Al-Qur’an Sebagai Pedoman Hidup

Berdasarkan QS. Al-Baqarah: 185 al-Qur’an berfungsi sebagai “petunjuk bagi manusia” (هُدًى لِلنَّاسِ) atau “petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa” (هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ) (QS. Al-Baqarah: 2).

Ibnu Katsir berkomentar, “Yang demikian itu merupakan pujian bagi al-Qur’an yang diturunkan sebagai petunjuk bagi hati para hamba-Nya yang beriman, membenarkan dan mengikutinya.

“Dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)

Kata Ibnu Katsir, yaitu sebagai dalil dan hujjah yang nyata dan jelas bagi orang yang memahami dan memperhatikannya. Hal ini menunjukkan kebenaran ajaran yang dibawanya, berupa petunjuk yang menentang kesesatan, dan bimbingan yang melawan penyimpangan, serta pembeda antara yang hak dan yang batil, yang halal dan yang haram. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz I, hal. 347)

إن هذا القرآن يهدي للتي هي أقوم ويبشر المؤمنين الذين يعملون الصالحات أن لهم أجرا كبيرا

 “Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.”

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Sebagai huda/petunjuk, maka tidak bisa tidak, al-Qur’an harus dibaca dan dikaji oleh umat Islam. Al-Qur’an diturunkan untuk dibaca oleh setiap muslim, direnungkan dan dipahami maknanya, perintah dan larangannya, kemudian diamalkan. Sehingga ia akan menjadi hujjah baginya di hadapan Tuhannya dan pemberi syafaat baginya pada hari kiamat.

Berkaitan dengan hal ini, para ulama telah memberikan tuntunan kepada kita tentang sikap kita terhadap al-Qur’an. Apa yang harus kita lakukan?!

Pertama: Membaca al-Qur’an

Kewajiban dasar terhadap al-Qur’an bagi setiap muslim adalah membacanya. Membaca adalah ibadah utama. Banyak hadits yang menjelaskan hal ini. Apalagi di bulan Ramadhan. Setiap muslim yang mengharap rahmat Allah dan takut akan siksa-Nya sangat ditekankan untuk memperbanyak membaca al-Qur’an, baik di bulan Ramadhan maupun di bulan-bulan lainnya. Karena al-Qur’an adalah sebaik-baik kitab, yang diturunkan kepada Rasul termulia, untuk umat terbaik yang pernah dilahirkan kepada umat manusia, dengan syari’at yang paling utama, paling mudah, paling luhur dan paling sempurna.

Rasulullah r bersabda:

إِقْرَاُوْ الْقُرْاَنَ فَإِنَّهُ يَأْتِىْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ (رواه مسلم عن ابى امامه)

 “Bacalah al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat kepada orang-orang yang membacanya.” (HR. Muslim, dari Abu Umamah t)

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ, وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ اَمْثَالِهَا, لَااَقُوْلُ الم حَرْفٌ, بَلْ اَلِفٌ حَرْفٌ, وَلَامٌ حَرْفٌ, وَمِيْمٌ حَرْفٌ (رواه الترمذى, وقال حديث حسن صحيح)

“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah (al-Qur’an) maka baginya satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan itu bernilai sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. at-Turmudzi, dan ia mengatakan hadits hasan shahih)

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْاَنَ وَعَلَّمَهُ (رواه البخارى)

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhori)

Kedua: Memahami dan Menghayati ayat-ayatnya

Allah befirman:

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an?” (QS. An-Nisa’: 82)

Amru bin Murrah t berkata, “Aku tidak suka kalau melewati sebuah perumpamaan (matsal) dalam al-Qur’an lalu aku tidak dapat memahaminya. Karena Allah berfirman:

وتلك الأمثال نضربها للناس وما يعقلها إلا العالمون

 “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS. Al-Ankabut: 43)

Ibnu Umar t jika membaca QS. Al-Hadid ayat 16, maka beliau menangis sejadi-jadinya.

Ibnul Qoyyim j berkata, “Apabila anda ingin mengambil pelajaran dari al-Qur’an, maka hendaklah anda memusatkan hati dan pikiran anda pada saat membaca dan mendengarkannya, dan pasanglah pendengaran anda dengan baik. Allah berfirman:

 إن في ذلك لذكرى لمن كان له قلب أو ألقى السمع وهو شهيد

 “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau menggunakan pendengarannya, sedangkan ia menyaksikan.” (QS. Qaf: 37)

Lanjut Ibnul Qoyyim, “Tidak ada sesuatu yang lebih berguna bagi hati daripada membaca al-Qur’an dengan pemahaman dan penghayatan.”

