Pengertian salaf dan khalaf

Sering kita dengar bahwa selayaknya kaum muslim mengikuti/merujuk kepada para Ulama salaf. Namun,siapakah ulama salaf itu? Apa maksudnya merujuk pada ulama salaf? Lantas bagaimana jika kita mengikuti ulama yang bukan salaf(Ulama Khalaf)?

Pengertian salaf dan khalaf

Salaf secara harfiah berarti madha’ (berlalu),juga berarti generasi pendahulu seseorang. Pengertian ini dapat ditemukan diantaranya dalam kitab Mukhtar as-Shihhah karya Ar-Razi,dan juga kitab lisan al-Arab karya Ibnu Mandhur. Di situ Ibn Mandhur menguraikan bahwa lafadz salaf mempunyai dua konotasi: Pertama, setiap amal salih yang dipersembahkan oleh seseorang sehingga amal tersebut menjadi peninggalannya. Kedua, nenek moyang yang telah mendahului keturunan atau kerabatnya, yang usia dan kemuliaannya berada diatas mereka. Karena itu, generasi pertama islam, yaitu generasi para sahabat9tabi’in),disebut juga Salaf Shalih.

Pendapat lain diantaranya dari Prof.Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah ji dalam kitab Mu’jam lughat al-Fuqaha menyatakan bahwa istilah salaf bukan hanya untuk para sahabat dan tabi’in saja,melainkan termasuk para generasi setelah tabi’in (tabi’ at-tabi’in), dan juga para imam mujtahid terdahulu yang (ijtihadnya) bisa diterima.

Dengan konotasi ini, dalam khazanah keilmuan Islam tidak disebutkan sebagai Ulama salaf tetapi mereka disebut dengan istilah ulama khalaf. Khalaf,secara harfiah berarti pengganti,dibelakang, atau dapat juga yang ditinggalkan. Dari sini, Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah ji menyatakan bahwa ulama khalaf berarti ulama pasca tabi’at-tabi’in.

Dengan konotasi seperti ini, maka para ulama seperti Ibn Hazm (wafat 1064 M), al Ghazali (wafat 1111 M), as-Sarahsi (wafat 1112 M),ar-Razi(wafat 1228 M),Ibn Qudamah (wafat 1242 M), an-Nawawi (wafat 1277 M),Ibn taimiyah (wafat 1328), Ibn Hajar al-Asqalani (wafat 1474 M), dan sebagainya, adalah termasuk dalam kategori ulama khalaf.

Mengikuti Ulama Salaf dan khalaf

Jika demikian definisinya,lantas bagaimana? Mengikuti ulama salaf saja,ataukah ulama khalaf saja, atau mengikuti keduanya. Mengikuti pendapat hafidz Abdurrahman dalam tulisannya yang dimuat di Jurnal al-Wa’ie No.51 Thn.2004,persoalannya adalah bukan terletak pada status salaf atau khalaf. Generasi terletak adalah generasi baik yang berhak mendapatkan status kemulian, demikian pula generasi khalaf, baik dan juga berhak mendapatkan status kemulian seperti yang diperoleh generasi sebelumnya (salaf). Kenyataan telah disebutkan dalam hadist nabi Muhammad saw:..”Tahukah kalian, siapakah orang beriman yang paling baik keimanannya
?”…Beliau menjawab,”Suatu kaum yang datang setelahku sebagai orang-orang yang kuat; mereka mengimaniku,sekalipun tidak pernah melihatku;mereka menemukan kertas yang tergantung, lalu melaksanakan isinya.”(HR al-Hakim).
Hadits ini dengan jelas menyatakan status keimanan generasi pasca sahabat,termasuk didalamnya adalah generasi salaf dan juga khalaf, yang dinobatkan sebagai generasi paling baik keimanannya, karena mereka melaksanakan isi kertas yang tergantung, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah,dalam kehidupan mereka. Mereka memang tidak tidak pernah hidup pada zaman Nabi saw., tidak sempat bertemu beliau, dan mereka juga tidak sempat mengadu kepada Nabi saw. ketika menghadapi persoalan,tetapi mereka mengimaninya dan melaksanakan seluruh ajaranya. Artinya,mengikuti ulama salaf maupun ulama khalaf adalah sama baiknya, karena masalahnya bukan terletak pada status salaf dan khalaf mereka,tetapi pada keteguhan mereka dalam menginplementasikan seluruh ajaran yang dibawa oleh Rasul Muhammad saw.

Maksud merujuk kepada ulama Salaf

Masih menurut Hafidz Abdurrahman, Allah menciptakan manusia dengan potensi intelektual yang berbeda satu sama lain. kemampuan mengingat dan memahami manusia berbeda-beda. Karena itu, Allah SWT. memerintahkan agar yang potensi intelektual kurang (belum paham) untuk bertanya kepada orang yang mempunyai potensi intelektual lebih (telah paham),”Bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (QS an-Nahl 16:43)
Karena itu,mengikuti pendapat seorang mujtahid (taklid) dalam keberislaman seseorang telah di maklumi kebolehannya. Hanya tetap harus dibedakan antara taklid dalam beraqidah dan taklid dalam berhukum. Dalam beraqidah,taklid tidak diperbolehkan,sementara taklid berhukum diperbolehkan. Banyak nash yang melarang kita untuk taklid dalam berakidah,sementara dalam berhukum tidak dilarang; sekalipun tentu ini bukan merupakan ‘perintah asal’ bagi setiap mukallaf.

