Gagalnya kita mendapat ‘gelar’ sebagai insan yang bertaqwa.

Menunda-nunda Pelaksanaan Salat Fardhu

Hal ini merupaka ciri utama orang yang puasanya gagal.
Allah SWT berfirman: “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan kecuali orang-orang yang bertaubat dan bermal shalih.” (QS. Maryam:59).

“Celakalah bagi orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dalam shalatnya.” (QS. Al-Ma’un:4-5)

Menurut Sa’id bin Musayyab, yang dimaksud dengan tarkush-shalat (meninggalkan shalat) ialah tidak segera mendirikan shalat tepat pada waktunya. Misalnya menjalankan shalat Dzuhur menjelang waktu Ashar, Ashar menjelang Maghrib, Shalat Maghrib menjelang Isya’, shalat Isya’ menjelang waktu Shubuh, serta tidak segera shalat Shubuh hingga terbit matahari.

Orang yang berpuasa Ramadhan sangat disiplin menjaga waktu shalat, karena nilainya setara dengan 70 kali shalat fardhu di bulan lain.

Malas Menunaikan Ibadah Sunnah

Termasuk di dalamnya yang paling utama adalah menjalankan qiyamul-lain alias shalat malam. Mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah merupakan ciri orang yang shalih.

Rasulullah saw berkata:

“Semoga Allah merahmati orang yang bangun pada malam hari untuk shalat Qiyam al-Lail dan kemudian dia membangunkan istrinya untuk shalat, dan jika istrinya menolak maka ia cipratkan air pada wajahnya. Dan semoga Allah merahmati wanita yang bangun pada malam hari untuk shalat dan kemudian ia membangunkan suaminya, dan jika suaminya menolak maka ia cipratkan air pada wajahnya.” (HR. An Nasa’i)

“Dan hamba-Ku masih mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, sampai Aku mencintainya.” (Hadits Qudsi)

Malas Membaca Alquran

Ramadhan juga disebut Syahrul Qur’an, bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran. Orang-orang shalih di masa lalu menghabiskan waktunya baik siang maupun malam di bulan Ramadhan untuk membaca Alquran.

Rasulullah saw bersabda: “Ibadah umatku yang paling utama adalah membaca Al Qur’an.” (HR. Baihaqi)

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Ramadhan adalah momen terbaik untuk menimba dan menggali sebanyak mungkin kemuliaan Alquran sebagai petunjuk hidup. Dan kebiasaan ini pun harus berlanjut setelah Ramadhan berlalu.

Abu Umamah meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda,

“Bacalah Al Qur’an, karena ia akan menjadi syafa’at pada hari kiamat bagi orang yang membacanya.” (HR. Muslim)

Enggan Berdakwah

Salah satu ciri utama keberhasilan Ramadhan seseorang ialah tingkat ketaqwaannya yang makin meninggi. Dan semakin tinggi tingkatan taqwa seseorang, semakin kuat pula semangatnya dalam mensyiarkan Islam. Berbagai kegiatan amar makruf nahi mungkar dilakukannya, karena ia ingin menjadi bagian dari orang-orang yang layak untuk senantiasa mendapatkan pertolongan Allah dalam kesempatan apapun, sebagaimana firman Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad : 7)

Kikir dan Malas Bersedekah

Takut rugi jika mengeluarkan banyak infaq dan sedekah adalah tanda-tanda orang yang gagal dalam madrasah bernama Ramadhan. Salah satu tujuan diturunkannya perintah berpuasa adalah agar manusia mampu mengendalikan sifat rakus pada makan dan minum maupun pada harta benda, karena ia termasuk sifat kehewanan (bahimiyah).

Cinta dunia dan rakus harta benda hingga tak mau bersedekah, membuat manusia lupa akan tujuan hidup sesungguhnya.

