Kekuatan ummat islam di akhir zaman

Seluruh dunia kini menyaksikan episode perang salib modern yang menyatukan kekuatan seluruh bangsa-bangsa kafir (Nasrani, Yahudi, paganis dan komunis dan murtad internasional).

2. Seluruh kekuatan kafir, murtad dan zalim telah bersatu padu, membidik Islam dan kaum muslimin dari satu busur panah.

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ, قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ((يُوشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ الْأُمَمُ مِنْ كُلِّ أُفُقٍ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ عَلَى قَصْعَتِهَا)) قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمِنْ قِلَّةٍ بِنَا يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ ((أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنْ تَكُونُونَ غُثَاءً كَغُثَاءِ السَّيْلِ. يَنْتَزِعُ الْمَهَابَةَ مِنْ قُلُوبِ عَدُوِّكُمْ وَيَجْعَلُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ)) قَالَ قُلْنَا وَمَا الْوَهْنُ ؟ قَالَ ((حُبُّ الْحَيَاةِ وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ))
Tsauban Maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,“ Hampir-hampir bangsa-bangsa dari segala arah akan memperebutkan kalian sebagaimana orang-orang makan memperebutkan makanan di atas piring.” Kami bertanya,” Wahai Rasulullah, apakah itu disebabkan karena jumlah kami saat itu sedikit ?” Beliau menjawab,” Tidak. Justru jumlah kalian saat itu banyak, hanya saja kalian saat itu adalah buih seperti buih banjir. Allah mencabut rasa takut kepada kalian dari hati musuh-musuh kalian, dan Allah Ta’ala campakkan penyakit wahn (lemah) dalam hati kalian.” Kami bertanya, ” Apa penyakit wahn itu ?” Beliau menjawab,” Cinta dunia dan takut mati.”
Dalam bukunya yang berjudul “1999 menang tanpa peperangan”, mantan presiden AS Richard Nixon menulis,” Di dunia Islam, sejak Maroko sampai Indonesia, kaum fundamentalis Islam menggantikan peran komunisme sebagai alat pokok perubahan radikal.”
Mantan Sekjen NATO, Jeifer Solanes dalam pertemuan NATO tahun 1991 M setelah runtuhnya Soviet mengatakan,” Setelah perang dingin selesai dan musuh beruang merah runtuh, seluruh negara NATO dan Eropa harus melupakan perselisihan di antara mereka, dan mulai mengalihkan perhatiannya ke depan untuk melihat musuh yang sedang mengintainya. Negara NATO dan Eropa harus bersatu untuk menghadapinya. Itulah kaum fundamentalis Islam.”
Presiden Rusia dari kalangan Kristen Orodoks, Vladimir Putin, dalam pertemuan terakhirnya dengan negara-negara persemakmuran (Commonwealth) tahun 2000 M mengatakan,” Sesungguhnya kaum fundamentalis Islam adalah satu-satunya bahaya yang hari ini mengancam negara-negara dunia maju. Inilah satu-satunya bahaya yang mengancam tatanan keamanan dan perdamaian dunia. Kaum fundamentalis mempunyai pengaruh. Mereka berusaha untuk mendirikan sebuah negara Islam yang membentang sejak Filipina sampai Kosovo. Mereka bergerak dari Afghanistan, sebagai pangkalan pergerakan mereka. Jika dunia tidak bangkit menghadapinya, ia bisa saja merealisasikan targetnya. Oleh karena itu, Rusia membutuhkan dukungan internasional untuk membasmi fundamentalis Islam di Kaukasus Utara.”
Telah jelas permusuhan mereka terhadap Islam maka tiada pilihan lagi bagi umat Islam, selain menghadapi kekuatan kafir internasional ini dengan kekuatan dan jihad. Kekuatan hanya bisa dilawan dengan kekuatan. Diplomasi dan perdamaian, telah terbukti gagal membela dan mengembalikan hak-hak kaum muslimin.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ((إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ))
Ibnu Umar radiyallahu ‘anhuma berkata, saya telah mendnegar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:” Jika kalian telah berjual beli dengan ‘ienah (salah satu jual beli terlarang, simbol riba), mengekor kepada sapi, puas dengan pertanian dan meninggalkan jihad, Allah Ta’ala akan menguasakan kehinaan kepada kalian. Kehinaan itu tidak akan dicabut dari kalian, sampai kalian kembali kepada dien kalian.”
Ya, koalisi kekuatan salibis-zionis-paganis-komunis-murtadin internasional ini hanya bisa ditahan dan dihadang oleh kaum muslimin yang telah kembali kepada agama Islam yang benar. Agama Islam yang tegak diatas pelaksanaan tauhid dan memerangi kesyirikan, memberikan wala’ (loyalitas) kepada kaum beriman dan bara’ (anti loyalitas) kepada kaum kafir, murtad, munafik dan zalim.
Sebagaimana dikatakan oleh syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah (1206 H) dalam Al-Durar Al-Sanniyah fil Ajwibah Al-Najdiyah 8/113 :

