Taqlid buta Penyebab Terjerumusnya Umat kepada Kesyirikan

Sesungguhnya kenikmatan yang besar setelah kenikmatan Iman dan islam adalah nikmat Pemahaman keagaaman yang sehat (Assihhatu Tathowwur) sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiah (dalam kitabnya Majmu’ Fatwa) sehingga kita mengerti dan mau berikhtiar tidak pernah letih mencapai ilmu yang benar tentang apa-apa yang difirmankan Allahu dan disabdakan oleh Rasulullah

Ada suatu ibrah yang luar biasa pada masa rasulullah bagaimana sahabatnya begitu sangat cintanya kepada Rasulullah, hal ini berkaitan dengan ayat alquran dalam surat AnNisa :69

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS An Nisa :69)

 

Dalam tasir Ibnu Katsiir disebutkan bahwa :

Ada seorang lelaki dari sahabat nabi yang memperlihatkan wajah yang sedih kepada Rasul, Rasul bertanya Wahai sahabatku apa yang membuatmu sedih, ya rasulullah aku memikirkan suatu masalah, yakni sesungguhnya aku sekarang ini diberi kenikmatan bertemu engkau, lalu seandainya engkau wafat dan kemudian engkau berada di surga yang paling tinggi maka bagaimana nasib kami, kalaulah aku masuk surga maka kedudukanku tidaklah sama dengan engkau, lalu rasulullah terdiam tidak mampu menjawab.. sampai kemudian turunlah ayat ini yakni surat nisa ayat 69 (HR Bukhari)

Inilah yang seharusnya yang menjadi semangat untuk selalu beribadah kepada Allah dan selalu mencari ilmu yang haq sebagai cita2 untuk dikumpulkan dengan para nabi, siddiqiin dan orang2 yang shaleh.

Rasulullah menyampaikan (hadits diambil dari shahih jamius shagiir), bahwa dunia ini adalah sesuatu yg dilaknat oleh Allah (makna dilaknat adalah sesuatu yang jauh dari rahmat atau berkah dari Allah) kecuali ada bagian2 yang tidak dilaknat yaitu :

Maka kita tidak ingin usaha kita hanya mendapat laknat dari Allah saja didunia ini, maka jika orang yang hanya sibuk dengan dunianya pada dasarnya mereka hanya mengejar laknat Allah, maka seorang mukmin seharusnya berpikir bagaimana caranya untuk termasuk dari salah satu 3 golongan ini.

Rasulullah membagi manusia yg memikirkan tentang Allah menjadi 4 berdasarkan hadits riwayat Nasai yaitu

  1. Rojulun (laki-laki) yang diberikan kelulasaan dalam rejeki oleh Allah dan dia mengerti tentang ilmu syariat , ini adalah derajad yang paling tinggi, mereka adalah golongan orang yang diberikan kemudahan mencari rejeki tetapi juga mereka orang yang menguasai ilmu agama contoh Abdurrahman bin Auf imam atau abu hanifah

  2. Rojulun (laki-laki) yang diberikan kelapangan dalam masalah harta tetapi diberikan kesempitan dalam syariatnya, contonya membaca alquran tidak bisa dan tidak juga berusaha untuk belajar, atau orang yang dangkal agamanya sehingga tidak mampu membedakan mana yang benar dan salah,

  3. Rojulun (laku-laki) yang disempitkan rejekinya oleh Allah tetapi tidak menghalangi dia untuk selalu berikhtiar mencari rejeki tetapi dia diberikan kepahaman tentang syariat, orang yang ketiga ini kedudukannya sama dengan orang yg pertama, lalu

  4. Rojulun (laki-laki) yang diberikan kesempitan dalam masalah dunia tetapi juga tidak mengerti dalam masalah akhiratnya, ini adalah orang yang paling parah kedudukannya

Itu adalah tipe2 manusia bagaimana dia berada dalam pusaran laknat dunia, maka pilihan bagi seorang muknin ada pada pilihan yang ke-1 atau yang ke-3

Ibnul Qayyim menjelaskan dalam Miftahul darul sa’adah (artinya kunci surga) bahwa Cinta kita kepada Allah tidak akan dianggap oleh Allah kecuali memenuhi 4 syarat, yakni :

  1. Mahabbatu ma yuhibbullahu (Mencintai apa yang Allah cintai dan ridhoi), dan tidak ada suatu masalah tentang hal-hal yang dicintai dan diridhoi Allah SWT kecuali masalah itu tentang tauhid, orang yang mengaku cinta kpd Allah tetapi tidak mengerti tauhid maka cintanya tidak sesuai dengan apa yang diinginkan Allah SWT