Ketiga: Mengamalkannya

Inilah maksud diturunkannya al-Qur’an, yaitu untuk diikuti petunjuknya, ditaati perintahnya, ditegakkan hukumnya, dan diamalkan dalam perbuatan nyata. Allah I berfirman:

واتبعوا أحسن ما أنزل إليكم من ربكم من قبل أن يأتيكم العذاب بغتة وأنتم لا تشعرون

 ”Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedangkan kamu tidak menyadarinya.” (QS. Az-Zumar: 55)

اتبعوا ما أنزل إليكم من ربكم ولا تتبعوا من دونه أولياء قليلا ما تذكرون

 ”Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu mengikuti pemimpin selainnya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran darinya.” (QS. Al-A’raf: 3)

Ini adalah dalil tentang wajibnya mengikuti al-Qur’an serta mengamalkannya, mengalahkan yang lain. Tidak seperti fahamkebatinan maupun liberal, yang menakwilkan al-Qur’an (menyelengkan makna dari yang sebenarnya) karena mengikuti hawa nafsunya.

 Keempat: Sabar dalam mengamalkan kandungan al-Qur’an

Seperti menjalankan perintah-perintah dan menjauhi larangannya, melaksanakan kewajiban jasad dan harta, menundukkan nafsu agar tunduk dan patuh kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Semua itu tidak akan terwujud kecuali jika disertai kesabaran dan mujahadah (bersungguh-sungguh) –tentu saja setelah mendapat taufik dari Allah I- serta selalu membayangkan lezatnya balasan kesabaran tersebut yang akan ia peroleh. Allah I berfirman:

 قل يا عباد الذين آمنوا اتقوا ربكم للذين أحسنوا في هذه الدنيا حسنة وأرض الله واسعة إنما يوفى الصابرون أجرهم بغير حساب

 ”Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Imam Ahmad bin Hambal menegaskan, “Sabar di dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 90 kali. Bersabar itu wajib menurut ijma’ ulama’. Ia juga merupakan bagian (separoh) dari iman. Karena iman itu mempunyai dua bagian, sebagian adalah sabar dan sebagian lagi adalah syukur. Kesyukuran disebutkan 16 kali dalam al-Qur’an.”

Kelima: Berdakwah untuk menjadikannya sebagai aturan kehidupan

Yaitu berdakwah untuk memberlakukan hukum-hukum al-Qur’an di dalam seluruh bidang kehidupan, mengamalkan ajarannya dan berperilaku/berakhlak dengan akhlak al-Qur’an. Allah I berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)

Rasulullah r bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْاَنَ وَعَلَّمَهُ (رواه البخارى)

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Allah telah menjamin bagi siapa yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan isi kandungannya, tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akherat, dengan firman-Nya:

 قال اهبطا منها جميعا بعضكم لبعض عدو فإما يأتينكم مني هدى فمن اتبع هداي فلا يضل ولا يشقى

 ”Maka siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha: 123)

Dan Allah mengancam orang yang berpaling dari al-Qur’an:

من أعرض عنه فإنه يحمل يوم القيامة وزرا

 ”Barangsiapa berpaling dari al-Qur’an maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat.” (QS. Thaha: 100)

Menurut Ibnul Qoyyim bahwa perilaku meninggalkan (berpaling) dari al-Qur’an itu bermacam-macam bentuknya, antara lain:

  1. Tidak mau (enggan) mendengarkannya
  2. tidak mengamalkan kandungannya
  3. Tidak bertahkim atau menjadikannya sebagai landasan hukum dalam memutuskan setiap perkara
  4. Tidak bertafakkur, memahami, dan mengetahui apa yang dikehendaki Allah
  5. Tidak menjadikannya sebagai obat penyembuh bagi berbagai macam penyakit hati.

Itu contoh kategori “berpaling” dari al-Qur’an. Padahal Allah mengingatkan:

 ومن أعرض عن ذكري فإن له معيشة ضنكا ونحشره يوم القيامة أعمى

 ”Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124)

Dengan demikian, maka marilah kita semua beriltizam untuk menjadikan al-Qur’an benar-benar sebagai petunjuk dan pedoman hidup kita. Semoga Allah membimbing kita ke jalan-Nya yang lurus. Aamiin.[*]

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s