Kejanggalan Syiah Rafidhah

Syiah Rafidhah, merupakan julukan “pantas” bagi Syiah Imamiyah, yang meliputi golongan 12 Imam dan Ismailiyah (atau juga dikenal sebagai Bathiniyah). Kedua aliran ini merupakan aliran ghulat dari kalangan ahli bidah di mata ahlus sunnah. Bahkan penamaan ini sebenarnya tidak lepas dari julukan yang diberikan oleh golongan Syiah lain yang lebih moderat, yakni Syiah Zaidiyah. Sehingga dari sejarahnya saja, pendekatan Sunni – Syiah yang dipromosikan Iran tidak akan pernah berhasil, karena Rafidhah sendiri kemungkinan besar adalah sempalan dari sempalan yang telah dicap sebagai ahli bidah.

Mungkinkah pendekatan yang dipropagandakan mereka melalui brosur-brosur dan promosi tokoh-tokoh “sunni” seperti keluarga Shihab terjadi ? Jawabannya adalah ada pada pernyataan serta sikap beberapa tokoh yang pernah menjadi korban penipuan proyek Taqrib berikut ini* :

Dr. Muhammad Bahi, Dahulu beliau merupakan salah satu pendukung dari gerakan “Dar Taqrib” ini, akan tetapi setelah diketahui kedoknya beliau mengatakan: “Di Kairo sedang digulirkan sebuah gerakan yang mengupayakan pendekatan atau taqrib diantara madzhab yang ada, gerakannya lebih ditujukan kepada mengaktualisasikan kembali pemahaman syiah tentang fiqh, ushul dan tafsir dan tidak menyerukan apa yang diserukan oleh Al-Qur’an.” (dalam bukunya Pimikiran Islam dan Masyarakat Modern hal 439)
Syeikh Muhammad Arafah, salah satu anggota Majelis Ulama besar di al Azhar dan juga Syeikh Muhammad Thoha Sakit, keduanya meninggalkan Daar At Taqrib, setelah mengetahui bahwa tujuannya adalah untuk menyebarkan faham syiah di kalangan sunni dan bukan pendekatan. Hal ini disebutkan oleh pentahqiq buku Al Khutut Al Aridhoh.
Syeikh Ali Thonthowi dalam bukunya Dzikriyat 7/132, beliau menyebutkan bahwasanya beliau mengunjungi Syeh Qummi, seorang dari Iran yang ikut mendirikan Dar Taqrib. Ketika itu disana ada Syeikh Muhammad Arafah. Beliau memarahi Qummi dikarenakan pada hakekatnya dia adalah seorang yang menyebarkan mazhab syiah dan bukannya berusaha untuk mengadakan pendekatan. Ketika itu Syeikh Arafah yang berusaha mendinginkan suasana.
Muhammad Rasyid Ridho penulis Kitab Tafsir Al Manar, telah berusaha mengadakan surat menyurat dengan ulama syiah, maka beliau hanya mendapatkan sikap keras kepala untuk tetap bermadzhab syiah, merendahkan para sahabat dan penjaga as Sunnah dan menerangkan hakekat mazhab syiah. (dalam Bundel majalah Al Manar jilid 31 hal 291)
Dr. Musthofa as-Sibai, beliau adalah salah satu pemerhati tentang masalah pendekatan antara sunni dan syiah. Bahkan beliau menjadi dosen pada mata kuliah Fiqh Syiah pada fakultas Syariah di Damaskus. Akan tetapi yang beliau dapatkan hanya sikap berpaling dari ulama syiah, pengalaman ini beliau ungkapkan dalam bukunya Sunnah Wakanatuha Fii Tasyri’il Islami hal 4. Beliau menuliskan bahwa maksud dari pendekatan itu adalah mendekatkan sunni kepada syiah, hal 9.

Itulah tadi pernyataan beberapa tokoh yang pernah memiliki itikad baik untuk mencoba menuruti kemauan Syiah. Namun yang didapat hanya propaganda kosong yang berujung pada syiahisasi umat Islam.

Kejanggalan Syiah (Contoh Pada Doktrin Imamah)

Syiah Rafidhah sebagai sebuah madzhab sempalan dimata ahlus sunnah tentunya memiliki kejanggalan-kejanggalan dalam ajaran mereka. Itu terutama terdapat dalam kitab-kitab Syiah kelas wahid seperti Al-Kafi dan Biharul Anwar. Namun satu hal yang pasti, dalam propaganda-propaganda mereka yang beredar di kalangan sunni pasti tidak akan dicantumkan ajaran-ajaran ganjil yang menjadi identitas mereka.

