METODE DAKWAH KONTEMPORER

Metode merupakan bagian dari komponen dakwah yang menjadi tolak ukur dalam menggapai keberhasilan dakwah. Refleksi dakwah dilakukan dengan menyebarluaskan kebenaran yang menyesuaikan dengan zamannya. Sehingga menuntut juru dakwah untuk memiliki kemampuan daya kritis dan kreativitas yang tinggi serta kecerdasan yang didukung oleh penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi diharapkan dapat menyusun metode dakwah yang kontemporer.

A. Pendahuluan

Semboyan Ulama yang berjiwa revolusioner menyebutkan bahwa agama tidak akan eksis di dunia ini kecuali dengan ditegakkannya tabligh dan dakwah. Karenanya kata ahli kesehatan hubungan antara agama dengan dakwah ibarat tubuh dengan darah. Tubuh yang sehat apabila peredaran darah dalam tubuh lancar dan normal. Demikian sebaliknya tubuh akan tidak sehat bahkan kemungkinan mati apabila peredaran darah tidak normal atau berhenti.

Di era perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, pola pikir masyarakat semakin kritis, terutama bagi golongan masyarakat terpelajar. Mereka biasanya tidak tertarik pada ceramah-ceramah, atau pengajian-pengajian yang bersifat umum yang cenderung klise, monoton, tidak rasional dan berulang-ulang, bersifat indoktrinasi dan menggurui. Bahkan terkadang mereka mengkritik atau menentang penjelasan-penjelasan tentang ajaran agama yang dalam anggapan mereka tidak rasional atau tidak bisa dibuktikan secara rasinal atau ilmiah. Atas dasar fenomena tersebut maka perlu metode dakwah yang sesuai dengan kemajuan zaman dan perkembangan masyarakat.

Seharusnya dakwah ibarat lentera kehidupan, yang memberi cahaya dan menerangi hidup manusia dari nestapa kegelapan. Tatkala manusia dilanda kegersangan spiritual, dengan rapuhnya akhlak, ketimpangan dan sederet tindakan tercela lainnya, yang disebabkan terkikisnya nilai-nilai agama dalam diri manusia. Tidak berlebihan jika dakwah merupakan bagian yang cukup penting bagi umat saat ini.

Berbicara dalam perspektif metode dakwah kontemporer, berarti ada kemauan atau hasrat merefleksikan dakwah kepada suatu bentuk usaha menyebarluaskan kebenaran yang menyesuaikan dengan zamannya. Apalagi pada era sekarang ini yang sangat serba modern, dakwah metode kultural kurang berpengaruh dalam masyarakat apalagi masyarakat kota.

B. Arti Dakwah Kontemporer

Kata dakwah berarti mengajak orang lain untuk memeluk suatu keyakinan. Secara istilah, di dalam Alqur’an banyak sekali ayat yang menjelaskan makna dakwah dalam konteks yang berbeda-beda. Mengajak (manusia) kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran (Q.S. 3 : 104), yang ghair tidak lain adalah jalan Allah (Q.S 16: 125), dienullah (Islam) (Q.S. 61: 7). Beriman kepada Allah (Q.S. 57: 8), tempat keselamatan (Q.S. 10: 95), jalan yang lurus (Q.S. 23: 73), jalan petunjuk (Q.S 7: 193), untuk memutuskan perkara dalam kehidupan umat manusia kitabullah dan sunaturrasul (Q.S 24 : 48; Q.S. 24: 51; Q.S.3: 23) dan akhirnya kesurga (Q.S.2 : 221).[1]

Uraian di atas dapat dipahami bahwa dakwah berarti merubah situasi tertentu ke situasi yang lebih baik; (taghayyurul asyya) menunjukkan arti yang dinamis dalam segala aspek dakwah ( subjek, objek, media , metode dll). Atau setiap usaha yang diarahkan untuk mengaktualisasikan ajaran islam dalam kegiatan tertentu untuk kemaslahatan umat didunia dan akherat.

Terkait dengan seruan untuk berdakwah, lahirlah istilah dakwah kontemporer saat ini. Dakwah kontemporer adalah dakwah yang dilakukan dengan cara menggunakan teknologi modern yang sedang berkembang, misalnya televisi, radio, media cetak, internet, dan lain-lain. Dakwah kontemporer ini sangat cocok apabila dilakukan di lingkungan masyarakat kota atau masyarakat yang memiliki latar belakang pendidikan menengah keatas.Teknis yang ada dan yang digunakan dalam dakwah kontemporer ini juga sangat berbeda dengan dakwah kultural. Jika dakwah kultural pada umumnya dilakukan dengan cara menyesuaikan budaya yang ada pada masyarakat setempat, tetapi dakwah kontemporer dilakukan dengan cara mengikuti teknologi yang dikembangkan menjadi aktual dan modern.

