Al Qur’an, Pedoman Bagi Semua Manusia

Kalau kita perhatikan Al Qur’an sebagai Kitab Wahyu adalah al-Qur’an yang menjadi Dzikrul Lil ‘Aalamin dan menjadi The Book Of Everything yang akan menjadi sumber pengetahuan yang mumpuni  dimana pengetahuan masa lalu, masa kini, dan masa depan manusia tercermin didalamnya sebagai Wahyu Ilahi yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW.

Dari segi teknis, pada akhirnya al-Qur’an pun akhirnya bersinggungan dengan konsep-konsep dasar ilmu pengetahuan fisikal seperti square root of two, golden ratio, bilangan, huruf, geometri, simbol, sejarah manusia, silsilah kenabian, baik dan buruk, perang dan damai, cinta dan benci, keakuan dan kepasrahan, Dzulkarnain dan Yakjuj-Makjuj, akal pikiran dan penyucian jiwa, surga dan neraka, teori kuantum, teori relativitas, biologi evolusioner, kode genetis manusia dan akhirnya teori kuantum qolbu yang menuju kepada pengertian tentang “Knowledge of Everything” sebagai biji dari Pohon Tauhid, Pohon Pengetahuan Tuhan yang dicuri gerombolan setan yaitu “kita sendiri sebagai manusia yang didesain dengan 23 pasang kromosom” sebagai lembaran-lembaran tertulis yang segala perilaku dan akhlaknya dibimbing dengan pedoman al-Qur’an yang juga telah pre-installed dalam diri manusia sebagai fitrah asal yaitu menyaksikan Tuhan Yang Esa secara langsung (QS 7:172).

Sudah Cocok Buat Manusia

Meskipun nampak njlimet, apa yang diungkapkan Allah SWT didalam al-Qur’an sebenarnya mencakup kapasitas akal pikiran manusia yang mempunyai kemampuan tri-lateral yaitu berfikir filosofis, logis, dan kreatif. Ketiga pola fikir tersebut  sejatinya merupakan model penalaran optimum yang dapat diaktualkan manusia ketika manusia menyatakan ketundukkan dirinya dihadapan Allah sebagai Tuhan Yang Esa. Artinya, wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi al-Qur’an memang sesuai dengan kapasitas yang dapat dilaksanakan oleh manusia lainnya, tentu dengan berbagai potensinya yang dapat aktual. Pada  akhirnya perbedaan akan muncul karena berbagai sebab yang inheren dalam diri manusia sebagai tanda yang menunjukkan kemajemukan Asma dan Sifat Tuhan Yang Maha Berpengetahuan, Maha Mendidik, Maha Bijaksana, dan Maha Adil.

Secara umum, manusia didalam al-Qur’an dinyatakan sebagai al-Insaan , ia adalah cermin dimana kesempurnaan Pengetahuan Tuhan dapat tampil nyata berupa akhlak yang mulia (QS 9:128). Dan manusia yang menjadi abidin dan muslimun menjadi lokus penciptaan yang akhirnya tampil secara lahiriah menjadi Nabi, Rasul, Wali, orang beriman maupun hanya sekedar  menjadi muslimin yang mengikuti sunnatulrasul untuk menunjukkan peran sentral peribadahan dan aktivitas muslimun sebagai cermin Tuhan.

Ketika Muhammad menjadi cermin jernih untuk menampilkan Pengetahuan Tuhan yang sempurna, maka ia adalah manusia paripurna dalam akhlak dan perilaku yang menyiratkan asma-asma Ilahi. Ia adalah al-Insaan al-Kamil. Ia pun kemudian dikatakan sebagai  cermin dimana Tuhan yang memegang cermin diri-Nya memantulkan cahaya-Nya ke segala arah, menimbulkan cermin dalam cermin. Maka dikatakan dalam suatu riwayat bahwa mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya dalam berbagai bentuk dan ukuran yang tertentu, namun dengan kesempurnaan yang serupa karena kepatuhannya untuk menjernihkan cermin yang ada padanya yaitu qolbu yang jernih yang menjadi qolbu mukminin yang mampu menampung Arasy Allah. Karena itu sebenarnya kurang sekali  relevansinya kalau kita menyatakan al-Qur’an produk budaya Arab walaupun pentas dimana al-Qur’an diturunkan berada di tanah Arab karena segi historis dan pemodelan manusia yang ada saat itu memenuhi kriteria manusia maupun masyarakat yang berlaku sepanjang masa, yaitu manusia yang memiliki kesombongan seperti gunung batu al-Hijr, yang hatinya bolak balik tidak menentu, bisa menjadi asfalaa safiilin namun juga manusia yang dapat memiliki kesempurnaan sebagai “insaana fii ahsaani takwiim”.