Tidak Mempedulikan Sesama

Lapar dan haus menajamkan jiwa sosial dan empati terhadap kesusahan sesama manusia, khususnya sesama Muslim. Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang berjuang secara berjama’ah, yang saling menguatkan.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam satu barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash Shaf: 4)

Ramadhan seharusnya menguatkan motivasi untuk hidup berjamaah. Syahru Rahmah, bulan kasih sayang adalah nama lain Ramadhan, karena di bulan ini Allah melimpahi hamba-hamba-Nya dengan kasih sayang.

Berpuasa di bulan Ramadhan menanamkan benih kasih sayang terhadap orang-orang yang paling lemah di kalangan masyarakat. Fakir miskin, anak-anak yatim dan mereka yang hidup dalam kekurangan. Rasa cinta kita terhadap mereka seharusnya bertambah. Jika cinta jenis ini tidak bertambah sesudah bulan suci, berarti kita perlu segera introspeksi.

Menyia-nyiakan Waktu

Al Qur’an mencatat dialog Allah Ta’ala dengan orang-orang yang menghabiskan waktu mereka untuk bermain-main.

“Allah bertanya: ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab: ‘Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman: ‘Kamu tidak tinggal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui. “Maka apakah kamu mengira sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan kamu tidak akan dikembalikan kepada kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenarnya, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arsy yang mulia.” (QS. Al Mu’minun : 112-116)

Termasuk gagal Ramadhan seseorang yang lalai atas karunia waktu dengan melakukan perbuatan sia-sia, kemaksiatan, dan huru-hara. Disiplin waktu selama Ramadhan semestinya membekas kuat dalam bentuk cinta ketertiban dan keteraturan.

Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta perbuatan Az-Zur (persaksian palsu), maka Allah tidak membutuhkan perbuatan orang yang tidak bersopan santun, maka tiada hajat bagi Allah padahal dia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhori)

Ramadhan adalah peluang bagi kita untuk mengatur dan melatih lidah agar senantiasa berkata baik dan benar.

Ingatlah kita akan pesan sahabat Umar bin Khattab ra., “Puasa ini bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi juga dari dusta, dari perbuatan yang salah dan tutur kata yang sia-sia.”

Mudah Marah

Ramadhan adalah bulan unjuk kekuatan. Bukan sekedar kekuatan untuk tidak makan dan minum sehari penuh. Namun, kekuatan yang jauh lebih utama sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Orang yang kuat bukanlah orang yang selalu menang ketika berkelahi. Tetapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menguasai diri ketika marah.”

Berkenaan dengan puasa, dalam hadits lain beliau bersabda: “Puasa itu perisai diri, apabila salah seorang dari kamu berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan membodohkan diri. Jika ada seseorang memerangimu atau mengumpatmu, maka katakanlah sesungguhnya saya sedang berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak Sedih Melepas Ramadhan

Indikasi gagalnya Ramadhan seseorang yang sangat dapat terdeteksi adalah tiadanya rasa sedih ketika melepas perginya bulan Ramadhan. Menjelang Ramadhan berakhir sebagian besar orang semakin disibukkan dengan urusan lahir dan logistik untuk persiapan Idul Fitri.

Banyak yang lupa bahwa 10 malam terakhir merupakan saat-saat penting yang menentukan nilai akhir kita di mata Allah di bulan penuh rahmat. Apakah kita menjadi pemenang sejati pada Ramadhan tahun ini atau Ramadhan yang kita lalui justru berlalu sia-sia tanpa amal istimewa.

Konsentrasi pikiran telah bergeser dari semangat beribadah kepada luapan kesenangan merayakan Idul Fitri dengan berbagai kegiatan, akibatnya kesedihan melepas perginya Ramadhan sama sekali tak nampak dalam diri kita.

Sebentar lagi Ramadhan tiba. Kita tak pernah tahu akhir usia. Tapi kita semua berharap, kesempatan istimewa berjumpa Ramadhan masih Allah berikan. Jangan sia-siakan. Jika tak mau gagal, persiapkan segala sesuatunya dengan optimal. Agar jika nanti Ramadhan berlalu, segalanya tak jadi sesal. Wallahu’alam.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s