4 sikap yang harus dilakukan terhadap kesalahan

Ada 4 sikap yang harus dilakukan terhadap kesalahan, yaitu :

(I). Mengakui kesalahan dan tidak merasa suci, lihat QS 4:17.

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Allah berkalam:

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا (17) وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآَنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (18)

Artinya:
16- Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

17-Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang.” Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.

Keterangan:
Kedua ayat diatas merupakan penjelasan Allah tentang kapan taubat itu diterima. Dijelaskan bahwa Sebuah taubat dari dosa akan diterima apabila ketika ia mengerjakan dosa itu dalam kondisi “jahalah”, yaitu tidak sadar atas pedihnya siksaan Allah. Dan ia segera bertaubat kepada Allah sebelum dalam kondisi sakaratul maut. Karena pada saat itu pintu taubat telah ditutup baginya. Sebaliknya, taubat seorang hamba tidak akan Allah terima apabila ia telah melakukan berbagai kejahatan dan bertaubat dalam kondisi sakaratul maut. Begitu pula taubatnya orang yang mati dalam kondisi kafir.

Penjelasan dan hikmah ayat 17-18:
1. Taubat, menurut ahli bahasa mempunyai arti kembali, ibnu mandzur dalam Lisanul Arab, menerangkan bahwa kata taubat mempunyai arti kembali, kembali kepada Allah dengan pulang dengan mendapatkan ampunan dariNya. Kata التواب kalau disandarkan kapada Allah, artinya bahwa Allah banyak menerima taubat hamba-hambanya dari waktu-kewaktu tanpa batas sampai ruh sampai ke kerongongan ketika datang sakaratul amaut, atau ketika terbit matahari dari barat. Dalam al-quran kata التواب yang disandarkan kapada Allah ada sebanyak 8 kali. Adapaun apabila kata التواب di sandarkan kepada kepada manusia, maksudnya adalah bahwa hamba trsebut banyak taubatnya, banyak kembalinya kepada Allah dengan meminta ampunan.

2. Adapun taubat secara syar`i, sebagaimana dikatakan oleh para ulama bahwa taubat adalah kembalinya seorang hamba kepada Allah dengan meminta ampun atas segala dosa-dosa yang telah ia lakukan dengan janji yang sungguh sungguh untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut di waktu yang akan datang, dan menggantinya perbuatan dosa tersebut dengan menjalankan amal-amal soleh.

3. Ulama sepakat bahwa hukum taubat adalah wajib dan segera bagi orang yang melakukan dosa besar. Namun para ulama berbeda pendapat tentang kewajiban bertaubat untuk dosa kecil. Ibnu Rajab, salah seorang ulama madzhab Hambali mengumentari perbedaan pendapat ulama tersebut dengan mengatakan bahwa :” ada yang berpendapat, dosa-dosa itu tidak pasti dihapuskan. Karena hadits-hadits yang mengatakan dosa-dosa kecil terhapuskan dengan amal-amal yang baik itu terikat dengan syarat memperbaiki amal. Seperti terdapat dalam keterangan tentang wudlu dan shalat, yang keduanya menghapuskan dosa kecil. Sementara dengan bediam diri tanpa bertaubat dan melakukan kebaikan, maka tidak terdapat amal yang baik yang mewajibkan dihapuskannya dosa. (Jami’ al Ulum wa al Hikam: 1/446, 447).

Alakullihal, kita tidak boleh menyepelekan dosa walupun sekecil apapun, karena dari yang kecil itu, sesuatu yang besar bisa terjadi. Karena perbuatan dosa kecil yang dilakukan secara terus menerus dan dengan kesengajaan, juga termasuk bagian dari dosa besar.

4. إِنَّمَا التَّوْبَةُ kata innama adalah adatul hashri: yatu meringkas bahwa sesungguhnya taubat itu hanya kepada Allah saja dan hanya Allah yang bisa menerima taubat. Maka disinilah bedanya agama kita dengan agama lain. Dalam islam tak ada perantara. Tak usah bayar atau lewat seseorang. Karena taubat adalah hak yang diberikan oleh Allah kepada hamba. Maka Allah menegaskan: innamat taubatu alallah.

