Hadits-Hadits Lemah dan Palsu Seputar Bulan Ramadhan

Syaikh Muhammad Al-Ghazali, ulama Mesir, mengingatkan kita dalam muqaddimah Sirah Nabawiyah, dalam masalah hadits:
  1. Tidak semua yang dikatakan hadits itu hadits.
  2. Walaupun hadits itu shahih tidak semua orang itu benar dalam memahaminya
Dimasyarakat kita beredar hadits – kebersihan itu adalah sebagian dari iman. Ini hadits palsu. Ada bunyi yang sesuai, Thaharah itu adalah separuh dari keimanan. Thahur itu lebih spesifik. Suci lebih spesifik daripada bersih. Tidak semua bersih itu suci. Tapi semua yang suci itu pasti bersih. Teh ini bersih tapi tidak suci. Kita tidak bisa bersuci dengan air teh.
Hadits pertama: berpuasalah kalian niscaya kalian akan sehat. Kalau dijelaskan bahwa puasa ini luar biasa manfaatnya karena medis ini lain masalahnya. Inilah salah satu hikmah puasa bahwa ia baik untuk kesehatan. Tapi kita tidak boleh mengatakan bahwa ucapan tersebut berasal dari Rasulullah.
Hadits ini terdapat dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali. Kemudian datang ulama ahli hadits Hafiz Al’Iraqi kemudian memberi catatan terhadap buku tersebut. Ada sebagian yang dikategorikan sebagai lemah diantaranya hadits diatas. Bahkan diantara ulama bahwa hadits ini bukan Cuma lebih bahkan termasuk palsu.
 
Hadits kedua: tidurnya orang puasa itu ibadah, diamnya tasbih, do’anya mustajab (ini ada dasarnya), dan amalnya dilipatgandakan (ini ada dasarnya). Ada beberapa hal yang memotivasi hadits palsu, salah satunya agar orang bersemangat untuk beramal.
 
Hadits ketiga: wahai manusia, bulan agung telah mendatangi kalian, malamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan … barangsiapa yang malam itu melaksanakan ibadah sunnah pada malam itu sama dengan ibadah wajib pada bulan. Barangsiapa melaksanakan kewajiban maka akan dilipatgandakan 70 kali lipat dibandingkan bulan lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, sedangkan kesabaran itu balasannya surga. Dalam bulan Ramadhan rizki orang ditambah. Barangsiapa di bulan Ramadhan memberikan hidangan berbuka, dosanya diampuni, diselamatkan dari neraka, mendapatkan pahala dari orang berpuasa (ini keutamaan orang membukakan puasa) tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut. Sahabat berkata: tidak semua memiliki makanan untuk orang yang berbuka. Rasulullah bersabda: mereka dapat memberi buka dengan sebutir kurma. Ramadhan ini permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah dan akhirnya itqun minannnaar. Hadits ini tidak shahih.
Bulan Ramadhan itu awal sampai akhirnya ada rahmat, ampunan dan selamat dari neraka. Hadits shahih: barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala dihapuskan dosanya yang lalu. Dalam hadits yang lain, barangsiapa shalat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dihapuskan dosanya yang lalu.
 
Hadits keempat: do’a buka berbuka puasa – allahumma laka shumtu wa bika amantu wa ‘ala rizkika afthartu birahmatika ya arhamarrahimin. Ini bukan hadits, tapi do’a biasa. Kita boleh berdo’a dengan bahasa sendiri, dengan susunan sendiri. Yang penting tidak mengatakan ini hadits.
Kalau ingin berdo’a dengan do’a yang ma’tsur ada.
 
Hadits kelima adalah hadits yang diperselisihkan shahih atau tidak shahih. Imam Ibnu Hajar mengatakan bahwa ini shahih dalam kitab Fathul Bari. Barangsiapa yang meninggalkan puasa satu hari saja pada bulan Ramadhan tanpa ada alasan atau uzur maka dia tidak dapat menggantinya puasa tersebut walaupun dia berpuasa sepanjang tahun. Yang disepakati adalah meninggalkan puasa tanpa uzur syar’I adalah dosa besar.
Tentang orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja apakah mereka wajib menggantikannya. Ibnu Rusyd: orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja wajib mengqadha dan dia berdosa. Ulama lain menganggap bahwa mereka tidak wajib mengqadha. Ini terjadi karena perbedaan dalam menafsirkan hadits bahwa orang yang lupa diwajibkan untuk melaksanakan shalat tersebut. Ulama yang berpendapat wajib: yang lupa saja wajib apalagi yang sengaja. Begitu juga dengan masalah puasa.
Dalam menghukumi suatu hadits, masalah ijtihadiyah. Perbedaan hukum mungkin terjadi. Mengazani anak yang baru lahir, qunut witir termasuk hadits yang diperselisihkan.
 
Hadits keenam: janganlah kalian menyebut Ramadhan karena Ramadhan adalah salah satu nama Allah, tapi sebutkanlah Syahru Ramadhan (bulan Ramadhan). Ini ada dalam tafsir Ibnu Katsir.
 
Hadits ketujuh: bulan Ramadhan itu tergantung antara langit dan bumi dan tidak bisa naik kecuali dengan membayar zakat fitrah. Yang harus kita jadikan keyakinan adalah puasa Ramadhan dan zakat fitrah adalah dua hal yang berbeda. Kalau dia tidak berpuasa maka dia tetap wajib bayar zakat fitrah. Kalau tidak melakukan keduanya, dia dosa dua kali.
 
Hadits kedelapan: Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban bulanku dan Ramadhan bulan umatku.
 
Hadits kesembilan: barangsiapa membukakan orang berpuasa dengan makanan dan minuman yang halal maka para malaikat akan bershalawat kepadanya dan khusus malaikat jibril akan bershalawat padanya pada malam Qadr.
 

Hadits kesepuluh: ketika pulang dari perang Badr, Rasulullah mengatakan bahwa kita telah pulang dari jihad kecil menuju kepada jihad besar yaitu jihad melawan hawa nafsu. Dengan hadits ini mereka bilang bahwa puasa itu adalah jihad besar melawan hawa nafsu.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s