Tips Menjaga Ketakwaan

Di bulan Ramadhan, kebiasaan-kebiasaan buruk tiba-tiba berhenti, berganti dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang sarat dengan nilai-nilai pengabdian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (nilai-nilai ilahiyah).
Ketika itu setiap Muslim berubah menjadi lebih tekun beribadah, khusyuk berdoa, lembut hatinya, mau berbagi dengan sesama. Inilah keistimewaan Ramadhan dalam membentuk syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam) sekaligus al-mujtama’ al-muslimah (masyarakat Muslim).
Sayangnya, hal itu seringkali berlaku hanya selama Ramadhan saja. Ketika bulan Syawal tiba, disusul bulan-bulan berikutnya, sifat-sifat baik itu lenyap. Masyarakat kembali pada budaya jahiliyah.
Ketika seorang Mukmin merasakan buahnya Ramadhan, ia melihat jalan kebenaran yang indah untuk dilalui. Ia pun bertekad untuk meninggalkan jalan keburukan yang pernah dilaluinya.
Namun, tekad itu seringkali melemah, bahkan pupus di tengah jalan begitu datang bulan-bulan berikutnya. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Tantangan

Ada banyak hal yang biasanya menjadi sumber penyebab tidak dapat direalisasikannya tekad untuk menjaga ketakwaan, antara lain:

1. Kurang kuatnya komitmen

Kesadaran yang dicapai seorang Mukmin selama melaksanakan ibadah Ramadhan melahirkan komitmen untuk melakukan perubahan pada dirinya dan lingkungannya. Namun, energinya masih belum cukup kuat dibanding hawa nafsunya. Sehingga komitmen untuk melakukan kebajikan terhalang oleh kekuatan hawa nafsu.
Jika komitmen untuk melakukan perubahan tersebut tidak didukung oleh aspek-aspek yang lain, maka sangat mungkin komitmen itu melemah, dan akhirnya tunduk dihadapan hawa nafsu.

2. Menunda-nunda amal shaleh

Adakalanya seorang Mukmin telah bertekat untuk melakukan berbagai kebaikan dan meninggalkan keburukan seusai Ramadhan. Namun, ia tidak bersegera mewujudkannya, malah menunda-nunda pelaksanaannya. Ini berakibat pada tidak terjaganya ketakwaan.
Berkaitan dengan ini Sahabat Umar bin Khathab menasehati, “Jadilah kalian di dunia ini seperti orang asing atau musafir kelana. Jika datang waktu sore, janganlah menunggu datangnya waktu pagi. Jika datang waktu pagi, janganlah menunggu waktu sore. Gunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, dan waktu hidupmu sebelum datang masa kematianmu.”
Saat kita berniat menunda, maka setan menyergap peluang tersebut untuk terus menunda walaupun untuk beberapa saat saja. Berbagai alasan seperti: waktu masih panjang, kita masih muda, tidak harus dilakukan hari ini, selalu menjadi dalih. Alasan-alasan tersebut kita rasionalisasi, sehingga tanpa terasa kita pun tidak pernah berhasil melakukannya.

3. Lalai

Kita sering menganggap remeh upaya menegakkan kebaikan karena menganggap hukumnya sunnah dan menganggap sepele hal-hal yang dibenci oleh Allah SWT (makruh) walaupun termasuk dosa yang kecil.
Kebiasaan itu dapat mengantar seseorang mengabaikan hal-hal yang besar dalam agama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda, “Berhati-hatilah kalian terhadap dosa kecil, sebab jika ia berkumpul dalam diri seseorang akan dapat membinasakannya.” (Riwayat Ahmad dan Thabrani).

4. Tidak mau berjamaah

Setiap Mukmin yang berniat menegakkan kebaikan akan menghadapi tantangan yang tidak sedikit. Di samping tantangan dari dalam diri sendiri (berupa hawa nafsu), juga akan menghadang tantangan dari luar, yakni orang-orang kafir dan munafik yang tidak pernah rela kebenaran ditegakkan. Ada pula musuh bebuyutan orang yang beriman yang tidak kasat mata, yaitu setan.
Semua musuh kaum Mukmin tersebut selalu bekerja sama, bahu-membahu, untuk menggagalkan keinginan setiap Mukmin berjalan pada jalan yang lurus. Jika seorang Mukmin tidak mau bekerjasama dengan Mukmin yang lain, sangatlah mudah bagi musuh-musuh tersebut melumpuhkan niat yang baik.
Rasulullah SAW bersabda, ”Tidaklah tiga orang berada di suatu desa, atau di suatu gurun yang tidak didirikan shalat (berjamaah) melainkan setan akan mengalahkan mereka. Maka hendaklah kalian berjamaah, karena serigala itu hanya makan domba yang jauh (dari kelompoknya).” (Riwayat Abu Daud)

