Memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah kewajiban bagi ummat Islam

Allah berfirman: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah:100)

Dari Abu Hurairah ia berkata: Telah bersabda Rasulullah SAW: “Kaum Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan atau 72 golongan dan Kaum Nashrani telah terpecah menjadi 71 golongan atau 72 golongan dan ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan”. (HR. Tirmidzi, Hakim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dll. Tirmidzi berkata : Hadits ini hasan shahih. Hakim berkata : Hadits ini shahih menurut syarat Muslim dan keduanya (yaitu : Bukhari, Muslim) tidak mengeluarkannya, dan Imam Dzahabi menyetujuinya)
Tirmidzi meriwayatkan dalam kitabul Iman, bab Maaja’ Fiftiraaqi Hadzihi Ummah No. 2779 dari shahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash dan Imam Al-Lalikaiy juga meriwayatkan dalam kitabnya Syarah Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah I:99 No. 147 dari shahabat dan dari jalan yang sama, dengan ada tambahan pertanyaan, yaitu : Siapakah golongan yang selamat itu ?. Beliau SAW menjawab : “Ialah golongan yang mengikuti jejak-Ku dan jejak para shahabat-Ku”. (Tirmidzi mengatakan hadist ini hasan)

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata kepada orang-orang Khawarij: “Aku datang kepada kamu dari sahabat-sahabat Nabi, orang-orang Muhajirin dan Anshar, dan dari anak paman Nabi dan menantu beliau (yakni Ali bin Abi Thalib). Al Qur’an turun kepada mereka, maka mereka lebih mengetahui tafsirnya daripada engkau. Sedangkan di antara kalian tidak ada seorangpun (yang termasuk) dari sahabat Nabi.” (Riwayat Abdurrazaq di dalam Al Mushonnaf, no. 18678, dan lain-lain. Lihat Limadza, hlm. 101-102; Munazharat Aimmatis Salaf, hlm. 95-100. Keduanya karya Syaikh Salim Al Hilali).

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “…Sesungguhnya kalian akan menjumpai beberapa kaum yang mengaku mengajak kalian kepada kitab Allah padahal mereka betul-betul telah melemparkan kitab itu ke belakang punggung mereka. Maka wajib atas kalian untuk berilmu dan jauhilah oleh kalian perbuatan bidah, memberat-beratkan diri (dalam beragama ini, pent) dan jauhilah oleh kalian berdalam-dalam di dalam urusan agama serta wajib atas kalian berpegang dengan yang terdahulu (yaitu salafus shalih). Penyimpangan dari pemahaman sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam terhadap Al Quran dan As-Sunnah berarti penyimpangan dari ash-shirath al-mustaqim. Semakin jauh penyimpangan itu semakin jauh pula pelakunya darinya. Orang yang menyimpang ini dinamakan Ahlul Ahwa (pengekor Hawa Nafsu) atau dengan istilah lain Ahlul Bidah.” (Imam Al-Lalikai meriwayatkan dalam kitabnya Syarh Ushul Itiqad Ahlus Sunnah wal Jamaah, jilid 1 halaman 87 riwayat ke 108)

Imam Syafi’i berkata: ”Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dalam Al-Qur’an, Injil dan Taurat. Kelebihan mereka disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam tidak dimiliki oleh seorangpun selain mereka. Mereka telah menyampaikan kepada kita sunnah Rasulullah. Telah mendampingi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dikala wahyu diturunkan, sehingga mereka mengetahui apa yang diinginkan oleh Rasulullah, baik yang umum maupun yang khusus, baik perintah, larangan, maupun bimbingan. Mereka telah mengetahui sunnah Rasulullah, sehingga mereka lebih unggul baik dalam ilmu, ijtihad, kewara’an, maupun pikiran. Pendapat mereka lebih baik kita ambil dibandingkan dengan pendapat kita”. (Dikutip oleh Al-Baihaqi dalam Al-Risalah Al-Qadimah dari Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani)

