu tema, baik berupa kajian ilmiah maupun pelatihan yang dimaksudkan agar peserta memiliki pengetahuan mendalam dan seoptimal yang mungkin diperoleh melalui asuhan para ulama dan spesialis. Contohnya daurah manajemen, daurah dakwah fardiyah, dan daurah fikih dakwah Setiap daurah harus mampu mewujudkan tujuan umumnya, kemudian mewujudkan target khusus sesuai dengan tema daurah yang diselenggarakan.

6. Nadwah
Nadwah secara umum artinya sekumpulan orang. Nadwah merupakan pertemuan yang menghimpun sejumlah pakar dan para spesialis untuk mengkaji suatu tema ilmiah atau persoalan. Di mana setiap mereka memberikan pendapatnya dengan argumentasi dan bukti-bukti. Yang diundang tidak harus dari kalangan ikhwah, bisa praktisi, ulama, pakar, dan spesialis untuk mengkaji suatu persoalan. Sasaran nadwah adalah pengetahuan dan wawasan pemikiran.

7. Muktamar
Muktamar secara bahasa adalah tempat musyawarah. Muktamar secara umum ada dua:Muktamar resmi. Forum resmi dengan peserta tertentu untuk kepentingan tertentu. Contohnya muktamar yang membahas persoalan Palestina
Muktamar umum. Pesertanya umum. Mengkaji suatu tema dan saling bertukar pendapat untuk membuat suatu rekomendasi yang perlu disebarluaskan.
Selain itu ada muktamar khusus jamaah khusus bagi anggota ikhwah yang diselenggarakan oleh jamaah ikhwah. Kelebihan muktamar adalah mampu menampung sejumlah besar pakar, terlibat dalam pembahasan dan kajian. Peserta yang ikut, terlibat dalam diskusi dan dialog dengan seluruh anggota muktamar.
Ketujuh perangkat tarbiyah diatas memiliki tujuan-tujuan umum dan khusus serta dilaksanakan dengan manajemen yang berbeda. Ada syarat- syarat menjadi pelaksana dalam setiap kegiatannya serta syarat pemimpin yang bertanggung jawab pada setiap perangkat tarbiyah.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s