Tips Menjaga Ketakwaan

Nah, bagaimana cara mempertahankan nilai-nilai takwa yang telah kita peroleh selama Ramadhan? Bagaimana caranya membuat amalan kita di bulan-bulan berikutnya akan sekualitas Bulan Ramadhan? Berikut ini beberapa tipsnya.

1. Lakukan muhasabah setelah Ramadhan

Sangat penting bagi setiap diri untuk melakukan muhasabah (mengevaluasi diri) pasca Ramadhan. Muhasabah ini bisa saja dilakukan secara pribadi, tetapi akan lebih baik jika dilakukan bersama dengan orang-orang terdekat.
Dalam keluarga bisa dilakukan antara suami, istri, dan anak-anak. Dalam kelompok dapat dilakukan bersama dengan kawan atau sahabat seperjuangan atau rekan sekerja. Dalam organisasi dapat dilakukan bersama dengan anggota pengurus organisasi tersebut.
Apa saja yang dievaluasi? Di samping keimanan yang bersifat pribadi, juga perkembangan iman dan amal shaleh yang dilakukan secara sosial, dalam lingkup keluarga, halaqah, komunitas masyarakat, atau organisasi.

2. Buatlah komitmen bersama keluarga.

Melakukan muhasabah saja belumlah cukup jika tidak ditindaklanjuti dengan komitmen diri serta orang-orang terdekat untuk melanjutkan amalan-amalan positif dan mencegah perbuatan negatif agar tidak berkembang secara individu maupun sosial pada bulan-bulan berikutnya.

3. Susunlah program rutin setelah Ramadhan.

Agar komitmen lebih mudah dilaksanakan dan dievaluasi perkembangannya, kita perlu mewujudkannya dalam bentuk program kebajikan. Pertama, yang perlu ditetapkan adalah target perubahan yang ingin dicapai dalam waktu satu tahun ke depan. Selanjutnya, susunlah program rutin harian, mingguan serta bulanan.
Contoh:
a. Program harian: shalat berjamaah, membaca al-Qur`an, berzikir kepada Allah setiap pagi, petang, malam, dan shalat lail.
b. Program mingguan: mengikuti pembinaan Islam, shalat Jumat, halaqah taklim, silaturrahim, dan berinfak.
c. Program bulanan: puasa yaumul biidh (tanggal 13,14 dan 15) setiap bulan qamariyah.

4. Berkumpullah dengan orang-orang shaleh.

Kebajikan akan lebih terasa ringan dan mudah jika dilakukan bersama-sama dengan orang lain, terutama orang-orang terdekat yang memiliki kesamaan fikrah.
Menegakkan kebajikan dalam keluarga memerlukan dukungan anggota keluarga yang lain. Menegakkan kebajikan dalam organisasi memerlukan dukungan para pengurus dan anggota jamaah yang lain. Demikian juga dalam masyarakat yang lebih kompleks.
Ini karena kita tidak bisa bekerja sendiri. Kita perlu berkumpul bersama-sama orang-orang yang shaleh. Berkumpul bersama mereka, diri kita akan terjaga. Keinginan kita untuk menegakkan kebajikan akan mendapatkan dukungan, dan kita akan diingatkan manakala sedang tergelincir.

5. Tetaplah untuk menambah ilmu

Majelis ilmu seperti taklim, kuliah subuh dan tarawih, pesantren kilat, kajian i’tikaf, bermunculan di masjid-masjid, kampus-kampus, atau perkantoran, selama bulan Ramadhan. Sebelum Ramadhan, juga banyak diselenggarakan tarhib (penyambutan). Ini semua membuat ghirah umat untuk menambah ilmu sangat besar.
Alangkah bagusnya jika kegiatan-kegiatan seperti itu tidak berhenti dengan berakhirnya Ramadhan. Jika kegiatan seperti itu terus dilakukan di berbagai tempat, insya Allah masyarakat akan semakin memahami ajaran agamanya.

Wallahu a’lam

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s