Imam Asy-Syathibi (ulama madzhab Maliki) berkata: “Betapa sering engkau dapati ahli bid’ah dan penyesat umat mengemukakan dalil dari Al-Qur’an dan hadits dengan memaksakannya agar sesuai dengan pemikiran mereka dan menipu orang-orang awam dengannya. Lucunya mereka menganggap bahwa diri mereka di atas kebenaran. Oleh karenanya, maka semestinya bagi setiap orang yang berdalil dengan dalil syar’i agar memahaminya seperti pemahaman para pendahulu (sahabat) dan praktek amaliyah mereka, karena itulah jalan yang benar dan lurus”. (Al-Muwafaqot Fi Ushul Syari’ah 3/52)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (ulama madzhab Hanbali/guru Ibnul Qayyim, Ibnu Katsir, Adz-Dzahabi, Ibnu Abdul Hadi) berkata: “Apabila para sahabat, tabi’in dan para imam memiliki penafsiran ayat, kemudian datang suatu kaum yang menafsirkan ayat tersebut dengan penafsiran baru untuk menguatkan pemikiran yang dianutnya, dan pemikiran tersebut bukanlah termasuk madzhab sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka sesungguhnya mereka telah menyerupai kaum Mu’tazilah dan selainnya dari kalangan ahli bid’ah dalam masalah seperti ini. Singkat kata, siapa saja yang menyimpang dari madzhab dan penafsiran para sahabat dan tabiin, maka dia salah bahkan terjatuh kebid’ahan.” (Majmu’ Fatawa 13/361, Muqoddimah Tafsir hal.124-125 Syarh Ibnu ‘Utsaimin)

Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah (ulama madzhab Hanbali/guru Ibnu Rajab) berkata: “Jeleknya pemahaman adalah sumber segala kebid’ahan dan kesesatan yang tumbuh dalam Islam, bahkan sumber segala kesalahan, apalagi bila dibarengi dengan jeleknya maksud tujuan. Tidaklah kesesatan kaum Qodariyah, Murji’ah, Khawarij, Mu’tazilah, Jahmiyyah dan seluruh ahli bid’ah kecuali karena jeleknya pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Sunnah, sehingga agama yang banyak dianut mayoritas manusia adalah hasil pemahaman ini. Adapun pemahaman sahabat dan orang yang mengikuti mereka ditinggalkan dan tidak dianggap sedikitpun.” (Kitab Ar-Ruuh hal.113-114)

Abu Hasan Al-Asy’ari berkata: “Ketahuilah, bahwa segolongan besar orang-orang yang tersesat dari kebenaran – dari para pengikut Mu’tazilah dan serta kaum Qadariyah – telah begitu saja mengikuti hawa nafsu mereka dengan mengikuti tradisi para pemimpinnya dan nenek moyangnya sampai-sampai mereka berani menakwilkan Al-Qur’an berdasarkan kehendaknya sendiri, tanpa alasan-alasan yang berlandaskan Kitabullah ataupun Sunnah Rasul-Nya, bahkan tidak juga bersumberkan pandangan ulama salaf yang dahulu. Dengan begitu mereka mengingkari riwayat-riwayat yang disampaikan para sahabat Nabi saw tentang hal-hal yang berkaitan dengan ‘masalah melihat Allah dengan mata kepala’. Tentang masalah ini sebenarnya telah beredar riwayat-riwayat yang bermacam-macam, baik atsar para sahabat ataupun khabar para ulama. Tetapi mereka menyangkal adanya syafaat Rasulullah saw bagi orang-orang muslim yang berdosa, dan mereka mengingkari riwayat-riwayat yang berkaitan dengan masalah ini, yang disampaikan oleh ulama salaf yang dahulu.” (Al-Ibanah An-Ushul Ad-Diyanah oleh Abu Hasan Al-Asyari)

Ibnu Abil Izzi Al-Hanafi (ulama madzhab Hanafi/murid Ibnu Katsir) berkata: “Kekeliruan dalam memahami apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, merupakan sumber segala bentuk bid’ah dan kesesatan yang muncul dalam agama Islam.” (Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyah 2/580)