5. Allah telah memberikan pernyataan bahwa bagi Allah akan memberikan taubat. Bagi siapa? Lilladzina… bagi orang-orang yang mengerjakan keburukan (dosa besar atau kecil). Walaupun dikhususkan pada dosa besar. Karena dosa kecil itu bisa diampuni dengan amalan-amalan kebaikan yang lain, selama ia tidak melakukan dosa besar sebagaimana Allah berkalam, “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)” (an-Nisa` 31). Maka disini dikatakan: perbuatan dosa apapun besar atau kecil yang dilakukan dalam kondisi “jahalah”. Kata “jahalah” secara bahasa artinya bodoh. Namun dalam ayat ini “jahalah” bukan berarti botoh karena tidak tahu ilmunya. Sebab menjadi kewajiban setiap muslim adalah belajar ilmu syariah.

Oleh karenanya maksud “jahalah” di sini adalah bahwa dia mengerjakan dosa itu dalam keadaan tidak tahu, tidak sadar efek negatifnya di hadapan Allah. Hal ini bisa terjadi dikala nafsu telah menguasai seseorang, sehingga ia tidak sadar. Sebab apabila seseorang itu sadar akan akibat buruk sebuah kemaksiatan disisi Allah, maka sudah pasti orang tersebut tidak akan mengerjakan kemaksiatan. Oleh karena itu, ulama tafsir seperti Mujahid dan Qotadah mengatakan bahwa tidak ada dosa baik besar maupun kecil, sengaja maupun tidak, itu dikakukan kecuali karena kebodohan manusia terhadap apa yang ada disisi Allah.

6. عَلَى اللَّهِ : dhahir kata, seakan akan wajib bagi Allah untuk menerima taubat. Maka di sini dijelaskan bahwa tidak ada sesuatu yang wajib bagi Allah. redaksi semacam ini menunjukkan rahmat Allah yang begitu besar kepada hamba-Nya dengan bersedia memberikan ampunan terhadap dosa-dosa yang dilakukan seorang hamba.

7. ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ Kata Tsumma lit tarakhkhi. Artinya mereka bertaubat itu segera kalaupun ada jeda, tapi tidak lama. Ketika dia melakukan dosa dan sadar, dia ingat kepada Allah lalu sadar. Menurut Ibnu Abbas dan para ulama, makana ; min qarib; adalah waktu dari dia melakukan maksiat sampai sebelum mati. Tetapai hal ini bukan berarti anjuran untuk menunda-nunda taubat. Karena pada dasarnya taubat itu wajib dilakukan seorang hamba ketika ia sadar telah berbuat kemaksiatan. Disamping itu tidak ada satupun dari kita yang mengetahui kapan ajal kematian itu akan menjemput kita. Oleh karenanya dalam surah Ali Imran ayat :133, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. Kenapa kita diperintahkan bersegra bertaubat? Hal itu karena kita tidak tahu lebih dulauan mana yang akan kita dapatakan, apakah ampunan dari Allah atau ajal kemtaian.
8. Allah akan selalu membuka pintu taubat kepada semua hambanya yang ingan pulang kepadaNya. Dengan segala rahmat- Nya, Allah memberikan jalan kembali kepada ketaatan, ampunan dan rahmat-Nya. Dengan sifat-sifat-Nya yang Maha Penyayang dan Maha pengasih Maha Penerima Taubat, Allah akan selalu menerima taubat dari semua hambanya yang berdosa, seperti diterangkan dalam surat Al Baqarah: 160 “Dan Akulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT membuka “tangan”-Nya pada malam hari untuk memberikan ampunan kepada orang yang melakukan dosa pada siang hari, dan membuka “tangan”-Nya pada siang hari, untuk memberikan ampunan kepada orang yang melakukan dosa pada malam hari, (terus berlangsung demikian) hingga (datang masanya) matahari terbit dari Barat (kiamat)”. ( HR: an-Nasai).

9. Penyakit yang paling berbahanya adalah taswif (menunda-nunda). Orang yang selalu menunda-nunda untuk segera bertaubat, adalah seperti orang yang ingin mencabut sebuah pohon, dan ia melihat pohon itu kuat, sehingga jika ia mau mencabutnya akan membutuhkan tenaga yang kuat. Kemudian ia berkata dalam dirinya: “aku tunggu hingga satu tahun, baru aku datang kembali untuk mencabutnya”. Ini adalah logika orang bodoh. Karena ia tahu, pohon dari hari kehari akan makin kokoh dan besar, sementara dirinya semakin tua akan semakin lemah!

