LEMAH IMAN DAN PENYEBABNYA

“iman” itu bertambah dan berkurang, ‘al-îmânu yazdâdu wa yanqushu’: yazdâdu bi al-thâ‘ati wa yanqushu bi al-ma‘âshî. Iman bertambah cirinya adalah bertambahnya ketaatan kepada Allah SWT, dan ciri berkurangnya adalah seseorang ‘gemar’ melakukan perbuatan dosa dan maksiat.


Syeikh Muhammad Shalih al-Munajjid dalam bukunya Obat Lemah Iman menyebutkan beberapa penyebab lemahnya iman.


Pertama, menjauhi lingkungan yang disitu sudah tercipta iklim keimanan hingga jangka waktu yang lama. Allah berfirman, “Belumkah datang waktu kepada orang-orang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan, kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Qs. Al-Hadîd: 16).


Kedua, menjauhi pelajaran dan keteladanan yang baik. Maka carilah orang saleh, yang baik akhlak dan amalnya.


Ketiga, tidak mau mencari ilmu syariat dan tidak mau menggali buku orang-orang salaf (ulama dan orang saleh yang telah mendahului kita) yang memuat keimanan, yang bisa menghidupkan hati.


Keempat, keberadaan orang Muslim di tengah lingkungan yang diwarnai berbagai maksiat, yang ini merasa bangga dengan maksiat yang dilakukannya, yang kedua mendendangkan lagu-lagu, yang ketiga mengebul-ngebulkan asap rokok, yang keempat membentangkan majalah porno, yang kelima lidahnya tidak pernah berhenti mencela, mencaci dan mengejek, yang semuanya suka berkata begini dan begitu, menggunjing dan mengadu domba serta mengumbar cerita-cerita yang tidak senonoh.


Kelima, tenggelam dalam kesibukan duniawi, sehingga hati manusia menjadi hamba keduniaan tersebut. “Sengsaralah hamba dinar dan hamba dirham.” (HR. al-Bukhari, hadits nomor: 2750).


Dalam hadits yang lain, beliau juga menyarankan kepada kita: “Cukuplah bagi salah seorang di antara kamu selagi dia di dunia hanya seperti bekal orang yang mengadakan perjalanan.” (Diriwayatkan oleh Imam al-Thabrani di dalam al-Kabir, 4/78).


Keenam, sibuk mengurusi harta-benda, istri dan anak-anak. Allah SWT berfirman: “Dan ingatlah bahwa hartamu dan anak-anankmu itu hanyalah sebagai cobaan.” (Qs. Al-Anfâl: 28).


Ketujuh, berangan-angan yang serba muluk-muluk. Allah SWT menjelaskan, “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan, bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan kosong, maka kelak mereka akan mengetahui akibat (perbuatannya).” (Al-Hijr: 3).


Imam ‘Ali karramallahu wajhah berkata, “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas diriku kalian adalah mengikuti hawa nafsu dan angan-angan yang muluk-muluk. Tentang mengikuti hawa nafsu, maka dia akan menghalang-halangi dari kebenaran, sedangkan angan-angan yang muluk-muluk, maka ia akan melupakan akhirat.”


Kedelapan, berlebih-lebihan dalam masalah makan, tidur, berjaga pada waktu malam (bergadang), berbicara dan bergaul. “Janganlah kamu sekalian memperbanyak tertawa, karena banyak tertawa bisa mematikan hati.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, nomor hadits: 4193).


Oleh sebab itu, untuk menghindari hal-hal dan faktor-faktor yang dapat menyebabkan kita terjebab dalam “lemahnya iman”, Syeikh al-Munajjid memberikan resep dan tips penting di bawah ini:


Pertama, menyimak Al-Qur’an. “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang dapat menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-Isrâ’: 282).


Kedua, merasakan keagungan Allah. Allah SWT menjelaskan salah satu bukti keagungan-Nya sebagai berikut, “Dan, pada sisi Allah kunci-kunci semua yang ghaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur Dia mengetahuinya pula, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatupun yang basah dan kering, melainkan tertulis di dalam kitab yang nyata.” (Qs. al-An‘âm: 59).


Ketiga, mencari ilmu syar‘i (syariat). Yaitu, ilmu-ilmu yang bisa menghasilan rasa takut kepada Allah dan menambah bobot iman.


Keempat, mengikuti ‘halaqah zikir’. “Tidaklah segolongan orang duduk seraya menyebut Allah melainkan para malaikat mengelilingi mereka, rahmat meliputi mereka, ketentraman hati turun kepada mereka dan Allah menyebut mereka termasuk dalam golongan yang berada di sisi-Nya.” (Shahih Muslim, nomor hadits: 2700).


Kelima, memperbanyak amal saleh. Kisah “berlomba-lomba” dalam berbuat kebajikan dan amal saleh telah dibuktikan oleh Khalifah Rasul SAW pertama, Abu Bakar al-Shiddiq. Suatu hari, Rasul SAW bertanya kepada para sahabatnya, “Siapakah diantara kalian yang berpuasa pada hari ini?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Rasul bertanya lagi, “Lalu, siapakah di antara kalian yang menjenguk orang sakit pada hari ini?” Abu Bakar menjawab, “Saya.” Lalu Rasulullah SAW berkata, “Tidaklah amal-amal ini menyatu dalam diri seseorang, melainkan dia akan masuk surga.” (HR. Muslim).


Keenam, melakukan berbagai macam ibadah. Ibadah dalam Islam sudah dibagi sedemikian rupa oleh Allah SWT. Ada yang bersifat fisik, seperti shalat; harta seperti zakat; ada yang memadukan keduanya seperti haji; ada yang berupa lisan seperti zikir dan do’a. Ibadah dalam Islam pun hukumnya sudah dirinci; ada yang wajib, sunnah, mubah, dlsb. Berbakti kepada orangtua juga merupakan ibadah yang ganjarannya luar biasa. Rasulullah SAW bersabda, “Berbakti kepada kedua orangtua adalah pertengahan dari pintu-pintu surga.” (HR. Bukhari, nomor hadits: 1798).


Ketujuh, takut Su’ul khatimah saat meninggal.


Kedelapan, banyak mengingat mati (dzikrul maut). “Perbanyaklah mengingat ‘sang pemutus segala bentuk kenikmatan’ (kematian).” (HR. al-Tirmidzi, nomor hadits: 230).


Kesembilan, mengingat keberadaan Hari Akhirat. Al-Qur’an telah menyebutkan berbagai dalil tentang kesaksian hari akhirat dalam beberapa suratnya, seperti surah Qaf, al-Waqi‘ah, al-Qiyamah, al-Mursalat, al-Naba’, al-Muthaffifin, dan al-Takwir.


Kesepuluh, Dzikrullah. “Hai orang-orang yang beriman, sebutlah nama Allah dengan sebanyak-banyaknya.” (Qs. Al-Ahzab: 41). “Dan, sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung.” (HR. al-Anfal: 4).

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s