Fenomena Lemahnya Iman

Segala puji bagai Allah. Kita memuji, meminta ampunan dan petunjuk-Nya. Juga meminta perlindungan-Nya dari keburukan jiwa serta amal-amal kita. Siapa yang Allah beri petunjuk, tidak ada yang dapat menyesatkannya dan siapa yang disesatkan-Nya, tidak ada yang dapat menunjukinya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, yang tidak memiliki sekutu. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.

قال تعالى : âيَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢)áآل عمران:102(
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imrân:102)
قال تعالى : âيَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَارِجَالاً كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١   á)النساء:1( 
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS.an-Nisa:1)
قال تعالى : â   يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١á)الأحزاب :70، 71 (
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki untukmu amalan-amalanmu dan mengampuni untukmu dosa-dosamu. dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS.al-Ahzab:70,71)
 
Adapun selanjutnya:
Fenomena lemah iman telah menjadi sesuatu yang menyebar dan merata di tengah kaum muslimin. Sebagian mengeluhkan kerasnya hati mereka dengan berujar, “Aku merasa hatiku keras”, “Aku tidak dapat merasakan nikmatnya ibadah”, “Aku merasa imanku berada di titik nadir”, “Aku tidak dapat merasakan pengaruh bacaan al-Quran”, “Aku mudah terjerumus dalam maksiat”.
Pada sebagian orang nampak sekali pengaruh penyakit ini. Penyakit lemah iman merupakan dasar dari segala kemaksiatan, segala aib dan bencana.
Tema hati merupakan tema yang sensitif dan urgen. Ia dinamakan “القلب” (hati) karena cepatnya berubah. Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– bersabda:
إنما القلب من تقلبهإنما مثل القلب كمثل ريشة معلقة في أصل شجرة يقلبها الريح ظهراً لبطن )رواه أحمد 4/408 وهو في صحيح الجامع 2364(
“Sungguh dia dinamakan القلب  [al-qolb=hati[1]] karena تقلبه ‘taqollubihi’ (perubahannya). Perumpamaan hati adalah  seperti bulu yang tersangkut di pangkal pohon, kemudian angin menelungkupkan bagian atas menjadi bawahnya.[2]
Dalam riwayat lain:
مثل القلب كمثل ريشة بأرض فلاة الريح ظهراً لبطنأخرجه ابن أبي عاصم في كتاب السنة رقم 227 وإسناده صحيح: ظلال الجنة في تخريج السنة للألباني 1/102(
“Perumpamaan hati seperti bulu di tengah padang pasir yang di bolak-balikan angin.” [3]
Kalbu cepat berbolak-balik, sebagaimana yang telah disifati oleh Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– dengan sabdanya:
لقلب ابن آدم أسرع تقلباً من القدر إذا استجمعت غليانا  (المرجع السابق رقم 226 وإسناده صحيح: ظلال الجنة 1/102)
“Sungguh kalbu anak Adam lebih cepat terbolak-balik dari pada bejana yang direbus.” [4]
Dalam riwayat lain:
أشد تقلباً من القدر إذا اجتمعت غلياناً   (رواه أحمد 6/4 وهو في صحيح الجامع رقم 5147)
“Lebih amat terbolak-balik dari pada bejana yang di rebus.”[5]
Allah -subhanahu wata’âla- yang membolak-balikkan hati dan merubahnya sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abdullah Ibn Amr Ibn al-Ash bahwa dia mendengar Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam- bersabda,
إن قلوب بني آدم كلها بين أصبعين من أصابع الرحمن كقلب واحد يصرفه حيث يشاء
“Sesungguhnya hati/kalbu anak keturunan Adam seluruhnya berada di antara jari jemari Zat yang Maha Pengasih, seperti satu kalbu, dibolak-balikkan sekehendak-Nya.”
Kemudian Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam- berdoa:
اللهم مصرف القلوب صرف قلوبنا على طاعتك   (رواه مسلم رقم 2654)
[Allahumma mushorriful quluub, shorrif quluubana ‘alaa thoo’atika]
“Ya Allah, pembolak-balik kalbu, palingkanlah kalbu kami kepada ketaatan-Mu.”[6]
Allah-lah yang memisahkan antara seseorang dengan kalbunya. Seseorang tidak akan selamat kecuali datang kepada Allah dengan hati/kalbu yang selamat. Kedukaanlah bagi pemilik kalbu yang sulit untuk zikrullah (mengingat Allah). Surga dijanjikan bagi siapa yang merasa takut kepada Allah yang Maha Pengasih, padahal tidak terlihat olehnya dan datang dengan hati yang bertobat.
Seorang mukmin hatinya haruslah sensitif, menyadari penyakit yang menyusup dan faktor penyebabnya, untuk kemudian bersegera mengobatinya sebelum menjangkit dan membinasakannya. Perkaranya besar dan serius. Allah –subhanahu wata’âla– telah memperingatkan kita mengenai hati yang keras, terkunci, sakit, buta, buntung, terbalik, ternoda dan dicap.
Tulisan ini merupakan upaya mengenal fenomena penyakit lemah iman, faktor penyebab dan terapinya. Saya meminta kepada Allah semoga menjadikan amal ini bermanfaat bagi diri saya dan saudara-saudaraku kaum muslim. Membalas siapa saja yang berandil dalam penerbitannya dengan ganjaran yang setimpal.
Allah –subhanahu wata’âla– kuasa melembutkan hati-hati kita karena sesungguhnya Dia-lah sebaik-baik pelindung. Cukuplah Dia sebagai penolong dan tempat bergantung.
 
Pertama: Fenomena lemah iman
Sesungguhnya penyakit lemah iman memiliki gejala dan tanda-tanda, di antaranya:
1. Terjerumus dalam kemaksiatan dan melakukan perbuatan haram.
Sebagian orang intens melakukan maksiat. Sebagian lagi hanya melakukan maksiat-maksiat tertentu saja. Ke-sering-an melakukan maksiat akan merubahnya menjadi gaya hidup, sehingga hilang pandangan buruk maksiat dari hatinya secara bertahap, yang pada akhirnya sanggup menampakkan kemaksiatan itu, sebagaimana yang terdapat dalam hadits:
كل أمتي معافى إلا المجاهرين  وإن من المجاهرة أن يعمل الرجل بالليل عملاً ثم يصبح وقد ستره الله فيقول: يا فلان عملت البارحة كذا  وكذا  وقد بات يستره ربه ويصبح يكشف ستر الله عنه  ( رواه البخاري: فتح 10/486)
“Setiap umatku diampuni dosa-dosanya kecuali  yang melakukannya terang-terangan. Di antara bentuknya; seseorang melakukan maksiat di malam hari, paginya Allah telah menutupi dosanya, namun dia berkata, ‘Wahai Fulan, tadi malam aku melakukan begini dan begitu.’ Padahal dia telah bermalam dengan dosa yang tertutupi, namun paginya dia sendiri yang menyingkap apa yang telah Allah tutupi.”[7]
 
2. Merasakan kalbu yang kaku dan keras. Sampai-sampai merasakan hatinya telah berubah menjadi batu keras yang tak dapat menyerap dan tidak terpengaruh oleh apapun. 
Allah -azzawajalla– berfirman:
قال تعالى :  â  ثُمَّ قَسَتۡ قُلُوبُكُم مِّنۢ بَعۡدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَٱلۡحِجَارَةِ أَوۡ أَشَدُّ قَسۡوَةٗ  á(البقرة :74)
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (QS.al-Baqarah:74)
Pemilik hati yang kaku tidak terpengaruh oleh nasihat-nasihat kematian ataupun melihat orang mati dan jenazahnya. Bahkan meskipun dia termasuk yang mengusung jenazah dan menguruk kubur dengan tanah. Langkahnya di antara perkuburan seolah hanya di antara bebatuan.
 
3. Tidak dapat sempurna dalam melakukan beribadah.
Pikirannya selalu melayang-layang saat melaksanakan shalat, membaca al-Quran, membaca doa maupun ibadah lainnya. Tidak dapat menadaburi dan merenungi makna-makna zikir. Membacanya  sambil lalu dan dengan cara yang menjemukan jika telah dihafalnya. Sekalipun telah membiasakan diri berdoa dengan doa-doa tertentu pada waktu yang telah ditentukan oleh sunah, tetap saja dia tidak dapat khusyuk memahami makna-makna doa tersebut. Allah –subhanahu wata’âla– berfirman (dalam hadits qudsi):
لا يقبل دعاء من قلب غافل   (رواه الترمذي رقم 3479 وهو في السلسة الصحيحة 594)
“…tidak diterima doa dari hati/kalbu yang lalai lagi lengah.” [8]
 
4. Malas melakukan ketaatan dan ibadah dan cenderung melalaikan. 
Jika pun melaksanakan, hanyalah sekadar aktivitas kosong tanpa ruh. Allah –azzawajalla– mendeskripsikan orang-orang munafik dengan firman-Nya:
قال تعالى : â   وَإِذَا قَامُوٓاْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُواْ كُسَالَىٰá(النساء :142)
“…dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas…” (QS.an-Nisâ:142)
Termasuk juga ketidakpedulian akan luputnya musim-musim kebaikan serta waktu-waktu ibadah. Ini menunjukkan akan tidak adanya perhatian mendapatkan pahala. Mengakhirkan ibadah haji padahal mampu, enggan berjihad padahal dalam keadaan lapang dan meninggalkan shalat berjamaah sehingga berhujung pada meninggalkan shalat Jumat. Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– bersabda:
لا يزال قوم يتأخرون عن الصف الأول حتى يخلفهم الله في النار   (رواه أبو داود رقم: 679 وهو في صحيح الترغيب رقم 510)
“Masih terus saja suatu kaum meninggalkan saf pertama, hingga Allah akhirkan mereka ke neraka.”[9]
Si penderita tidak sadar dengan teguran hatinya sewaktu tertidur saat masuk waktu shalat wajib, demikian pula ketika terluput melakukan shalat sunah rawatib atau meninggalkan wirid dari wirid-wiridnya. Dia tidak berhasrat untuk mengganti apa yang telah terluput itu. Demikianlah, dia menjadi terbiasa melalaikan segala yang dianggapnya sunah atau wajib kifayah[10], atau bahkan sama sekali tidak menghadiri shalat ‘Id (padahal sebagian ulama mengatakan wajib melaksanakannya), tidak shalat gerhana, tidak respons untuk menghadiri resepsi kematian dan menyalatinya. Dia tidak menginginkan pahala dan tidak merasa butuh. Kontras dengan orang-orang yang telah Allah deskripsikan dalam firman-Nya:
قال تعالى : â إِنَّهُمۡ كَانُواْ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبٗا وَرَهَبٗاۖ وَكَانُواْ لَنَا خَٰشِعِينَ ٩٠ á(الأنبياء :90)
“…Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS.al-Anbiyâ`:90)
Di antara bentuknya yang lain adalah bermalas-malasan dalam melaksanakan ketaatan. Malas melaksanakan sunah rawatib[11], shalat malam, bersegera ke masjid, atau ibadah-ibadah lain semisal shalat dhuha. Jika ibadah-ibadah tersebut saja tidak terbetik dalam pikirannya, apatah lagi dengan shalat taubah atau shalat istikharah.
 
5. Tidak lapang dada, hilang selera, terperangkap dalam ego bahkan seolah ada beban berat yang menghimpit. Akibatnya menjadi cepat emosi atau berkeluh kesah hanya karena urusan sepele. Merasa tertekan dengan tingkah orang di sekitarnya dan menjadi tidak toleran. Nabi –shalallahu alaihi wasalam- mendeskripsikan iman dengan sabdanya:
الإيمان: الصبر والسماحة   (السلسلة الصحيحة رقم 554، 2/86)
“Iman itu kesabaran dan toleran.”[12]
Beliau mendeskripsikan seorang mukmin dengan:
يألف ويؤلف ولا خير فيمن لا يألف ولا يؤلف   (السلسلة الصحيحة رقم 427)
“…beramah-tamah. Tidak ada kebaikan bagi yang tidak beramah-tamah.”[13]
 
6. Tidak peka/terpengaruh dengan bacaan al-Quran.
Tidak dengan janji-janji dan ancaman, tidak pula perintah dan larangan, maupun dengan penggambaran hari kiamat. Mereka yang lemah imannya, berpaling dari mendengar al-Quran. Jiwanya tidak sanggup konsisten membacanya. Ketika membuka al-Quran, hampir-hampir menutupnya kembali.
 
7. Lalai dari mengingat Allah –azzawajalla– dan berdoa kepada-Nya –subhanahu wata’âla-. Sehingga berat ketika berzikir. Jika mengangkat tangan untuk berdoa, begitu cepat diturunkannya lagi kemudian berlalu. Allah mendeskripsikan orang munafik dalam firman-Nya:
قال تعالى : â وَلَا يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلٗا ١٤٢á  (النساء :142)
“…dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS.an-Nisâ:142)
 
8. Tidak murka jika kesucian Allah –azzawajalla– dinistai, karena api cemburu dalam kalbunya telah padam, sehingga tubuhnya tidak mampu melakukan pengingkaran, tidak pula beramar makruf nahi mungkar. Seumur-umur tidak pernah melakukan pembelaan terhadap Allah. Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- mendeskripsikan kalbu seperti ini sebagai kalbu yang lemah, dalam hadisnya:
تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا فَأَىُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ …    
“Fitnah (cobaan) dibentangkan kepada kalbu seperti keset, selembar demi selembar. Bagian manapun dari kalbu yang menyerapnya akan menjadi titik hitam.”
Hingga menjadi seperti yang dikhabarkan Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam-:
أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لاَ يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلاَ يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلاَّ مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ   (رواه مسلم رقم 144)
“Hitam dengan sedikit bintik putih, seperti kerucut yang miring tertelungkup, tidak mengetahui kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran, selain yang diterima oleh hawa nafsunya.”[14]
Yang demikian itu karena telah luntur darinya cinta kebaikan dan benci kemungkaran. Hal itu yang menguasainya sehingga tidak ada yang mendorongnya untuk mengajak berbuat baik maupun mencegah kemungkaran. Bahkan  ketika mendengar kemungkaran terjadi bisa jadi malah meridainya, sehingga dia pun mendapat dosa seperti orang yang menyaksikan namun membiarkannya. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam-:
إذا عملت الخطيئة في الأرض كان من شهدها فكرهها – وقال مرة أنكرها – كمن غاب عنها ومن غاب عنها فرضيها كان كمن شهدها    (رواه أبو داود رقم 4345، وهو في صحيح الجامع 689)
“Jika keburukan dilakukan di bumi dan dia menyaksikan dan membencinya –dalam riwayat yang lain mengingkarinya seperti orang yang tidak hadir. Dan siapa yang tidak menyaksikannya tetapi meridainya maka seperti menyaksikannya.”[15]
Rida dengan perbuatan maksiat merupakan amal hati/kalbu yang menyisakan dosa seperti orang yang melihatnya.
 