Ibnu Abil Izzi Al Hanafi berkata: “Walaupun dia mengaku atau menganggap mengambil dari Kitabullah tetapi tidak menerima penafsiran Kitabullah dari hadits-hadits Rasul, tidak melihat hadits-hadits, tidak pula melihat perkataan para shahabat dan pengikut mereka yang mengikuti dengan baik (tabi’in) yang disampaikan kepada kita oleh orang yang terpercaya yang dipilih oleh para pakar. Karena para shahabat tidak hanya meriwayatkan matan Al-Qur’an saja tetapi juga menyampaikan maknanya. Mereka tidak belajar Al-Qur’an seperti anak kecil, tetapi mempelajarinya dengan makna-maknanya.” (Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah oleh Ibnu Abil Izzi Al Hanafi halaman 212 cetakan ke-4, dinukil dari Manzilatus Sunnah fil Islam)

Muhammad As-Safariny Al-Hambaly berkata : “Termasuk hal yang mustahil orang-orang belakangan (khalaf) lebih berilmu dari para salaf sebagaimana yang dinyatakan oleh sebagian orang yang tidak memiliki penelitian dari orang yang tidak menghargai salaf dan tidak pula mengenal Allah dan Rasulullah dan tidak juga kaum mukminin dengan sebenarnya yang wajib mereka ketahui darinya bahwa jalan prinsip/manhaj salaf lebih selamat dan jalan khalaf lebih berilmu (ilmiyah) dan lebih bijaksana. Mereka hanyalah mendasarkan pernyataan itu di atas prasangka bahwa manhaj salaf (thariqatus salaf) hanya sekedar iman kepada lafadz-lafadz al-qur’an dan hadits tanpa pemahaman, dan itu sama dengan kedudukan orang-orang buta huruf (umiyin) sedangkan manhaj khalaf (thariqatul khalaf) adalah menampakkan makna-makna nash yang dipalingkan dari hakikatnya dengan beraneka ragam majaz dan bahasa-bahasa yang sulit dipahami, prasangka rusak inilah yang mengakibatkan munculnya slogan tersebut yang kandungannya meninggalkan Islam.” (Lawami’ Al-Anwar Al-Bahiyyah Wa Sawathi’ Al-Asrar Al-Atsariyyah 1/25)

Imam Suyuthi (Ulama Syafi’iyyah) menukil perkataan Ibnu Taimiyyah: “Barangsiapa yg berpaling dari madzhab sahabat dan tabi’in dan tafsir mereka kepada yg menyelisihinya, maka dia telah salah bahkan sebagai ahli bid’ah.” (Al-Itqan fi ‘Ulumil Qur’an juz II halm. 178 bagian Ilmu Qur’an yg ke-78)

Imam Ahmad bin Hambal (imam madzhab) berkata: “Pokok-pokok sunnah menurut kami adalah: berpegang kepada apa yang para sahabat Rasulullah berada di atasnya, meneladani mereka, meninggalkan seluruh bid’ah. Dan seluruh bid’ah merupakan kesesatan …” [Riwayat Al Lalikai; Al Muntaqa Min Syarh Ushulil I’tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, hlm. 57-58].

Muhammad As-Safariny Al-Hambaly berkata dalam Lawami’ Al-Anwar Al-Bahiyyah Wa Sawathi’ Al-Asrar Al-Atsariyyah jilid 1 hal. 20 : “Yang diinginkan dengan madzhab salaf yaitu apa-apa yang para shahabat yang mulia -mudah-mudahan Allah meridhoi mereka- berada di atasnya dan para Tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik dan yang mengikuti mereka dan para Imam agama yang dipersaksikan keimaman mereka dan dikenal perannya yang sangat besar dalam agama dan manusia menerima perkataan-perkataan mereka…”.