Inilah yang ironis dari syiah itu sendiri. Imamah dalam Syiah (imamah menurut versi mereka) adalah salah satu ajaran paling fundamental, dan karena ajaran inilah mereka disebut Syiah Imamiyah. Profesor Muhammad Baharun dari IAIN Surabaya menyebutkan bahwa Syiah di Indonesia dan di Iran disatukan oleh satu doktrin esensial. Doktrin esensial tersebut adalah doktrin Imamah. Seandainya saja informasi pokok tentang akidah imamah Syiah Rafidhah ini tersebar luas, maka belang mereka sungguh setali tiga uang dengan aliran-aliran sesat lain yang pating telecek, tersebar di Indonesia.

Berikut ini beberapa doktrin ganjil Imamah Syiah yang dituding sebagai faktor biang keladi dari kesesatan Syiah Imam 12* :

Syaikh Muhammad Ridha Muzhaffar dalam kitab Aqaidul Imamiyah –yang berisi keyakinan mazhab Syiah Imamiyah- pada halaman 66 mengatakan bahwa imam adalah penerus kenabian, karena para imam adalah penerus kenabian, sudah tentu memiliki sifat-sifat “linuwih” kelebihan yang membuat para imam berbeda dengan kita-kita. Boleh jadi pembaca yang kebetulan syiah akan merah telinganya ketika imamnya dibandingkan dengan kita-kita.
Kembali kita simak syaikh Muhammad Ridha Muzhaffar dalam kitabnya di atas pada halaman 67: “Kami meyakini bahwa imam adalah sama seperti Nabi, harus memiliki sifat yang sempurna dan menjadi yang terbaik dari seluruh manusia.”
Riwayat dari kitab Al Kafi jilid 1 hal 192, dari Abu Ja’far mengatakan: “Kami adalah wali perintah Allah, kami adalah pembawa ilmu Allah dan penyimpan wahyu Allah.” Ini dikuatkan lagi oleh riwayat berikutnya –pada kitab dan halaman yang sama- dari Surah bin Kulaib, Abu Ja’far –Muhammad Al-Baqir- mengatakan padanya: “Demi Allah kami adalah penyimpan Allah di bumi dan langitnya, bukan menyimpan emas dan perak tetapi menyimpan ilmuNya.”
Biharul Anwar jilid 26 halaman 132, Bab: Allah Membuatkan Tiang Bagi Para Imam Untuk Melihat Perbuatan Hamba. Dari Abu Abdullah – imam Ja’far Ash Shadiq-, mengatakan: “Imam mendengarkan suara ketika di perut Ibunya, ketika berusia empat bulan di kandungan dituliskan di lengan kanannya: ‘Dan telah sempurna kalimat Allah yang benar dan adil,’ jika imam tersebut telah lahir maka akan nampak cahaya antara langit dan bumi, jika dia mulia berjalan maka dibuatkan baginya tiang dari cahaya untuk melihat apa yang ada antara timur dan barat.”

Itulah tadi sebagian dari ragam ajaran Imamah yang termaktub dalam kitab-kitab kajian syiah (yang diantaranya merupakan kitab-kitab kajian utama seperti Al-Kafi dan Biharul Anwar, yang sangat langka, dan sepertinya hanya kalangan tertentu yang boleh membukanya). Perilaku pengagungan Rafidhah kepada personal yang mereka anggap sebagai Imam tak ubahnya seperti perilaku sekte Lia Eden. Hanya saja Rafidhah telah menjadi tradisi yang mengakar dalam sebagian peradaban tua di dunia. Jadi yang demikian itu dianggap sebagai sebuah kelaziman.

Ngeles

Misionaris-misionaris Syiah dikenal lihai dan licik. Para pengemban misi zending Syiah dibekali dengan ilmu-ilmu logika, serta ilmu-ilmu alat lain yang mengakibatkan para misionaris ini bahkan mampu mencongkal-congkel sumber-sumber dan perkataan para ulama ahlus sunnah untuk mendukung argumen-argumen mereka. Sehingga banyak thullab dan aktivis Islam yang kewalahan menghadapi misionaris yang semacam ini, jika mereka para aktivis ini tidak memiliki keterampilan khusus. Bahkan tidak jarang aktivis Islam tertipu dan termakan gombal rayu dari misionaris Syiah.

Seringkali juga para misionaris Syiah ngeles tentang fakta-fakta kebobrokan Syiah yang tertera dalam kitab-kitab rujukan utama mereka. Dengan alasan out of context, misionaris Syiah menyangkal tentang keberadaan fakta-fakta kebobrokan Syiah, seperti doktrin ghuluw Imamah, sejarah ahlul bait yang sangat menyimpang dari kebenaran, hingga penghinaan kepada sahabat. Dalam kondisi seperti ini, kaum muslimin jangan ragu-ragu untuk menagih buku-buku semacam al-Kafi atau Biharul Anwar untuk diterjemahkan dalam bahasa yang dimengerti. Kalau perlu dengan penerjemah seorang sunni. Sebab selama ini buku-buku yang disodorkan sebagai propaganda hanyalah stensilan murahan yang isinya rayuan gombal.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s