10. Apa hikmah dari bertaubat? Diantara hikmah bertaubat adalah (The Power of Taubah):
a- Mendapatkan Cinta dari Allah ; (QS. Al Baqarah: 222).
b- Mendapatkan do`a dari para malaikat (QS.Ghaafir: 7-9).
c- Masuk dalam golongan `Ibadurrahman ;(QS. Al-Furqon:71-76)
d- Mendapatkan Ampunan Allah; (QS. Asy-Syuuraa: 25)
e- Sebagai penolak bala dan azab dari Allah SWT.(QS. Al-Anfaal:33)
f- Memperlancar rizki (QS. Nuh:10-12, Hud: 52).
g- Taubat menjadi Obat mandul (QS. Nuh:10-12). Abu Hanifah dalam Musnadnya meriwayatkan hadits dari jabir bin Abdillah, bahwa seorang Anshor datang menghadap Nabi saw, seraya berkata, ” Ya Rasulullah saya belum dikaruniai anak satupun dan aku tidak punya anak. Rasulullah kemudian bersabda, ” bila engkau mau memperbanyak istighfar dan memperbanyak sedekah, maka engkau akan dikaruniai anak “. shabat ini kemudian memperbanyak istighfar dan bersedeka. Jabir kemudian melanjutkan ceritanya, ” kemudian ia pun dikaruniai sembilan anak laki-laki (Syarah Musnad Abi Hanifah, Mula Ali al-Qori, Maktabah Syamilah, hal 587).

(II). Segera taubat dan minta maaf pada manusia, lihat QS 4:110.
وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ayat 110-112: Ajakan untuk bertobat dan beristighfar

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا (١١٠) وَمَنْ يَكْسِبْ إِثْمًا فَإِنَّمَا يَكْسِبُهُ عَلَى نَفْسِهِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا (١١١) وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا (١١٢

Terjemah Surat An Nisa Ayat 110-113

110. Dan barang siapa yang berbuat kejahatan[14] atau menganiaya dirinya[15], kemudian dia memohon ampunan kepada Allah[16], niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

111. Barang siapa yang mengerjakan dosa[17], maka sesungguhnya dia mengerjakannya untuk (kesusahan) dirinya sendiri[18]. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana[19].

112. Dan barang siapa berbuat kesalahan[20] atau dosa[21], kemudian dia tuduhkan kepada orang yang tidak bersalah, maka sungguh, dia telah memikul suatu kebohongan dan dosa yang nyata[22].

[1] Ayat ini turun ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus beberapa orang untuk mengejar Abu Sufyan dan kawan-kawannya saat mereka pulang dari perang Uhud, lalu mereka mengeluhkan luka-luka mereka.

[2] Namun meskipun mereka mendapat luka, mereka tidak takut dan mundur memerangi kamu. Di samping itu, bersikap lemah jika seperti ini keadaannya, yakni sama-sama mendapatkan luka tidaklah wajar. Yang wajar adalah jika luka dan kekalahan senantiasa menimpa kamu. Sedangkan keadaanya tidak demikian, kadang kamu menang dan kadang mereka menang. Lebih dari itu, kamu memiliki kelebihan yang menghendaki untuk tidak bersikap lemah, yaitu kamu mengharap dari Allah apa yang mereka tidak harapkan.

[3] Yaitu kemenangan dan pahala. Bahkan di antara orang-orang mukmin ada yang memiliki harapan yang tinggi, ingin membela agama Allah, menegakkan syari’at-Nya, memperluas wilayah Islam, menunjuki orang-orang yang tersesat dan menghancurkan musuh-musuh agama -Kita berharap kepada Allah, semoga Dia menggolongkan kita ke dalam golongan mukmin seperti itu, Allahumma amin-, semua ini menghendaki untuk bertambahnya kekuatan seorang mukmin, membuatnya semangat dan menjadikannya berani. Hal itu, karena orang yang berperang hanya bertujuan untuk meraih kesenangan dunia saja tidak seperti orang yang berperang untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat serta memperoleh keridhaan Allah dan surga-Nya.

[4] Yakni ketika diturunkan, Al Qur’an terpelihara dari para setan yang hendak menyelipkan kebatilan, bahkan mereka tidak dapat mendekatinya. Al Qur’an turun dengan kebenaran, mengandung kebenaran, beritanya benar, perintah dan larangannya pun adil.

[5] Tidak dengan hawa nafsumu. Oleh karena itu, Al Qur’an merupakan penyelesai masalah di tengah-tengah manusia, baik dalam masalah ‘aqidah, hukum, masalah darah, kehormatan, harta dan hak-hak lainnya.

