Apakah dunia Islam bisa mendapatkan manfaat dari haji?

Manfaat Haji
Apakah dunia Islam bisa mendapatkan manfaat dari haji? Dan apakah sebenarnya manfaat itu?

Haji yang benar dapat menciptakan perubahan besar dalam jiwa setiap Muslim dan membangkitkan ketauhidan serta hubungan kepada Allah dan kepercayaan kepada-Nya serta menolak segala bentuk berhala baik berhala luar maupun yang wujud dalam diri seorang manusia yaitu hawa nafsu yang menghinakan dan kekuataan yang membelunggu manusia, selain juga menumbuhkan kekuatan, rasa percaya diri, kebahagiaan dan pengorbanan dalam dirinya. Perubahan inilah yang akan membentuk manusia menjadi wujud yang tidak pernah mengenal kata mengalah, ancaman, atau iming-iming.

Haji yang benar juga dapat menyambungkan kembali sendi-sendi yang terlepas dari tubuh umat Islam yang kuat. [Lewat moment haji, umat] saling memperkenalkan masing-masing anggotanya dan bertukar informasi tentang penderitaan, kemajuan, tuntutan, dan pengalaman mereka. Jika haji diatur dengan tujuan dan hasil-hasil seperti ini dan dalam hal ini pemerintah, para ulama, pengamat, dan cendekiawan, saling bekerjasama, maka hasil yang akan dicapai umat Muslim tidak dapat dibandingkan dengan kemajuan apapun yang telah digapai dunia Islam. Secara tegas dapat dikatakan bahwa jika satu kewajiban Islam ini saja terlaksana dengan baik sesuai dengan syariat Islam dan dimanfaatkan dengan baik sesuai yang diharapkan, dipastikan dalam waktu yang tidak lama lagi umat Islam akan memperoleh kembali kehormatan dan kekuatan yang diinginkan.
Pesan Rahbar kepada para hujjaj Baitullah Al-Haram – 3 Juni 1992.
Kandungan Politik Haji
Jiwa mana yang haus dan ingin meneguk segarnya air dari kolam surgawi Muhammad Saw, dan gejolak mata air zamzam Husaini, namun hingga kini masih meragukan kandungan politik haji? Haji tanpa bara’ah (ikrar berlepas diri dari kaum kafir dan zalim), tanpa persatuan, tanpa gerakan dan kebangkitan, haji yang tanpa ungkapan penentangan terhadap intimidasi kekufuran dan kemusyrikan bukanlah haji karena ia telah kehilangan makna yang sebenarnya.
Arca-arca buruk kaum despotik dan imperialis, para penguasa yang tidak mengenal Allah, kaum arogan dunia, di masa lalu atau kini, selalu mencemaskan pelaksanaan haji bersama dengan maknanya yang konstruktif, jelas, dan sumber inspirasinya. Oleh karena itu mereka melawan fenomena ini. Melalui propaganda yang luas dan agresif, juga melalui para ulama bayaran dan para kaki tangan yang ikut mencicipi hidangan mereka, mereka memerangi kandungan politis dari ibadah haji, dan dengan menebar kontroversi mereka memaksakan klaim bahwa haji tidak ada kaitannya dengan politik dan tidak lebih dari sekedar ibadah yang bersifat individual saja. Namun mereka lupa bahwa setiap orang yang sedikit saja memiliki kesadaran sangat menyadari dengan jelas bahwa jika hikmah persatuan muslimin dan keagungan umat Islam serta komunikasi antar saudara Muslim ini dipisahkan dari haji, dan jika yang dimaksud bukanlah kekompakan umat Islam dengan beragam bahasa dan ras yang berasal dari berbagai kawasan untuk bersama-sama berpegang teguh pada tali Allah Swt, lalu beranggapan bahwa yang dimaksud dari haji hanyalah ibadah individual dan hubungan manusia dengan Tuhannya saja, maka ia akan bertanya-tanya mengapa harus ada perintah Allah kepada umat untuk hadir dari berbagai penjuru (min kulli fajjin ‘amiq), baik yang mengendara maupun pejalan kaki itu pada satu musim tertentu saja? Apakah makna dari semua ini? Mengapa mereka harus berkumpul di Mekkah kemudian di Arafah, Masy’ar, dan Mina, itu pun hanya selama beberapa hari saja bahkan pada hari dan jam-jam tertentu saja bagi seluruh umat Islam sedunia ini?