9. Senang memamerkan diri, dalam bentuk:
– Senang berkuasa dan memimpin, tanpa memperdulikan tanggung jawab dan bahayanya. Yang seperti inilah yang diperingatkan oleh Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– dengan sabdanya:
إنكم ستحرصون على الإمارة وستكون ندامة يوم القيامة فنعم المرضعة وبئس الفاطمة   (رواه البخاري رقم 6729)
“Kalian akan tamak pada kekuasaan yang pada hari kiamat akan menjadi penyesalan. Nikmat permulaannya dan malapetaka pada akhirnya.
Maksud “nikmat permulaannya” karena perolehan harta, kehormatan dan kenikmatannya. Sedangkan “malapetaka pada akhirnya” karena terdapat pembunuhan, pelengseran, dan kepayahan pada hari kiamat.”[16]
Nabi –shalallahu alaihi wasalam– pun bersabda:
إن شئتم أنبأتكم عن الإمارة وما هي  أولها ملامة  وثانيها ندامة  وثالثها عذاب يوم القيامة إلا من عدل   (رواه الطبراني في الكبير 18/72 وهو في صحيح الجامع 1420)
“Jika kalian ingin, aku dapat menjelaskan apa kekuasaan itu; permulaannya celaan, keduanya penyesalan, ketiganya siksa pada hari kiamat, kecuali bagi yang adil.”[17]
Jika perkaranya adalah menjalankan kewajiban dan tanggung jawab, di mana tidak ada orang yang lebih baik darinya, seraya bersungguh-sungguh, saling menasihati dan adil sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Yusuf –alaihisalam-, kita katakan nikmat dan kemuliaan. Akan tetapi pada kebanyakannya adalah keinginan liar kekuasaan, ingin lebih, menindas para pemilik hak dan memonopoli perintah dan larangan.
– Senang muncul di majelis-majelis dan memonopoli pembicaraan, sedang yang lain wajib mendengarnya. Muncul di majelis-majelis maksudnya mimbar-mimbar. Hal ini telah diperingatkan oleh Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– dengan sabdanya:
اتقوا هذه المذابح – يعني المحاريب  (رواه البيهقي 2/439 وهو في صحيح الجامع 120)
“Jauhilah tempat-tempat penyembelihan –maksudnya mimbar-mimbar.”[18]
– Senang jika orang-orang berdiri menyambutnya, demi memuaskan rasa gila penghormatan pada jiwanya yang sakit. Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– bersabda:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَمْثُلَ لَهُ الْعِبَادُ قِيَاماً فَلْيَتَبَوَّأْ بَيْتاً فِى النَّارِ   (رواه البخاري في الأدب المفرد 977 انظر السلة الصحيحة 357)
“Siapa yang senang dihormati dengan cara hamba-hamba Allah berdiri menyambutnya, maka dia telah menempatkan tempat duduknya di neraka.”[19]
Oleh karena itu, ketika Muawiah mendatangi Ibnu Zubair dan Ibn Âmir, Ibn Âmir berdiri sedangkan Ibnu Zubair tetap duduk, Muawiah berkata kepada Ibn Âmir:
“Duduklah, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– bersabda:
من أحب أن يمثل له الرجال قياماً فليتبوأ مقعده من النار(رواه أبو داود رقم 5229 والبخاري في الأدب المفرد 977 وهو في السلسلة الصحيحة 357)
‘Siapa yang senang dihormati dengan cara hamba-hamba Allah berdiri menyambutnya, maka dia telah menempatkan tempat duduknya di neraka’.”[20]
Tipe orang seperti ini akan marah jika sunah nabi ini diterapkan. Jika masuk suatu majelis, dia tidak rida kecuali ada salah seorang yang berdiri menyambutnya dan mendudukkannya, meskipun dia tahu Nabi –shalallahu alaihi wasalam– melarang hal itu dalam sabdanya:
لا يقيم الرجل الرجل من مجلسه ثم يجلس فيه   (رواه البخاري فتح 11/62)
“Janganlah seseorang itu membangunkan orang lain dari duduknya kemudian dia duduk di situ.” [21]
 
10. Serakah dan kikir.
Allah –subhanahu wata’âla– telah memuji kaum Anshar dalam kitab-Nya:
قال تعالى : â وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَة  á  (الحشر:9)
“…dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS.al-Hasyr:9)
Dijelaskan bahwa orang-orang yang beruntung adalah mereka yang menjauhi keserakahan diri mereka. Tidak diragukan bahwa lemah iman melahirkan keserakahan. Bahkan Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– bersabda:
لا يجتمع الشح والإيمان في قلب عبد أبدا    (رواه النسائي: المجتبي 6/13 وهو في صحيح الجامع 2678)
“Tidak akan berkumpul keserakahan dan keimanan dalam hati seorang hamba sama sekali.” [22]
Mengenai bahaya keserakahan dan pengaruhnya terhadap jiwa telah dijelaskan oleh Nabi –shalallahu alaihi wasalam– dengan sabdanya:
إياكم والشح فإنما هلك من كان قبلكم بالشح  أمرهم بالبخل فبخلوا وأمرهم بالقطيعة فقطعوا وأمرهم بالفجور ففجروا    (رواه أبو داود 2/324 وهو في صحيح الجامع رقم 2678)
“Jauhilah oleh kalian keserakahan. Sungguh binasanya orang-orang sebelum kalian karena keserakahan. Ketika (keserakahan) memerintahkan mereka untuk bakhil, mereka berbuat kekikiran, ketika memerintah untuk memutus persaudaraan, mereka memutus persaudaraan dan ketika memerintah mereka untuk berbuat kekejian, mereka melakukannya.”[23]
Kebakhilan pada pemilik iman yang lemah, membuatnya hampir-hampir tidak mengeluarkan sedikit pun untuk Allah, sekalipun ada yang meminta sedekah dan menyaksikan sendiri kebutuhan saudaranya muslim yang terkena musibah. Tidak ada yang lebih tepat tentang mereka ini daripada firman Allah:
قال تعالى : â هَٰٓأَنتُمۡ هَٰٓؤُلَآءِ تُدۡعَوۡنَ لِتُنفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَمِنكُم مَّن يَبۡخَلُۖ وَمَن يَبۡخَلۡ فَإِنَّمَا يَبۡخَلُ عَن نَّفۡسِهِۦۚ وَٱللَّهُ ٱلۡغَنِيُّ وَأَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُۚ وَإِن تَتَوَلَّوۡاْ يَسۡتَبۡدِلۡ قَوۡمًا غَيۡرَكُمۡ ثُمَّ لَا يَكُونُوٓاْ أَمۡثَٰلَكُم ٣٨ á  (محمد :38)
“Ingatlah, kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Mahakaya, dan kamulah orang-orang yang membutuhkan (karunia-Nya). Dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu.” (QS.Muhammad:38)
 
11. Mengatakan apa yang tidak dilakukannya.
Allah –subhanahu wata’ala– berfirman:
قال تعالى : âيَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٢ كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ٣  á (الصف :2، 3)
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS.as-Shaff: 2,3)
Tidak diragukan kalau ini adalah jenis kemunafikan. Siapa yang perkataannya menyelisihi perbuatannya, menjadi tercela di sisi Allah dan dibenci oleh makhluk. Penghuni neraka nantinya akan membeberkan apa-apa yang telah mereka perintahkan di dunia tetapi tidak melaksanakannya, dan apa yang dilarangnya tetapi dilakukannya.
12. Gembira dan menginginkan saudaranya gagal, rugi, terkena musibah dan lenyap kenikmatannya.
Dia merasa gembira ketika nikmat yang ada pada saudaranya sirna. Karena sesuatu yang menjadikan saudaranya itu istimewa telah tiada darinya.
 
13. Hanya melihat sesuatu perkara dari sisi apakah mengandung dosa ataukah tidak, tanpa melihat lagi apakah hal itu termasuk perkara “makruh” (dibenci) atau tidak.
Sebagian orang, jika hendak mengerjakan suatu amal tidak bertanya mana amal-amalan yang baik, tetapi yang ditanya ‘apakah  perbuatan itu dosa atau tidak?’, ‘haram atau cuma makruh?’. Mental seperti ini dapat menjeratnya ke dalam syirik “subhat” (kerancuan) dan “makruhat” (perkara-perkara yang dibenci), sehingga menjerumuskannya pada perkara haram pada suatu saat. Orang seperti ini tidak mengapa baginya mengerjakan perkara “makruh” (yang dibenci) atau “musytabih” (meragukan), selama perkaranya bukan haram. Inilah yang senyatanya dikabarkan oleh Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– dengan sabdanya:
من وقع في الشبهات وقع في الحرام  كالراعي يرعى حول الحمى يوشك أن يرتع فيه ..  )الحديث في الصحيحين واللفظ لمسلم رقم 1599(
“Siapa yang terjerumus pada subhat (meragukan) telah terjerumus pada yang haram. Seperti penggembala yang menggembalakan gembalaannya di sekitar pagar, tidak ayal akan menerobos ke dalamnya…”[24]
Bahkan sebagian orang jika meminta fatwa dalam suatu perkara dan dikhabarkan bahwa hal itu haram akan bertanya, ‘apakah sangat haram atau tidak?‘ atau ‘seberapa besar dosanya?’. Yang seperti ini, tidak ada pada dirinya kepedulian untuk menjauhi kemungkaran dan kejelekan. Bahkan dia siap untuk terjerumus dalam tahap awal perbuatan haram. Dia menyepelekan dosa-dosa yang dianggap kecil, sehingga menjadi berani melanggar apa yang Allah haramkan. Hilang sekat antara dirinya dan kemaksiatan. Karenanya Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda dalam hadits sahih:
لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِى يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا
“Sungguh aku mengetahui kaum dari umatku yang datang membawa kebaikan seperti gunung Tuhâmah[25], namun Allah –azzawajalla– menjadikannya debu yang beterbangan.
Tsauban –radiallahu’anhu– bertanya,
“Wahai Rasulullah, deskripsikan mereka kepada kami agar kami tidak seperti mereka tanpa menyadarinya?”
Nabi menjawab,
أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا     (رواه ابن ماجة رقم 4245 قال في الزوائد إسناده صحيح ورجاله ثقات وهو في صحيح الجامع 5028(
“Mereka adalah saudara-saudara kalian dan dari bangsa kalian. Malam mereka sama seperti malam kalian[26], akan tetapi jika tengah bersendirian dengan perkara haram mereka melabraknya.”[27]
Engkau dapatkan mereka terjerumus dalam perkara haram tanpa risih dan ragu. Ini lebih buruk dari mereka yang terjerumus setelah ragu-ragu dan risih, meskipun keduanya dalam bahaya, namun keadaan orang yang pertama lebih jelek dari yang kedua. Macam orang seperti ini menggampangkan dosa karena kelemahan imannya. Dia tidak melihat bahwa hal itu adalah sesuatu kemungkaran. Karenanya Ibnu Mas’ud –radiallahu’anhu– menggambarkan perbedaan antara keadaan orang beriman dengan orang munafik dengan:
“Orang beriman melihat dosanya seperti batu di atas gunung dan takut akan menimpanya. Sedangkan pelaku dosa, melihat dosanya seperti lalat yang lewat di hidungnya dan menepisnya.”[28]
 
14. Meremehkan kebaikan dan tidak peduli dengan kebaikan-kebaikan kecil.
Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– telah mengajarkan kita agar tidak seperti itu. Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad –rahimahullah– dari Abu Jarî al-Hajimi, katanya:
“Aku mendatangi Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– dan bertanya:
‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami adalah kaum badui, ajarkan kami sesuatu yang akan Allah beri manfaat kepada kami!'”.
Nabi bersabda:
لا تحقرن من المعروف شيئاً ولو أن تفرغ من دلوك في إناء المستقي  ولو أن تكلم أخاك ووجهك إليه منبسطاً [ رواه أحمد ]
“Janganlah meremehkan kebaikan sekecil apapun, sekalipun sekedar mengosongkan isi embermu untuk orang yang memerlukan air, dan sekalipun berbicara dengan saudaramu dengan wajah yang ceria.”[29]
Seandainya ada yang ingin mengambil air dari sumur, sedangkan engkau telah lebih dulu mengambilnya, maka berikan air itu kepadanya. Amalan seperti ini meskipun nampaknya sepele, tidak semestinya diremehkan. Demikian pula dengan menemui saudaramu dengan wajah ceria, membersihkan kotoran dan sampah dari masjid, walaupun hanya serpihan, semoga saja menjadi sebab pengampunan dosa.
Allah mensyukuri hamba-Nya dengan amalan seperti itu dan mengampuni dosanya. Bukankah Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam– bersabda:
مر رجل بغصن شجرة على ظهر طريق فقال: والله لأنحين هذا عن المسلمين لا يؤذيهم فأُدخل الجنة [ رواه مسلم ]
“Seseorang lewat dijalan dan mendapati ranting kayu menghalangi jalan. Dia berkata, ‘Demi Allah, aku akan menyingkirkannya agar tidak menyakiti kaum muslimin lain!’ Dia pun dimasukkan ke dalam surga.”[30]
Pada jiwa yang meremehkan amalan baik yang ringan, ada kejelekan dan keteledoran. Cukup baginya hukuman atas penghinaannya terhadap kebaikan yang kecil diharamkan dari keistimewaan agung yang dijelaskan oleh sabda Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam-:
من أماط أذى عن طريق المسلمين كتب له حسنة ومن تقبلت له حسنة دخل الجنة   (رواه البخاري في الأدب المفرد رقم 593 وهو في السلسلة الصحيحة 5/387)
“Siapa yang menyingkirkan gangguan dari jalan kaum muslimin, dicatatkan untuknya satu kebaikan. Siapa yang diterima kebaikannya dia masuk surga.”[31]
Mu’adz –radiallahu’anhu– berjalan bersama seorang lelaki. Muadz menyingkirkan batu dari jalan. Lelaki itu bertanya:
“Apa yang kau lakukan?”
Muadz berkata: “Aku mendengar Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam- bersabda:
من رفع حجراً من الطريق كتب له حسنة ومن كانت له حسنة دخل الجنة  (المعجم الكبير للطبراني 20/101، السلسلة الصحيحة 5/387)
“Siapa yang menyingkirkan batu dari jalan, Allah catatkan untuknya satu kebaikan. Siapa yang memiliki kebaikan akan masuk surga.”[32]
 
15. Tidak peduli dengan kondisi kaum muslimin, tidak bersimpati dengan doa, sedekah maupun bantuan lain.
Mati rasa terhadap penderitaan saudara-saudaranya di belahan bumi yang terbelenggu musuh, tertindas, teraniaya dan terkena bencana. Cukup baginya keselamatan dirinya sendiri. Ini adalah dampak lemahnya iman. Seorang mukmin justru sebaliknya. Nabi –shalallahu alaihi wasalam– bersabda:
“Sesungguhnya seorang mukmin bagi ahli iman seperti kepala pada tubuh. Seorang mukmin akan merasa sakit terhadap (penderitaan) ahli iman seperti sakitnya tubuh ketika merasa ada gangguan di kepalanya.”[33]
 
16. Memutuskan tali persaudaraan antara orang yang bersaudara.
Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– bersabda,
“Tidaklah dua orang yang saling berkasih sayang karena Allah -azzawajalla- atau dalam islam, kemudian berselisih, melainkan karena dosa yang pertama kali[34] dilakukan oleh salah seorang dari keduanya.”[35]
Ini adalah dalil akan “karma” yang disebabkan oleh maksiat. Ia dapat menyebabkan terlepasnya ikatan persaudaraan dan memutuskannya. Kebrutalan yang terkadang didapati seseorang dari saudaranya dikarenakan keimanan yang menurun, akibat dari maksiat yang dilakukannya; karena Allah menjatuhkan martabat pelaku maksiat di hati hamba-hamba-Nya. Dia hidup di antara manusia dengan keadaan yang buruk, tak bermartabat, sulit keadaan lagi tidak terhormat. Terluput juga darinya kemuliaan sebagai orang yang beriman serta pembelaan Allah, sesungguhnya allah hanya membela  orang-orang yang beriman.
 