C. Kualitas Da’i

Istilah da’i secara konseptual berkembang sepanjang masa sesuai dengan perkembangan ilmu dan dinamika masyarakat. Istilah-istilah itu antara lain : juru dakwah, subyek dakwah, katalisator islam, trasformator ajaran islam, mubaligh, penyiar agama, propaganda islam, dan lain-lain. Asal kata da’i (bahasa arab) berasal dari kata da’a, yad’uu, dakwatan. Yang bermakna menyeru, memanggil, mengajak, menjamu.[2] Secara istilah da’i dapat diartikan orang yang mempunyai komitmen atas berbagai usaha yang mengandung maksud mengajak, menyampaikan, menyiarkan maupun mentransformasikan ajaran islam kepada lain, baik terhadap orang yang sudah memeluk islam maupun bagi mereka yang belum/tidak memeluk islam.

Da’i sebagai teladan, juga dituntut lebih berkualitas dan mampu menafsirkan pesan-pesan dakwah kepada masyarakat. Sesuai dengan tuntutan pembangunan umat, maka da’i hendaknya tidak hanya fokus pada masalah-masalah agama semata, tapi mampu memberi jawaban dari tuntutan realita yang dihadapi masyarakat saat ini.

Ada beberapa aspek kemampuan juru dakwah yang harus dimiliki agar sesuai dengan perkembangan zaman: yaitu pertama, juru dakwah hendaknya menguasai berbagai disiplin ilmu sebagai modal dalam melakukan dialog, diskusi atau perdebatan. Dengan dilandasi tata pikir yang teratur dan mampu meyakinkan lawan dialognya. Menurut Yusuf Qardhawi yang dikutip oleh Awaludin Pimay, pengetahuan yang harus dimiliki juru dakwah adalah pertama, pengetahuan islam yang meliputi pengetahuan sekitar Al-qur’an, sunnah Nabi Muhammad saw, fiqh (hukum islam), ushul fiqh, aqidah dan tasawuf. Kedua, pengetahuan sejarah. Ketiga, pengetahuan bahasa dan kesusastraan. Keempat, pengetahuan humaniora yang meliputi ilmu jiwa-sosiologi-filafat-ilmu akhlak dan ilmu pendidikan. Kelima, pengetahuan ilmiah (ilmu pengetahuan modern) dan keenam, pengetahuan tentang kenyataan. [3]

Kedua, juru dakwah memiliki kedewasaan sikap dan perilaku yang sesuai dan layak tampil dalam forum-forum, sehingga mampu menciptakan suasana yang bersahabat dan menyenangkan. Karena itu mencakup kriteria mental yang harus dimiliki dan melekat dari dirinya, seperti sifat tawadhu’, sabar, rendah diri, lapang dada, dan lain sebagainya.

Ketiga, juru dakwah memilki kemampuan untuk mengambil langkah-langkah atau usaha agar berhasilnya suatu kegiatan dakwah yang menarik dan berkualitas, sehingga manarik mad’u agar mau hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan dakwah.

D. Metode Dakwah Kontemporer

Metode diartikan sebagai sesuatu yang digunakan untuk mengungkapkan cara yang paling cepat dan tepat dalam melakukan sesuatu. [4] Dalam hubungannya dengan dakwah, maka metode dakwah berarti cara yang paling cepat dan tepat dalam melakukan dakwah islam.

Metode bagian dari komponen dakwah menjadi amat menentukan dalam menggapai keberhasilan dakwah. Sebab betapapun pandainya juru dakwah, apabila tidak mengetahui apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh obyek dakwah akan mengalami kesulitan dalam menentukan metode dakwah. Kemudian apabila metode dakwah yang ditentukan tidak sesuai, maka akan menimbulkan kesenjangan antara harapan dan kenyataan.