Luapan Hati yang Terkesima
Tibanya musim haji setiap tahun selalu diiringi dengan luapan rasa gembira di hati yang terkesima dan jiwa-jiwa yang berharap dari seluruh penjuru dunia Islam untuk berada di rumah Sang Pencipta dan Sang Kekasih serta untuk mengetuk pintu cinta dan kesucian, juga untuk menuju medan peribadatan dan pendekatan diri ke derajat yang suci. Untuk melewati hari-hari tertentu dengan zikir dan doa serta berteduh di bawah lindungan rahmat dan ampunan-Nya. Juga untuk bertemu dengan saudara mereka dari seluruh penjuru dunia serta untuk menyaksikan dan merasakan kebesaran umat Islam dalam bentuk nyatanya.
Ibadah untuk Menciptakan Kehidupan yang Baik Bagi Umat Islam
Ya, haji adalah ibadah, zikir, doa, dan istighfar. Namun ibadah, zikir, dan istighfar yang dilakukan dalam rangka menciptakan kehidupan yang baik bagi umat Islam dan untuk membebaskan mereka dari belenggu perbudakan, kezaliman dan dewa-dewa kekayaan dan kekuatan, serta untuk menyuntikkan jiwa kemuliaan, keagungan, dan menghapus segala penyakit ruh. Inilah haji yang bersandarkan pada pilar-pilar ajaran agama, dan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as dalam Nahjul Balaghah menyebutnya sebagai panji Islam dan jihad bagi orang-orang yang tertindas, penghapus kemiskinan, media untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, dan sarana bagi pendekatan di antara orang-orang yang beragama. Inilah haji yang setiap tahunnya dilaksanakan dengan penuh semangat oleh para hamba Allah yang pejuang dari Iran, yang menempatkan bara’ah dan ikrar berlepas tangan dari AS dan Rezim Zionis Israel, serta penafian kekuasaan imperialis, serta seruan kekuasaan Allah Swt, sebagai syarat utama haji.
Poin Pertama Haji: Maknawiyah
Terdapat dua poin penting dalam haji yang tidak dapat dilupakan. Pertama adalah masalah maknawiyah dan spiritual haji.
Di sela-sela pelaksanaan kewajiban ini, mulai dari awal hingga akhir, terdapat semangat seperti kekhusyukan dan keikhlasan kepada Zat Suci Yang Maha Esa dan pembuktian penghambaan kepada Allah Swt. Tidak ada kewajiban lainnya yang memiliki kriteria yang besar dan berkualitas seperti haji, meski setiap ibadah dan kewajiban berlandaskan pada asas kekhusyukan dan zikir kepada Allah Swt. Ketika seseorang terpanggil untuk mendatangi pusat pelaksanaan ibadah haji, maka ia telah keluar dari batasan materi dan memasuki lingkungan yang sepenuhnya bernuansa maknawiyah. Dalam nuansa maknawiyah ini ia akan dicuci dan kembali suci secara nyata. Jika seandainya seorang manusia di sepanjang hidupnya sekali saja dicuci seperti ini, maka hal itu cukup baginya.
Karena haji hanya wajib untuk sekali saja dan kewajiban selalu didasarkan pada tuntutan dan kebutuhan. Jika untuk menempuh jalan kesempurnaan kita perlu menunaikan shalat 70 rakaat, maka Allah akan mewajibkan kita untuk melaksanakannya. Minimal dari ibadah yang wajib adalah sesuatu yang diturunkan secara wajib untuk kita semua. Haji diwajibkan untuk setiap orang yang mampu, tapi tidak boleh ada anggapan bahwa syarat kemampuan itu membatasi kewajiban tersebut. Tidak. Kewajiban ini luas, tanpa pengecualian -sekali seumur hidup- dan jika seseorang tidak memiliki kemampuan, berarti ia tidak mampu melakukannya dan tidak diwajibkan untuknya. Karena ia tidak mampu. Pergi ke pusat maknawiyah itu untuk menyucikan diri sekali saja sudah cukup bagi setiap orang. Meski jika semakin banyak dicuci akan semakin baik dan bersih. Namun yang diperlukan hanya sekali saja.
Coba perhatikan betapa kuat dimensi spiritual haji!… Haji dimulai dengan Labbaik atau jawaban mengiyakan panggilan Allah Swt. Seluruh manasik dan amal dalam haji seperti ihram, busana, hal-hal yang diharamkan pada masa ihram, tawaf, sa’i, shalat, dan wukuf, masing-masingnya menarik satu sisi dari wujud kita kepada spiritualitas dan kepada Allah Swt. Seluruh susunan ini pada hakikatnya adalah mata air jernih yang harus kita gunakan untuk menyucikan diri kita, dan perhatikanlah agar haji tidak kehilangan sisinya yang seperti ini.
