TAHUN BARU, HIJRAH DAN PERUBAHAN

Islam senantiasa menganjurkan umatnya berhijrah. Hijrah pada dasarnya bermakna pindahnya seseorang dari negeri kufur menuju negeri Islam atau negeri aman. Ia juga berarti hijrah hal, yaitu berpindahnya dari kondisi yang buruk kepada kondisi yang lebih baik. Oleh karena itu Rasulullah menitahkan beberapa Sahabat untuk berhijrah menuju Habasyah (Etopia) di awal-awal masa dakwahnya. Beliau berpesan: “Berangkatlah ke negeri Habasyah, sebab di sana sedang diperintah penguasa yang tidak pernah berbuat zalim kepada seorang pun.” Maka dalam konteks ini, hijrah berarti berpindah ke negeri yang aman. Sedangkan hijrah ke Madinah adalah hijrah menuju negeri iman.

Ibnu Hajar berkata: “Hijrah itu dua jenis; lahiriyah dan batiniyah. Hijrah batin adalah meninggalkan seruan nafsu dan kehendak jahat, sedangkan hijrah lahir adalah meninggalkan fitnah untuk menjaga agama”. Oleh karena itu Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم) bersabda: “Seorang Muslim itu adalah orang yang membuat nyaman orang-orang Muslim lainnya dari (tindakan) lidah dan tangannya. Sedangkan orang yang berhijrah itu (Muhajir) adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah.” [HR. Bukhari].
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah juga menjelaskan bahwa hijrah itu ada dua; pertama hijrah dengan fisik dari suatu negeri ke negeri yang lain. Sedangkan yang kedua adalah hijrah dengan hati menuju Allah dan Rasul-Nya. Inilah hijrah hakiki dan merupakan akar pondasi semua amalan hijrah. Hijrah semisal ini hukumnya fardhu ‘ain dan tidak berakhir hingga datangnya hari kiamat.
Di samping itu, hijrah adalah salah satu bentuk solusi atas tekanan kaum kafir dan demi efektivitas dakwah. Hijrah adalah tradisi para Nabi.

Hijrah dan Perubahan

Meskipun kaum Nabi Musa menyertai beliau hijrah meninggalkan Mesir, namun karena rapuhnya pondasi tauhid dan minimalnya keikhlasan, maka nilai-nilai hijrah pun gagal diraih. Kondisi Bani Israel ini diperparah lagi dengan adanya mentalitas budak. Latar belakang yang panjang sebagai bangsa budak, telah membentuk pola hidup mereka sebagai bangsa tertindas yang tidak mau berubah. Bahkan dalam hal selera makanan pun, mereka lebih merindukan makanan kampung, meskipun dihadapannya tersedia kelezatan manna dan salwa (QS. 2:57 dan 61).

Keterpasungan Bani Israel sebagai budak Fir’aun juga telah membentuk mental pesimistik yang tidak terbiasa menentukan nasibnya sendiri demi meraih kejayaan. Ajakan Nabi Musa untuk berhijrah ke tanah suci yang berdaulat untuk meninggikan martabat mereka sebagai bangsa yang bertauhid, ditolaknya dengan alasan karena masih ada orang-orang yang perkasa tinggal di dalamnya. Maka mereka pun meminta Nabi Musa bersama Tuhannya berperang menghabisi musuh mereka, sedang mereka sendiri asik duduk menonton. (QS. 5:21-24)

Maka Allah mengharamkan mereka memasuki tanah suci yang dijanjikan sebagai hukuman atas prilaku kufur mereka. (QS. 5:26). Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa larangan itu berlaku selama 40 tahun. Selama masa itu, setiap harinya mereka hanya berputar-putar kebingungan di sekitar dataran Tih, tanpa tahu arah jalan keluar. Dalam periode ini Nabi Harun wafat, kemudian setelah 30 tahun disusul dengan wafatnya Nabi Musa. Demikian juga kebanyakan Bani Israel juga telah meninggal dunia. Akhirnya setelah punahnya generasi pertama, Yusya’ bin Nun diutus Allah menggantikan Nabi Musa untuk membawa Bani Israel menuju Baitul Maqdis.

Kisah Bani Israel menunjukkan bahwa amalan hijrah tidak akan membuahkan perubahan maksimal jika tidak dilandasi dengan keteguhan tauhid, keikhlasan mengharap Ridha-Nya dan kesungguhan usaha. Keteguhan bertauhid sebagai pondasi perubahan tercermin dalam QS.13:11. Dalam Tafsir al-Alusi dijelaskan bahwa Allah tidak akan merubah nikmat dan kebaikan yang ada dalam suatu kaum sehingga mereka merusaknya dengan ulah kedurhakaan dan kekufuran mereka.

Sebab Allah menjadikan sesuatu yang ada pada suatu kaum pada awalnya adalah baik. Maka untuk mengembalikan pada kondisi semula harus dimulai dari tauhid. Dan konsekwensi bertauhid harus meletakkan kesyirikan sebagai musuh bersama.
Sebagaimana untuk menuju kesatuan umat, haruslah dimulai dengan mengenali sebab-sebab perpecahannya, menganalisanya dan memberi solusinya. Bukan dengan menutupinya dengan kompromi-kompromi politis-pragmatis yang hanya akan menimbulkan masalah baru.

Oleh karena itu, Islam tidak saja menyerukan amar ma’ruf, tapi juga nahi munkar. Menjalankan nahi munkar sangatlah tidak populis di dunia politik. Bukan saja memerlukan kualifikasi kefakihan maksimal, tetapi juga berhadapan dengan budaya ewuh pekewuh. Pragmatisme para elit menumpuk kesejahteraan dan ideologi keadilan di kalangan umat semakin melebar jika nahi munkar diabaikan.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s