Perjalanan Nabi Muhammad SAW sebagai juru dakwah telah banyak beliau lakukan untuk keberhasilan dakwahnya, baik ketika di Makkah, di Madinah, maupun di tempat-tempat lainnya. Keharusan mengikuti metode dakwah para Rosul adalah karena mereka telah terjamin karena mereka telah mendapat petunjuk Allah. Sebagaimana dalam surat Al-An’am ayat 90 :[5]

“Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, Maka ikutilah petunjuk mereka…”

Mengenai metode dakwah ini, al-Qur’an telah memberi petunjuk secara garis besar dalam QS An-Nahl : 125 sebagai berikut : [6]

“ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan- Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Menurut Sayyid Quthub sebagaimana yang dikutip Awaluddin Pimai, ayat ini telah menetapkan kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip dasar dakwah, menentukan langkah-langkah yang harus ditempuh serta cara-cara penyampaiannya.[7] Jadi menurut ayat tersebut, metode dakwah dapat diklasifikasikan menjadi tiga metode yang meliputi hikmah, nasehat yang baik dan berdebat dengan cara yang baik.

1. Metode dakwah dengan cara hikmah

Kata ‘al-hikmah’ mengandung arti yang beragam yang bersifat ‘ekstensi (mishdaq) dari pada konsepsi (mafhum) terhadap kata hikmah tersebut. Menurut Sayyid Quthub yang dikutip Awaluddin Pimai, berpendapat bahwa hikmah adalah melihat situasi dan kondisi obyek dakwah serta tingkat kecerdasan penerima dakwah. Memperhatikan kadar materi dakwah yang disampaikan kepada mereka, sehingga mereka tidak merasa terbebani terhadap perintah agama (materi dakwah) tersebut, karena belum siap mental untuk menerimanya.[8]

Hikmah mengandung tiga unsur yang saling terkait, pertama, unsur ilmu yaitu ilmu yang shahih, yang dapat memisahkan antara haq dan yang bathil, serta ilmu tentang rahasia, faedah dan seluk beluk sesuatu. Kedua, unsur jiwa, yaitu menyatunya ilmu tersebut ke dalam jiwa ahlu al hikmah, sehingga ilmu tersebut mendarah daging dengan sendirinya. Ketiga, unsur amal perbuatan, yaitu ilmu pengetahuan yang menyatu ke dalam jiwa tersebut mampu memotivasi dirinya untuk berbuat sesuatu.

Pengertian hikmah secara luas meliputi cara atau taktik dakwah yang diperlukan dalam menghadapi golongan cerdik pandai, golongan awam atau semua golongan atau lapisan masyarakat. Ada beberapa metode yang termasuk dalam kategori hikmah dengan unsur amal perbuatan yaitu :

a. Silaturrahiem; door to door/ face to face;

Metode dakwah dinilai efektif apabila dilaksanakan dalam rangka mengembangkan maupun membina umat islam yaitu metode silaturrahmi. Kelebihan menggunakan metode ini adalah :

1) Membina persaudaraan, bertukar pendapat dan pengalaman

2) Silaturrahmi (mengunjungi teman) adalah suatu kewajiban umat Islam, sehingga selain memiliki aktivitas dakwah, sekaligus menunaikan kewajiban sesama Muslim.

3) Mudah dilaksanakan tidak memerlukan biaya yang banyak.

b. Aksi sosial (dakwah bi al hal)

Saat ini tidak hanya lembaga-lembaga dakwah yang menyelenggarakan kegiatan aksi sosial namun sekolah-sekolah, perusahaan-perusahaan yang memiliki program yang sering disebut dengan CSR (corporate social responsibility) menyisihkan dana untuk melakukan kegiatan sosial seperti bagi-bagi hadiah (umroh gratis), wakaf, sodaqoh, khitanan masal, pemberian santunan/ social work terhadap anak yatim, janda-janda, gelandangan, pengemis, anak jalanan, dan sebagainya.

c. Dakwah Tulisan ( dakwah bi al Kitabah)

Dakwah yang dilakukan dengan perantaraan kata-kata/kalimat yang ditulis, sebagai usaha pengembangan atau penambah media lisan. Dakwah ini dapat dilakukan lewat surat kabar, majalah, bulletin, spanduk, lukisan dan sebagainya.

d. Dakwah Virtual

Ada fenomena globalisasi dengan menggunakan internet (virtual), diseluruh kawasan yang didaerahnya terdapat jaringan komunikasi yang bisa mengakses internet. Saat ini internet dikatakan sebagai mesin yang serba tahu, internet sebagai mesin pintar yang tahu semua, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana ekspresi umat islam dalam ruang internet. Ternyata ada beberapa hal ekspresi yang dapat dilakukan umat islam yaitu :[9]

1) Ruang Sharing dan Downloading ;

Al-Qur’an Lengkap dengan aneka bacaan dan tafsirnya. Hadits Nabi lengkap dengan terjemah dan tafsirnya juga. Buku-buku keislaman dengan berbagai bahasa musik islami, dari tradisional sampai modern. Video-video ceramah atau film-film dll