17. Tidak memiliki rasa tanggung jawab untuk mengamalkan agama ini. Tidak berupaya untuk menyebarkan dan berkhidmat kepada agama ini.
Bertolak belakang dengan para sahabat Nabi –shalallahu alaihi wasalam– yang ketika memeluk Islam langsung merasa memiliki tanggung jawab. Lihatlah Tufail Ibn Amr –radiallahu’anhu-, berapa sering dia mondar-mandir menjelaskan Islam kepada kabilahnya, menyeru kepada Allah –azzawajalla-?! Dia bersegera mendakwahi kaumnya. Spontan setelah memeluk Islam dia langsung merasa harus kembali kepada kaumnya, kembali sebagai seorang dai (juru dakwah) penyeru kepada Allah –subhanahu wata’âla-.
Namun sekarang ini kebanyakannya membutuhkan waktu lama antara komitmen beragama hingga sampai pada tahap dakwah kepada Allah –azzawajalla-.
Para sahabat Muhammad –shalallahu alaihi wasalam– memahami bahwa konsekuensi memeluk Islam adalah memusuhi kekafiran, berlepas diri, serta memisahkan diri dari mereka. Tsumamah Ibn Atsâl –radiallahu’anhu-, pemimpin Yamamah, ketika tertawan dibawa dan diikat di masjid. Nabi menawarkan kepadanya untuk memeluk Islam. Allah memberinya cahaya (keimanan) menerima Islam. Setelah memeluk Islam dia berangkat umrah. Ketika sampai di Mekkah, dia berkata kepada kaum Quraisy:
“Tidak akan  sampai kepada kalian sebutir gandum pun dari Yamamah, sampai Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam- mengizinkannya.”[36]
Pemisahan dirinya dengan kaum kafir dan pemboikotan secara ekonomi terhadap kafir Quraisy merupakan bentuk upaya yang mungkin dan tersedia untuk berkhidmat dalam dakwah. Ini terjadi secara langsung sebagai buah keimanan yang mantap sehingga berdampak pada munculnya perbuatan itu.
 
18. Cemas dan ketakutan ketika datang musibah atau terjadi masalah.
Engkau mendapatinya gemetar ketakutan, terganggu keseimbangannya, linglung, egois dan bingung dengan keadaannya ketika tertimpa bencana dan musibah. Jalan keluar tertutup dari pandangannya, dikuasai kegundahan, tidak dapat menghadapi kenyataan dengan stabil dan  dengan hati/kalbu yang kuat. Itu semua dikarenakan lemah iman. Seandainya imannya kuat, tentu dia akan bertahan. Dia akan dapat menghadapi sebesar dan separah apa pun musibah dan bencana dengan kuat dan teguh.
 
19. Banyak berdebat, pamer lagi keras hati.
Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– bersabda:
“Tidaklah tersesat suatu kaum setelah mendapat petunjuk atas apa yang mereka lakukan, melainkan setelah melakukan perdebatan.”[37] 
Perdebatan tanpa dalil dan tanpa tujuan yang benar membuat jauh dari jalan yang lurus. Berapa banyak perdebatan manusia hari ini yang dilakukan dengan cara yang batil, berdebat dengan tanpa dalil dan tanpa petunjuk hadits maupun al-Quran.
Cukuplah untuk dapat meninggalkan bagian tercela ini sabda Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam-:
“Aku adalah pemimpin pada rumah di dasar surga bagi yang meninggalkan riya  (pamer), sekalipun benar.”[38]
 
20. Cinta dunia, sangat bernafsu dan berhasrat terhadapnya.
Ketergantungan hatinya kepada dunia sampai kepada tingkatan akan merasa sakit jika ada kesempatan yang luput darinya, baik dalam bentuk harta, kehormatan, kedudukan maupun tempat tinggal. Menganggap diri bodoh dan buruk perencanaan hanya karena tidak bisa mendapat apa yang didapatkan orang lain. Dia merasa sakit dan amat tertekan jika melihat saudaranya memperoleh apa yang tidak didapatkannya dari kesempatan dunia. Bahkan terkadang mendengki dan mengharap nikmat itu sirna dari saudaranya. Ini bertentangan dengan iman, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam-:
“Tidaklah berkumpul di dalam kalbu seorang hamba antara keimanan dan kedengkian.”[39]
 
21. Mengambil ucapan seseorang dan retorika naluriah akal semata dengan mengesampingkan sisi imaniah. Bahkan hampir-hampir engkau tidak mendapati dalam pembicaraannya unsur al-Quran, sunah atau perkataan generasi pendahulu Islam (salaf) –rahimahullah-.
 
22. Pemanjaan diri yang berlebihan dalam makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan kendaraan.
Engkau dapati dia begitu konsentrasi dengan kebutuhan tersier (bukan kebutuhan pokok) dengan perhatian yang berlebihan. Memuaskan diri dan memaksakan diri membeli pakaian yang mahal, menikmati interior mewah dan menghamburkan harta dan waktunya untuk kemewahan yang bukan kebutuhan darurat (primer), padahal saudaranya dari kaum muslimin di sekitarnya ada yang sangat berhajat kepada harta itu. Dia terhanyut hingga tenggelam dalam kenikmatan dan kemewahan yang dilarang, sebagaimana yang terdapat dalam hadits Muadz Ibn Jabal –radiallahu’anhu– ketika diutus oleh Nabi –shalallahu alaihi wasalam– ke Yaman dengan wasiat:
“Hindarilah memuaskan diri, sesungguhnya hamba Allah bukanlah dia yang suka memuas-muaskan diri.”[40]
 
Kedua: Penyebab Lemah Iman
Lemah iman memiliki banyak sebab. Ada yang bertalian dengan gejalanya, seperti terjerumus dalam maksiat dan sibuk dengan dunia. Berikut ini sebab-sebab lain, tambahan dari apa yang telah disebutkan sebelumnya:
 
1. Menjauh dari suasana imaniah dalam waktu yang lama.
Ini menjadi pemicu lemahnya iman dalam jiwa. Allah –azzawajalla– berfirman:
قال تعالى :  â  أَلَمۡ يَأۡنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا يَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡۖ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ ١٦  á   (الحديد:16)
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS.al-Hadid:16)
Ayat di atas menunjukkan bahwa: meninggalkan suasana imaniah dalam waktu lama menjadi pemicu lemahnya iman di dalam hati/kalbu.
Permisalan:
Seseorang yang menjauh dari saudara seiman dalam waktu lama karena safar, penugasan atau hal lain, akan kehilangan suasana imaniah yang didapatinya ketika bersama saudara-saudaranya. Kekuatan hatinya bersandar pada kebersamaan itu. Seorang mukmin lemah jika bersendirian dan kuat jika bersama saudaranya seiman. Al-Hasan al-Bashri –rahimahullah– berkata:
“Saudara-saudara seiman bagi kami lebih berharga dari pada keluarga. Keluarga mengingatkan kami tentang dunia, sedangkan saudara-saudara seiman mengingatkan kami tentang akhirat.”
Keterpisahan itu jika terus menerus berlangsung akan meninggalkan perasaan terbalik setelah beberapa lama. Merubahnya menjadi ketidaksukaan terhadap suasana imaniah. Berdampak pada hati/kalbu yang mengeras dan gelap, dan membuat cahaya iman menjadi padam. Inilah penjelasan mengenai fenomena kebiasaan buruk pada sebagian orang setelah berlibur, sepulang dari perjalanan wisata atau sekembalinya mereka dari tempat penugasan kerja atau pendidikan.
 
2. Menjauh dari teladan yang saleh.
Seseorang yang belajar kepada orang saleh, berarti mengumpulkan antara alilmu an-nâfi’ (ilmu yang bermanfaat), amal saleh dan kekuatan iman. Tersambung secara teratur dengan keilmuan, akhlak dan keutamaan yang dimiliki sang guru. Jika menjauh beberapa waktu, sang murid akan merasa hatinya kembali mengeras.
Karena itulah ketika Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– wafat dan dikuburkan, sahabat berkata, “Kalbu kami mengingkari”. Mereka gusar, karena sang pendidik, pengajar dan teladan –shalallahu alaihi wasalam– telah wafat. Dalam kisah yang lain diceritakan: “mereka seperti biri-biri di gelap malam dalam hujan yang deras”.
Akan tetapi Nabi –shalallahu alaihi wasalam– meninggalkan di belakangnya orang-orang berkarakter gunung. Setiap mereka pantas untuk menggantikan dan menjadi teladan di antara mereka. Sekarang ini, kaum muslimin sangatlah berhajat kepada teladan seperti mereka.
 
3. Menjauh dari menuntut ilmu syariat dan tersambung dengan kitab-kitab salafussoleh maupun kitab imaniah yang menghidupkan hati.
Terdapat berbagai kitab yang jika dibaca, pembacanya akan merasa keimanan mengalir dalam hati/kalbunya. Menggerakkan dan mendorong keimanan yang melekat dalam jiwanya. Kitab yang utama adalah Kitabulah, al-Quran dan Kitab Hadits kemudian kitab ulama Mujtahidin dalam masalah melembutkan hati, nasihat, dan yang piawai memaparkan masalah aqidah dengan metode yang menghidupkan hati, seperti kitab Alâmah Ibnul Qoyyim, Ibnu Rajab dan selain mereka.
Terputus dari kitab-kitab seperti ini dan tenggelam dalam buku-buku filsafat saja atau buku-buku hukum yang tidak terkandung dalil atau buku bahasa dan usul misalnya, terkadang mewariskan kekerasan hati. Ini bukanlah celaan pada buku bahasa, usul atau yang sepertinya, tetapi peringatan bagi yang berpaling dari kitab-kitab tafsir dan hadits yang hampir-hampir engkau dapati tidak dibaca, padahal dia adalah kitab yang menghantarkan hati/kalbu kepada Allah –azzawajalla-.
Ketika membaca kitab hadits Shahihain misalnya, engkau akan merasa hidup pada masa generasi awal bersama Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– dan para sahabatnya. Dapat merasakan suasana keimanan dari sejarah, kehidupan dan kejadian-kejadian yang berlangsung pada masa mereka.
Sebuah ungkapan:
Ahlul hadits adalah ahlu Rasul. Sekalipun mereka tidak menemani secara fisik tetapi jiwa mereka menemaninya.
Sebab ini –yaitu menjauhi kitab-kitab imani-, dampaknya begitu nyata terhadap mereka yang mempelajari materi-materi yang tidak berhubungan dengan Islam, seperti filsafat, ilmu jiwa, sosiologi dan materi-materi lain yang memalingkan dari materi Islam. Termasuk pada penikmat komik-komik, kisah percintaan, gairah maupun mengikuti berita-berita yang tidak (atau kurang) bermanfaat dari koran-koran, majalah-majalah dsb dan intens mengikutinya.
 
4. Keberadaan seorang muslim di tengah ingar-bingar kemaksiatan.
Si fulan berbangga dengan kemaksiatan yang dilakukannya, sebagian lagi bersenandung musik, sebagian lagi tenggelam dengan kepulan asap rokoknya, sebagian lagi terlena dengan majalah amoralnya, sebagian lagi lisannya tak lepas dari laknat, mencela dan mengumpat dst. Pembicaraan gosip, gibah (bergunjing), adu domba dan berita-berita pertandingan, menjadi suatu yang tidak bisa dihitung banyaknya.
Sebagian majelis tidak disebut kecuali urusan dunia, seperti keadaan kebanyakan majelis dan perkantoran hari ini. Pembicaraan tentang perdagangan, pekerjaan, uang, investasi, problem kerja, kenaikan gaji, promosi, tunjangan dsb menguasai kepedulian banyak orang dalam pembicaraan mereka.
Sedangkan di rumah –tak mengapa kita ungkapkan – malapetaka dan perkara-perkara mungkar membuat kening muslim berkerut dan membuat kalbu terhenyak. Musik cabul, film porno, percampuran antara pria dan wanita (yang bukan mahram) dan kemungkaran lain yang memenuhi rumah-rumah kaum muslimin. Lingkungan seperti ini akan membuat hati menjadi sakit dan menjadi keras tentunya.
 
