‘As Siddiq’ mempunyai pengertian benar.

Di dalam Al-Qur’an maupun hadits, ‘As Siddiq’ mempunyai pengertian benar. Dan menurut jumhur ‘ulama di antara 4 syarat yang ada pada masing-masing rasul, ialah harus bersifat siddiq (dapat di benarkan). Dan sifat seperti itulah yang seharusnya di miliki oleh setiap individu yang sudah menyatakan dirinya sebagai ‘muslim’.

Bahkan, As Siddiq juga dijadikan gelar yang pernah diberikan oleh rasul saw.terhadap shahabatnya, yakni Abu Bakar r.a yang terkenal sampai sekarang.

Mengenai bagaimana Allah menempatkan orang-orang yang benar, yang kebenarannya itu bukan sekedar benar menurut logika manusia? Maka beberapa ayat dalam Al-Qur’an telah menjelaskannya tentang hal itu, di antaranya:

1. Bagaimana ketika Allah SWT memberikan ‘tantangan’ kepada kaum musyrikin mengenai rasa keragu-raguan mereka terhadap kebenaran Al-Qur’an. Firman-Nya:

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolong selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”.

(QS. Al-Baqarah[2] : 23)

2. Bagaimana ketika Allah SWT menjelaskan kepada kita tentang diciptakannya manusia sebagai khalifah di muka bumi ketika adanya protes dari Malaikat. Firman-Nya:

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakan kepada para Malaikat lalu berfirman: ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika Kamu memang orang-orang yang benar!”

(QS. Al-Baqarah[2] : 31)

3. Bagaimana ketika Allah SWT menjelaskan kisah Al masih ‘Isa putera Maryam

sebagai pembawa risalah-Nya, dan keberadaannya di dunia sama dengan Adam a.s sebagai bapak seluruh umat manusia. Allah berfirman:

(“Apa yang Kami telah ceritakan itu) itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.”

(QS. Ali Imran[3] : 60)

4. Bagaimana ketika Allah SWT memberikan bantahan terhadap pendapat ahli-ahli kitab yang keliru dengan firman-Nya:

“Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’kub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: (Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar”. (QS. Ali Imran[3] : 93)

Orang-orang yang melaksanakan kebenaran yang sesuai dengan perintah Allah telah dijanjikan akan mendapat kebahagiaan hidup. Seseorang yang dalam kehidupannya dihiasi dengan perbuatan-perbuatan yang baik, kemudian beristiqomah dengan kebaikannya itu sehingga tercatat sebagai orang yang benar di sisi Allah, maka ia akan mendapat jaminan sorga.

Mengenai hal ini ada salah satu hadits yang diriwayatkan oleh shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud yang berbunyi:

Bersabda Nabi saw: Sesungguhnya kebenaran itu membawa kepada kebaikan (Ta’at) dan kebaikan itu membawa ke sorga. Dan seseorang membiasakan dirinya berkata benar hingga tercatat di sisi Allah siddiq (benar). Dan dusta membawa kepada lancung sedang lancung membawa ke neraka. Dan seseorang suka berdusta hingga tercatat di sisi Allah pendusta. (Bukhari-Muslim)

Hadits di atas memberikan gambaran bahwa ketaatan yang baik ialah ketaatan yang dilakukan secara terus-menerus sehingga menjadi kebiasaan di dalam kehidupannya. Dengan demikian, orang tersebut akan mempunyai tabi’at yang mulia sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya.

Kebenaran merupakan lawan dari pada kebathilan, oleh karena itu wajib bagi setiap muslim untuk membedakannya dan sekaligus mampu membuktikan nilai-nilai keburukan dan kerusakannya itu.

Di dalam menjalankan syari’at agama Islam kaum muslimin harus mampu menyeleksi dari segala bentuk virus kebathilan dan kejahatan kaum kafir yang terus menerus merongrong dan berusaha untuk menyimpangkan setiap syari’at dari keaslian dan kemurniannya.

Kaum muslimin saat ini dipaksa untuk menjalankan ajaran kebebasan yang dicontohkan oleh Barat demi kepentingan mereka sendiri. Akibatnya umat Islam menjadi ragu-ragu untuk bersikap dan berbuat, karena sulit membedakan kebenaran yang sesuai dengan syari’at Islam dan kebenaran yang hanya fatamorgana.

Untuk itu, kaum muslimin selayaknya menyimak hadits di bawah ini:

Abu Muhammad (Alhasan) bin Ali bin Abi Thalib r.a berkata: Saya telah hapal dari ajaran Rasulullah saw: Tinggalkan apa yang kamu ragu-ragukan, kepada apa yang tidak kau ragu-ragukan (Kerjakan apa yang kau tidak ragu-ragukan). Sesungguhnya kebenaran membawa ketenangan, dan dusta itu menimbulkan ke-ragu-raguan.

(HR. At Tirmidzi)

Hadits ini merupakan pokok sendi dalam mengerjakan sesuatu hingga segala perbuatan, baik dalam segi ibadah, muamalah, uqubat dan setiap sendi kehidupan lainnya harus disertai keyakinan yang sungguh-sungguh, tidak sah hukumnya bila didasari rasa ragu-ragu apalagi tidak percaya. Oleh karena itu, kebenaran yang kita harus kita kerjakan bahkan kita perjuangkan yang memang benar-benar sesuai dengan perintah Allah dan rasul-Nya

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s