Membumikan Nilai-nilai Keislaman

MUHAMMAD Abduh, seorang tokoh pembaharu dan modernisme Islam asal Mesir, pernah mengatakan, “Saya melihat Islam di Barat tapi tidak menemukan kaum muslim di sana. Sebaliknya, saya menemukan kaum muslim di Timur tapi tidak melihat ada Islam di sana.”

Walau disampaikan kurang lebih 100 tahun lalu, ungkapan ini tetap aktual untuk dijadikan sebagai bahan renungan dan pembelajaran. Sebagai seorang tokoh intelektual muslim, Abduh dengan jujur mengakui bahwa nilai-nilai Islam tidak hidup di tengah-tengah komunitas muslim tetapi justru tumbuh dan berkembang di negara-negara Barat. Bagi mereka yang punya pengalaman berkunjung ke negara-negara Barat, pernyataan Abduh tersebut agaknya bisa dibenarkan.

Sebagai contoh, orang-orang Barat dikenal sangat peduli dengan kebersihan. Perhatian mereka terhadap masalah ini sejalan dengan kepedulian mereka terhadap kesehatan. Tidak mengherankan bila kebersihan semua tempat selalu diperhatikan, tidak terkecuali toilet-toilet yang menjadi fasilitas umum.

Menjaga kebersihan sesungguhnya adalah bagian dari ajaran Islam. Salah satu hadits popular yang sering disebut berkenaan dengan hal ini berbunyi, “Kebersihan itu adalah sebagian daripada iman”.

Kenyataannya, ajaran tentang pentingnya menjaga kebersihan jauh lebih di perhatikan di Barat daripada di negara-negara Islam.

Selain soal kebersihan, hal lain yang perlu dicontoh dari mereka adalah tentang kesadaran terhadap pentingnya waktu. Di sana, orang jarang sekali mau menghabiskan waktu untuk sesuatu yang sia-sia. Menghadiri janji bertemu selalu diusahakan tepat waktu, dan berbagai macam hal positif lainnya.

Kesadaran terhadap pentingnya waktu adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan ajaran Islam. Simaklah, misalnya, imbauan Allah dalam surat Al ‘Ashr ayat 1-3. Surat ini diturunkan khusus mengingatkan manusia tentang betapa pentingnya mempergunakan waktu secara efisien. Namun sangat disayangkan, kesadaran tentang waktu masih belum berfungsi maksimal dalam mendisiplinkan masyarakat muslim. Sering kita menjumpai orang-orang yang belum memiliki rasa malu ketika terlambat hadir memenuhi suatu janji.

Walaupun masih banyak yang lain, kedua contoh di atas cukup menggambarkan alasan di balik kegelisahan Muhammad Abduh sebagaimana disebutkan di atas. Setelah seratus tahun lebih berlalu, sudah sepatutnya nilai-nilai keislaman bisa dibumikan di tengah-tengah umat Islam.

Adalah fakta bahwa nilai-nilai itulah justru yang menyebabkan orang-orang di Barat sedikit lebih maju. Karena itu, tidak ada salahnya jika kita mau mencontoh sesuatu yang baik dari orang lain. Apalagi yang dicontoh itu ternyata juga sejalan dengan semangat ajaran-ajaran Islam.

Puasa pada hakikatnya bisa dijadikan sebagai momentum pembumian nilai-nilai Islam tersebut. Dalam puasa, kita diajarkan untuk membersihkan berbagai hal. Tidak hanya membersihkan sesuatu yang bersifat lahiriyyah, tetapi juga membersihkan hal-hal yang bersifat bathiniyyah.

Selain itu, puasa juga mendidik kita agar lebih peduli dengan waktu. Dalam puasa, kita harus memperhatikan sejumlah waktu penting antara lain, waktu sahur, waktu berbuka, waktu shalat, waktu membayar zakat, dan sebagainya. Perhatian semacam ini hendaknya juga dapat dilaksanakan di luar bulan suci Ramadan. Semoga dengan pembumian nilai-nilai keislaman, kita dapat membangun masa depan umat Islam ke arah yang lebih baik.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s