Hasan Al Bashri (tabi’in) berkata: “Seandainya seseorang mendapatkan generasi salaf yang pertama kemudian dia yang dibangkitkan (dari kuburnya) pada hari ini, sementara orang tersebut tidak mengenal tentang Islam beliaupun meletakkan tangannya di atas pipinya seraya berkata “kecuali sholat saja.” Kemudian dia berkata: “Demi Allah, tidaklah yang demikian itu merupakan suatu bentuk keterasingan bagi setiap orang yang hidup dan dia tidak mengetahui tentang generasi Salafush Shalih. Setelah itu, ia melihat orang ahlul bid’ah mengajak kepada bid’ahnya dan melihat orang ahlul dunia menyeru kepada dunianya. Maka orang (yang dalam keterasingan itu) dipelihara oleh Allah dari fitnah tersebut. Allah menjadikan hatinya rindu kepada Salafush Shalih itu, ia bertanya tentang jalan mereka, menapaki jejak mereka, dan mengikuti jalan mereka, maka dari itu pasti Allah akan memberikan kepadanya pahala yang besar. Oleh karena itu, jadilah kalian seperti itu, insya Allah.” (Al Bida’ wan Nahyu ‘anha oleh Ibnu Wadhdhah no. 178)

Imam As-Suyuthi rahimahullah (849-911) dalam Al-Amru Bil Ittiba’ Wan Nahyu ‘An Al-Ibtida’ hal 8: “Maka bagaimana kalau mereka melihat terhadap apa yang diada-adakan oleh orang-orang pada masa ini, yang padanya ada tambahan-tambahan yang jelek. Maka berhati-hatilah saudaraku, dan teladanilah salaf sholih.”

Imam Abu Hanifah (imam madzhab/Tabi’in) berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti atsar dan jalan yang ditempuh oleh salaf, dan hati-hatilah dari segala yang diada-adakan dalam agama, karena ia adalah bid’ah.” (Shaunul Manthiq karya As Suyuthi hal. 322 dinukil dari Kitab Al Marqat fii Nahjis Salaf Sabilun Najah hal. 54)

Al-Auza’i berkata : “Bersabarlah dirimu di atas sunnah, berhentilah sebagaimana mereka berhenti, dan katakanlah seperti apa yang mereka katakan serta cegahlah dari apa yang mereka cegah. Telusurilah jejak salafush sholeh”. (Syarhu ushul I’tiqod ahlis sunnah wal jama’ah 1/154 oleh Al-Lalika’i)

Al-Auza’i berkata: “Wajib bagimu untuk mengikuti jejak salaf walaupun banyak orang menolakmu, dan hati-hatilah dari pemahaman/pendapat tokoh-tokoh itu walaupun mereka mengemasnya untukmu dengan kata-kata (yang indah).” (Asy-Syari’ah karya Imam Al Ajurri, hal. 63)

Al-Lalika`i dalam Syarah Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah Wal Jama’ah jilid 2 hal.334 ketika beliau membantah orang yang mengatakan bahwa Al-Quro dialah yang berada di langit beliau berkata : “Maka dia telah menyelisihi Allah dan Rasul-Nya dan menolak mukjizat Nabi-Nya dan menyelisihi para salaf dari kalangan Shahabat dan Tabi’in dan orang-orang setelahnya dari para ‘ulama ummat ini.”

Asy-Syihristany berkata dalam Al-Milal Wa An-Nihal jilid 1 hal.200 : “Kemudian mengetahui letak-letak ijma’ Shahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in dari Salafus Sholeh sehingga ijtihadnya tidak menyelisihi ijma’.”

Ibnu Abil ‘Izzi al Hanafi dalam Syarah Al ‘Aqidah Ath-Thohawiyah hal.196 tentang perkataan Ath-Thohawy bahwasanya Al-Qur`an diturunkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala : Yakni merupakan perkataan para shahabat dan yang mengikuti mereka dengan baik dan mereka itu adalah Salafus Sholeh.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Telah diketahui bahwa karakter ahlul ahwa’ (pengekor hawa nafsu) ialah meninggalkan atau tidak mengikuti generasi Salaf.” (Majmuu’ Fataawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, IV/155)

Salah satu syi’ar Ahlus Sunnah wal Jama’ah ialah: mengikuti Salafush Shalih dan meninggalkan segala perkara yang bid’ah dan diada-adakan dalam agama. (al-Hujjah fii Bayaanil Mahajjah, I/364, karya Imam Abul Qasim al-Ashbahani rahimahullah).