al-Qur’an adalah pedoman hidup adalah  produk aktualnya kesempurnaan Pengetahuan Tuhan dalam jiwa manusia. Aktualisasinya disampaikan kepada manusia melalui esensi makhluk pertama yang diciptakan-Nya yang lahiriahnya menjadi Nabi Muhammad SAW. Muhammad sebagai penerima Wahyu Ilahi  karena itu bukan sekedar manusia dengan Kecerdasan Intelektual yang tinggi, jenius, atau pun istilah teknis keilmuan lainnya yang menunjukkan suatu keistimewaan khusus. Namun merupakan aktualnya Kecerdasan Ilahiyah atau Kecerdasan Spiritual yang mampu mengintegrasikan semua bentuk Pengetahuan Tuhan yang nyata sebagai kondisi kejiwaan dirinya yang muncul dalam tindakan sebagai akhlak maupun yang abstrak dan tak dikenali oleh manusia umumnya; yang sederhana sampai yang rumit; yang mampu diungkapkan dengan cara yang sederhana dan fundamental, maupun yang memerlukan  wawasan intepretasi yang multidimensi untuk memahaminya.

Pintu-pintu Pemahaman

Sebagai suatu kitab universal, Al Qur’an mempunyai banyak pintu masuk pemahaman. Dengan catatan bahwa Allah mengidzinkannya bukan menutupinya dari orang yang bersangkutan. Karena itu, bila seseorang mampu memahami wacana fundamental yang diungkapkan sebagai firman Tuhan dalam al-Qur’an, maka titik tolak pengungkapan itu dapat berasal dari mana saja. Namun, umumnya, dan lebih sering terjadi demikian,  justru pintu itu masuk dari pengenalan tentang diri kita sendiri sebagai pelakon kehidupan yang lemah dan berserah diri yang justru sangat membutuhkan Pertolongan Allah SWT. Jika tidak, maka seseorang bolah jadi terpedaya oleh capaian dirinya sendiri yang justru menjadi penghalang atau menjadi hijab diri yang akan mengarah pada munculnya egosentrisme Ghairullah (selain Allah yaitu bersandar pada amaliah kita sendiri). Surat al-Alaq (Qs 96:1-5) sebagai wahyu pertama yang membicarakan tentang bagaimana diri ini diciptakan sejatinya menyiratkan hal itu. Makanya, tanpa kemampuan membaca kehidupan diri sendiri orang akan sulit memahami al-Qur’an dengan utuh.

Untuk memahami Al ur’an karena itu bukan didasarkan pada nafsu kita untuk beribadah, ingin cepat masuk surga, ataupun hal-hal lainnya yang tidak didasarkan pada pemahaman diri dan Penciptanya (simak kembali QS 96). Perhatikan bahwa, boleh jadi mulut Anda hapal Al Qur’an tapi Anda belum tentu paham isi Al-Qur’an. Karena itu, hapal saja kurang sempurna yang sempurna adalah memahami apa yang Anda baca dan mengamalkannya.

Kita tidak akan paham apa yang dimaksudkan oleh Al Qur’an  hanya sekedar berjihad di medan perang semisal di Afganisthan, di Irak, atau dimanapun peperangan berkecamuk. Anda justru akan memahami Al Qur’an justru ketika menjauh dari kekacauan itu dan melihatnya dengan membaca kehidupan dengan benar. Peperangan sebagai suatu solusi politis-ekonomi sebenarnya hanya bentuk lahir yang ditunjukkan oleh Allah SWT untuk menghinakan manusia yang enggan berserah diri dengan segala hawa nafsunya yang telah menjadi kuda liar Yakjuj Makjuj. Jadi, jihad Anda tanpa kemampuan membaca kehidupan di medan perang apapun justru akan menjadi sia-sia dan dianggap sebagai kecil saja. Bukankah diriwayatkan kalau jihad terbesar justru melawan nafsu diri sendiri?  Itulah jihad yang sejatinya akan mengarahkan kita memahami surat Al Alaq sebagai pintu makrifat. Tanpa pemahaman akan diri ini maka manusia akan terjebak pada lingkaran setan jihad-jihad kecil yang tanpa makna yang akhirnya akan menjadi penjara Ghairullah yang menyakitkan.

