Kiat Sukses Berinteraksi Dengan Al-Qur’an

Memahami Tujuan Pokok Al-Qur’an
Selain memandang Al-Qur’an secara universal, Mempehatikan Misi Da’wah Pergerakan Al-Qur’an dan  Menghindari diri dari Penguluran Waktu & Memperpanjang Permasalahan yang Terdapat dlm Al-Qur’an, hendaknya bagi sesorang yang membaca Al-Qur’an menolehkan perhatiannya terhadap tujuan asasi Al-Qur’an, karena kejelian & keabsahan pandangan –sebagaimana yang telah kami jelaskan dlm kiat  yang pertama- akan mendorongnya pada interaksi yang baik, memahami & mentadabburkan Al-Qur’an secara maksimal, & dapat memberikan pemahaman kepada pembacanya akan hakekat, tujuan, misi utama & maksud-maksud Al-Qur’an.
Secara realita; kebanyakan dari kaum muslimin keliru dlm menetapkan tujuan & misi Al-Qur’an, karena diantara mereka ada yang hanya melakukannya secara parsial & tak komprehensif, atau mengkaitkannya dgn sesuatu yang tak berkaitan dgn Al-Qur’an atau tak ada korelasinya sama sekali dgn Al-Qur’an.
Sebagian umat ada yang menganggap bahwa Al-Qur’an diturunkan utk orang mati saja bukan utk yang hidup, sehingga -dengan pandangan sempit ini- perhatian mereka terhadap Al-Qur’an hanyalah jika ada orang yang meninggal; ada yang menggunakan perangkat radio di rumah-rumah mereka agar dapat diperdengarkan suara Al-Qur’an selama beberapa hari dari orang yang meninggal, atau mengundang para Qori Al-Qur’an secara khusus utk membaca ayat-ayat Al-Qur’an di rumah dari orang yang meningga atau di kuburan; baik dlm rangka pada acara kematian atau memperingati hari kematian. Adapun interaksi orang yang masih hidup dgn Al-Qur’an; dgn membahas tujuan & misinya agar dapat diaplikasikan dlm kehidupan mereka & masyarakat, tak ada perhatian sama sekali dlm benak mereka.
Adapun sebagian yang lain beranggapan bahwa Al-Qur’an diturunkan utk memberikan keberkahan; mereka menjadikannya sebagai jimat, penangkal teluh & ruqiah yang mereka letakkan diatas tubuh mereka, atau dirumah dan dimobil mereka; hanya utk mendapatkan keberkahan darinya & mencegah bala. Mereka juga hanya menjadikannya sebagai bahan mukaddimah dlm setiap ceramah, muktamar-muktamar, pertemuan-pertemuan, majlis-majlis ta’lim, perayaan-perayaan & siaran-siaran radio & televisi mereka dgn ayat-ayat Al-Qur’an, karena hanya mengharap kebaikan & keberkahan, menghiasi suasana dgn membacanya, atau hanya sekedar urf, adat, kebiasaan kehidupan & hanya menciptakan nuansa religius, serta menjadikan suasana bahwa mereka hidup dgn Al-Qur’an. Namun -disisi lain- jiwa, perasaan, hati, & eksistensi mereka sama sekali tak mau membuka Al-Qur’an guna mendapatkan sesuatu yang ada di dalamnya dari kehidupan, mereka tak mau membahasnya dlm lembaga-lembaga mereka, metode riset, departemen-departemen & perundang-undangan mereka sehingga mendapatkan petunjuk, rahmat & keberkahan & keadilan darinya. Sebagaimana mereka juga -dalam kehidupan masyarakat & bangsa- tak mau menelaah Al-Qur’an sehingga dapat mengubah eksistensi mereka sebagai pembawa kebaikan & penyeru kebenaran, pemuka & soko guru (tauladan) bagi umat manusia seluruhnya.
Bagaimanakah tujuan-tujuan utama yang terkandung dlm Al-Qur’an, agar kita dapat memetiknya ayat demi ayat & surat demi surat saat kita membaca & mentadabburkannya, & agar kita dapat mencari kesempatan utk mengaplikasikannya dlm kehidupan kita sehari-hari, baik kehidupan masyarakat atau kehidupan negara.