إِنَ ْالإِنْسَانَ لاَ يَسْتَقِيْمُ لَهُ دِيْنٌ وَلاَ إِسْلاَمٌ ، وَلَوْ وَحَّدَ اللهَ وَتَرَكَ الشِّرْكَ ، إِلاَّ بِعَدَاوَةِ اْلمُشْرِكِيْنَ ، وَالتَّصْرِيْحِ لَهُمْ بِاْلعَدَاوَةِ وَالْبَغْضَاءِ ، كَمَا قَالَ تَعَالَى )لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ …الآية) (المجادلة: من الآية22).
Agama dan keislaman seorang hamba tidak akan benar dan lurus, meskipun ia telah mentauhidkan Allah dan meninggalkan kesyirikan, kecuali dengan memusuhi kaum musyrik. Allah berfirman ((Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya = QS. Al-Mujadilah :22)).

Melawan Pasukan Salib Internasional : Ibadah Paling Mulia, Inti Keimanan dan Tauhid

Iman, Islam dan tauhid menuntut kaum muslimin untuk membenci, memusuhi dan memerangi kaum kafir —apabila di saat mempunyai kemampuan—, terlebih bila kaum kafir memulai peperangan terhadap kaum muslimin.
Inilah amalan taqarub yang paling mulia dan utama di alam kondisi berkecamuknya perang salib modern ini.
Inilah tauhid yang sesungguhnya. Inilah kembali kepada Islam yang benar.
Iman, Islam, tauhid, dan pembinaan akidah tidak akan tercapai dengan sekedar mempelajari teori-teori akidah dan tauhid yang dimuat dalam buku-buku aqidah dan tauhid.
Ia membutuhkan amal nyata yang menterjemahkan teori-teori tersebut ke dalam sebuah tindakan yang mencerminkan Islam, iman, tauhid dan akidah yang sesungguhnya.
Kepada umat Islam yang membulatkan tekadnya untuk kembali kepada iman, tauhid dan Islam yang sesungguhnya.
Kepada umat Islam yang senantiasa bersemangat mengejar amalan yang paling utama, prioritas dan sesuai dengan tuntutan kondisi.
Inilah agama, kiblat, tanah air dan saudara-saudara anda dijadikan bulan-bulanan oleh koalisi salibis-zionis-paganis-komunis dan murtadin internasional.
Persiapkan niat dan mental anda…Singsingkan lengan baju anda…curahkan tenaga, waktu, ilmu, harta dan nyawa anda….demi tegaknya Islam dan tauhid, membela kehormatan agama, tanah air dan saudara-saudara seakidah.
Allah berfirman :

(وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ)
“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Rabbmu, maka bertaqwalah kepada-Ku”. (QS. Al-Mukminun :52)

)إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ )
“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara.” (QS. Al-Hujurat :10).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda :
عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى *
Nu’man bin Basyir radiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, ” Perumpamaan kaum muslimin dalam sikap saling mencintai, menyayangi dan membantu yang lemah bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasakan sakit, seluruh anggota tubuh lainnya ikut merasakan sulit tidur dan demam.”
عَنِ عَبْدِاللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّه عَنْهمَا أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,” Seorang muslim adalah saudara bagi seorang muslim lainnya. Ia tidak akan menzaliminya atau menyerahkannya kepada musuh. Barangsiapa mengurus keperluan saudaranya, Allah akan mengurus keperluannya. Barang siapa menghilangkan kesulitan seorang muslim, Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di hari kiamat. Dan siapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aib)nya di hari kiamat.”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ
Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,” Janganlah kalian saling iri ! Janganlah kalian saling jual beli menipu ! Janganlah kalian saling membenci ! Janganlah kalian saling membelakangi ! Janganlah kalian menawar barang yang sedang ditawar orang lain ! Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara ! Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain. Ia tidak akan menzaliminya, mentelantarkannya ataupun merendahkannya.”
Imam An Nawawi berkata :

” وَأَمَّا لاَ يَخْذُلُهُ : فَقَالَ اْلعُلَمَاءُ : اَلْخَذْلُ تَرْكُ اْلإِعَانَةِ وَالنَّصْرِ ، وَمَعْنَاهُ : إِذَا اسْتَعَانَ بِهِ فِي دَفْعِ السُّوءِ وَنَحْوِهِ لَزِمَهُ إِعَانَتُهُ إِذَا أَمْكَنَهُ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ عُذْرٌ شَرْعِيٌّ”
” Laa yakhdzuluhu” para ulama berkata, al-khadzlu adalah tidak membantu dan tidak menolong, Maknanya, jika seorang muslim meminta bantuannya untuk menolak keburukan dan hal yang serupa dengannya, ia wajib memberi bantuan selama memungkinkan dan tidak mempunyai udzur syar’i.”
Syaikh Abdu-Lathif bin Abdurahman bin Hasan Alu Syaikh, cicit syaikh Muhammad bin Abdul-Wahhab rahimahullah, (1293 H) dalam Al-Durar Al-Sanniyah 9/24 menulis :

وَأَفْضَلُ اْلقُرَبِ إِلَى اللهِ : مَقْتُ أَعْدَائِهِ اْلمُشْرِكِيْنَ ، وَبُغْضُهُمْ وَعَدَاوَتُهُمْ وَجِهَادُهُمْ ، وَبِهَذَا يَنْجُو اْلعَبْدُ مِنْ تَوَلِّيهِمْ مِنْ دُوْنِ اْلمُؤْمِنِيْنَ ، وَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَهُ مِنْ وِلاَيَتِهِمْ بِحَسْبِ مَا أَخَلَّ بِهِ وَتَرَكَهُ مِنْ ذَلِكَ . فَالْحَذَرَ اْلحَذَرَ مِمَّا يَهْدِمُ اْلإِسْلاَمَ وَيَقْلَعُ أَسَاسَهُ ، قَالَ تَعَالَى )يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُواً وَلَعِباً مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ) (المائدة:57) وَاْنتِفَاءُ الشَّرْطِ يَدُلُّ عَلَى انْتِفَاءِ ْالإِيْمَانِ بِحُصُولِ ْالمُوَالاَةِ ، وَنَظَائِرُ هَذَا فِي ْالقُرْآنِ كَثِيْرٌ.
” Bentuk ibadah mendekatkan diri kepada Allah yang paling utama adalah membenci, memusuhi dan berjihad melawan kaum musyrik. Dengan amalan inilah, seorang hamba akan selamat dari sikap berwala’ kepada kaum musyrikain dan mengesampingkan kaum mukminin. Jika ia tidak melakukan amalan ini, ia telah memberikan wala’ kepada kaum musyrikin sebatas amalan yang ia tinggalkan ini. Maka waspadalah ! Waspadalah ! Jauhilah tindakan yang menghancurkan bangunan Islam dan meruntuhkan pondasinya!
Allah berfirman ((Hai orang-orang yang beriman, janganlah kemu mengambil menjadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu menjadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertawakkallah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman. (QS. 5:57))).
Tiadanya persyaratan (jika kamu betul-betul orang yang beriman, pent) menunjukkan tiadanya iman, dengan adanya sikap muwalah (kepada kaum kafir). Ayat-ayat yang serupa dengan ayat ini banyak sekali dalam Al-Qur’an.”
Dalam Al-Durar Al-Sanniyah 8/396, beliau menulis :
وَاْلمَرْءُ قَدْ يَكْرَهُ الشِّرْكَ ، وَيُحِبُّ التَّوْحِيْدَ ، لَكِنْ يَأْتِيهِ اْلخَلَلُ مِنْ جِهَةِ عَدَمِ اْلبَرَاءَةِ مِنْ أَهْلِ الشِّرْكِ ، وَتَرْكِ مُوَالاَةِ أَهْلِ التَّوْحِيْدِ وَنُصْرَتِهِمْ ، فَيَكُوْنُ مُتَّبِعاً لِهَوَاهُ ، دَاخِلاً مِنَ الشِّرْكِ فِي شُعَبٍ تَهْدِمُ دِيْنَهُ وَمَا بَنَاهُ ، تَارِكاً مِنَ التَّوْحِيْدِ أُصُوْلاً وَشُعَباً ، لاَ يَسْتَقِيْمُ مَعَهَا إِيْمَانُهُ الَّذِي ارْتَضَاهُ ، فَلاَ يُحِبُّ وَيُبْغِضُ ِللهِ ، وَلاَ يُعَادِي وَلاَ يُوَالِي لِجَلاَلِ مَنْ أَنْشَأَهُ وَسَوَّاهُ ، وَكُلُّ هَذَا يُؤْخَذُ مِنْ شَهَادَةِ : أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ.
” Terkadang seorang hamba membenci kesyirikan dan mencintai tauhid, namun (keimanan dan tauhidnya) terkena celah kerusakan karena tidak berlepas diri dari kaum musyrik, dan tidak memberikan wala’ serta pertoongan kepada pengikut tauhid.
Dengan sikap ini, ia telah mengikuti hawa nafsu, masuk dalam cabang-cabang kesyirikan yang menghancurkan agama dan (keimanan) yang telah ia bangun, serta meninggalkan pokok-pokok dan cabang tauhid yang menyebabkan iman yang ia ridhai tersebut tidak lagi lurus.
Akibatnya, ia mencintai dan membenci tidak karena Allah lagi. Ia tidak memberikan wala’ (loyalitas) dan permusuhan karena keagungan Allah yang telah menciptakan dan menyempurnakan penciptaannya.
Semua ini disimpulkan dari syahadat Laa Ilaaha Illa- Allahu.”