[6] Ayat ini menunjukkan bahwa seorang hakim harus berilmu dan adil. Dalil berilmu berdasarkan firman Allah, “dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu” dan dalil adil berdasarkan firman Allah, “dan janganlah kamu menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang yang khianat”, yakni janganlah kamu membela orang yang kamu ketahui khianatnya, orang yang mendakwakan sesuatu padahal bukan miliknya, orang yang mengingkari hak yang ditanggungnya, baik kamu mengetahuinya maupun berdasarkan perkiraanmu. Dalam ayat ini terdapat dalil haramnya membela kebatilan dan menjadi pengacara untuk orang yang batil. Dalam ayat tersebut juga terdapat dalil bolehnya menjadi pengacara bagi orang yang tidak diketahui berbuat zalim.

[7] Terhadap kesalahan yang telah kamu lakukan, jika ada.

[8] Bagi orang yang meminta ampun kepada-Nya, bertobat dan kembali kepada-Nya, dan Dia akan memberinya taufiq untuk beramal shalih setelahnya.

[9] Dengan maksiat. Dalam ayat ini terdapat larangan berdebat untuk membela orang yang bersalah, atau orang yang terkena hukuman baik hukuman had maupun ta’zir.

[10] Hal ini muncul karena kelemahan iman dan kurangnya keyakinan, sehingga rasa takut kepada manusia lebih besar daripada rasa takut kepada Allah, oleh karenanya mereka berusaha mencari cara, baik yang mubah atau yang haram agar tidak terbuka aibnya di tengah-tengah manusia, mereka tidak peduli bahwa Allah melihat dan menyaksikan mereka. Padahal Dia bersama mereka dengan ilmu-Nya, di mana Dia mengetahui seluk-beluk mereka, khususnya ketika mereka merencanakan makar jahat, yaitu rencana membersihkan orang yang bersalah dan melemparkan kesalahan kepada orang yang tidak bersalah serta berusaha agar Beliau melakukan apa yang mereka rencanakan.

[11] Ilmu-Nya meliputi apa yang mereka kerjakan, namun demikian Dia tidak segera menghukum mereka, bahkan menundanya dan menawarkan tobat kepada mereka serta memperingatkan mereka untuk berhenti dari dosa, karena hal itu menyebabkan mereka mendapat hukuman yang berat.

[12] Siapakah yang berani menentang Allah ketika hujjah telah mengenai mereka? Siapakah yang berani menentang Allah; Tuhan yang mengetahui segala yang rahasia dan yang tersembunyi? Siapakah yang berani menentang Allah; Tuhan yang mengadakan saksi kuat yang tidak mungkin diingkari; lisan, tangan dan kaki dijadikan saksi?

[13] Dalam ayat ini terdapat bimbingan agar seseorang membandingkan antara kepentingan dunia yang didapatkan dari meninggalkan perintah dan mengerjakan larangan dengan hilangnya pahala di akhirat yang dan hukuman yang akan diperoleh. Oleh karena itu, ketika dirinya diperintahkan oleh hawa nafsunya meninggalkan perintah Allah, ia berkata kepada dirinya, “Mengapa anda meninggalkan perintah-Nya, padahal apa manfaat yang kamu dapatkan dari meninggalkan perintah?” Betapa banyak pahala di akhirat yang luput bagi anda?” Bahkan karena meninggalkan perintah itu, anda mendapatkan kesengsaraan, kerugian dan kekecewaan?” Demikian juga apabila dirinya diajak kepada kesenangan-kesenangan yang haram, dia berkata kepada dirinya, “Ya, anda memang mengerjakan perbuatan yang anda sukai, namun kesenangannya hanya sementara, dan setelahnya kesedihan, penderitaan dan penyesalan, tidak mendapatkan pahala dan malah mendapatkan siksa”. Cukuplah sebagian dari akibat itu membuat orang yang berakal berhenti dari mengerjakannya. Memikirkan hal ini termasuk sesuatu yang paling bermanfaat bagi seorang hamba, dan seperti inilah orang yang berakal secara hakiki, berbeda dengan orang yang mengaku berakal, namun tidak seperti itu, sehingga ia mendahulukan kesenangan sementara daripada kesenangan yang kekal.

[14] Kepada orang lain, baik terkait dengan darah, harta atau kehormatan mereka.

[15] Dengan berbuat maksiat antara dirinya dengan Allah.

[16] Yakni beristighfar secara sempurna dengan mengakui dosa dan menyesalinya, berhenti dari melakukannya dan berniat keras untuk tidak mengulanginya, maka Allah berjanji –sebagaimana dalam ayat di atas- akan mengampuni dan merahmati. Dia akan mengampuni dosa yang dilakukannya, menghilangkan cacat dan kekurangan yang diakibatkan dari maksiat itu, mengembalikan amal shalihnya dan memberinya taufiq di masa mendatang, dan dosanya tidak dijadikan-Nya sebagai penghalang taufiq-Nya.