Adapun diantara tujuan-tujuan pokok diturunkannya Al-Qur’an ada empat yaitu :
1. Bahawa Al-Qur’an membawa petunjuk dari Allah; petunjuk yang lurus, petunjuka yang fundamental, memiliki target yang jelas, misi yang gamblang dan berkesinambungan, & yang terlebih penting lagi Al-Qur’an membawa petunjuk yang universal bagi setiap individu akan segala eksistensinya, perasaannya, inderanya & sisi kehidupan lainnya, & bahkan petunjuk yang menyeluruh terhadap umat dari setiap individu & kelompoknya; petunjuk yang komprehensip utk manusia seluruhnya menuju Tuhannya yang Maha Suci & Maha Tinggi.
Allah SWT berfirman :
إِنَّ هَذَا الْقُرْآَنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sesungguhnya Al-Qur’an memberikan hidayah (petunjuk) kejalan yang lurus” (Al-Isra : 9)
Maksud hidayah disini adalah umum & universal; yaitu menjadikan hidup lebih berarti kepada yang diserukan kepadanya secara umum & univesal.
Allah juga berfirman :
وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu – Al-Qur’an- dgn perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Al-Kitab – Al-Qur’an- & tak pula mengetahui apakah iman itu. Tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dgn dia siapa yang Kami kehendaki diantara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya benar-benar memberi petunjuk kepada jalan  yang lurus”.  (Asy-Syura : 52)
Al-Qur’an merupaka ruh & tak akan memberi petunjuk kecuali yang memiliki ruh, Al-Qur’an adalah nur –cahaya- & Allah SWT yang memberinya dgn ruh ini, memberi petunjuk dgn cahaya ini, & Dialah yang memberikan perintah kepada Rasulullah saw utk memberi petunjuk melalui Al-Qur’an kejalan Allah SWT yang lurus, Dialah yang memberi taklif kepada setiap mu’min yang diberi petunjuk dgn hidayah Al-Qur’an utk menyeru kepada yang lainnya memberi petunjuk seperti mereka diberi petunjuk.
Allah berfirman:
 قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ . يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah & kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya kejalan keselamatan, & (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dgn seizin-Nya, & menunjuki mereka kejalan yang lurus. (Al-Maidah : 15-16)
2. Al-Qur’an mewujudkan pembentukan pribadi & karakter muslim yang sempurna & seimbang; diwujudkan dari kepunahan dan yang ditemukan dari realita kejahilian yang telah menyia-nyiakan jiwa, menafikan akal & menelantarkan pengetahuan, indra & kepercayaan. Sebagaimana Al-Qur’an juga menyuburkan iman di dlm jiwa manusia, menyinari pada setiap sisi kehidupan dgn cahaya ilahi, menumbuhkan  kebaikan & kesalehan di dalamnya, mengaktifkan apa  yang telah Allah berikan kepada manusia dari kemampuan, keahlian & tenaga secara positif lagi baik, sehingga dapat merealisasikan misi & tujuan, melebarkan sarana-sarana & sistem yang telah ditentukan risalahnya & membantunya secara kontinyu dlm pelaksanaannya, & meletakkan dihadapan kedua tangannya kaidah-kaidah & dasar-dasar yang memungkinkan dirinya melakukan kreasi, innovasi & dan mencipta.
Al-Qur’an telah berhasil secara gemilang dlm merealisasikan tujuan ini dlm kehidupan para sahabat yang mulia, mereka adalah ahlul Quran, yang hidup dgn Al-Qur’an; di dalamnya & untuknya, sebagaimana telah mewujudkan juga generasi Qurani yang memiliki sifat-sifat keislaman  & Qur’ani. Dan Al-Qur’an masih saja siap & mampu –dengan izin Allah- memberi & mencetak generasi, siap melaksanakan misi & merealisasikan tujuan, dgn syarat seorang pembaca hendaknya memperhatikan akan hal ini, menelaahnya, berusaha berinteraksi secara baik dengannya & talaqqi darinya, bekerja sama dengannya dlm rangka mencetak, membangun & mendidik.
Allah SWT berfirman:
أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan apakah orang yang sudah mati dia Kami hidupan & Kami berikan dgn cahaya yang terang, yan gdengan cahay aitu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia, serupa dgn orang yang keadaanny aberada gelap gulita yang sekali-kali tak dapat keluar dari padanya ?”. (Al-An’am : 122)
Manusia tanpa Al-Qur’an akan mati hati, indra, perasaan & kehidupan mereka.
 وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ. وَلَا الظُّلُمَاتُ وَلَا النُّورُ . وَلَا الظِّلُّ وَلَا الْحَرُورُ . وَمَا يَسْتَوِي الْأَحْيَاءُ وَلَا الْأَمْوَاتُ إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ
“Dan tidaklah sama orang yang buta dgn orang yang melihat. Dan tak (pula) sama gelap gulita dgn cahaya. Dan tak (pula) sama  yang teduh dgn panas. Dan tak (pula) sama orang-orang yang hidup & orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya & kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dlm kubur dapat mendengar”. (Fathir : 19-22)
Maka Al-Qur’an tak akan dapat diraih kecuali pada orang yang hidup, & tak akan berinteraksi dengannya kecuali orang yang hidup :
وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآَنٌ مُبِينٌ . لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ
“Dan Kami tak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) & bersyair itu tak layak baginya. Al-Qur’an itu tak lain hanyalah pelajaran & kitab yang memberi penerangan. Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) & supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir”.  (Yasin : 69-70)
3. Al-Qur’an mewujudkan eksistensi masyarakat islami dan Qurani; yaitu masyarakat yang terbentuk dari individu Qurani yang dibentuk oleh Al-Qur’an – membangun masayarakat atas dasar sistem Al-Qur’an, dasar-dasar, prinsip-prinsip & arahan-arahannya, memantapkan masyarakat islam & sistem kehidupannya, membekalinya dgn seluruh apa yang dibutuhkan dari ini semua. Dan ketika masyarakat sudah terpatri dari nash-nash Al-Qur’an, hidup dibawah naungannya, berkembang dilingkungannya & berjalan di bawah cahaya Al-Qur’an akan menjadi masyarakat yang hidup dgn kehidupan yang mulia, bebas & sejahtera, namun jika tak demikian maka masyarakat tersebut akan mati, akan merasakan sakit & pedihnya, merasakan kehinaannya, kepengecutannya, kerendahannya dlm setiap saat.
Al-Qur’an telah membentuk masyarakat generasi awal sahabat –masyarakat Qurani yang indah & unik- yang mampu mewujudkan masyarakat sosial, mambangunnya & memakmurkannya saat mereka benar-benar menerima Al-Qur’an & berinteraksi bersamanya serta hidup dengannya.
Allah berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah & seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu…”. (Al-Anfal : 24)
Al-Qur’an adalah da’wah nabi saw; da’wah utk menuju kepada kehidupan yang layak utk anak manusia, kehidupan Qur’ani dalam berbagai aspek, sisi & fenomena-fenomenanya. Karena itu, barangsiapa yang menolak da’wah ini maka sebenarnya dia telah menolak kehidupannya sendiri & memvonis dirinya utk mati, mati secara ma’nawi yang tak sama dgn mati secara materi.
Allah berfirman :
إِنَّمَا يَسْتَجِيبُ الَّذِينَ يَسْمَعُونَ وَالْمَوْتَى يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ ثُمَّ إِلَيْهِ يُرْجَعُونَ
“Hanya orang-orang yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah) & orang-orang yang mati (hatinya) akan dibangkitkan oleh Allah kemudian kepada-Nya-lah mereka dikembalikan”.(Al-An’am : 36)
Dan Allah juga berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا .  فَأَمَّا الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَاعْتَصَمُوا بِهِ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِي رَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ وَيَهْدِيهِمْ إِلَيْهِ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, Muhammad dgn mu’jizatnya) den telah Kami turunkan kepdamu cahaya yang terang benderang (Al-Qur’an). Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah & berpegang teguh kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka kedalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) & limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya”. (An-Nisa : 174-175)
Kalimat “al-Hayah” –dalam uslub Al-Qur’an- memiliki enam makna, seperti yang disebutkan oleh imam Ar-Raghib dlm kitabnya “Al-Mufrodat” & menyebutkan dalil-dalil & contohnya dari ayat-ayat Al-Qur’an;
1. Al-Quwwah An-Namiyah –kekuatan yang selalu berkembang- yang terdapat pada tumbuhan & hewan:
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ
“Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu menjadi hidup”. (Al-Anbiya : 30)
2. Al-Quwwah Al-Hasasiyah bihi–kekuatan perasaan- karena itu dinamakan hewan berasal dari kata “Hayawan” :