Manusia & Al Qur’an

Secara teknis, esensi yang disampaikan sebagai wahyu ibarat esensi murni yang “encapsulated” (katakan saja seperti ramuan obat dalam kapsul) yang telah sesuai dengan takaran dan terlindungi dari kontaminasi yang dicirikan dengan keterkaitan antara nilai al-Jumal, jumlah huruf yang tertentu, penentukan nomor surat maupun nomor ayatnya. Bisa dikatakan bahwa setiap huruf dalam al-Qur’an adalah kode-kode genetis manusia yang tidak boleh sembarangan diubah-ubah.

Tapi kapsul itu bisa dibuka. Cara pembukaannya tentu saja harus sesuai dengan pedoman yang disampaikan Rasulullah yaitu Iqra dan Penyucian Jiwa. Jadi disini tak ada syarat teknis yang sering dituliskan para ulama bahwa manusia harus ahli tatabahasa Arab atau pun lainnya. Syarat seperti itu hanya cocok bila kita gunakan untuk memahami ilmu agama dalam konteks akademis misalnya untuk meraih gelar sarjana. Yang diperlukan untuk memahami al-Qur’an sejatinya IQRA dengan Qalam dan PENYUCIAN JIWA. Bacalah dengan qolbu kata Rasulullah, dan aktualkan dengan nyata bahwa apa yang diucapkan adalah apa yang tersirat dalam hatinya sebagai aktualnya Asma-asma Allah  yang mengandung hikmah. Berserah dirilah  dan ridha dengan ketentuan-Nya maka  manusia pun insya Allah akan mampu menafsirkannya dengan berbagai perspektif.

Hubungan Menyeluruh

Pengetahuan yang tersirat didalam Al Qur’an mencakup segala pengetahuan yang dipahami manusia sepanjang masa. Khususnya pengetahuan yang berlandaskan kepada kontinuum kesadaran-ruang-waktu yang tak lain merupakan model hubungan Pencipta-Makhluk, Tuhan-manusia, Manusia-manusia, manusia-makhluk lainnya. Sejak awal dan akhir penampilan Pengetahuan Tuhan adalah pengenalan dari rahasia-Nya yang menjadi harta terpendam semua manusia yaitu dirinya sendiri. Diri  yang menjadi cermin dimana Pengetahuan Tuhan dapat menetap dan manusia mampu kembali kepada-Nya dengan selamat. Karena itu manusia mengenal-Nya karena-Nya, bukan karena kemampuan diri sendiri yang sejatinya sangat lemah.

Apapun pengetahuan Tuhan yang telah disampaikan sebagai al-Qur’an pada akhirnya akan berguna bila ia menetap dalam qolbu manusia yang menjadikannya sebagai pedoman dalam semua aktivitasnya yaitu akhlak manusia. Jadi, yang diperlukan sebenarnya bukan intepretasi, penafsiran, apalagi mengubah kandungan asli al-Qur’an, bahkan apa yang dituliskan di risalah ini pun sebenarnya bagi sebagian besar orang mungkin tidak membutuhkannya. Yang lebih diperlukan adalah :

Oleh karena itu, al-Qur’an yang suci dan bukan makhluk adalah al-Qur’an yang nilai-nilainya teraktivasikan dari akal pikiran dan jiwa manusia yang paling jernih, menetap dalam hati dan menjadi bagian dari akhlaknya yang tampil sebagai teladan bagi manusia lainnya di ladang maghfirah Allah yang terbentang sebagai dunia dan alam semesta.

Tanpa penetapan al-Qur’an dengan al-Haqq al-Yaqin dalam diri manusia, maka al-Qur’an sekedar buku referensi yang akan menjadi pajangan di masjid-masjid, pesantren-pesantren, rumah-rumah, perpustakaan, atau sekedar menjadi hiasan lahiriah saja untuk meraih gelar keduniawian atau ambisi keduniawian yang mengundang datangnya penyakit Iblis dan setan yaitu kesombongan dan syirik.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s