[17] Mencakup dosa kecil maupun dosa besar.

[18] Hukumannya baik hukuman dunia maupun akhirat ditanggung oleh dirinya, tidak ditanggung oleh yang lain sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,” (Terj. An Najm: 38). Akan tetapi, jika kemaksiatan nampak dan tidak diingkari, maka hukuman dan dosanya bisa menimpa secara merata, dan yang demikian masih termasuk ke dalam surat An Najm ayat 38 tersebut, karena orang yang tidak mengingkari hal yang wajib diingkari padahal dirinya mampu, maka sama saja ia telah mengerjakan kesalahan. Dalam ayat di atas terdapat bukti keadilan Allah dan kebijaksanaan-Nya, di mana Dia tidak menghukum orang lain karena kesalahan yang dilakukan oleh seseorang dan tidak menghukum lebih dari dosa yang dilakukan.

[19] Yakni Maha sempurna ilmu dan kebijaksanaan-Nya. Di antara ilmu-Nya dan kebijaksanaan-Nya adalah Dia mengetahui dosa dan apa saja yang timbul daripadanya, sebab yang mendorong untuk melakukannya, hukuman dari perbuatan yang dilakukan. Dia juga mengetahui keadaan orang yang berdosa, jika seseorang melakukannya karena hawa nafsu dalam hatinya yang memerintahkan kepada keburukan, namun ia senantiasa kembali kepada Tuhannya di setiap waktunya, maka Dia akan mengampuni dan memberinya taufiq untuk bertobat. Sebaliknya, jika kemaksiatan dilakukan karena meremehkan perhatian Allah kepadanya dan meremehkan siksa-Nya, maka orang seperti ini nampaknya jauh dari ampunan dan taufiq-Nya untuk bertobat.

[20] Dosa kecil.

[21] Dosa besar.

[22] Ayat ini menunjukkan bahwa yang demikian termasuk dosa besar dan hal yang membinasakan seseorang, karena dia sama saja telah melakukan banyak kerusakan, di antaranya yaitu: telah mengerjakan dosa atau kesalahan, menuduhkan kesalahan kepada orang yang tidak berdosa, berbuat dusta dengan menyatakan dirinya bersih dan menuduh orang yang tidak berdosa, mengakibatkan adanya hukuman duniawi yang tidak benar, orang yang salah tidak terkena, bahkan orang yang tidak bersalah malah diberi hukuman. Demikian juga, orang yang tidak bersalah menjadi bahan pembicaraan orang lain dan mafsadat lainnya. Kita meminta kepada Allah agar dilindungi daripadanya dan dari setiap keburukan, Allahumma aamin.

(III). Tidak Menimpakan Kesalahan Pada Orang lain, ini kebohongan dan dosa yang nyata, Lihat QS 4:111-112.
وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا (١١٠) وَمَنْ يَكْسِبْ إِثْمًا فَإِنَّمَا يَكْسِبُهُ عَلَى نَفْسِهِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا (١١١) وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا (١١٢

Terjemah Surat An Nisa Ayat 110-113

110. Dan barang siapa yang berbuat kejahatan[14] atau menganiaya dirinya[15], kemudian dia memohon ampunan kepada Allah[16], niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

111. Barang siapa yang mengerjakan dosa[17], maka sesungguhnya dia mengerjakannya untuk (kesusahan) dirinya sendiri[18]. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana[19].

112. Dan barang siapa berbuat kesalahan[20] atau dosa[21], kemudian dia tuduhkan kepada orang yang tidak bersalah, maka sungguh, dia telah memikul suatu kebohongan dan dosa yang nyata[22].
Tafsir Al-Quran, Surat An-Nisaa Ayat 110-114

Ayat ke 110
Artinya:
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (4: 110)

Sebelumnya telah disebutkan bahwa Allah Swt telah memperingatkan kepada orang-orang Mukmin dari segala bentuk pengkhianatan, penyembunyian kebenaran dan dukungan kepada para pengkhianat. Allah juga mengingatkan mereka akan balasan siksa yang sangat pedih di Hari Kiamat. Ayat ini memberitakan tentang terbukanya pintu taubat dan mengatakan, “Barangsiapa berbuat jahat kepada orang lain atau melakukan perbuatan dosa dan menzalimi diri sendiri, lalu ia meminta ampun kepada Allah Swt, maka Allah akan mengampuninya dan mencurahkan rahmat-Nya kepada hamba tersebut.”