Perang Ahzab dan Suri Tauladan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, adalah manusia dan nabi yang paling mulia di hadapan Allah Ta’ala. Seluruh peri kehidupan beliau adalah cerminan dari wahyu. Akhlak beliau, kata ummul mukminin ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, adalah Al-Qur’an. Allah Ta’ala mengutus beliau sebagai rahmat bagi semesta alam. Karenanya, Allah Ta’ala berfirman ;

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. 33, Al-Ahzab:21).
Beliau mendapat gelar “uswah hasanah”, suri tauladan yang baik, bukan di saat tengah berada di tengah istri-istri beliau, membantu dan mengurusi urusan keluarga. Pun, bukan di saat beliau berada di atas mimbar dakwah, memberi ceramah dan membina umat. Beliau mendapat gelar ini di tengah berkecamuknya perang Ahzab, perang yang menyatukan koalisi kaum kafir bangsa Arab untuk menghabisi Islam dan kaum muslimin di sarangnya. Perang yang diabadikan kisahnya dalam Al-Qur’an (QS. Al-Ahzab :9-27).
Perang yang begitu mencekam dan tidak seimbang, membuat kaum muslimin sulit bergerak walau sekedar menghela nafas :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَآءَتْكُمْ جُنُودُُ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَكَانَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا {9} إِذْ جَآءُوكُم مِّن فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ اْلأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللهِ الظُّنُونَا {10} هُنَالِكَ ابْتُلِىَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالاً شَدِيدًا
“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya.Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan”. (QS. 33:9)
(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ketenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam persangkaan. (QS. Al Ahzab (33),:10)
Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. (QS.Al Ahzab( 33):11)