Tetap harus dicatat bahwa kebolehan taklid kepada orang bukan berarti mengikuti orangnya,melainkan mengikuti pendapat dan pandangan yang menjadi ijtihadnya. Sebab,setiap manusi wajib mengikat seluruh perbuatannya dengan hukum Allah, baik dengan cara berijtihad sendiri (menjadi mujtahid) atau bertaklid kepada seorang mujtahid yang lain. Oleh karena itu, seandainya Abu Hanifah, imam Malik, as-Syafi’i,atau imam Ahmad misalnya,bukan seorang mujtahid, maka taklid kepada mereka tentu tidaklah diperbolehkan.

Karena itu, Imam al-Ghazali dalam kitabnya al-Mustasfa Fi ‘Ilmu al-ushul mengklasifikasikan status mengikuti ulama menjadi dua macam yaitu, (1) taklid; jika ulama yang diikutinya adalah seorang mujtahid;dan (2) ta’lim wa ta’allum(belajar- mengajar); jika ulama yang diikutinya adalah bukan seorang mujtahid. meski demikian, masing-masing ulama tersebut,baik mujtahid maupun bukan,tetap harus memenuhi dua kualifikasi yaitu adil dan ‘alim (berilmu).

Dari sini, dapat disimpulkan,bahwa yang di maksud dengan “merujuk kepada ulama salaf” tidak lain adalah mengikuti pendapat dan pandangan mereka, bukan mengikuti individu mereka; atau mengikuti hukum dan pandangan yang menjadi hasil ijtihad mereka,bukan mengikuti pandangan yang lahir dari hawa nafsu mereka. Karena itu,sebagaiman di dalam al-Mustasfafi’ilm al-Ushul,Imam al-Ghazali juga berpendapat bahwa karena keilmuan mereka (ulama yang diikuti) yang digunakan untuk berijtihad, yang ditopang dengan keadilan mereka, menyebabkan mereka dapat menjadi rujukan dan panutan bagi generasi-generasi setelah mereka.

mengikuti pendapat dan pandagan ulama salaf tidak serta-merta karena figur kesalafannya,yang oleh Imam Ali k.w. disebut rijal, tetapi semata karena aspek kebenaran pendapat dan pandangan (al-haqq)-nya,dan baru bisa dinilai;apakah rijal (figur salaf dan khalaf) tersebut benar atau salah. Untuk mengetahui aspek kebenaran pendapat dan pandangan (al-haqq) -nya itu tidak ada jalan lain kecuali dengan menganalisis kuat–lemahnya dalil yang mereka gunakan sebagai sandarannya. Suatu ketika Imam Ali pernah menyatakan,( figur salaf atau khalaf), “Sesungguhya kebenaran itu tidak bisa diketahui melalui figur (orang)-nya .Ketahuilah kebenaran itu, baru kamu akan mengetahui orangnya.” (Pernyataan ini dikeluarkan salah satunya oleh al-Manawi dalam Faydh al-Qadir).

Kenyataan inilah yang menjadi alasan bagi para ulama ushul mengapa mereka menolak menjadikan mazhab sahabat sebagai dalil syari’at,tetapi hanya sebatas, sebagaimana lazimnya mujtahid yang lain. Karena itu,statusnya sama; sama-sama mempunyai benar dan salah. Ini berbeda dengan apa yang di sepakati oleh para sahabat,yang kemudian dikenal dengan Ijma Sahabat, Dimana ijma sahabat merupakan dalil syariat,karena dijamin pasti benarnya. Disini telah jelas berbedanya antara ijtihad sahabat dengan ijma (kesepakatan)sahabat.

Pentingnya mengikuti dalil tidak berarti bahwa mengikuti mereka adalah penting, karena jika tidak maka hal ini dapat ini dapat memutuskan mata rantai keilmuan syariat yang dibutuhkan untuk memahami dalil-dalil syariat tersebut. Sebab, harus diakui bahwa untuk memahami dan menggali dalil agar bisa dihasilkan dengan metode berpikir’aqliyyah(rasional) yang disertai adanya informasi kesyariatan. Informasi kesyariatan itu sendiri mengharuskan adanya peranan ulama salaf,yang telah berjasa mensistematiskan khazanah keilmuan islam yang luar biasa itu. Oleh karena itu akan sia-sia apapun upaya yang dilakukan dalam rangka memahami dan menggali dail syariat jika tanpa bantuan keilmuan mereka. Wallahu a’lam bi ash-shawab[/b]

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s