Dalam hal ini tidak ada bedanya antara dosa kecil ataupun dosa besar. Karena di sisi Allah Swt yang penting adalah taubat dan permintaan ampun dari dosa yang dapat menarik ampunan Allah dan mengembalikan rahmat-Nya. Yang pasti, jelas bahwa bila suatu dosa menyebabkan kerugian harta atau nyawa orang lain, maka kerugian tersebut harus ditebus dan yang demikian itu merupakan syarat diterimanya taubat tersebut. Tanpa penebusan itu taubat tidak akan diterima.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Dosa pada hakikatnya adalah kezaliman pada diri sendiri. Sementara manusia tidak berhak menganiaya bahkan dirinya sendiri.

2. Allah Swt tidak hanya mengampuni perbuatan jahat, tetapi menyukai orang yang berbuat taubat. Allah mengasihi orang-orang yang bertaubat.

Ayat ke 111-112

Artinya:
Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (4: 111)

Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata. (4: 112)

Dua ayat ini, selain menekankan dampak negatif dosa juga mengingatkan bahwa pelaku dosa sebelum menimpakan kerugian kepada orang lain dan masyarakat, sesungguhnya ia telah menimpakan kerugian pada dirinya sendiri. Karena dengan berbuat dosa itu maka fitrah suci dan ilahinya akan tercemari. Ia akan kehilangan kebersihan hati serta kesucian jiwanya dan ini adalah kerugian yang terbesar.

Selain itu, berdasarkan sunnah ilahi yang berlaku di dalam tatanan sosial, segala bentuk kezaliman dan kejahatan terhadap masyarakat, lambat atau cepat dampaknya akan kembali kepada pelakunya. Pelaku kejahatan itu akan mengalami kesulitan di dunia karena perbuatan jahatnya itu. Poin yang lebih penting dalam ayat ini, menuduh orang lain oleh al-Quran disebut sebagai serangan dan aksi kejahatan terhadap orang lain yang merusak nama baik orang itu.

Dari dua ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Dosa bukan sesuatu yang sudah dilakukan dan lalu selesai. Dosa berdampak pada mental dan jiwa pelaku dosa.

2. Orang yang menuduh orang lain memikul dosa berat di pundaknya. Karena ia telah menjatuhkan kehormatan orang lain di depan khalayak ramai.

Ayat ke 113
Artinya:

Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun kepadamu. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu. (4: 113)

Dalam riwayat-riwayat yang dinukil oleh buku sejarah disebutkan ada sekelompok orang musyrik yang mendatangi Rasulullah Saw dan berkata, “Kami siap berbaiat dan memeluk agama anda dengan dua syarat; pertama, patung-patung yang ada di tangan kami tidak perlu kami pecahkan. Kedua, untuk setahun kedepan, izinkan kami untuk tetap menyembah Uzza.

Sebagai jawaban atas permintaan mereka dengan dua syarat itu, ayat ini diturunkan kepada Rasulullah Saw, “Mereka tidak berniat mendapat petunjuk, tapi berniat menyesatkanmu. Sedangkan Allah Swt mengajarkan kepadamu al-Kitab dan Hikmah. Dengan rahmat-Nya Dia menjagamu dari segala bentuk penyelewengan”.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Allah Swt senantiasa menjaga Nabi Muhammad Saw dari segala bentuk kesalahan dan penyelewengan. Inilah yang dimaksud dengan maksum atau keterjagaan yang dianugerahkan Allah khusus kepada para nabi.

2. Allah Swt memberikan pelajaran kepada Nabi Saw. Sudah barang tentu pelajaran ini tidak akan pernah salah sedikitpun.

Ayat ke 114

Artinya:

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (4: 114)

Selain menyinggung satu kasus akhlak yang tidak baik, yaitu berbicara dengan berbisik-bisik dan sembunyi-sembunyi, ayat ini berkata, berbicara dengan bisik-bisik bukan perbuatan terpuji, kecuali yang menuntut harus disembunyikan seperti pembicaraan rahasia.