Perang dahsyat —meski tak terjadi adu senjata massal— yang membuat para sahabat enggan melaksanakan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam untuk memata-matai perkemahan pasukan Ahzab, sehingga terpaksa beliau menunjuk Hudzaifah Ibnul Yaman. Perang yang memaksa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam sempat berfikiran akan menawarkan 1/3 hasil pertanian Madinah kepada kaum Ghathafan dengan syarat mereka keluar dari koalisi Ahzab, meski akhirnya ditentang oleh pimpinan kaum Anshar, Sa’ad bin Muadz dan Sa’ad bin Ubadah.
Perang yang menyingkap tabir kaum munafikin ; kaum yang meragukan janji Allah Ta’ala untuk memenangkan Islam, memilih mundur dari menghadapi musuh, menjadi penonton (atau manager ?) dan melayangkan sejumlah kritikan keras atas “ketidak becusan” para pemain di lapangan :

وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ مَّاوَعَدَنَا اللهُ وَرَسُولُهُ إِلاَّغُرُورًا {12} وَإِذْ قَالَت طَّآئِفَةٌ مِّنْهُمْ يَآأَهْلَ يَثْرِبَ لاَمُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا وَيَسْتَئْذِنُ فَرِيقٌ مِّنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَاهِيَ بِعَوْرَةٍ إِن يُرِيدُونَ إِلاَّ فِرَارًا {13} وَلَوْ دُخِلَتْ عَلَيْهِم مِّنْ أَقْطَارِهَا ثُمَّ سُئِلُوا الْفِتْنَةَ لأَتَوْهَا وَمَاتَلَبَّثُوا بِهَآ إِلاَّ يَسِيرًا {14} وَلَقَدْ كَانُوا عَاهَدُوا اللهَ مِن قَبْلُ لاَيُوَلُّونَ اْلأَدْبَارَ وَكَانَ عَهْدُ اللهِ مَسْئُولاً {15} قُل لَّن يَنفَعَكُمُ الْفِرَارُ إِن فَرَرْتُم مِّنَ الْمَوْتِ أَوِ الْقَتْلِ وَإِذًا لاَّتُمَتَّعُونَ إِلاَّ قَلِيلاً {16} قُلْ مَن ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُم مِّنَ اللهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً وَلاَيَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ اللهِ وَلِيًّا وَلاَنَصِيرًا {17}* قَدْ يَعْلَمُ اللهُ الْمُعَوِّقِينَ مِنكُمْ وَالْقَآئِلِينَ لإِخْوَانِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنَا وَلاَيَأْتُونَ الْبَأْسَ إِلاَّ قَلِيلاً {18} أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ فَإِذَا جَآءَ الْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِي يُغْشَى عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُم بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ أُوْلَئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللهُ أَعْمَالَهُمْ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرًا {19} يَحْسَبُونَ اْلأَحْزَابَ لَمْ يَذْهَبُوا وَإِن يَأْتِ اْلأَحْزَابُ يَوَدُّوا لَوْ أَنَّهُم بَادُونَ فِي اْلأَعْرَابِ يَسْئَلُونَ عَنْ أَنبَآئِكُمْ وَلَوْ كَانُوا فِيكُم مَّا قَاتَلُوا إِلاَّ قَلِيلاً {20}
Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata:”Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”.
Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata:”Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu”.Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata:”Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)”.Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari.
Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat.
Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah:”Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur)”.Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya.
Katakanlah:”Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja”.
Katakanlah:”Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.
Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya:”Marilah kepada kami”.Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar.
Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan.Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya.Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu.dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja. (QS. Al-Ahzab :12-20)