5. Larut dalam rutinitas dunia hingga hati/kalbunya tersandera. Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– bersabda:
“Celakalah hamba dinar dan hamba dirham” [41]
Sabdanya pula –shalallahu alaihi wasalam-:
“Sesungguh cukuplah bagi kalian dari perkara dunia seperti berbekalnya seorang yang berkendaraan.”[42]
Maksudnya sekadarnya, sekadar cukup sampai ke tujuan.
Apa yang di sampaikan di atas adalah realita yang terjadi sekarang ini, di mana kerakusan terhadap materi dan ketamakan memiliki lebih dari berbagai sisi dunia, menjadikan manusia mengendus-endus di belakang perdagangan, produksi dan investasi-investasi. Benarlah sabda Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam
“Allah -azzawajalla- berfirman: ‘Sesungguhnya kami turunkan (keberadaan) harta untuk menegakkan shalat dan membayar zakat. Seandainya anak keturunan Adam memiliki satu danau harta niscaya dia ingin memilik dua, jika dia memiliki dua danau niscaya ingin memiliki tiga danau. Dan tidaklah anak Adam akan puas kecuali setelah dipenuhi tenggorokannya oleh tanah, lalu Allah mengampuni siapa saja yang bertaubat.”[43]
 
6. Sibuk dengan harta, istri (wanita) dan anak.
Allah –azzawajalla– berfirman:
قال تعالى : âوَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَة á(الأنفال:28)
“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan…” (QS.al-Anfâl:28)
Dan firman-Nya:
قال تعالى : âزُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلۡبَنِينَ وَٱلۡقَنَٰطِيرِ ٱلۡمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلۡفِضَّةِ وَٱلۡخَيۡلِ ٱلۡمُسَوَّمَةِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ وَٱلۡحَرۡثِۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلۡمََٔابِ ١٤á   (آل عمران:14)
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS.Ali Imrân:14)
Makna dari ayat di atas, bahwa kecintaan kepada dunia, -kepada wanita dan anak-anak yang terdepan-, jika lebih didahulukan dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dianggap buruk dan pelakunya tercela. Adapun jika kecintaan itu sesuai implementasi syariat, yang membantu dalam ketaatan kepada Allah, maka hal itu terpuji. Nabi –shalallahu alaihi wasalam- bersabda:
حبب إليّ من الدنيا النساء والطيب وجعل قرة عيني في الصلاة  (رواه أحمد 3/128 وهو في صحيح الجامع 3124)
“Dicintakan kepadaku dari dunia; wanita dan minyak wangi dan dijadikan penyejuk pandanganku pada shalat.”[44]
Kebanyakan orang terbuai memuaskan istri sampai pada perkara-perkara haram dan terbuai memuaskan anak-anaknya hingga tersibukkan dari ketaatan kepada Allah. Nabi –shalallahu alaihi wasalam– telah bersabda:
الولد محزنة مجبنة مجهلة مبخلة  (رواه الطبراني في الكبير 24/241 وهو في صحيح الجامع 1990)
“Anak pembuat kesedihan, kepengecutan, kebodohan juga kebakhilan.”[45]
مخبلة (pembuat kebakhilan) : jika seseorang ingin berinfak di jalan Allah, setan mengingatkannya kepada anak-anaknya, sehingga mengatakan, “Anak-anakku lebih berhak. Akan aku tabung untuk mereka, sepeninggalku mereka akan membutuhkannya”. Sehingga menjadi bakhil untuk berinfak di jalan Allah.
مجبنة  (pembuat kepengecutan) : jika ia akan berjihad di jalan Allah, setan datang dan berkata kepadanya, “Engkau akan terbunuh dan anak-anakmu akan menjadi yatim!” Sehingga dia pun urung dan tidak pergi jihad.
مجهلة (pembuat kebodohan) : ia menjadi tersibukkan dari menuntut ilmu dan hadir di majelis-majelis ilmu maupun membaca kitab ilmu.
محزنة (pembuat kesedihan) : jika anak sakit ia menjadi sedih. Jika anak meminta sesuatu yang dia tidak mampu, dia menjadi sedih. Jika anak besar dan durhaka kepadanya, menjadikannya sedih dan terus menerus dalam kegalauan.
Hadits di atas bukan memaksudkan untuk tidak menikah dan memiliki keturunan atau mendidik anak-anak. Tetapi maksudnya adalah memperingatkan agar tidak tersibukkan karena itu semua dalam perkara haram.
Mengenai fitnah harta, Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– bersabda:
إن لكل أمة فتنة  وفتنة أمتي المال  (رواه الترمذي 2336 وهو في صحيح الجامع 2148)
“Setiap umat memiliki ujian, dan ujian umatku adalah harta.” [46]
Ambisi terhadap harta lebih sangat merusak agama dari pada serigala yang menguasai kawanan domba. Inilah makna sabda Nabi –shalallahu alaihi wasalam-:
ما ذئبان جائعان أرسلا في غنم بأفسد لها من حرص المرء على المال والشرف لدينه  (رواه الترمذي رقم 2376 وهو في صحيح الجامع 5620)
“Tidaklah dua ekor serigala lapar masuk ke kawanan domba lebih merusak dari pada ambisi seseorang kepada harta dan tahta terhadap agamanya.” [47]
Karenanya Nabi –shalallahu alaihi wasalam– menganjurkan mengambil sekadar cukup tanpa berlebihan sehingga tidak menyibukkan dari berzikir kepada Allah. Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– bersabda:
إنما يكفيك من جمع المال خادم ومركب في سبيل الله   (رواه أحمد 5/290 وهو في صحيح الجامع 2386)
“Sesungguhnya cukup bagimu mengumpulkan harta sebagai pelayan dan kendaraan di jalan Allah.” [48]
Nabi –shalallahu alaihi wasalam– telah mengancam mereka yang menumpuk harta, kecuali bagi yang suka bersedekah. Sabdanya,
وَيْلٌ لِلْمُكْثِرِينَ إِلاَّ مَنْ قَالَ بِالْمَالِ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا  (رواه ابن ماجه رقم 4129 وهو في صحيح الجامع 7137)
“Celakalah mereka yang menumpuk harta, kecuali bagi yang berkata dengan hartanya, demikian, demikian, demikian dan demikian .”
Memberikannya ke empat arah; kanan, kiri, depan dan belakangnya [49].
Maksudnya hartanya disedekahkan dan digunakan untuk amalan-amalan baik.
 
7. Panjang Angan-angan.
Allah –subhânahu wata’âla– berfirman:
قال تعالى : â ذَرۡهُمۡ يَأۡكُلُواْ وَيَتَمَتَّعُواْ وَيُلۡهِهِمُ ٱلۡأَمَلُۖ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ  á  (الحجر:3)
“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan, bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS.al-Hijr:3)
Ali –radiallahu’anhu– berkata,
“Sesungguhnya dari hal yang paling aku takutkan atas kalian adalah memperturutkan hawa nafsu dan panjang angan-angan. Memperturutkan hawa nafsu menyimpangkan dari kebenaran. Sedangkan panjang angan-angan menjadikan lupa pada akhirat.”[50]
Dalam atsar lain:
“Ada empat penderitaan: pandangan yang kaku, hati yang keras, panjang angan-angan, tamak dengan dunia.”
Panjang angan-angan membuat malas untuk berbuat ketaatan, jadi penunda, gila dunia, lupa akhirat serta hati yang mengeras. Karena kelembutan hati dan kebersihannya terjadi dengan mengingat kematian, alam kubur, pahala, dosa dan keadaan hari kiamat, sebagaimana firman Allah,
قال تعالى : â  فَطَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡ  ۖá   (الحديد:16)
“Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. “ (QS.al-Hadîd:16)
Sebuah ungkapan:
“Siapa yang pendek angan-angannya akan sedikit kegundahannya dan bercahaya hatinya, karena ketika teringat kematian dia akan bersungguh-sungguh melakukan ketaatan…”[51]
 
8. Yang juga menjadi sebab lemah iman dan kerasnya hati; berlebihan dalam makan, tidur, bergadang, bicara dan bercampur dengan manusia.
Banyak makan memampatkan pikiran, memberatkan badan dalam berbuat ketaatan dan menyuplai tempat jalan setan pada diri manusia, sebagaimana sebuah ungkapan:
من أكل كثيراً شرب كثيراً فنام كثيراً وخسر أجراً كبيراً
“Siapa yang banyak makannya akan banyak minum dan tidurnya sehingga rugi banyak pahala.”
Berlebih-lebihan dalam bicara mengeraskan hati. Banyak bercampur dengan manusia menghalangi seseorang dari mengintrospeksi diri dan merenungi urusan-urusannya. Banyak tertawa menghilangkan rasa malu dalam hati dan mematikannya. Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– dalam hadits sahih:
لا تكثروا الضحك فإن كثرة الضحك تميت القلب   (رواه ابن ماجه 4193 وهو في صحيح الجامع)
“Jangan perbanyak tertawa, sesungguhnya banyak tertawa mematikan hati.” [52]
Demikian pula waktu yang tidak diisi dengan ketaatan kepada Allah menghasilkan hati yang gersang, tidak bermanfaat baginya peringatan al-Quran dan nasihat keimanan.
 