وَمَا يَسْتَوِي الْأَحْيَاءُ وَلَا الْأَمْوَاتُ 
“Dan tidaklah sama antara yang masih hidup dgn yang sudah mati”. (Fathir : 22)
3. Al-Quwwah Al-Amilah Al-Aqilah –Kekuatan produktif & berakal :
 أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ
“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan”. (Al-An’am : 122)
4. Irtifaul Al-gom –hilangnya rasa khawatir/takut-, seperti Firman Allah SWT :
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
“Barangsiapa yang melakukan kebaikan baik laki-laki maupun perempuan dlm keadaan beriman maka akan Kami hidupkan dgn kehiupan yang lebih baik” (An-Nahl : 97)
5. Al-Hayah Al-Ukhrawiyah Al-Abadiyah –kehidupan ukhrawi yang abadi-, & yang demikian sampai karena kehidupan yang berdasar akal & pengetahuan. Allah berfirman:
 يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي
“Dia mengatakan : “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu menngerjakan (amal saleh) utk hidupku ini”. (Al-Fajr : 24)
6. Kehidupan yang mensifati oleh Dzat Allah SWT yaitu kehidupan itu  sendiri yang tak pernah mati. Allah berfirman :
هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُو
“Dialah Allah Yang Maha Hidup tiada tuhan selain Dia”. (Ghofir : 65)
4. Al-Qur’an Membina ummat Islam dlm menghadapi pergulatan yang lazim dgn jahiliyah di sekitarnya
Begitupun dgn musuh-musuhnya yang selalu mengintainya, yang tak memata-matai, tak meninggalkan dlm perang tata cara & warna sedikitpun. Maka Al-Qur’an membimbing umat Islam menuju medan pertempuran, memobilisasinya & membentangkan sarana-sarana menuju kemenangan, senjata perang, & tata cara perang, memberitahukan akan sebab-sabab kecurangan musuh dlm perang, tujuan mereka, persekongkolan mereka dlm perang, penggunaan dgn berbagai senjata utk menghancur apa saja, karakteristik & kejiwaan mereka, tata cara & tipu daya mereka, makar & muslihat mereka, syubhat & propaganda mereka, senjata & peralatan mereka. Memberikan dihadapan mereka jalan-jalan kemenangan, memberi bekal & kekuatan perang, dgn mengikatkan mereka dgn tali Allah, den mengeratkan hubungan & Islamnya. Sehingga keluarmenuju medan pertempuran yang diwajibkan atasnya –dengan pimpinan Al-Qur’an, arahan & petunjuk-petunjuknya- meraih kemenangan yang mulia & meraih kemerdekaan.
Inilah yang dilakukan oleh para sahabat dgn Al-Qur’an dlm jihad mereka, & ini juga yang dilakukan oleh kaum muslimin saat berjumpa & berusaha merealisasikan tujuan ini. Sehingga, Al-Qur’an tetap prima, siap & mampu –dengan izin Allah- utk memberi, namun dimanakah para mujahid yang siap menyambutnya ? para pemerhatinya kesuciannya? Para aktivisnya ? & para mujahid yang siap menghadang musuh dgn petunjuk & hidayahnya? Allah SWT berfirman :
فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا 
“Dan janganlah engkau turuti orang-orang kafir, namun perangilah mereka dgn jihad yang besar”. (Al-Furqan : 52)
Inilah arahan Rabbani kepada Rasulullah saw & umat setelahnya; untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai perangkat dan  sarana yang dapat membantu dlm berperang melawan orang-orang kafir, & yang menjadi senjata utama, mendasar & pasti dalam berjihad.
Adapun yang menyayat hati pada saat ini adalah bahwa kebanyakan dari umat manusia yang menjadi pemimpin atau anggota lagislatif dan mengaku turut berjuang bersama umat dlm memerangi musuh-musuh Islam & Al-Qur’an, justru membantu mereka dlm memerangi Al-Qur’an & menghancurkannya, melakukan sumpah bersama mereka dgn semangat petunjuknya, namun, dibalik itu mereka mematikan cahayanya & menghancurkannya. Mereka tidak sadar bahwa sebenarnya mereka sedang memerangi Allah sedangkan tempat kembali setiap orang yang memerangi Allah adalah neraka jahannam. Dan benarlah Allah dlm firman-Nya :
يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ. هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ 
“Mereka menghendaki mematikan cahaya Allah dgn mulut mereka & Allah Maha Sempurna akan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir membencinya. Dialah –Allah- yang telah mengutus Rasul-Nya dgn membawa petunjuk & agama yang benar agar ditampakkan atas seluruh agama walau orang-orang musyrik tak menyukainya”. (As-Shaf : 8-9)

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s