Setelah menyingkap tabir kaum munafik dalam sembilan ayat berturut-turut (12-20), Allah Ta’ala meneguhkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam sebagai “Uswah Hasanah” bagi orang-orang yang benar-benar hanya berjuang demi mengharapkan ridha Allah, kebahagiaan di akhirat dan banyak berdzikir dalam perjuangan.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. 33, Al-Ahzab :21).
Ya, dalam diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam ada uswah hasanah dalam kesabaran, keyakinan dan keteguhan berperang melawan koalisi pasukan kafir bangsa Arab.
Imam Jalaludin Al-Mahaly dalam tafsir “Al-Jalalain” menulis,” ((Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu)) Maksudnya, ada contoh (yang baik) dalam peperangan dan keteguhan di medan-medan peperangan.”
Imam Al-Baghawi dalam tafsir “Ma’alimu Tanzil” menulis,” ((Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu)) Maksudnya, ada contoh yang baik jika kalian menolong agama Allah, membela (mendukung) Rasul Shallallahu ‘alaihi wa salam, tidak ketinggalan dari (jihad) beliau, dan bersabar atas musibah yang menimpa kalian, sebagaimana beliau telah melakukan hal itu.
Gigi seri beliau patah, wajah beliau terluka, paman beliau terbunuh dan beliau mengalami berbagai macam gangguan. Meski demikian, beliau tetap menyantuni (menghibur) kalian dengan jiwa beliau langsung. Maka lakukanlah hal yang sama dengan apa yang beliau lakukan, dan ikutilah jejak sunah beliau ((..banyak menyebut nama Allah)) dalam seluruh medan pertempuran, baik senang maupun susah.”
Imam Al-Syaukani dalam tafsir “Fathul Qadir” menulis,” ((Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu)) Ayat ini merupakan celaan bagi orang-orang yang tidak turut berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam. Maksudnya, sungguh telah ada bagi kalian teladan pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam, di mana beliau mencurahkan jiwa untuk berperang dan keluar menuju Khandaq demi membela agama Allah.”
Imam Al-Baidhawi dalam tafsirnya “Anwaru Tanzil” menulis,” ((Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu)) Maksudnya, ada sebuah sifat yang baik untuk diteladani, seperti keteguhan dalam peperangan dan menghadapi ujian-ujian keras. Atau maknanya, diri beliau sendiri memang sebuah tauladan yang baik untuk dicontoh.”
Imam Al-Qurthubi dalam “Al-Jami’ Fi Ahkamil Qur’an” menulis,”Dalam ayat ini ada dua permasalahan.
1- Ayat ini merupakan celaan keras bagi orang-orang yang tidak tutut berperang. Maknanya, kalian mempunyai suri tauldan yang baik dalam diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, dimana beliau mencurahkan jiwa demi membela agama Allah, dengan keluar berperang menuju Khandaq.
2- Uswah adalah qudwah (contoh teladan). Uswah adalah apa yang ditiru dan diikuti. Maksudnya, beliau diikuti dan ditiru dalam seluruh perbuatan dan kondisi beliau. Muka beliau telah terluka, gigi seri beliau telah patah, pamannya yang bernama Hamzah telah terbunuh, dan perut beliau telah lapar. Meski demikian, beliau tetap bersabar, mengharapkan pahala, bersyukur dan ridha.”
Imam Ibnu Katsir dalam “tafsir Al-Qur’an Al-’Adzim” menulis,” Ayat yang mulia ini merupakan dasar yang agung dalam mengambil contoh yang baik dari Rasulullah, baik dalam perkataan, perbuatan maupun kondisi beliau. Oleh karenanya, Allah ta’ala memerintahkan manusia untuk mencontoh beliau dalam perang Ahzab, dalam hal ; kesabaran, menjaga kesabaran, ribath, jihad, dan menunggu jalan keluar dari sisi Rabbnya, semoga salawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau sampai hari kiamat.
Oleh karenanya, Allah berfirman kepada orang-orang yang kebingungan, bosan, goncang, dan bergetar ketakutan dalam perang Ahzab ((Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu)) Maksudnya, kenapa kalian tidak mengambil suri tauladan dari tindak-tanduk beliau shallallahu ‘alaihi wa salam.”
Allah Ta’ala kemudian menyebutkan respon kaum mukimin terhadap janji Allah dan Rasul-Nya atas kepastian adanya ujian keimanan :

وَلَمَّا رَءَا الْمُؤْمِنُونَ اْلأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَاوَعَدَنَا اللهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللهُ وَرَسُولُهُ وَمَازَادَهُمْ إِلآ إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا {22}
Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata:”Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”.Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. (QS. 33, Al-Ahzab :22)
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengutip perkataan Ibnu Abbas dan Qatadah,” ((Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”.Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya)) Maksud para sahabat, adalah firman Allah dalam surat Al-Baqarah ;

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللهِ أَلآَ إِنَّ نَصْرَ اللهِ قَرِيبُُ
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya:”Bilakah datangnya pertolongan Allah”. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. 2, Al-Baqarah :214).
Inilah yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya ; cobaan dan ujian yang akan diiringi dengan kemenangan yang dekat.”
Ya, satu kepastian yang telah dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah ujian keimanan. Siapa yang menghadapinya dengan sabar dan istiqamah, layak mendapat surga dan ridha Allah karena terbukti sebagai mukmin sejati. Sebaliknya, siapa berbalik saat mendapat ujian, maka itulah kaum munafik yang tidak layak mendapat ridha dan surga.

مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَاعَاهَدُوا اللهَ عَلَيْهِ فَمِنهُم مَّن قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ وَمَابَدَّلُوا تَبْدِيلاً {23} لِّيَجْزِيَ اللهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِن شَآءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا {24}
Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur.Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merobah (janjinya).
Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka.Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 33, Al-Ahzab:24)
Kini, peristiwa sejarah terulang kembali. Tentara “Ahzab” kembali menggempur kaum muslimin, dengan tingkat kwalitas dan kwantitas yang lebih besar dari tentara ahzab musyrikin Arab. Penghinatan para penguasa murtad dan kaum sekuler, kini juga memerankan pengkhianatan yang dahulu dilakukan kaum munafik dan Yahudi Bani Quraizhah.
Segalanya telah teruang. Tinggal pilihan umat ini untuk bersikap,; akankah mengikuti suri tauladan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam ? Ataukah justru ikut mundur bersama kaum munafik generasi awal ?

Berperan Aktif Sesuai Kemampuan

Dalam suasana perang salib modern ini, jihad fi sabilillah telah menjadi sebuah kewajiban yang hukumnya fardhu ‘ain. Setiap muslim dan muslimah dituntut untuk menbela agama, tanah air dan saudara-saudara seagama dengan menyumbangkan segala kemampuan yang bisa ia berikan. Setiap orang, dituntut untuk memainkan peran maksimal yang bisa ia lakukan.
Memang benar, tidak mungkin semua umat Islam harus memanggul senjata —apalagi tidak ada senjata — untuk mengusir musuh, karena sebenarnya musuh bisa dihadapi oleh kurang dari 1 % kaum muslimin. Jumlah umat Islam hari ini tak kurang dari 1,5 milyar jiwa, berarti 1 %nya adalah 15 juta jiwa. Koalisi pasukan salibis internasional inysa Allah bisa dihadapi oleh mujahidin yang jumlahnya tidak mencapai 15 juta, 10 juta atau 5 juta sekalipun. Bahkan, boleh jadi koalisi pasukan salib bisa dihadapi oleh 0,1 % umat Islam (1,5 juta jiwa).
Dari sini perlu dipahami, ketika para ulama salaf, khalaf, mutaakhirin dan mu’ashirin menyerukan fatwa jihad hari ini fardhu ‘ain, bukan berarti 1,5 milyar umat Islam harus memanggul senjata semua sehingga seluruh aspek kehidupan lainnya terbengkalai. Fatwa mereka mengajak umat Islam untuk serius mempersiapkan kekuatan militer, selain tentunya mempersiapkan aspek mental (tauhid dan iman). Fatwa mereka mengajak seluruh kaum muslimin untuk ikut aktif terlibat dalam jihad fi sabilillah sesuai peran dan kemampuan yang disanggupi.
Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam :

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ جَاهِدُوا الْمُشْرِكِينَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ
Dari Anas bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, ” Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan harta, jiwa dan lisan kalian.”

عَنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ حِينَ أَنْزَلَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الشِّعْرِ مَا أَنْزَلَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَدْ أَنْزَلَ فِي الشِّعْرِ مَا قَدْ عَلِمْتَ وَكَيْفَ تَرَى فِيهِ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ يُجَاهِدُ بِسَيْفِهِ وَلِسَانِهِ
Ketika Allah menurunkan ayat tentang syair ((Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. QS. Al-Syu’ara’ 26 :224), Ka’ab bin Malik (penyair dari kalangan sahabat) bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam,” Allah telah menurunkan ayat tentang syari. Maka, bagaimana pendapat anda tentang syair ?” Beliau bersabda, “Seorang mukmin berjihad dengan pedang dan lisannya.”