Poin Kedua Haji: Masalah Sosial
Poin kedua haji adalah masalah sosial. Allah Swt menyusun kewajiban ini sedemikian rupa sehingga seluruh umat Islam dapat saling melihat dan berkenalan. Jika bukan karena haji, maka mungkin seorang Muslim hingga akhir hidupnya bukan saja tidak akan mengenal bangsa-bangsa Muslim lainnya melainkan juga tidak akan pernah mendengar namanya. Haji mengumpulkan berbagai bangsa, budaya, bahasa, dan orang-orang yang tidak saling mengenal dan memberkahi mereka dengan amal, zikir, cinta, dan satu tujuan. Lalu apa yang diharapkan? Yang diharapkan adalah agar tercapai satu tujuan. Apa tujuan tersebut? Sesuatu yang menghubungkan seseorang dengan seluruh bangsa dan bukan hanya dengan satu bangsa saja, yaitu ikatan Islam. Apa yang bersifat kolektif di antara seluruh bangsa dengan beragam rasnya dan semuanya adalah orang-orang Muslim? Seluruh tujuan, harapan, impian, dan kecintaan Islam, telah ditentukan oleh Islam. Dengan demikian, haji akan mewujudkan hal ini. Mengapa sebagian orang tidak memahami poin penting ini dan mengapa hal ini harus perlu dijelaskan? Bahkan ada orang-orang yang masih tidak mau tahu meski telah mendapat penjelasan. Sikap keras kepala telah sedemikian besar sehingga mereka terang-terangan menentang fakta dan kebenaran ini.
orang timur, barat, kulit hitam atau putih, dan mereka yang dengan berbagai macam bahasa berkumpul di sini, selama beberapa hari menunaikan amal yang sama, beribadah, tidur, dan duduk di satu tempat. Ini semua adalah dalam rangka mewujudkan sesuatu yang melampaui batas-batas kebangsaan dan individual. Dan jika tidak demikian, sangat mungkin amal dan ibadah ini dilakukan oleh setiap orang di masjid Jami’ di negara mereka masing-masing. Lalu mengapa umat Islam harus berkumpul di satu tempat? Agar mereka bersama-sama, merasakan kebersamaan, dan agar mereka meresapi sesuatu yang melebihi nilai-nilai kebangsaan yaitu makna sebagai Muslim dan persatuan. Ini adalah sesuatu yang sejak awal ditekankan oleh Revolusi Islam dan Republik Islam, yang menyatakan bahwa haji adalah dalam rangka saling mengenalkan antara umat Islam, mempersatukan, merealiasikan kepentingan kolektif umat Islam, dan penafian musuh yaitu bara’ah dari kaum musyrikin.
Keberagaman Dimensi Haji
Bagi orang-orang yang mengenal ilmu-ilmu keislaman, bukan hal yang asing lagi bahwa kewajiban haji ke Baitullah al-Haram merupakan sebuah kewajiban yang langka yang mencakup berbagai dimensi dan yang berhubungan langsung dengan kehidupan individu dan hubungan sosial secara menakjubkan serta memiliki pengaruh yang sangat mendalam terhadap jiwa, raga, pemikiran, dan perilaku manusia. Pelaksanaannya secara benar dapat membuka pintu-pintu materi dan spiritual.
Kewajiban agung ini merupakan ringkasan dari perjalanan spiritual tinggi, zikir, khusyu’, kembali ke pangkuan Ilahi, dan istighfar, dengan sa’i, gerakan, wukuf, bara’ah, persatuan, persahabatan, dan kasih sayang antara orang-orang mukmin seiring dengan peringatan dan berlepas tangan dari orang-orang kafir. Haji adalah meninggalkan fatamorgana dan menyelam ke dalam samudera umat. Haji adalah mengungkapkan keluhan segala penyakit kepada Sang Penyembuh Hati. Haji adalah menanyakan keluhan umat Islam untuk mengobatinya. Singkatnya, haji adalah perpaduan politik dengan agama, dunia dengan akhirat. Keragaman yang komplek ini menuntut adanya pengarahan kepada para hujjaj dan membantu mereka untuk melaksanakan ibadah ini dengan lebih baik dan lebih sempurna dan memuaskan diri dengan mata air rahmat ilahi ini.
Penolak Segala Macam Bala
و اذن فی الناس بالحج یاتوک رجالا و علی کل ضامر یأتین من کل فج عمیق لیشهدوا منافع لهم و یذکروا اسم الله فی ایام معلومات علی ما رزقهم من بهیمة الأنعام فکلوا منها و أطعموا البائس الفقیر
Syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada hamba-hambaNya ini untuk berkumpul di rumah-Nya yang suci dan, Yang telah mengutus Nabi-Nya untuk mengumandangkan seruan haji, memberikan keamanan bagi rumahNya dan membersihkannya dari keberadaan arca-arca jahiliyah, menjadikannya tempat bertawaf bagi orang-orang mukmin, lokasi pertemuan umat dari tempat-tempat yang berjauhan, pentas kebersamaan, manifestasi keakraban dan perkumpulan umat.