Penyebab lemah iman banyak, tidak dapat dibatasi. Akan tetapi mungkin mengambil petunjuk dari apa yang telah disebutkan apa-apa saja yang belum disebutkan. Orang yang berakal dapat menemukannya sendiri. Kita meminta kepada Allah agar membersihkan hati kita dan melindunginya dari keburukan jiwa-jiwa kita.
Ketiga: Terapi lemah iman
Al-Hakim meriwayatkan dalam kitab Mustadroknya juga at-Thabarani dalam Mu’jamnya bahwa Nabi –shalallahu alaihi wasalam– bersabda:
“Sungguh keimanan itu dibuat di dalam diri tiap kalian seperti dibuatnya pakaian. Maka mintalah kepada Allah agar memperbaharui keimanan kalian.”[53]
Maksudnya bahwa iman ditambal sulam di dalam kalbu seperti pakaian yang ditambal sulam jika sudah menjadi usang. Kalbu seorang mukmin terkadang terselubungi debu dari debu kemaksiatan sehingga menjadi gelap. Gambaran seperti ini digambarkan oleh Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– dengan sabdanya dalam hadits yang sahih:
“Tidak ada kalbu melainkan memiliki selubung seperti selubung bulan. Dia bercahaya, tetapi ketika terselubungi menjadi gelap, jika selubungnya tersingkap ia kembali bersinar.” [54]
Bulan terkadang terselubungi awan sehingga menutupi bias cahayanya. Beberapa waktu kemudian awan itu berlalu dan bulan kembali memancarkan bias cahayanya dan menerangi langit. Demikian pula dengan kalbu orang yang beriman, terkadang dia terselubungi oleh awan gelap dosa akibat maksiat, sehingga cahayanya tertutup, sehingga manusia itu dalam kegelapan dan kegalauan. Jika dia berupaya untuk menambah imannya dan meminta pertolongan Allah –azzawajalla-, gelap dosa yang menyelubungi itu tersingkap, sehingga cahayanya kembali seperti semula.
Di antara pilar penting memahami lemah iman dan memetakan terapinya adalah pengetahuan bahwa iman bertambah dan berkurang. Ini merupakan keyakinan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Mereka mengatakan bahwa iman merupakan ucapan lisan, keyakinan hati dan amalan tubuh, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Hal ini ditunjukkan oleh dalil-dalil al-Quran dan Sunah. Di antaranya firman Allah –ta’âla-:
“…supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). (QS. Al-Fath:4)
Dan firman-Nya:
… ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?’…” (QS.at-Taubah:124)
Sabda Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam-:
“Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran hendaklah merubah hal itu dengan tangannya, jika tidak sanggup maka dengan lisannya, jika tidak sanggup maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemah iman.” [55]
Pengaruh ketaatan dan maksiat dalam keimanan berbanding lurus dengan penambahan dan pengurangannya. Hal ini bisa dimaklumi dan terjadi. Jika seseorang pergi ke pasar menonton penampilan para perempuan berbusana minim, mendengar gurauan dan kekonyolan obrolan orang yang ada di pasar, kemudian beralih pergi ke perkuburan, merenungi dirinya, maka dia akan mendapatkan perbedaan yang jelas antara kedua keadaan di atas, kalbunya begitu cepat berubah.
Terkait dengan tema ini, para Salafussoleh berkata,
“Bentuk kefakihan seorang hamba adalah berkomitmen dengan keimanannya dari apa-apa yang menguranginya. Dan di antara bentuk kefakihan seorang hamba adalah mengetahui apakah imannya bertambah atau berkurang. Dan di antara kefakihan seseorang itu mengetahui bilamana gangguan setan itu datang.”[56]
Yang perlu diketahui bahwa manakala imannya berkurang hingga membuatnya meninggalkan kewajiban atau sampai melakukan perbuatan haram atau urung melakukan perbuatan “mustahabah (baik), misalnya, maka dia musti mengupayakan semampunya agar dapat kembali kepada semangat dan kekuatannya semula dalam beribadah kepada Allah. Inilah manfaat yang dapat diambil dari sabda Nabi –shalallahu alaihi wasalam-:
“Pada setiap amalan ada massa semangat, dan pada tiap massa semangat ada masa lemah. Siapa yang massa lemahnya dalam melakukan sunahku, maka dia beruntung dan siapa yang lemahnya kepada hal lain sungguh dia binasa.”[57]
Sebelum masuk pada pembicaraan mengenai pengobatan, ada baiknya menyebutkan beberapa catatan:
Kebanyakan mereka yang merasa hatinya mengeras mencari pengobatan eksternal, ingin bergantung dengan orang lain, padahal -jika mau– dia dapat mengobati dirinya sendiri, dan begitulah pada asalnya. Karena iman adalah hubungan antara hamba dengan Tuhan-Nya.
Berikut ini akan disebutkan beberapa wasilah syariat yang mungkin bagi seorang muslim mengobati lemah imannya dan menghilangkan kekerasan hatinya setelah berserah diri kepada Allah –azzawajalla– dan bertekat untuk berupaya:
1. Menadaburi al-Quran al-Adhzim yang diturunkan Allah –azzawajalla– yang merupakan obat segala sesuatu dan cahaya, yang dengannya Allah menunjuki siapa saja yang dikehendakiNya. Tidak diragukan padanya terdapat terapi yang agung dan obat yang efektif. Allah –azzawajalla– berfirman:
قال تعالى : âوَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ á(الإسراء:82)
“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman…” (QS.al-Isrâ: 82)
Adapun cara terapinya adalah dengan tafakur dan “tadabur” (merenunginya).
Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– senantiasa menadaburi kitab Allah dan mengulang-ulangi bacaannya ketika shalat di malam hari. Sampai-sampai pada suatu malam hanya mengulang-ulang bacaan satu ayat dalam shalatnya hingga subuh. Beliau membaca firman Allah –ta’âla-:
قال تعالى :  â  إِن تُعَذِّبۡهُمۡ فَإِنَّهُمۡ عِبَادُكَۖ وَإِن تَغۡفِرۡ لَهُمۡ فَإِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ١١٨  á (المائدة:118)
“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS.al-Maidah:118)[58]
Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– menadaburi al-Quran hingga sampai pada tahap yang agung. Ibnu Hibbân meriwayatkan dalam sahihnya dengan sanad yang baik dari Itharah, katanya:
“Aku dan Ubaidullah Ibn Amr mendatangi Aisyah –radiallahu’anha-. Ubaidullah berkata, ‘Ceritakan kepada kami sesuatu yang menakjubkan yang engkau lihat dari Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam-!’
(Aisyah menangis) seraya berkata,
‘Pada suatu malam Rasulullah shalat malam dan berkata, ‘Wahai Aisyah, biarkan aku beribadah kepada Tuhan-ku.’
Aku jawab, ‘Demi Allah, aku suka berada dekat denganmu dan suka apa pun yang menyenangkanmu.’
Nabi pun pergi bersuci kemudian melaksanakan shalat. Rasulullah terus saja menangis dalam shalatnya hingga pangkuannya basah dan terus saja menangis hingga lantai pun basah. Ketika Bilal datang untuk mengumandangkan azan, dia melihat Rasulullah menangis dan bertanya,
‘Wahai Rasulullah, engkau menangis padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?!’
Rasulullah menjawab,
‘Tidakkah semestinya aku menjadi hamba yang bersyukur?!’ Telah turun kepadaku tadi malam ayat-ayat yang celakalah bagi yang membacanya tetapi tidak mentafakuri isinya:
قال تعالى : âإِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٩٠ ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِá  ( آل عمران:190)
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi ….” (QS. Ali Imraân:190)”[59]
Hal ini menunjukkan akan wajibnya menadaburi ayat-ayat-Nya.
Pada al-Quran terkandung: “tauhid” (pengesaan), janji, harapan, hukum-hukum, berita dan kisah-kisah, adab, akhlak maupun berbagai macam pengaruh pada jiwa. Terdapat juga surat-surat tertentu yang membuat hati bergetar melebihi surat-surat yang lain, sebagaimana yang ditunjukkan oleh sabda Nabi:
شيبتني هود وأخواتها قبل المشيب   (السلسلة الصحيحة 2/679)
“Kisah Hud dan kaumnya telah membuatku beruban sebelum waktunya.” [60]
Dalam riwayat lain (disebutkan beberapa ayat):
هود والواقعة والمرسلات وعم يتساءلون وإذا الشمس كورت  (رواه الترمذي 3297 وهو في السلسلة الصحيحة برقم 955)
“(yaitu) Surat Hud, al-Waqiah, al-Mursalât, Amma yatasa’alun dan Idzas Syamsu Kuwwirot.”[61]
Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– menjadi beruban karena apa yang terkandung dari hakikat iman dan pembebanan yang besar yang memenuhi dan memberatkan batin Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– sehingga terlihat pengaruhnya pada rambut dan jasadnya.
قال تعالى : âفَٱسۡتَقِمۡ كَمَآ أُمِرۡتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ  á  (الهود:112)
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersamamu …. (QS.al-Hûd:112)
Para sahabat Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam– membaca al-Quran, menadaburinya dan mendapati pengaruhnya. Abu Bakar –radiallahu’anhu– adalah seorang lelaki yang suka menyesali diri lagi lembut hatinya. Jika mengimami shalat dan membaca Kalamullah, tidak kuasa menahan diri dari tangisnya. Umar pun pernah sakit setelah membaca firman Allah –ta’âla– :
قال تعالى : âإِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَٰقِعٞ ٧   á ( الطور:7)
“Sesungguhnya azab Tuhan-mu pasti terjadi.” (QS. At-Thûr:7) [62]
Isak tangisnya terdengar dari saf di belakangnya ketika beliau membaca firman Allah yang mengisahkan tentang Nabi Ya’kub:
قال تعالى : âقَالَ إِنَّمَآ أَشۡكُواْ بَثِّي وَحُزۡنِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعۡلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٨٦ á ( يوسف:86)
“Ya’qub menjawab: ‘Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya’.” (QS. Yusuf:86)[63].
Utsman –radiallahu’anhu– berkata:
“Jika batin kita bersih, hati tidak akan berhenti berpuas-puas dengan Kalamulah.”
Utsman –radiallahu’anhu– syahid terbunuh, terzalimi dan darahnya membasahi mushaf al-Quran. Berita tentang hal ini dari para sahabat Nabi banyak sekali.
Ayub berkata, “Aku mendengar Sa’id Ibn Jubair mengulang-ulangi bacaan ayat berikut ini dalam shalatnya lebih dari 20 kali:
قال تعالى : âوَٱتَّقُواْ يَوۡمٗا تُرۡجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِۖ   á (البقرة:281)
“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah….” (QS. Al-Baqarah:281)[64]
Ia merupakan ayat al-Quran yang terakhir turun, yang kelanjutannya:
قال تعالى : âثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفۡسٖ مَّا كَسَبَتۡ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ á   
“…kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).”
Ibrahim Ibn Basyâr berkata:
“Ayat yang menghantar wafatnya Ali Ibn al-Fudhail:
قال تعالى : â وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذۡ وُقِفُواْ عَلَى ٱلنَّارِ فَقَالُواْ يَٰلَيۡتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بَِٔايَٰتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٢٧  á (الأنعام:27)
“Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, ‘Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-An’am:27)
Pada saat pembacaan ayat inilah Ali Ibn al-Fudhail wafat, dan aku termasuk orang yang menyalatkan jenazahnya –rahimahullah-.[65]
Hingga pada saat sujud tilawah[66] pun mereka terpengaruh. Di antaranya kisah seorang lelaki yang membaca firman Allah –azzawajalla-:
قال تعالى:âوَيَخِرُّونَ لِلۡأَذۡقَانِ يَبۡكُونَ وَيَزِيدُهُمۡ خُشُوعٗا۩ ١٠٩ á (الإسراء:109)
“Dan mereka menyungkurkan muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk’.” (QS.al-Isra’:109)
Dia pun melakukan sujud tilawah. Kemudian dia berkata mencela dirinya: “Ini adalah sujud, tetapi di mana tangisannya?”
Di antara tadabur yang efektif adalah memperhatikan perumpamaan-perumpamaan al-Quran, karena Allah –subhanahu wata’âla- memberi permisalan dalam al-Quran untuk menggugah kita berpikir dan merenung. Firman-Nya:
قال تعالى  âوَيَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ á(إبراهيم:25)
“…Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim:25)
Firman-Nya yang lain:
قال تعالى  âوَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ  á(الحشر:21)
“…dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir. (QS.al-Hasyr:21)
Salah seorang salaf, suatu kali mencoba memikirkan permisalan dari permisalan yang ada dalam al-Quran, namun dia tidak dapat memahaminya. Dia pun kemudian menangis. Ketika ditanya: “Apa yang membuatmu menangis?” Dia menjawab,
“Allah –subhanahu wata’âla– berfirman:
“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (QS.al-Ankabût: 43)
Aku tidak dapat memahaminya, berarti aku bukan termasuk orang berilmu. Aku menangisi ilmu yang luput dariku.”
Allah telah memberikan permisalan kepada kita dalam al-Quran dalam jumlah yang banyak, di antaranya: permisalan orang yang menyalakan api, permisalan penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar, permisalan biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, permisalan anjing yang menjulurkan lidah, permisalan keledai yang membawa tumpukan kitab, permisalan lalat, laba-laba, permisalan orang buta dan tuli, permisalan orang yang dapat melihat dan mendengar, perumpamaan tumpukan pasir yang ditiup angin kencang, permisalan pohon yang baik dan pohon yang buruk, permisalan air yang turun dari langit dan lentera yang di dalamnya terdapat cahaya api, permisalan seorang budak yang tak dapat berbuat apa-apa dengan seorang yang memiliki banyak sekutu, serta permisalan-permisalan lain. Maksudnya adalah memperhatikan ayat-ayat yang mengandung permisalan-permisalan itu dan memperlakukannya dengan pelakuan khusus.
Ibnul Qoyyim –rahimahullah– merangkum apa-apa yang semestinya dilakukan oleh seorang muslim untuk menterapi kekerasan hatinya dengan al-Quran, dengan mengatakan:
“Penuntasnya pada dua perkara: pertama: engkau pindahkan hatimu dari wilayah dunia lalu menempatkannya di wilayah akhirat, kemudian pertemukan hati itu seluruhnya dengan makna al-Quran dan kemuliaannya, tadaburi dan pahami apa maksudnya, untuk apa diturunkan, dan ambil yang kau butuhkan dari setiap ayat-ayatnya. Lekatkan ayat-ayat itu pada penyakit hatimu, jika ayat-ayat itu menyentuh hatimu yang sakit, sembuhlah hati itu.”
 
2. Merasakan keagungan Allah –azzawajalla-. Mengetahui nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta merenungi dan memahami maknanya.
Menetapi perasaan itu dalam hati dan mengalirkannya ke seluruh tubuh agar direalisasikan dalam praktek amal sesuai dengan perintah hati, karena hati adalah raja dan tuannya, sedangkan anggota tubuh sebagai tentara dan pengikutnya. Jika hati itu baik, baik pulalah amalannya, tapi jika buruk, buruk pulalah amalnya.
Nas-nas al-Quran dan sunah mengenai keagungan Allah banyak sekali. Jika seorang muslim merenungkannya, hati akan bergetar dan jiwanya akan tunduk kepada Zat yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Turut pula tunduk anggota tubuhnya kepada Zat yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Kekhusyukannya kepada Tuhan seluruh makhluk bertambah. Itu bisa dilihat dari nama-nama-Nya yang banyak dan sifat-sifat-Nya yang suci. Dia Maha Agung, Maha Memelihara, Maha Kuasa, Pemilik segala keagungan, Maha Kuat lagi  Maha Mengalahkan, Maha besar lagi Maha tinggi. Yang Hidup dan tidak akan mati, sementara jin dan manusia mengalami kematian. Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) Para Malaikat karena takut kepada-Nya, Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab, terus menerus mengurus makhluk-Nya lagi tidak pernah tidur. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu, Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. Keluasan ilmunya dideskripsikan dalam firman-Nya:
قال تعالى : âوَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلۡغَيۡبِ لَا يَعۡلَمُهَآ إِلَّا هُوَۚ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِۚ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا وَلَا حَبَّةٖ فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡأَرۡضِ وَلَا رَطۡبٖ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ ٥٩ á
 ( الأنعام :59)
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (QS. al-An’âm:59)
Mengenai keagungan-Nya, Allah sendiri mengabarkan:
قال تعالى : âوَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعٗا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٦٧ á( الزمر:67)
 “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS.az-Zumar:67)
Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,
“Allah menggenggam bumi pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya, kemudian berkata, “Aku adalah Raja, mana raja-raja dunia?!”[67]
Hati berdebar-debar dan gemetar ketika merenungi kisah Nabi Musa –alaihissalam-, ketika berkata:
قال تعالى : âرَبِّ أَرِنِيٓ أَنظُرۡ إِلَيۡكَۚá
Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”
Allah menjawab:
قال تعالى : âقَالَ لَن تَرَىٰنِي وَلَٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوۡفَ تَرَىٰنِيۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلۡجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكّٗا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقٗاۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ١٤٣ á(الأعراف:143)
Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (QS.al-A’raf:143)
Ketika Nabi -shalallahu alaihi wasallam- menafsirkan ayat ini yang dibacanya sendiri beliau mengisyaratkan dengan tangannya demikian (beliau meletakkan jempol pada buku atas jari kelingking, kemudian -shalallahu alaihi wasallam- berkata, “Gunungpun runtuh.” [68]
Allah –subhanahu wata’âla– hijabnya cahaya, jika disingkap niscaya terbakarlah seluruh makhluknya.[69]
Di antara keagungan Allah, apa yang disebutkan oleh Rasulullah –shalallahu alaihi wasalam-. Sabdanya,
إذا قضى الله الأمر في السماء ضربت الملائكة بأجنحتها خضعاناً لقوله كأنه سلسلة على صفوان فإذا فزع عن قلوبهم قالوا ماذا قال ربكم قالوا للذي قال الحق وهو العلي الكبير    (رواه البخاري 7043)
“Jika Allah memutuskan suatu perkara di langit, para malaikat mengepakkan sayap-sayapnya, tunduk dengan firman-Nya, seperti rantai di atas batu licin. Jika tersadar dari keterkejutan mereka bertanya, ‘Apa yang dikatakan Tuhan kalian?’ Sebagian menjawab, ‘Yang mengatakan al-Hak adalah Zat yang Maha Tinggi lagi Maha Besar’.”[70]
Nas-nas dalam hal ini banyak sekali. Maksudnya bahwa merasakan keagungan Allah dengan merenungi nas-nas tersebut termasuk yang paling bermanfaat dalam menterapi lemah iman.
Ibnul Qoyyim mendeskripsikan keagungan Allah dengan ungkapan yang indah:
“Allah mengatur malaikat, memerintah dan melarang, mencipta, memberi rezeki, mematikan, menghidupkan, memuliakan dan menghinakan, menggantikan malam dengan siang, merotasi hari di antara manusia, melengserkan negeri dan menggantinya dengan yang lain, perintah dan kekuasaan-Nya terlaku pada seluruh langit dan bumi, di permukaan maupun di dalamnya, di lautan dan udara, ilmunya meliputi segala sesuatu dan mengetahui detail jumlah. Pendengaranya mencapai segala sesuatu, tidak tercampur dan tidak tersamarkan, bahkan mendengar kebisingan dengan bahasa yang berbeda-beda sesuai dengan hajat mereka. Tidak teralihkan antara satu suara dengan suara lain, tidak tercampur karena banyaknya permintaan, tidak silap dengan banyaknya rintihan mereka yang berhajat, penglihatan-Nya meliputi segala sesuatu, dapat melihat rayapan semut hitam di gurun luas pada malam gelap gulita, yang gaib bagi-Nya ada, yang rahasia bagi-Nya terang benderang..
قال تعالى : âيَسَۡٔلُهُۥ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ كُلَّ يَوۡمٍ هُوَ فِي شَأۡنٖ ٢٩  á(الرحمن:29)
(QS.ar-Rahman:29)
Dia mengampuni dosa, memberi jalan keluar, menyingkap kesulitan, menambal yang pecah, mengayakan yang miskin, memberi petunjuk yang tersesat, memberi arahan yang bingung, menolong yang butuh, mengenyangkan yang lapar, memberi pakaian yang telanjang, menyembuhkan yang sakit, memberi keafiatan mereka yang terkena bala, menerima taubat, membalas perbuatan baik, menolong mereka yang teraniaya, menghukum orang yang bengis, menutupi aurat/aib, memberikan keamanan, memuliakan suatu kaum dan menghinakan yang lain.. jika penghuni seluruh langit dan bumi, dari yang pertama hingga yang terakhir, manusia dan jinnya setakwa orang yang paling takwa dari mereka, tidaklah hal itu menambah kerajaan-Nya sedikit pun, jika makhluk-Nya yang pertama hingga yang terakhir, manusia dan jinnya sefajir orang yang paling fajir di antara mereka, tidaklah hal itu mengurangi kerajaan-Nya sedikit pun, jika penghuni langit dan bumi yang pertama hingga yang terakhir, manusia dan jinnya, yang masih hidup dan yang sudah mati, yang kering dan yang basah berkumpul di satu tempat kemudian seluruhnya meminta, niscaya akan diberikan masing-masing apa yang diminta, dan itu tidak mengurangi sebesar biji zarah pun apa yang ada padaNya… Dia adalah yang pertama yang tidak ada sesuatu pun sebelumnya, dan Dia yang terakhir yang tidak ada sesuatu pun setelahnya, Maha Mulia lagi Maha Tinggi, yang paling berhak disebut dan yang paling berhak diibadahi, yang pertama disyukuri, yang paling pemurah dan paling dermawan bagi yang meminta….Dia adalah raja yang tidak ada sekutu baginya, Esa tidak memiliki tandingan, tempat bergantung lagi tidak beranak, Maha Tinggi tidak ada yang menyerupai, segala sesuatu binasa kecuali WajahNya, segala sesuatu sirna kecuali kerajaan-Nya…tidak ada yang berbuat taat kecuali dengan izin-Nya, tidak dimaksiati kecuali dengan sepengetahuan-Nya, jika taat maka disyukuri, jika dimaksiati Dia mengampuni, segala bencana yang ditimpakan adalah keadilan dan segala nikmat yang dicurahkan adalah karunia, saksi yang paling dekat, penjaga yang membimbing, merekam setiap asar dan mencatat ajal, setiap hati kepada-Nya tunduk, dan rahasia bagi-Nya jelas, pemberian-Nya dengan kalam dan azab-Nya juga dengan kalam, firman-Nya,
قال تعالى : âإِنَّمَآ أَمۡرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيًۡٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ٨٢  á (íÓ:82)
(QS.Yâsîn: 82)[71]
 