Dalam ayat ini dibolehkan melakukan perbuatan secara sembunyi-sembunyi seperti berinfak kepada orang miskin. Bahkan dalam ayat-ayat lain ditekankan kepada pelaku infak agar melakukannya secara rahasia dan tidak diketahui oleh orang lain. Begitu juga dengan kewajiban amar makruf dan nahi mungkar. Karena seseorang yang melakukan kewajiban ini secara sembunyi-sembunyi, hasil dan dampaknya lebih besar. Tapi yang lebih penting lagi, cara ini dapat menciptakan ketenangan dan kedamaian di tengah masyarakat serta keluarga dan juga dapat melindungi kehormatan orang lain.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik:‎

1. Di dalam pergaulan sosial, memlihara nama baik orang lain merupakan pokok yang harus diperhatikan dengan baik.

2. Nilai mulia suatu pekerjaan kembali pada keikhlasan pelakunya. Merahasiakan perbuatan baik akan semakin mendekatkannya kepada keikhlasan

(IV).Tidak Membela orang yang salah, karena kesalahan itu kemudharatan bagi dirinya
Manusia seringkali disebut sebagai makhluk yang tidak luput dari salah dan dosa, namun ungkapan ini bukan berarti dengan seenaknya ia bisa melakukan perbuatan yang bernilai dosa itu, sehingga bila ia melakukan perbuatan dosa, itupun sifatnya sebagai dosa yang tidak disengaja atau karena ia tidak paham bahwa hal itu sebagai sesuatu yang bernilai dosa. Agar tidak berakibat fatal atas dosa yang telah dilakukan itu, ada empat sikap penting yang harus kita tunjukkan terhadap kesalahan. Pertama adalah mengakui kesalahan dan tidak merasa suci. Orang yang bersalah, meskipun kesalahan itu dilakukan karena tidak tahu atau dalam masyarakat kita sering disebut dengan kesalahan yang tidak disengaja, ia tetap harus mengakui bahwa kesalahan telah dilakukannya sehingga jangan sampai ia tidak merasa bersalah dan tidak mau bertaubat atau meminta maaf atas kesalahannya itu. Manakala seseorang mau mengakui kesalahan akan membuatnya mudah untuk segera bertaubat sehingga tidak merasa suci yang pantas membela diri, Allah swt berfirman:

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (QS An Nisa [4]:17).

Selama ini banyak orang yang melakukan kesalahan tapi tidak merasa bersalah, akibatnya ia tidak mau bertaubat atau meminta maaf dan karena ia sebenarnya sudah mengakui di dalam hatinya bahwa ia memang salah tapi merasa gengsi untuk mengakui kesalahan apalagi di depan publik, maka hal ini membuatnya menjadi tidak tenang, ia sangat khawatir bila kesalahan itu suatu ketika akan terbongkar juga dan ini akan terasa lebih berat untuk diterima daripada sejak awal ia mengakui kesalahan. Oleh karena itu, bila bersalah, apalagi kita sudah memahami bahwa kita memang salah, akan sangat baik bila kita segera mengakuinya.

Sikap kedua yang harus kita tunjukkan bila kita melakukan kesalahan adalah segera bertaubat dan meminta maaf pada orang lain. Hal ini karena tiada jalan bagi orang yang bersalah kecuali segera bertaubat kepada Allah swt dan meminta maaf kepada manusia bila kesalahan dilakukan kepada orang lain, Kemauan untuk bertaubat dan meminta maaf akan membuat dosa itu tidak menjadi beban yang memberatkan jiwa, karenanya Allah swt pasti akan menerima taubat siapa pun, bahkan sebanyak apapun dosa yang dilakukannya.

Secara harfiyah, taubat adalah rujuk kepada Allah, hal ini karena dosa membuat manusia menjauh, bahkan bercerai dengan Allah swt sebagaimana suami istri yang bercerai, manakala manusia mau bertaubat kepada Allah swt, maka Dia pasti akan menerimanya sebagaimana firman-Nya:

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS An Nisa [4]:110).

Karena taubat dari segala dosa memiliki kedudukan yang sangat penting, maka hal ini harus dilakukan sesegera mungkin agar tidak timbul penyesalan di dalam hati kita, apalagi bila sampai mencapai kematian sebelum taubat dilakukan. Ini berarti taubat dan meminta maaf harus dilakukan secepatnya sesudah menyadari kesalahan itu sehingga taubat atau minta maaf sebenarnya tidak mengenal waktu yang tepat, dan seseorang tidak merasa gengsi untuk meminta maaf kepada siapa pun. Bila suami bersalah pada istri ia akan minta maaf pada istrinya itu, bila seorang bapak bersalah kepada anak, ia pun akan meminta maaf pada anaknya dan bila seorang atasan bersalah kepada bawahan ia pun tidak malu dan gengsi untuk menyampaikan permintaan maaf, begitulah seterusnya. Allah swt berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa (QS Ali Imran [3]:133).