  2. Membenci apa yang dibenci Allah (yubghid ma yubghidullah), orang yang beribadah kepada Allah tetapi disatu sisi dia tidak sadar dia juga telah melakukan apa yang dibenci Allah SWT

  3. Membenci siapa yang dibenci Allah , contohnya orang-orang musyrikuun yang menentang Allah dan rasulnya dan munafiqun

  4. Mencinta siapa yang dicinta oleh Allah

Kembali pada pembahasan pokok tentang pembahasan Tauhid, bahwa Penyebab orang melakukan Kesyirikan menurut syaikh shaleh fauzan adalah sebagai berikut :

  1. Kebodohan, karena tidak mau belajar atau jumhud (datang kepadanya suatu dalil tapi dia menolaknya dengan keras), hal ini telah dibahas dalam pertemuan yang pertama.

  2. Taqlid/ fanatisme buta

Makna Taqlid dijelaskan dalam muqaddimah Al ilmu ushul fiqh secara bahasa artinya adalah meletakkan kalung diatas lehernya seseorang (atau disebut qiladah), sedangkan secara istilah maknanya adalah ittibau bila daliliin yaitu orang2 yang mengikuti orang yang dianggap alim tanpa dasar ilmu, taqlid ini kenapa disebutkan oleh syaikh sholeh fauzan karena beliau melihat kenyataan dalam umat ini bahwa kebanyakan kesyirikan yang terjadi didahului dengan mengikuti perkataan seseorang tanpa mengecek/meneliti dalilnya, taqlid buta ini tidak hanya dibenci oleh para ulama tetapi juga oleh Allah

Allah berfirman :

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS Attaubah :31)

Ketika ayat ini disampaikan pada para sahabat dalam riwayat Tirmidzi lalu ada sahabat Adi bin Hatim yang dahulunya adalah nashara, kemudian dia membantah ayat ini dengan mengatakan bahwa kami tidak menjadikan rahib menjadi rabb disamping Allah, lalu rasulullah bersabda apakah rahib kalian menghalalkan sesuatu padahal Allah telah mengharamkannya dan apakah rahib kalian mengharamkan sesuatu padahal allah menghalalkannya, maka jawab adi ya benar rasulullah maka itu maknaya kalian menjadikan rahib kalian rabb disamping Allah

Para ulama menyadari bahwa pada dasarnya bahwa taqlid termasuk penyakit yang paling halus, yakni kadangkala dilemma membedakan antara hormat kepada ustad atau syaikhnya dengan kebenaran dalil yang sampai padanya, karena mereka tidak mengerti tentang adab tholabul ilmi, termasuk didalamnya bahwa taqlid menjadikan lambatnya ilmu /kebenaran masuk kepada kita ,

Ibnul Qayyim t menjelaskan bahwa Taqlid dibagi 3

  1. Taqlid yang haram

    1. Taqlid pada adat istiadat dan warisan nenek moyang yang tidak sesuai dengan syariat, hal ini dijelaskan Allah berikut ini :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلا يَهْتَدُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?”(QS AlBaqarah :170)

Dengan menganggap bahwa nenek moyang mereka adalah lebih tahu/ benar dan tidak pernah salah maka ilmu yang datang seakan2 terhijab, melakukan kekufuran dengan anggapan mengikuti kakek2 mereka adalah baik, contohnya masalah pernikahan melihat hari baiknya (wetonnya), membangun gedung didahului dengan menanam kepala kerbau lalu diatasnya dipasangi bendera dengan anggapan membawa berkah, menanam tali pusar ditutupi ember diterangi lslu dikasih pulpen dengan anggapan dapat menjadikan anak pintar, masalah panen dengan mebuang sebagian hasil panennya pada tempat tertentu untuk dewi sri, lalu anggapan merapi meletus gara-gara mbah petruk ngamuk, dll

    1. Taqlid kepada orang-orang yang tidak pernah mengerti tentang dalil, tidak pernah membaca/mentholaah, lalu ketika mereka berkata lalu diikuti oleh sebagian orang maka mereka menjadi dhool wa adhoollu (sesat dan menyesatkan), salah satu yang terjadi pada zaman fitnah adalah adanya du’atu ala abwabi jahannam (yakni menyeru bukannya ke surga tetapi ke jurang neraka) berani menjawab permasalahan umat padahal tidak punya dalil dan ilmu tentangnya