3. Menuntut ilmu syariat. Ia merupakan ilmu yang pencapaiannya membuahkan rasa takut kepada Allah dan menambah iman kepada Allah –azzawajalla-. Sebagaimana firman Allah –ta’âla-:
قال تعالى : âإِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ á  (الفاطر:28)
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama….” (QS.Fâthir:28)
Tidaklah sama keimanan orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui. Bagaimana bisa menyamai orang yang mengetahui rincian syariat, makna “syahadatain” dan kandungannya, mengenal kehidupan setelah mati seperti fitnah kubur dan keadaan mahsyar, kejadian kiamat, nikmat surga, azab neraka, hikmah syariat pada hukum halal dan haram, rincian sejarah Nabi –shalallahu alaihi wasallam– dan hal-hal lain dari cabang ilmu. Bagaimana akan sama  yang mengetahui perkara-perkara itu dengan yang bodoh terhadap agama, hukum-hukumnya serta apa-apa yang dijelaskan oleh syariat dalam perkara gaib. Mengetahui agama hanya ikut-ikutan, ilmunya hanyalah barang yang tidak berharga (di akhirat).
Firman Allah:
قال تعالى : âقُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِي ٱلَّذِينَ يَعۡلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَۗ á  (الزمر:9)
“…Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”…” (QS.az-Zumâr:9)
 
4. Menghadiri majelis-majelis taklim. Hal ini akan menambah keimanan dengan berbagai sebab, di antaranya yang didapat dari berzikir kepada Allah, rahmat yang meliputi, turunnya ketenangan, para malaikat yang menaungi orang-orang yang berzikir, disebut oleh Allah di langit yang tertinggi, dibangga-banggakan kepada malaikat dan diampuni dosa-dosanya, sebagaimana yang disebutkan dalam Hadits-Hadits sahih, di antaranya sabda Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam-:
لا يقعد قوم يذكرون الله إلا حفتهم الملائكة وغشيتهم الرحمة ونزلت عليهم السكينة وذكرهم الله فيمن عنده   (صحيح مسلم رقم 2700)
“Tidaklah berkumpul suatu kaum berzikir kepada Allah, melainkan malaikat menaungi mereka, rahmat meliputi, turun ketenangan dan Allah menyebutkan mereka kepada para malaikat yang ada di sisinya.”[72]
Sahal Ibn Handzolah –radiallahu’anhu– berkata, Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– bersabda:
ما اجتمع قوم على ذكر فتفرقوا عنه إلا قيل لهم: قوموا مغفوراً لكم   (صحيح الجامع 5507)
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di atas zikir, kemudian membubarkan diri, melainkan dikatakan kepada mereka, ‘Berdirilah! dosa kalian telah diampuni’.”[73]
Ibnu Hajar –rahimahullah– berkata:
“Disebut zikrullah maksudnya adalah kesenantiasaan melakukan amal yang diwajibkan Allah atau disukai, seperti membaca al-Quran, membaca al-Hadits dan mempelajari ilmu.” [74]
Di antara yang menunjukkan bahwa “majelis zikir” menambah Iman adalah apa yang dikeluarkan Imam Muslim –rahimahullah– dalam sahihnya dari Hanzhalah al-Usaidi, katanya:
“Aku bertemu Abu Bakar. Dia berkata:
“Bagaimana keadaanmu, wahai Hanzhalah?”
“Hanzhalah (khawatir) menjadi munafik.” Jawabnya
“Mahasuci Allah. Apa yang engkau katakan?!” Ujar Abu bakar.
Hanzhalah berkata,
“Ketika kami bersama Rasulullah, beliau mengingatkan kami akan neraka dan surga, sampai-sampai seolah kami melihatnya. Ketika meninggalkannya, kami kembali bercampur dengan istri anak-anak dan amanah-amanah –maksudnya rutinitas hidup baik harta benda, produksi dll- kami menjadi banyak lupa (dengan peringatan-peringatan Rasulullah).”
Abu Bakar berkata,
“Demi Allah, aku pun mendapati hal itu.”
Aku dan Abu Bakar pun menemui Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam-. Aku berkata kepada Rasulullah,
“Hanzhalah (khawatir) menjadi munafik wahai Rasulullah.”
Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– bertanya,
“Mengapa demikian?”
“Wahai Rasulullah, ketika kami bersamamu dan engkau ingatkan kami tentang neraka dan surga seolah kami melihatnya dengan mata kepala kami. Namun setelah meninggalkanmu, bertemu kembali dengan istri, anak-anak dan hal-hal yang melalaikan lain, kami jadi banyak lupa dengan peringatan itu.” Jawab Hanzhalah.
Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– berkata,
والذي نفسي بيده إن لو تدومون على ما تكونون عندي وفي الذكر لصافحتكم الملائكة على فرشكم وفي طرقكم ولكن يا حنظلة ساعة وساعة   (صحيح مسلم رقم 2750)
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Jika kalian senantiasa dalam kondisi ketika berada bersamaku dan peringatan-peringatanku, niscaya malaikat akan menyalami kalian di tempat tidur dan di jalan-jalan kalian, akan tetapi wahai Hanzhalah, saat dan saat, 3x.”[75]
Para sahabat –radiallahu’anhum– berupaya konsisten untuk hadir di majelis zikir, dan mereka menyebutnya sebagai iman. Muadz –radiallahu’anhu– berkata kepada seorang lelaki,
“Duduklah bersama kami, beriman untuk sesaat.”[76]
 
5. Di antara sebab yang menguatkan iman, memperbanyak amal saleh dan memenuhi waktu dengannya.
Ini merupakan sebab terapi agung dan merupakan perkara agung, pengaruhnya dalam menguatkan keimanan nampak sekali. Abu Bakar ash-Shiddîk merupakan permisalan yang agung dalam hal ini. Ketika Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– bertanya kepada para sahabatnya,
“Siapa di antara kalian yang hari ini berpuasa?”
Abu Bakar menjawab, “Saya.”
“Siapa yang mengiringi jenazah hari ini?” Tanya Nabi lagi.
“Saya.” Jawab Abu Bakar
“Siapa di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?” Tanya Nabi lagi.
“Saya.” Jawab Abu Bakar.
“Siapa di antara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?” tanya Nabi lagi.
“Saya.” Jawab Aku Bakar.
Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– berkata,
“Tidaklah berkumpul hal itu semua pada seseorang melainkan masuk surga.”[77]
Kisah ini menunjukkan bahwa Abu Bakar as-Shiddîk –radiallahu’anhu– begitu loba untuk memanfaatkan kesempatan dan meragamkan amalan. Momen ini ditanyakan Nabi –shalallahu alaihi wasallam– secara tiba-tiba, yang menunjukkan bahwa hari-hari Abu Bakar –radiallahu’anhu– dipenuhi dengan ketaatan. Generasi Salafussoleh –rahimahullah– dalam mengisi waktu mereka dengan amal saleh telah mencapai tingkat yang agung. Sehingga para Salafussoleh di jadikan permisalan, seperti yang di katakan kepada Hammad Ibn Salamah, Imam Abdurrahman Ibn Mahdi berkata:
“Jika dikatakan kepada Hammad Ibn Salamah, ‘Engkau akan mati besok, tentu dia tidak akan lagi sanggup menambah amalannya.”[78]
 
Seorang muslim pada amalan-amalan salehnya hendaknya memperhatikan perkara-perkara berikut:
– Bersegera melaksanakannya. Sebagaimana firman Allah –ta’âla-:
قال تعالى :  âوَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ١٣٣ á   (آل عمران:133)
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhan-mu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS.Ali Imran:133)
Ayat ini menunjukkan dorongan kepada para sahabat Nabi –shalallahu alaihi wasallam– untuk segera melakukan amal saleh.
Imam Muslim –rahimahullah– meriwayatkan dalam sahihnya dari Anas Ibn Mâlik pada peristiwa perang Badar ketika pasukan kaum musyrikin mendekat, Nabi –shalallahu alaihi wasallam– berkata:
قوموا إلى جنة عرضها السماوات والأرض  (صحيح مسلم 1901)
“Berhamburanlah ke surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”
Umair Ibn al-Hammam al-Anshari berkata,
“Wahai Rasulullah, surga yang luasnya seluas langit dan bumi?!”
“Ya.” Jawab Rasulullah.”
Dia berkata,
“Bakhin, bakhin![79].”
“Apa yang membuatmu berkata ‘bakhin bakhin’?” Tanya Rasulullah.
“Tidak. Demi Allah, wahai Rasulullah. Tidak lain hanya ingin menjadi penghuninya.”
“Engkau termasuk penghuninya.” Ucap Rasulullah.
Umair mengeluarkan kurma dari sakunya dan memakannya, seraya berujar,
“Jika aku masih hidup hingga selesai memakan kurma-kurma ini, sungguh merupakan waktu yang panjang.”
Dia pun membuang kurma yang tersisa kemudian memerangi musuh hingga syahid terbunuh.[80]
Sebelum itu, ada kisah Nabi Musa yang ingin bertemu dengan Allah. Musa berkata,
قال تعالى :  â… وَعَجِلۡتُ إِلَيۡكَ رَبِّ لِتَرۡضَىٰ ٨٤ á   (طه: من الآية 84)
“…dan aku bersegera kepada-Mu, ya Tuhanku, agar supaya Engkau rida (kepadaku)”. (QS.Thâha:84)
Allah pun memuji Nabi Zakaria dan keluarganya:
قال تعالى : âإِنَّهُمۡ كَانُواْ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبٗا وَرَهَبٗاۖ وَكَانُواْ لَنَا خَٰشِعِينَ ٩٠  á(الأنبياء:90)
“…Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada kami.” (QS.al-Anbiya:90)
Nabi –shalallahu alaihi wasallam– bersabda:
التؤدة في كل شيء – وفي رواية خير – إلا في عمل الآخرة   (رواه أبو داود في سننه 5/157 وهو في صحيح الجامع 3009)
“Lirih dalam segala hal –dalam riwayat dalam kebaikan-  kecuali pada amalan akhirat.”[81]
Kontinu dalam ketaatan, sebagaimana sabda Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– dalam Hadits Qudsi:
ما يزال عبدي يتقرب إليَّ بالنوافل حتى أحبه   (صحيح البخاري)
“Hambaku masih saja mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan ‘nawafil’ (sunah) hingga aku mencintainya.”[82]
Ungkapan “masih saja” mengartikan kekontinuan. Nabi –shalallahu alaihi wasallam– bersabda,
تابعوا الحج والعمرة   (رواه الترمذي رقم 810 وهو في السلسلة الصحيحة 1200)
“Iringi amalan Haji dengan Umroh!”[83]
Mengiringi pengertiannya juga termasuk kekontinuan. Ini adalah permulaan penting dalam menguatkan keimanan, tidak mengabaikan jiwanya hingga menjadi condong pada pengabaian dan penyesalan. Konsisten walau sedikit lebih baik dari banyak yang terputus. Konsisten dalam beramal saleh menguatkan keimanan. Nabi –shalallahu alaihi wasallam– penah ditanya,
“Amalan apa yang lebih dicintai Allah?”
Beliau menjawab,
“Yang konsisten walau sedikit.”[84]
Dahulu Nabi –shalallahu alaihi wasallam– jika mengerjakan suatu amalan beliau senantiasa konsisten.[85]
 
– Bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya.
Terapi hati yang keras tidaklah baik jika hanya sewaktu-waktu. Membaik suatu waktu lalu kembali melemah. Yang semestinya adalah perbaikan yang bersambung. Ini tidak akan terwujud kecuali dengan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Allah –subhânahu wata’âla– telah menyebutkan di dalam kitab-Nya akan kesungguhan para wali-wali Allah dalam beribadah di berbagai keadaan, di antaranya:
قال تعالى : âإِنَّمَا يُؤۡمِنُ بَِٔايَٰتِنَا ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُواْ بِهَا خَرُّواْۤ سُجَّدٗاۤ وَسَبَّحُواْ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ وَهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ۩ ١٥ تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمۡ عَنِ ٱلۡمَضَاجِعِ يَدۡعُونَ رَبَّهُمۡ خَوۡفٗا وَطَمَعٗا وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ١٦ á  (السجدة:15,16)
“Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabb-nya, dan mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabb-nya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan setiap rezeki yang Kami berikan.” (QS.as-Sajdah:15-16)
Firman-Nya yang lain:
قال تعالى : âكَانُواْ قَلِيلٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِ مَا يَهۡجَعُونَ ١٧ وَبِٱلۡأَسۡحَارِ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُونَ ١٨ وَفِيٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ حَقّٞ لِّلسَّآئِلِ وَٱلۡمَحۡرُومِ ١٩  á (الذاريات:17-19)
“Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar, dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS.adz-Dzariât: 17-19)
Jika menengok keadaan generasi Salafussoleh dalam menetapi sifat-sifat “‘âbidin” (ahli ibadah) akan membangkitkan rasa takjub, sehingga menuntun kita untuk meneladani mereka. Di antaranya: mereka mengkhatamkan bacaan al-Quran setiap tujuh hari, mereka tetap melaksanakan shalat malam dalam medan perang dan pertempuran, berzikir kepada Allah dan melakukan shalat tahajud, meskipun dalam penjara, kaki mereka memar-memar, air mata membasahi pipi-pipi mereka, mentafakuri penciptaan langit dan bumi. Di antara mereka ada yang mengguraui istrinya seperti ibu yang guraui momongannya, namun ketika istrinya tertidur, dia pun bangkit meninggalkan selimut dan tempat tidurnya melakukan shalat malam. Mereka membagi malam untuk diri dan keluarga, sedang siangnya untuk berpuasa, belajar, mengajar, mengiringi jenazah, menjenguk orang sakit dan membantu kesusahan orang lain, bahkan pada sebagiannya tidak pernah tertinggal “takbiratul ihram” bersama imam selama bertahun-tahun, mereka menunggu shalat setelah shalat, menafkahi keluarga saudaranya yang ditinggal mati selama bertahun-tahun. Siapa yang keadaannya seperti itu, maka imannya senantiasa bertambah.
 
– Jangan membuat diri menjadi jenuh.
Bukanlah maksud dari kontinuitas dalam ibadah atau bersungguh-sungguh melaksanakannya untuk menjadikan dirinya jenuh dan bosan, tetapi maksudnya agar tidak terputus dalam beribadah selama sanggup dilakukan, dengan berupaya sedapat mungkin, baik dalam keadaan sedang bersemangat maupun ketika sedang lemah. Gambaran seperti ini ditunjukkan oleh hadits-hadits Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– di antara sabdanya:
إن الدين يسر ولن يشاد الدين أحد إلا غلبه فسددوا وقاربوا   (صحيح البخاري)
“Agama itu mudah. Tidaklah seseorang itu berlebih-lebihan dalam beragama melainkan dia akan menyerah, karenanya tepatilah (sedapat mungkin) dan serupailah (sedapat mungkin).” [86]
Dalam riwayat lain:
والقصد القصد تبلغوا   (صحيح البخاري)
“Maksudnya adalah engkau sampai kepada maksud.” [87]
Al-Bukhari –rahimahullah– menyebutkan bab: Mâ Yukrohu Minat Tasydid Fil Ibadah (Apa-apa yang dibenci ketika bersangatan dalam ibadah).
Sahabat Anas –radiallahu’anhu– berkata,
“Nabi –shalallahu alaihi wasallam– masuk masjid, dan didapatinya ada tali merentang. Beliau bertanya,
“Tali apa ini?”
Orang-orang menjawab,
“Itu adalah tali milik Zainab, jika mengantuk dia akan berpegangan.” Nabi –shalallahu alaihi wasallam– bersabda,
لا حلوه ليصل أحدكم نشاطه فإذا فتر فليقعد  (صحيح البخاري)
“Jangan demikian. Lepaskanlah tali itu! Hendaknya setiap kalian shalat saat fit, jika lelah hendaknya duduk.” [88]
Ketika Nabi –shalallahu alaihi wasallam– tahu bahwa Abdulllah Ibn Amr Ibn al-Ash melakukan shalat sepanjang malam dan berpuasa setiap hari, Nabi –shalallahu alaihi wasallam– melarang hal itu dan menjelaskan sebabnya dengan sabdanya:
فإنك إذا فعلت هجمت عينك – يعني غارت أو ضعفت لكثرة السهر – ونفهت نفسك – يعني كلت 
“Jika engkau melakukan sedemikian engkau merusak matamu –maksudnya melemah karena banyak bergadang– dan jiwamu menjadi lemah.”
Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– bersabda:
اكلفوا من العمل ما تطيقون فإن الله عز وجل لا يمل حتى تملوا وإن أحب الأعمال إلى الله عز وجل أدومه وإن قل   (رواه البخاري)
“Laksanakanlah amalan yang mampu kalian lakukan. Sesungguhnya Allah -azzawajalla- tidaklah bosan, hingga kamu sendiri yang bosan. Sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah -azzawajalla- adalah yang berkesinambungan walaupun sedikit.” [89]
 
– Mengganti amalan yang tertinggal.
Dari Umar Ibn al-Khaththab –radiallahu’anhu– bahwa Nabi –shalallahu alaihi wasallam– bersabda:
من نام عن حزبه من الليل أو شيء منه فقرأه فيما بين صلاة الفجر وصلاة الظهر كتب له كأنما قرأه من الليل   (رواه النسائي وغيره، والمجتبي: 2/68، صحيح الجامع 1228)
“Siapa yang tertidur dari  “hizb”nya (membaca zikir, doa dan al-Quran) pada suatu malam atau sesuatu darinya, hendaknya dibaca setelah shalat Fajar dan Zuhur. Dicatatkan baginya seperti membaca pada malam hari.” [90]
Aisyah –radiallahu’anha– berkata,
“Dahulu Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– jika melakukan suatu shalat akan kontinu melaksanakannya. Jika luput shalat malam karena tertidur atau sakit, beliau melakukan shalat 12 rakaat di siang hari.”[91]
Ketika Ummu Salamah –radiallahu’anha– melihat Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– melakukan shalat dua rakaat setelah shalat Asar, dia pun bertanya kepada Nabi. Nabi –shalallahu alaihi wasallam– menjawab dengan sabdanya:
يا ابنة أبي أمية سألت عن الركعتين بعد العصر وإنه أتاني ناس من عبد القيس فشغلوني عن الركعتين اللتين بعد الظهر فهما هاتان   (رواه البخاري)
“Wahai putri Abu Umayyah, engkau bertanya mengenai dua rakaat setelah Asar. Telah datang kepadaku orang-orang dari kabilah Abdul Qois, sehingga menyibukkanku dari melaksanakan dua rakaat setelah zuhur, inilah dua rakaat itu.” [92]
Jika beliau belum melaksanakan shalat 4 rakaat sebelum zuhur, beliau akan melaksanakan setelahnya.[93]
Jika terlewat melaksanakan 4 rakaat sebelum zuhur beliau akan melaksanakannya setelah zuhur.[94]
Hadits-Hadits di atas menunjukkan akan “qodho” (mengganti) sunah rawatib.
Ibnul Qoyyim al-Jauziah –rahimahullah– menyebutkan mengenai puasa Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– di bulan Syaban yang lebih banyak dari bulan lain, dengan tiga alasan, pertama: beliau biasa puasa 3 hari setiap bulan. Bila beliau tersibukkan melakukannya selama beberapa bulan, maka beliau ganti pada bulan Syaban agar dapat menyelesaikannya sebelum masuk puasa wajib Ramadhan….[95]
Rasulullah dahulu beri’tikaf pada sepuluh hari akhir Ramadhan. Ketika suatu kali beliau tidak sempat melakukannya karena safar, beliau beritikaf dua puluh hari pada tahun berikutnya.[96]
 
– Berharap dikabulkan sembari khawatir tidak diterima.
Setelah bersungguh-sungguh melakukan ketaatan, semestinya khawatir amalnya tidak diterima. Aisyah –radiallahu’anha– berkata,
“Aku bertanya kepada Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– mengenai ayat ini:
قال تعالى : âوَٱلَّذِينَ يُؤۡتُونَ مَآ ءَاتَواْ وَّقُلُوبُهُمۡ وَجِلَةٌ أَنَّهُمۡ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ رَٰجِعُونَ ٦٠ á  (المؤمنون:60)
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS.al-Mukminun:60)
(Apakah yang takut) mereka yang meminum khamar dan mencuri?” Tanyanya.
Nabi –shalallahu alaihi wasallam– menjawab,
لا يا ابنة الصديق ولكنهم الذين يصومون ويصلون ويتصدقون وهم يخافون أن لا يقبل منهم أولئك الذين يسارعون في الخيرات   (رواه الترمذي)
“Tidak, wahai putri as-Shidhdhik. Akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, melaksanakan shalat dan bersedekah, namun khawatir apa yang dilakukan tidak diterima. Mereka itu adalah orang-orang yang bersegera dalam melakukan kebaikan.” [97]
Abu Darda –radiallahu’anhu– berkata,
“Jika dapat dipastikan bahwa Allah telah menerima satu shalatku, lebih aku sukai dari pada dunia dan seisinya. Allah –subhânahu wata’âla– berfirman:
قال تعالى : â   إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ ٢٧á(المائدة:27)
“…Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”. (QS.al-Maidah:27)[98]
Di antara sifat seorang mukmin adalah merendahkan dirinya kepada kewajiban yang merupakan hak Allah –ta’âla-. Nabi –shalallahu alaihi wasallam– bersabda,
لو أن رجلاً يجر على وجهه من يوم ولد إلى يوم يموت هرماً في مرضاة الله عز وجل لحقره يوم القيامة   (رواه الإمام أحمد المسند 4/185 وهو في صحيح الجامع 5249)
“Jika seorang lelaki mengupayakan sejak lahir hingga mati, total hanya untuk memperoleh rida Allah -azzawajalla-, niscaya dia sendiri akan meremehkan seluruh upayanya itu pada hari kiamat.” [99]
Siapa yang mengenal Allah dan mengenal dirinya, akan jelas baginya bahwa perbekalan yang dibawanya tidak akan cukup, sekalipun mengerjakan amalan seluruh manusia dan jin. Jika pun Allah –subhânahu wata’âla– menerima amalannya, itu karena kemurahan, keutamaan dan kebaikan-Nya. Dia membalas hamba-Nya dengan kemurahan, keutamaan dan kebaikan-Nya.
 
6. Meragamkan ibadah.
Di antara rahmat Allah dan hikmah-Nya, Dia meragamkan untuk kita ibadah. Ada yang “jasadiah” (jasmaniah) seperti shalat dan ada yang dengan harta seperti zakat, ada juga yang keduanya sekaligus seperti haji dan ada pula yang dengan lisan seperti zikir dan doa.
Pada setiap macamnya pun terbagi lagi; ada yang “fardu” (wajib), sunah dan “mustahabah” (disukai). Yang ibadah fardu pun bertingkat sebagaimana halnya sunah, seperti shalat. Di antaranya sunah rawatib sebanyak 12 rakaat di siang hari. Ada juga yang lebih rendah kedudukannya, seperti 4 rakaat sebelum asar dan shalat dhuha. Atau yang lebih tinggi seperti shalat malam. Masing-masingnya pun memiliki tata cara yang beragam. Ada yang dua rakaat dua rakaat, 4 rakaat kemudian witir, ada yang 5 rakaat atau 7 rakaat, atau 9 rakaat dengan satu tasyahud.
Demikianlah, siapa yang memperhatikan pernik ibadah akan mendapati keragaman yang agung dalam jumlah, waktu, bentuk, cara dan hukum. Bisa jadi hikmahnya agar jiwa tidak menjadi bosan, mau terus melakukan dan memperbaharuinya. Dan lagi, jiwa masing-masing orang tidaklah sama dalam kehendak dan kemampuan. Bisa jadi sebagian jiwa menikmati ibadah tertentu melebihi orang lain. Maha Suci Allah yang telah menjadikan pintu-pintu surga dengan berbagai bentuk ibadah, sebagaimana yang disebutkan di dalam Hadits Abu Hurairah –radiallahu’anhu– bahwa Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– bersabda:
من أنفق زوجين في سبيل الله نودي من أبواب الجنة: يا عبد الله هذا خير فمن كان من أهل الصلاة دعي من باب الصلاة ومن كان من أهل الجهاد دعي من باب الجهاد ومن كان من أهل الصيام دعي من باب الريان ومن كان من أهل الصدقة دعي من باب الصدقة   ( رواه البخاري)
“Siapa yang “menginfakkan” (merelakan) 2 suaminya[100] (berjihad hingga mati syahid) di jalan Allah, akan dipanggil dari seluruh pintu surga; “Wahai hamba Allah, ini kebaikan, barang siapa yang ahli shalat, dipanggil dari pintu shalat, siapa yang ahli jihad, dipanggil dari pintu jihad, siapa yang ahli puasa dipanggil dari pintu Royyân, siapa yang ahli sedekah dipanggil dari pintu sedekah.” [101]
Maksudnya adalah yang memperbanyak ibadah sunah dalam ibadahnya. Adapun ‘farâ`id” (kewajiban) semua harus melaksanakannya. Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– bersabda:
الوالد أوسط أبواب الجنة   (رواه الترمذي)
“Orang tua (bapak) adalah pintu pertengahan surga.” [102]
Maksudnya berbakti kepada orang tua.
Keragaman ibadah ini bisa dimanfaatkan untuk mengobati lemah iman. Memperbanyak ibadah yang jiwa condong melakukannya, seraya menjaga “farâ`id wal wajibât” (fardu dan wajib)[103] yang Allah perintahkan.
Dengan demikian amat mungkin bagi seorang muslim jika mengamati nas-nas ibadah yang ada, mendapati macam ibadah tertentu yang memiliki pengaruh dan membantu jiwanya, yang tidak didapati pada ibadah lainnya. Berikut dua permisalan:
Abu Dzar –radiallahu’anhu– meriwayatkan dari Nabi –shalallahu alaihi wasallam-, sabdanya:
ثلاثة يحبهم الله  وثلاثة يشنؤهم الله – أي يبغضهم – أما الثلاثة الذين يحبهم الله الرجل يلقى العدو في الفئة فينصب لهم نحره حتى يقتل أو يفتح لأصحابه تنحى أحدهم فيصلي حتى يوقظهم لرحيلهم والرجل يكون له الجار يؤذيه جواره فيصبر على أذاه حتى يفرق بينهما موت أو ظعن   (مسند أحمد)
“Ada tiga yang dicintai Allah dan ada tiga yang dimurkai Allah. Adapun tiga yang dicintai Allah adalah seorang lelaki yang menghadapi pasukan musuh, meneroboskan dirinya hingga terbunuh atau berhasil membuka pintu masuk bagi sahabat-sahabatnya, (kedua) suatu kaum melakukan safar, titian perjalanan terasa panjang hingga membuat ingin beristirahat, kemudian mereka pun turun. Salah seorang dari mereka memisahkan diri melakukan shalat hingga tiba waktunya melanjutkan perjalanan dia membangunkan sahabat-sahabatnya. (ketiga) seorang lelaki yang mempunyai tetangga yang senantiasa mengganggunya, namun dia bersabar atas gangguan itu hingga mereka dipisahkan oleh kematian atau pergi….”[104]
Seorang lelaki mendatangi Nabi –shalallahu alaihi wasallam– mengadukan kekerasan hatinya. Nabi –shalallahu alaihi wasallam– berkata kepadanya,
أتحب أن يلين قلبك وتدرك حاجتك  أرحم اليتيم وامسح رأسه وأطعمه من طعامك يلن قلبك وتدرك حاجتك   (الحديث رواه الطبراني)
“Apakah engkau suka hatimu menjadi lembut dan hajatmu tersampaikan?! Sayangilah anak yatim, usap kepalanya, beri ia makan dari makananmu, maka hatimu akan menjadi lembut dan hajatmu akan terpenuhi.” [105]
Ini adalah keterangan eksplisit untuk tema mengobati lemah iman.
 