Ibnu Hajar Al-Qathari berkata: “Atas dasar ini, yang dimaksud dengan madzhab as-Salaf ialah ajaran yang dipegang teguh oleh para Sahabat yang mulia (keridhaan Allah atas mereka), para Tabi’in, para Tabi’it Tabi’in, dan para imam yang terdiri dari mereka yang telah diakui keimanannya dan telah dikenal kedudukannya dalam agama ini. Para imam yang ucapan dan pandangannya telah dikutip dan diambil oleh para ulama khalaf, seperti imam yang empat (Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu-pen), Imam Sufyan Ats-Tsauri, Al-Laits bin Tsa’ad, Abdullah bin Mubarak, An-Nakha’i, Bukhari, Muslim, dan seluruh ulama hadits yang tidak dituduh atau dinyatakan pembawa bid’ah atau dikenal dengan gelar yang tidak diridhai seperti Khawarij, Rafidhah, Murji’ah, Jabariyah, Jahmiyah, dan Mu’tazilah.” (Al-Aqiidatus Salafiyyah bi Adillatihal ‘Aqliyyah wan Naqliyyah oleh Ibnu Hajar Al-Qathari)

As-Sam’ani (wafat 562 H) berkata: “Syi’ar Ahlus Sunnah adalah mengikuti manhaj as-salafush shalih dan meninggalkan segala yang diada-adakan (dalam agama).” (Al-Intishar li Ahlil Hadits, Muhammad bin ‘Umar Bazmul hal. 88).

Imam Asy-Syathibi berkata: “Segala apa yang menyelisihi manhaj salaf maka ia adalah kesesatan.” (Al-Muwafaqat 3/284).

Al-Ghazali rahimahullah memberikan pengertian terhadap kata As-Salaf dalam Iljamul ‘Awwam ‘An ‘ilmil Kalam hal. 62: “Yang saya maksudkan dengan salaf adalah madzhabnya para shahabat dan tabi’in.”

Al-Baihaqi rahimahullah dalam Syu’abul Iman (2/251) tatkala menyebutkan pembagian ilmu, beliau menyebutkan diantaranya: “Dan mengenal perkataan-perkataan para salaf dari kalangan shahabat, tabi’in dan orang-orang setelah mereka”.

Imam Nawawi (631-676 H) berkata di dalam Al-Adzkar : “Ketahuilah, bahwa kebenaran yang terpilih adalah apa yang para salaf Radhiyallahu ‘anhum berada di atasnya.”

Imam Nawawi rahimahullah dalam Muqaddimah Al-Majmu 1/27 ketika menceritakan tentang Kitab beliau Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab mengatakan: “Ketahuilah bahwa mengenal madzhab-madzhab salaf dengan dalil-dalilnya termasuk perkara yang dibutuhkan … dan dengan menyebutkan madzhab-madzhab mereka dengan dalil-dalilnya, orang yang mapan akan mengetahui madzhab-madzhab itu sesuai dengan kedudukannya yang sesuai, mengetahui pendapat yang rojih (kuat) dari yang lemah, perkara-perkara yang rumit akan menjadi jelas bagi dia dan orang lain, akan nampak faedah-faedah berharga, dan orang yang memperhatikannya akan terlatih dengan soal jawab, akalnya akan terbuka, dan dia akan mempunyai keistimewaan di sisi orang-orang yang berakal. Dia juga akan mengetahui hadits-hadits yang shohih dari hadits yang dho’if, mengetahui dalil yang kuat dari yang lemah. …”

Urutan metode tafsir Al-Qur’an yang digunakan oleh Ibnu Katsir, yaitu:
1. Ayat Al-Qur’an ditafsirkan menggunakan ayat Al-Qur’an yang lain
2. Ayat Al-Qur’an ditafsirkan menggunakan hadits Nabi
3. Ayat Al-Qur’an ditafsirkan menggunakan perkataan para sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka
4. Ayat Al-Qur’an ditafsirkan menggunakan kaidah bahasa.
Ibnu Katsir meletakkan metode bahasa dalam menafsirkan Al-Qur’an pada urutan yang terakhir.

