Runtuhnya Kejayaan Kaum Muslimin, Karena Para Pemimpinnya Tidak Menjalankan Islam Sepenuhnya

“…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)…” (QS Ali Imran [3]: 140).

Gelombang aksi unjuk rasa tengah melanda negara-negara di Timur Tengah. Rakyat di berbagai negara yang ada di wilayah itu berupaya melengserkan para pemimpinnya. Penguasa Tunisia dan Mesir–dua negara berpenduduk Muslim telah dijatuhkan. Kini, rakyat Libya, Yaman, serta Bahrain juga melakukan upaya yang sama.

Seperti tercantum dalam Alquran surah Ali Imran ayat 140, sudah menjadi sunatullah, kejayaan dan kehancuran sebuah kekuasaan akan berlangsung secara bergiliran. Peradaban Islam yang sempat menguasai dunia selama beberapa abad juga diwarnai dengan jatuh-bangunnya berbagai dinasti Islam.

Sejarawan Islam, Prof Badri Yatim dalam Sejarah Peradaban Islam, membagi perjalanan imperium Islam ke dalam beberapa periode. Pertama, masa kehidupan Nabi Muhammad SAW. Kedua, periode kemajuan Islam I (650-1000 M). Pada masa ini, peradaban Islam berada di bawah kekuasaan Khilafah Rasyidah, Khilafah Bani Umayah, dan Khilafah Bani Abbas.

Setelah Khilafah Rasyidah berakhir setelah Khalifah Ali bin Abi Thalib terbunuh pada 660 M, berdirilah Dinasti Umayyah di bawah Umayyah bin Abi Sufyan. Dinasti yang berpusat di Damaskus Suriah itu berdiri pada 661 M dan ambruk pada 750 M. Pada masa itu, kekuasaan Islam semakin meluas. Namun, kekuasaan Dinasti Umayyah tak mencapai satu abad.

Memasuki tahun ke-90, kekuasaan Dinasti Umayyah dihancurkan oleh Dinasti Abbasiyah. “Dinasti Umayyah digulingkan oleh berbagai gerakan oposisi yang memandang bahwa pemerintahan ini tidak sah,” papar Nur Ahmad Fadhil Lubis Phd dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Khilafah. Setelah itu, berdirilah Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad pada 750 M. Abbasiyah berkuasa selama lima abad (750-1258 M).

Periode ketiga, disebut Prof Badri Yatim sebagai masa disintegrasi (1000-1250 M). Pada era itu, kejayaan Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Kota Baghdad, Irak, mulai meredup. Dinasti-dinasti yang sebelumnya berada dalam kendali Baghdad, satu per satu mulai memerdekakan diri. Sejak 945 M, Abbasiyah pun hanya tinggal nama karena yang berkuasa sebenarnya Dinasti Buwaih (945-1055) dan Dinasti Dinasti Seljuk (1055-1258).

Periode keempat disebut sebagai masa kemunduran (1250-1500 M). Pada 1258, kekuasaan Abbasiyah benar-benar ambruk, setelah Baghdad diserang dan dihancurkan bangsa Mongol. Pusat kebudayaan dunia itu pun hancur ketika Hulagu Khan membumihanguskan Baghdad. Kejayaan (umat) Islam pun mulai meredup.

Periode kelima, disebut Prof Badri Yatim, sebagai masa munculnya tiga kerajaan besar Islam (1500-1800), yakni Kerajaan Turki Usmani di Turki, Kerajaan Safawi di Persia, dan Kerajaan Mughal di India. Peradaban Islam kembali mengalami kemajuan pada masa kekuasaan tiga kerajaan ini.

Kejayaan ketiga kerajaan itu pun meredup sejak 1700 hingga 1800 M. Tak hanya redup, tapi juga benar-benar ambruk dan hancur. Setelah tenggelamnya kejayaan Islam, sebagian besar wilayah kekuasaan imperium Islam berada dalam jajahan negara-negara Barat. Dan, kemajuan berpindah dari peradaban Islam ke Barat.

Laporan utama pada edisi ini akan mengulas bagaimana setiap dinasti mengalami kemunduran dan kehancuran. Tentu saja, agar kita dapat menjadikannya sebagai pelajaran.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s