    1. Mengikuti pendapat ahli ilmu padahal ada dalil yang jelas dan shahih menyelisihi dengan pendapat ahli ilmu tersebut, ini tetap sifatnya adalah tercela (madzmum), contoh imam Abu hanifah t (adalah seseorang yang alim termasuk imam madzhab) kemudian mengatakan menikah seorang perempuan tanpa wali adalah sah, kenapa karena beliau mengambil sebuah dalil qias (analogi), hal ini terjadi karena memang tidak sampai kepadanya dalil kepada beliau, dimana beliau tinggal di kufah dimana banyak tersebarnya dalil2 yang dhoif dan maudhu (palsu), Qiasnya yakni Jika seorang perempuan dapat mengelola hartanya maka dia juga boleh untuk mengelola kehormatan dirinya padahal ada hadits dari rasulullahyang mengatakan perempuan mana saja yg menikah tanpa wali maka pernikahannya batal, jika ada orang yang masih saja taqlid dengan pendapat beliau padahal sudah sampai padanya dalil yang shahih maka ini yang termasuk taqlid yang madzmum (tercela). Banyak kemungkinan seorang alim berpendapat berbeda dengan hadits karena kemungkinan belum sampainya dalil kepadanya sebagaimana hal ini dibahas secara khusus oleh syaikh Ustaimin t dalam kitabnya Ikhtilafnya Ahli ilmu dan penyebab-penyebabnya, menjelaskan mengapa kita tidak boleh taqlid pada seorang ulama diantara penyebabnya adalah sebagai berikut :

      1. Belum sampainya dalil kepada mereka, sebagaimana kisah para sahabat yang sedang berjalan menuju syams kemudian sampai pada suatu daerah yang terkena wabah thoun lalu para shahabat berselisih lalu umar bin khattab menyuruh kembali ke madinah, sesampainya ditengah perjalanan bertemu dengan sahabat Abdurrahman bin Auf lalu menyampaikan permasalahannya dan Abdurrahman bin auf membenarkan sikap sahabat2nya sebagaimana sabda rasulullah yang beliau pernah dengar sendiri

      2. Bisa jadi dalilnya sampai tetapi kemudian lupa, kisahnya yang paling terkenal adalah diriwayatkan dari Bukhari ketika Umar bin Khattab berjalan bersama Amar bin Yasir, kemudian mereka dua-duanya junub tetapi mereka tidak mendapatkan air sedangkan saat itu dating sholat shubuh , Amar bin Yasir berijtihad untuk berguling-guling di pasir karena tayammum bias menggantikan wudhu tetapi Umar bin khattab menahan dirinya sampai bertemu air lalu mereka melaporkan hal ini pada rasulullah, rasulullah bersabda tidak perlu berguling2 karena dengan tayammum bisa menggantikan hadats besar, lalu selang beberapa waktu dijaman kekhalifahan Umar ada seseorang yang bertanya hal yang sama namun Umar qadarullah lupa dengan kejadian yg pernah dialaminya, lalu yasir mengingatkan kejadian tersebut dan solusinya dari rasulullah

      3. Terkadang dalil telah sampai kepada ulama tersebut tetapi ulama mempunyai makna yang berbeda, contohnya ketika para shahabat diutus ke bani quraidzoh lalu rasulullah bersabda janganlah kalian sholat ashar kecuali sudah sampai di bani quraidzoh, ketika shahabat menempuh perjalanan maka waktu ashar hamper habis dan perjalanan masih tuk sampai di bani quraidzah, sebagian shahabat melaksanakan sholat ashar diperjalanan dan sebagian lagi sholat ashar di bani quraidzah walau sudah masuk waktu maghrib, padahal haditsnya sama tapi dipertian yang berbeda dalam hal ini yang benar adalah pendapat yang pertama, lalu kalimat “lamastumunnisa” (arti dhohirnya menyentuh kulit seorang wanita) apakah membatalkan wudhu atau tidak ?, pendapatnya Imam syafii membatalkan wudhu jika bersentuhan dengan kulit wanita, tetapi ibnu Abbas menjelaskan yang dimaksud “Aw lamastumun nisa adalah jimak”

  1. Taqlid Wajib, apabila kita mendapatkan dalil dari seorang ulama dan belum pernah ada dalil yang menyelisihinya, maka wajib bagi kita untuk ittiba kepada dalilnya dan bukan kepada orangnya

  2. Taqlid yang bersifat Mubah, yang taqlid seorang yang alim kepada orang alim lainnya seperti syaikh Bin Baz t kepada syaikh Abdurrahman As sa’di

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s