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اهْجُوا قُرَيْشًا فَإِنَّهُ أَشَدُّ عَلَيْهَا مِنْ رَشْقٍ بِالنَّبْلِ
Dari Aisyah, bahwasanya Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,” Seranglah (ejeklah) kaum Quraisy dengan syair-syairmu, karena hal itu lebih menyakitkan mereka dari tusukan anak panah.” Beliau lantas mengirimkan pesan itu berturut-turut kepada Abdullah bin Rawahah, Ka’ab bin Malik dan Hasan bin Tsabit.

أُهْجُ الْمُشْرِكِيْنَ فَإِنَّ رُوْحَ اْلقُدُسِ مَعَكَ.
” Ejeklah orang-orang musyrik, karena sesungguhnya Jibril bersamamu.”

مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللهِ فَقَدْ غَزَا، وَمَنْ خَلَّفَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللهِ فِي أَهْلِهِ بِخَيْرٍ فَقَدْ غَزَا.
” Barang siapa mempersiapkan perbekalan orang yang berperang, berarti telah ikut berperang. Barangsiapa membiayai hidup keluarga orang yang berperang, berarti telah ikut berperang.”
” Barang siapa belum pernah berperang, atau membiayai perbekalan orang yang berangkat berperang, atau menanggung biaya hidup keluarga orang yang berperang, Allah akan menimpakkan bencana kepadanya sebelum hari kiamat nanti.”
Di antara peran dan tuntutan kewajiban yang bisa dilaksanakan oleh umat Islam dalam menghadapi perang salib modern ini adalah :
1- Berjihad dengan jiwa, bagi setiap muslim laki-laki yang telah baligh,sehat fisik dan mampu berjihad. Bila tidak mempunyai kemampuan, mereka harus mempersiapkan kekuatan.
2- Berjihad dengan harta, dengan menyalurkan infak dan zakat untuk setiap kebutuhan yang diperlukan oleh mujahidin.
3- Membiayai dan menyiapkan perbekalan (senjata, amunisi, dana) orang-orang yang akan berjihad.
4- Menanggung biaya hidup keluarga orang-orang yang berangkat berjihad.
5- Membantu atau menanggung biaya hidup keluarga mujahidin yang terluka dan cacat, atau mati syahid dan yang tertawan.
6- Membayarkan zakat kepada mujahidin.
7- Membantu mengobati atau pembiayaan perawatan dan pengobatan mujahidin yang terluka atau cacat.
8- Menyebutkan kebaikan mujahidin dan menghasung masyarakat untuk mengikuti jejak mereka.
9- Memberi dukungan kepada mujahidin agar tetap istiqamah meneruskan perjuangan.
10- Membela mujahidin dari musuh-musuh Islam yang membuat opini buruk dan mendiskreditkan mujahidin.
11- Membongkar kedok kaum munafik yang memusuhi jihad dan mujahidin.
12- Menghasung masyarakat untuk berjihad.
13- Menjaga rahasia mujahidin dan tidak menyebarkannya kepada musuh-musuh Islam.
14- Membaca Qunut Nazilah untuk kebaikan,keistiqamahan dan kemenangan mujahidin
15- Menyebarluaskan berita-berita jihad, buku-buku, artikel, buletin dan semua terbitan mujahidin yang mendukung ibadah jihad dan dakwah.
16- Mengeluarkan fatwa-fatwa dukungan kepada mujahidin.
17- Menjalin komunikasi dengan para ulama dan da’i, memberitahukan kepada mereka berita-berita tentang jihad yang dilakukan mujahidin.
18- Melakukan persiapan kemiliteran.
19- Mempelajari fiqih jihad.
20- Melindungi,memberi tempat tinggal dan memperlakukan mujahidin dengan baik.
21- Membenci dan memusuhi kaum kafir.
22- Membiayai dan menebus muslim yang ditawan.
23- Jihad elektronik (cyber).
24- Mendidik putra dan putri untuk mencintai jihad dan mujahidin.
25- Boikot ekonomi terhadap produk-produk kaum kafir.
26- Tidak menjadi bekerja sama dengan musuh Islam dan jihad.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s