Syaikh Albani berkata : “Atas dasar itu jelaslah bahwasannya seseorang jika semakin alim dalam Sunnah, dia lebih pantas untuk memahami Al-Qur’an dan mengambil istinbath hukum darinya dibandingkan orang yang bodoh tentang sunnah. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak menganggap Sunnah dan tidak pula meliriknya sama sekali ? Oleh karena itu sudah merupakan suatu kaidah yang disepakati oleh ahli ilmu bahwasannya Al-Qur’an ditafsirkan dengan As-Sunnah, kemudian dengan perkataan shahabat dan seterusnya. Dari sini jelas bagi kita sebab-sebab kesesatan tokoh-tokoh Ahli Kalam dulu dan sekarang serta perbedaan mereka dengan as-salafush-shalih…” (Manzilatus Sunnah fil Islam oleh Syaikh Albani)

Umar bin Khaththab radliyallaahu ‘anhu berkata : “Akan datang sekelompok manusia yang akan membantah kamu dengan ayat Al-Qur’an yang mutasyabih. Maka bantahlah mereka dengan As-Sunnah. Karena orang-orang yang berpegang teguh pada As-Sunnah lebih mengerti tentang Kitabullah.” (Diriwayatkan oleh Al-Ajurri dalam Asy-Syari’ah 1/175 no. 99, Muassasah Qurthubah; diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibanah 1/250-251 no. 83-84, Daarur-Rayah; diriwayatkan oleh Ad-Darimi I/49; diriwayatkan oleh Al-Lalika-i dalam Syarh Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah I/39 no. 202, dengan sanad shahih).

Sungguh ironis sekali jika sekarang ini banyak ditemukan orang-orang yang menafsirkan Al-Qur’an hanya menggunakan kemampuan bahasanya saja. Ia hanya berbekal dengan terjemahan Al-Qur’an tanpa mau menilik hadits Nabi dan perkataan para salafus shaleh. Ia hanya menerima hadits Nabi yang menurut mereka cocok dengan hawa nafsu/akal mereka, adapun yang menurut mereka tidak cocok maka ia buang ke balik punggung mereka. Para sahabat saja bisa salah dalam menafsirkan kata “bangkrut” dalam hadits Muflis, salah menafsirkan benang putih dan benang hitam sebagai tanda batas akhir sahur, salah menafsirkan kata “dzalim” dalam QS. Al-An’am ayat 82, dll. Kemudian Nabi memberi tahu tafsir yang benar mengenai ayat/hadits tersebut. Dalam menafsirkan arti dzalim dalam QS. Al-An’am ayat 82, Nabi menggunakan ayat Al-Qur’an dari Surat Luqman bahwa yang dimaksud dzalim dalam ayat itu adalah syirik. Para sahabat saja bisa salah dalam memahami tatkala mereka hanya menafsirkan menggunakan metode bahasa saja, padahal ayat Al-Qur’an dan hadits turun menggunakan bahasa mereka.

Syaikh Albani berkata: “Tidak mungkin seorang memahami Al-Qur’an walaupun dia mahir dalam bahasa Arab dan sastra-sastranya jika tidak dibantu dengan Sunnah Nabi, baik qauliyyah maupun fi’liyyah. Karena dia tidak mungkin lebih alim atau lebih mahir dalam bahasa Arab daripada para shahabat Nabi yang Al-Qur’an turun dengan bahasa mereka dan pada waktu tersebut belum tercampur bahasa ‘ajam, awam, dan lahn (kesalahan bahasa). Namun walaupun demikian, mereka para shahabat telah salah dalam memahami ayat-ayat yang telah lewat, ketika mereka hanya bersandar dengan bahasa mereka saja.” (Manzilatus Sunnah fil Islam)

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s