Pengurusan Ka’bah, pelayanan kepada orang-orang yang bertawaf di era jahiliyah yang dulu menjadi sarana perdagangan, ajang perebutan kekuasaan dan kerakusan, telah Dia jadikan menjadi milik semua dan semua berhak memanfaatkannya. Meski para pemonopoli tidak menyukai, Dia telah memberikan hak yang sama antara mereka yang baru datang dan mereka yang tinggal di sana. Dia telah menjadikan haji sebagai kunci persatuan dan keagungan umat Islam, serta mewujudkan kesatuan dan ikatan di antara mereka, menjadikannya sebagai penolak banyak bala’ dan bencana yang dihadapi orang-orang Muslim dan umat Islam lantaran telah terpisah dari jati diri mereka sebagai Muslim. Umat Islam [sebelumnya telah meninggalkan jati diri dengan] memuja orang-orang asing, lupa akan diri sendiri, mudah termakan omongan, lalai akan Allah, dan menyerahkan diri kepada para penguasa duniawi, berprasangka buruk terhadap saudara, menerima pernyataan musuh tentang mereka, tidak peduli terhadap masa depan umat Islam, bahkan tidak mengenal umat Islam secara keseluruhan, tidak tahu menahu tentang peristiwa yang terjadi di belahan negeri Muslim lainnya, tidak jeli menghadapi makar dan tipu daya musuh yang berusaha menghancurkan Islam dan kaum muslimin, dan berbagai penyakit lainnya yang sepanjang sejarah selalu mengancam kaum muslimin akibat naiknya orang-orang yang tak layak dan yang tidak mengenal Allah ke tampuk kekuasaan politik dan kepemimpinan atas nasib umat Islam. Dalam beberapa abad terakhir, bersamaan dengan munculnya kekuatan imperialis asing di kawasan atau antek-antek musuh dan para pengkhianat, kondisinya semakin kritis dan mengkhawatirkan.
Syukur kepada Allah Swt yang menjadikan haji sebagai khazanah tanpa batas dan mata air yang selalu mengalir, serta ibarat aliran air yang jernih untuk umat yang abadi ini. Mereka yang mengenalnya pasti akan memanfaatkannya dan menjadikannya sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit-penyakit yang menghancurkan itu. Dan syukur kepada Allah Swt yang telah melimpahkan rahmatNya kepada bangsa Iran dan yang telah mengabulkan kerinduan mereka kepada Ka’bah, setelah sebelumnya terhalang duri-duri menyakitkan di gurun pasir tandus. Dia telah menganugerahkan kepada bangsa ini untuk kembali merangkul Ka’bah dengan kehormatan dan kemuliaan. Inilah hak yang dianugerahkan kepada bangsa Iran dengan kemurahan-Nya, meski selama beberapa tahun bangsa ini terhalang untuk melaksanakan ibadah haji. Dengan segala kebaikan-Nya, Dia telah mengembalikan bangsa ini untuk melaksanakan haji Ibrahimi dan Muhammadi menggantikan haji gaya Abu Jahl. Dia telah menghubungkan kembali hati yang merindukan namun terganjal rintangan ini, dengan apa yang dicitakannya dengan damai dan sentosa. Dia telah menerima panggilan ‘Labbaika’ yang keluar dari jiwa perindu yang telah dipenuhi oleh marifat dan cinta untuk berziarah ke Kabah. Dia telah membelai dengan penuh kasih hamba-hamba-Nya yang tulus dan menjanjikan kemenangan bagi orang-orang yang beriman. Dia telah menjadikan rumah-Nya sebagai tempat bagi mereka yang bertawaf dan berwukuf.
Ya Allah! Kasih sayangilah para hujjaj yang merindu ini, dan yang selalu tidak sabar, yang telah sekian lama melalui penantian panjang untuk meleburkan diri dengan Sang Kekasih. Ampuni dan rahmatilah para saudara dan saudari yang datang dari berbagai penjuru dunia menuju tempat rahmat dan ampunan ini. Terangilah hati mereka dengan cahaya makrifat dan kesadaran. Juga limpahkanlah hidayah dan pertolongan-Mu kepada mereka. Berikanlah mereka tekad yang kuat untuk membenahi kondisi umat Islam dan menangkanlah mereka di hadapan musuh. Amin rabbal alamin.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s