2) Ruang ekspresi kata-kata dan foto-foto yang muncul hampir tanpa sensor: Facebook menjadi contoh ideal hal ini, dari pribadi manusia yang ‘narsis’ hingga reaksi terhadap isu-isu baik positif maupun negatif

3) Fenomena reaksi umat Islam terhadap isu-isu kontroversial ;

4) Blog dan website pemikiran islam dari blog pribadi sampai ke website lembaga

5) Fenomena ensiklopedia online. Entri-entri islam di wikipedia, dan sebagainya.

e. Wisata keagamaan

Wisata keagamaan disajikan dalam bentuk kegiatan ‘refresing’ penyegaran kembali dengan menggugah hati manusia untuk mengambil nilai-nilai historis peristiwa masa lampau. Ada pelajaran yang unik dengan wisata keagamaan karena sejarah tidak dapat dihilangkan, namun dipelihara untuk diambil hikmahnya. Biasanya kegiatan ini dalam bentuk-bentuk ziarah ketempat-tempat bersejarah, haji, umroh dan sebagainya.

2. Metode dengan ‘ nasehat yang baik’

Dakwah bi al-mau’izhatil hasanah (dengan pelajaran yang baik) dipahami oleh banyak pakar dan penulis kajian ilmu dakwah pada sudut pemahaman yaitu kemampuan juru dakwah dalam memilih materi dakwah itu sendiri. Padahal pengertiannya lebih luas daripada sekedar kemampuan memilih materi dakwah.

Dakwah dengan pelajaran yang baik ialah dakwah yang mampu meresap ke dalam hati dengan halus dan merasuk ke dalam perasaan dengan lemah lembut, tidak bersikap menghardik, memarahi atas kesalahan-kesalahan penerima dakwah. Karena itu, kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan majelis-majelis taklim yang tumbuh subur dan terorganisir dengan baik dipandang sebagai langkah positif dalam pelaksanaan dakwah dengan pelajaran yang baik. Demikian pula penyajian materi dakwah, tidak hanya bertumpu pada metode ceramah, tetapi bisa dikombinasikan dengan metode cerita sebagaimana nabi Muhammad saw sering menggunakan metode cerita untuk menambah keyakinan sahabatnya dan menjadi pelajaran yang baik bagi umatnya. Sebagaimana QS.Hud: 120

Artinya : “ Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.[10]

Metode cerita memegang peranan yang penting, sehingga metode ini sebaiknya disusun dan dikemas dengan baik akan dapat diintrodusir dengan berbagai media seperti overhead, slide, TV, video dan bahkan film Intertaiment – sinetron religi, film dakwah,dan lainnya – dapat dipandang sebagai upaya dalam pelaksanaan dakwah dengan konsep pengajaran yang baik.

3. Metode dakwah Mujadalah

Istilah didalam alqur’an yang hampir sama dengan mujadalah, yaitu mukabaroh dan munadzarah, perbedaan istilah itu hanya pada tujuannya, ada yang bertujuan untuk diskusi mencari kemenangan dalam rangka mencari kepuasan diri, ada yang bertujuan mencari titik lemah pihak lawan dengan menampakkan kesombongannya, ada pula yang bertujuan untuk mencari kebenaran. [11]

Kata “mujadalah” lazimnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan “perbantahan” atau “perdebatan”. Kata debat itu sendiri berasal dari bahasa inggris “debate” yang berarti “ to talk about reasons for and against (something)-consider-discuss” atau “to argue about (aquestion or topic) in a public meeting”.[12] Pengertian manapun yang dipakai, mujadalah mengandung arti saling, dan kemampuan kedua belah pihak untuk mengemukakan alasan rasional tentang suatu masalah sesuai dengan pengetahuan dan pandangan mereka masing-masing.

Rosululloh saw dari berbagai kesempatan juga menggunakan mujadalah ini, baik dengan para sahabat maupun dengan pihak non muslim. Dalam situasi reformasi seperti sekarang ini, metode diskusi dan sejenisnya menjadi sangat tepat dan populer, baik dalam mensosialisasikan sesuatu yang baru, kepentingan politik, mencari simpati maupun lainnya.

Usaha yang dapat dilakukan forum dialog yang diadakan dalam berbagai bentuk seperti symposium, seminar, workshop, lokakarya tampaknya lebih menarik perhatian masyarakat golongan cerdik pandai dan golongan terpelajar dengan cara mempelajari atau menyampaikan bahan dengan jalan mendiskusikan sehingga menimbulkan pengertian serta perubahan kepada penerima dakwah. Diskusi dapat pula digunakan untuk memecahkan masalah maupun memberikan sumbangan pikiran terhadap masalah bersama. Kebaikan metode ini suasana dakwah lebih hidup, dapat menimbulkan sikap toleransi, demokrasi, kritis serta bahan yang dibahas lebih mendalam dan meninggalkan kesan internal jiwa penerima dakwah.