Manakala orang yang bersalah mau meminta maaf, maka kita pun harus suka memaafkannya, hal ini karena kita pun bisa jadi bersalah pada orang lain dan kita pun ingin memperoleh maaf darinya. Bila kita yang bersalah meminta maaf, kenapa orang yang bersalah pada kita lalu kita tidak mau memaafkannya.

Jamaah Sidang Jumat Yang Berbahagia.

Ketiga di antara sikap yang harus kita tunjukkan bila kita melakukan kesalahan adalah tidak menimpakan kesalahan itu kepada orang lain. Hal ini karena orang yang bersalah di samping harus mengakui kesalahan dan segera bertaubat, ia juga tidak boleh menimpakan kesalahan itu kepada orang lain, karena pada hakikatnya setiap orang bertanggung jawab atas perbuatan atau kesalahan yang dilakukannya. Menyalahkan orang lain sebagai bersalah padahal dirinyalah yang bersalah merupakan fitnah yang keji. Memang dalam hidup ini banyak kita dapati ada “maling teriak maling”. Perbuatan ini disebut keji karena fitnah merupakan dosa yang besar dan bagaimana mungkin orang yang tidak bersalah harus menanggung akibat dari suatu kesalahan hanya karena ia dituduh bersalah. Karena itu orang yang suka menimpakan kesalahan kepada orang yang tidak bersalah akan mendapatkan dosa yang ganda, yakni dosa bersalah itu sendiri dan dosa memfitnah orang lain, Allah swt berfirman:

وَمَنْ يَكْسِبْ إِثْمًا فَإِنَّمَا يَكْسِبُهُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا وَمَنْ يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkan kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata (QS An Nisa [4]:111-112).

Ini berarti, bila kita bersalah kita harus mau menanggung resiko dari kesalahan itu dan tidak bisa menyalahkan orang lain meskipun kita bersalah dengan sebab orang lain, karena orang itupun ada nilai kesalahannya dan kita pun mendapat nilai, masing-masing orang bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya, bahkan syaitan saja yang selalu menyesatkan manusia tidak mau disalahkan oleh manusia sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

وَقَالَ الشَّيْطَانُ لَمَّا قُضِيَ اْلأَمْرُ إِنَّ اللَّهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُكُمْ فَأَخْلَفْتُكُمْ ۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلاَّ أَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِي ۖ فَلاَ تَلُومُونِي وَلُومُوا أَنْفُسَكُمْ ۖ مَا أَنَا بِمُصْرِخِكُمْ وَمَا أَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ ۖ إِنِّي كَفَرْتُ بِمَا أَشْرَكْتُمُونِ مِنْ قَبْلُ ۗ إِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang zhalim itu mendapat siksaan yang pedih (QS Ibrahim [14]:22).

Sikap keempat yang harus kita tunjukkan bila kita bersalah adalah tidak membela orang yang salah. Hal ini karena akibat dari kesalahan akan menimpa orang yang melakukannya, karena itu biarlah orang yang bersalah merasakan akibatnya sehingga kita tidak perlu dan tidak boleh membela atau melindunginya. Ketika Rasulullah saw dilaporkan oleh para sahabat tentang adanya ketidakadilan, dimana bila orang-orang penting atau bangsawan yang bersalah tidak dihukum, tetapi ditutup-tutupi kesalahan itu bahkan mendapat perlindungan, mendengar hal itu Rasulullah saw menyatakan: “Andaikan anakku Fatimah mencuri, akan aku potong tangannya”.

Pernyataan Nabi di atas menunjukkan bahwa orang yang bersalah harus dihukum sesuai dengan tingkat kesalahannya sehingga tidak perlu dilindungi apalagi dibela, meskipun ia orang yang selama ini kita hormati seperti orang tua, guru, pemimpin atau pejabat atau ia adalah orang yang kita cintai seperti anak, teman dan sebagainya. Larangan ini ditegaskan oleh Allah swt karena jangan sampai orang yang bersalah akan melakukan kesalahan lagi pada kesempatan yang lain. Larangan membela orang yang salah tercermin pada firman Allah swt:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلاَ تَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ

Tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan (QS Al Maidah [5]:2).

Dari uraian di atas, menjadi jelas bagi kita bahwa Allah swt maklum bila manusia melakukan kesalahan, karenanya Dia membuka pintu taubat bagi hamba-Nya yang bersalah bila mereka mau bertaubat.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s