Mujadalah dapat juga dilaksanakan langsung dengan peserta, atau melalui media massa, cetak maupun elektronik, seperti dialog interaktif, pengajian interaktif. Contohnya: pengajian ustadzah Qurrota’ayyun, ustadz Cepot, yang mengintegrasikan antara dialog (tanya jawab), ceramah yang bertemakan kebutuhan nyata masyarakat dengan memanfaatkan media televisi. Metode yang dilakukan memiliki kriteria penguasaan bahasa, bahan yang sesuai, suara/intonasi, sikap/cara berdiri/duduk/bicara yang simpatik dan lain-lain.

Tolak ukur yang berlaku di kalangan masyarakat selalu serba formal dan kuantitatif. Pada gilirannya dalam mengukur keberhasilan dakwah, masyarakat melihatnya dari sisi laris-tidaknya seorang da’i, sedikit-banyaknya pengunjung dan lainnya sebagainya. Namun tetap saja, da’wah yang dilakukan dengan mujadalah menggunakan media berbasis audiovisual merupakan salah satu metode dakwah yang efektif.

E. Penggunaan Metode Dakwah

Eksistensi dakwah islam secara makro senantiasa bersentuhan dan bergelut dengan realitas yang mengitarinya. Dalam perspektif historis, pergumulan dakwah dengan realitas sosial-kultural akan melahirkan dua kemungkinan. Pertama, dakwah islam mampu memberikan output (hasil, pengaruh) terhadap lingkungan, dalam arti member dasar filosofi, arah, dorongan dan pedoman bagi perubahan masyarakat samapai terbentuk realitas sosial yang baru. Kedua, dakwah islam dipengaruhi oleh perubahan masyarakat, dalam arti eksistensi, corak dan arahnya. Hal ini berarti bahwa aktivitas dakwah ditentukan oleh sistem sosio-kultural.

Berangkat dari kerangka pikir ini, maka metode dakwah kontemporer sangat diperlukan dalam rangka menghadapi dinamika kehidupan manusia yang semakin kompleks. Ada beberapa rumusan penggunaan metode dakwah secara umum yaitu : pertama, Rumus penetapan metode harus disesuaikan dengan objek dakwah, hal ini berorientasi pada proses humanisasi masyarakat secara sosio-kultural dan membangun manusia seutuhnya. Dengan begitu dakwah bukan hanya sekedar tabligh al-ayat (penyampaian pesan-pesan agama), tetapi lebih dari itu ia mengandung upaya membentuk pribadi-pribadi muslim dan selanjutnya pembangunan masyarakat. Dalam hal ini peran da’i hanyalah sebagai fasilitator yang mengantarkan masyarakat agar mampu menciptakan kondisi yang mereka idamkan.

Kedua, perlu perencanaan strategi dakwah untuk menetapkan metode yang tepat. Perumusan perencanaan strategi ini akan melahirkan metode yang baik pula, sebab metode merupakan suatu cara pelaksanaan strategi. Jika dikaitkan dengan era globalisasi saat ini, maka juru dakwah harus memahami perubahan transisional dari transaksi pada kekuatan magis dan ritual kearah ketergantungan pada sains dan kepercayaan serta transisi dari suatu masyarakat tertutup, sakral dan tunggal kearah keterbukaan, plural dan sekuler. [13] jadi perencanaan strategi harus bersifat terbuka terhadap segala kemungkinan perubahan masyarakat yang menjadi sasaran dakwah.

F. Penutup

Dakwah memiliki pengertian yang luas yang tidak hanya berarti mengajak dan menyeru umat namun lebih dari itu dakwah berarti upaya membina masyarakat islam menjadi masyarakat yang berkualitas (khOiru ummah) yang dibina dengan Ruh Tauhid dan ketinggian nilai-nilai Islam.

Dakwah saat ini berhadapan dengan tantangan yang diakibatkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah menjanjikan kesejahteraan bagi umat manusia dan secara nyata bisa disaksikan buktinya di dunia, untuk itu setiap juru dakwah harus melengkapi diri dengan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi serta daya kritis dan kreativitas yang tinggi sehingga dapat menyusun metode dakwah yang sesuai intelektualitas masyarakat atau kondisi masyarakat yang dihadapinya.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s