7. Takut Su’ul Khatimah (buruk pengakhiran).
Takut akan su’ul khatimah akan mendorong seorang muslim untuk berbuat ketaatan dan memperbaharui iman dalam hatinya.
Su’ul khatimah sendiri sebabnya banyak, di antaranya:
– Lemah iman dan larut dalam kemaksiatan.
Nabi –shalallahu alaihi wasallam– telah menggambarkannya seperti sabdanya:
من قتل نفسه بحديدة فحديدته في يده يتوجأ – أي يطعن – بها في بطنه في نار جهنم خالداً مخلداً فيها أبداً ومن شرب سماً فقتل نفسه فهو يتحساه – أي يشربه في تمهل ويتجرعه- في نار جهنم خالداً مخلداً فيها أبداً ومن تردى من جبل فقتل نفسه فهو يتردى في نار جهنم خالداً مخلداً فيها أبدا  (صحيح مسلم)
“Siapa yang bunuh diri dengan besi, maka besi itu akan berada di tangannya menikami perutnya di neraka jahanam, kekal selamanya. Siapa yang minum racun hingga membunuh dirinya, maka dia akan meminum racun itu dengan perlahan dalam api neraka jahanam kekal selamanya. Siapa yang menjatuhkan dirinya dari atas bukit untuk bunuh diri, maka dia akan menjatuhkan dirinya ke dalam api neraka jahanam kekal selamanya.” [106]
Pada masa Nabi –shalallahu alaihi wasallam– hal ini terjadi. di antaranya kisah seorang lelaki yang berada bersama pasukan kaum muslimin memerangi tentara kafir. Tidak ada seorang pun yang menandingi cara berperangnya. Nabi –shalallahu alaihi wasallam– berkata:
“Adapun dia, dia termasuk ahli neraka.”
(Mendengar itu) salah seorang kaum muslimin mengikutinya. Lelaki itu mendapat banyak luka parah. Ayalnya ia tergesa-gesa untuk mati. Ditempelkannya ujung pedangnya di dadanya lalu dia sandarkan dirinya pada pedang itu sehingga membunuh dirinya.[107]
Keadaan manusia yang su’ul khatimah banyak. Ahli ilmu menutupi kisah beberapa di antaranya. Dari yang diungkap seperti yang disebutkan Ibnul Qoyyim –rahimahullah– dalam kitab ‘ad-Dâ’ wad-Dawâ’; ketika dikatakan kepada seseorang yang sedang sekarat, “ucapkan la ilaha illallah!” dia berkata, “Aku tidak bisa”, sebagian lagi ketika diminta mengucapkan la ilaha illallah malah bernyanyi. Ketika dikatakan kepada seorang fajir yang lalai dari zikrullah karena perniagaannya, ketika datang kematian diminta mengucapkan la ilaha illallah malah mengatakan, “Ini barang bagus, harganya sesuai dan murah” hingga kematiannya.[108]
Diriwayatkan bahwa sebagian tentara Raja an-Nâshir menghadapi kematian. Ketika anak mereka memintanya mengucapkan la ilaha illallah malah berkata, “an-Nâshir tuanku. anaknya terus menuntunnya tetapi bapaknya tetap mengatakan, an-Nashir tuanku, an-Nashir tuanku hingga mati.” Yang lain dituntun mengucapkan la ilaha illallah malah berkata, “Perbaikilah dar fulaniah jadi sedemikian dan kebun fulani jadikanlah demikian dan demikian”. Dikatakan kepada seorang pendidik saat mendekati ajalnya, ucapkan la ilaha illallah, dia malah mengatakan, “sepuluh dikalikan satu sepuluh…terus mengulang-ulanginya” Hingga mati.[109]
Sebagian lagi wajahnya menjadi hitam atau berubah dari sebelumnya. Ibnul Jauzi –rahimahullah– berkata, “Aku telah mendengar mengenai sebagian orang yang aku kira banyak kebaikannya, pada beberapa malam menjelang kematiannya mengatakan, “Tuhankulah yang telah menzalimi aku” –Maha Suci Allah dari apa yang diucapkannya-. Dia menuduh Allah dengan kezaliman di ranjang kematiannya. Ibnul Jauzi melanjutkan, “Aku pun masih saja risau dan tertarik untuk menemukan yang serupa atas pengalaman hari itu”.[110]
Maha Suci Allah. Berapa banyak manusia yang menyaksikan pelajaran dari kejadian seperti ini. Yang tidak terungkap dari orang-orang yang menyaksikan mereka yang sekarat lebih banyak lagi.[111]
 
8. Memperbanyak mengingat kematian.
Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– bersabda,
أكثروا من ذكر هادم اللذات يعني الموت)    رواه الترمذي (
“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan yaitu kematian.” [112]
Mengingat kematian dapat mengerem kemaksiatan dan melunakkan hati yang keras. Dengan mengingatnya seseorang yang merasa sempit hidupnya akan merasa lapang dan yang merasa lapang hidupnya akan berasa sempit.
Pengingat kematian terbesar adalah ziarah kubur. Karena itu Nabi -shalallahu  alaihi wasallam- memerintahkan dengan sabdanya:
كنت نهيتكم عن زيارة القبور ألا فزوروها فإنها ترق القلب وتدمع العين وتذكر الآخرة ولا تقولوا هجراًرواه الحاكم  (
“Dahulu aku melarang kalian dari ziarah kubur, tetapi sekarang ziarahilah, karena ia dapat melembutkan hati, meneteskan air mata dan mengingatkan akhirat. Namun janganlah berkata yang tidak pantas.”[113]
Bahkan diperbolehkan bagi muslim menziarahi perkuburan kafir untuk mengambil pelajaran. Dalilnya apa yang terdapat dalam Hadits sahih bahwa Nabi –shalallahu alaihi wasallam– menziarahi kubur pamannya kemudian menangis, sehingga menangislah orang di sekitarnya. Beliau berkata:
استأذنت ربي في أن أستغفر لها فلم يأذن لي واستأذنته في أن أزور قبرها فأذن لي فزوروا القبور فإنها تذكر الموت) رواه مسلم  (
“Aku meminta izin kepada Tuhan-ku untuk mengampuninya tetapi Tuhan tidak mengizinkanku. Aku meminta izin untuk menziarahinya maka Tuhan mengizinkanku. Ziarahilah kubur karena akan mengingatkan pada kematian.” [114]
Ziarah kubur termasuk wasilah besar meluluhkan hati dan bermanfaat bagi penziarahnya untuk mengingat kematian. Ia bermanfaat juga bagi penghuni kubur dengan mendoakan mereka. Di antara sunah ketika berziarah kubur sebagaimana doa Nabi –shalallahu alaihi wasallam-:
(السلام عليكم أهل الديار من المؤمنين والمسلمين ويرحم الله المستقدمين منا والمستأخرين وإنا إن شاء الله بكم للاحقون))    رواه مسلم (
“Keselamatan atas kalian penghuni kubur dari orang-orang yang beriman dan orang-orang Islam, semoga Allah memberi rahmat kepada orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang belakangan. Kami insyaAllah akan menyusul kalian.”[115]
Bagi siapa saja yang hendak berziarah kubur, hendaklah memperhatikan adab-adab dan menghadirkan hatinya ketika mendatanginya. Maksudkanlah ziarah itu hanya untuk mengharap wajah Allah dan membetulkan hatinya yang rusak. Andaikan dirinya sebagai orang yang berada di bawah tanah terpisah dari keluarga dan orang-orang yang dicintainya. Merenungi keadaan yang telah berlalu dari saudara-saudaranya, bagaimana upaya teman-temannya mencapai angan-angan dan mengumpulkan harta, kemudian angan-angan itu terputus dan harta tidak dapat mencukupkan mereka. Tanah telah melumat ketampanan paras mereka, tubuh mereka lebur di dalam kubur dan istri-istri mereka menjanda. Ingatlah bencana akibat terperdaya oleh sebab-sebab dan mengandalkan kesehatan dan masa muda, condong kepada bersenang-senang dan bermain-main. Akhirnya mau tidak mau pasti mengalami kematian. Pikirkanlah keadaan penghuni kubur, bagaimana kedua kakinya hancur, kedua matanya meleleh, lidahnya dimakan cacing dan tanah melusuhkan gigi-giginya.[116]
Syair:
Waktu, dunia dan langit yang tinggi tidak akan bertahan
Tidak pula cahaya matahari dan bulan
Semuanya akan tinggalkan dunia walau dengan keberatan[117]
 
Siapa yang banyak mengingat kematian dimuliakan dengan tiga perkara: disegerakan bertaubat, ketenangan hati dan giat beribadah.
Siapa yang melupakan kematian mengakibatkan pada tiga perkara: menunda untuk bertaubat, tidak rida dengan kecukupannya dan malas untuk beribadah.
Yang juga dapat membekas dalam jiwa menyaksikan orang yang sekarat. Melihat mayat, menyaksikan orang yang meregang nyawa, nyawa yang tercabut dan membayangkan keadaan setelah kematiannya dapat memutus kenikmatan-kenikmatan dari jiwa, mencegah mata tertidur dan badan beristirahat, sehingga membangkitkannya untuk beramal dan menambah kesungguhan.
Hasan Al-Bashri menjenguk orang sakit dan didapatinya dalam keadaan sakaratul maut. Dia perhatikan kepayahan dan kesusahan orang itu sampai meninggal. Ketika kembali kepada keluarganya, air mukanya berbeda dengan saat dia keluar. Keluarganya menawarkan makan kepadanya, “Makanlah! Semoga Allah merahmatimu.” Hasan berkata, “Wahai keluargaku. Nikmatilah makanan dan minuman kalian. Demi Allah, aku telah melihat seorang yang meregang nyawa dan masih saja memikirkannya.”
Dari kesempurnaan merasai kematian turut menyalati jenazah, turut mengusung jenazah di pundaknya sampai ke kuburan, turut mengubur dan menimbunkan tanah ke atas kubur. Semua itu mengingatkan kepada akhirat. Nabi –shalallahu alaihi wasallam– bersabda,
عودوا المرضى واتبعوا الجنائز تذكركم الآخرة)   رواه أحمد  (
“Jenguklah orang sakit dan iringi jenazah, yang demikian itu mengingatkan kalian pada akhirat.[118]
Lebih dari itu, ada pahala besar bagi yang mengiringi jenazah. Nabi -shalallahu alaihi wasallam– menyebutkan dalam sabdanya,
من شهد الجنازة من بيتها – وفي رواية: من اتبع جنازة مسلم إيماناً واحتساباً – حتى يصل عليها فله قيراط ومن شهدها حتى تدفن فله قيراطان من الأجر
“Barang siapa bertakziah dari rumah duka -dalam riwayat lain: Barang siapa yang mengantarkan jenazah muslim dengan keimanan dan berharap pahala- hingga menyalatinya, maka baginya satu qirath, dan barang siapa bertakziah hingga penguburan maka baginya dua qirath pahala.”
Ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, dua qirath itu apa?” Beliau menjawab,
مثل الجبلين العظيمين)   رواه الشيخان وغيرها (
“Seperti dua gunung yang besar.”
Dalam riwayat lain, setiap qirath besarannya seperti gunung Uhud.”[119]
Dahulu para salaf –rahimahumullah– menasihati dengan mengingatkan kematian manakala ada seseorang yang terjerumus dalam maksiat. Ketika di majelis salah seorang salaf –rahimahullah– ada seseorang yang menghibah (menggunjing) orang lain, dia menasihati orang yang menghibah dengan mengatakan, “Ingatlah pada kapas bila diletakkan di kedua matamu.” Maksudnya ketika dikafankan.
 
9. Di antara perkara-perkara yang memperbaharui iman dalam hati, mengingat kejadian akhirat.
Ibnul Qayyim –rahimahullah– berkata: “Jika seseorang sehat akal pikirannya dia diberi “bashiroh” (kesadaran) berupa cahaya di hati. Menyadari janji dan ancaman, surga dan neraka dan apa yang Allah janjikan di dunia untuk wali-walinya dan musuh-musuhnya. Jadilah dia manusia yang paling sadar.
Sungguh manusia akan keluar dari kubur-kuburnya bergegas memenuhi seruan yang hak. Malaikat langit turun mengelilingi mereka. Allah telah datang, dan telah ditegakkan kursi-Nya untuk memutuskan perkara. Terang benderanglah bumi (padang Mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhan-nya; diberikan buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para Nabi dan saksi-saksi. Timbangan (amal) telah ditegakkan, lembaran-lembaran (catatan amal) beterbangan, berkumpul orang yang berselisih, tersangkut setiap yang berhutang dengan piutangnya. Ditampakkan telaga dan gelas-gelasnya dari dekat, banyak yang kehausan dan hanya sedikit yang mendatangi telaga itu. Jembatan telah di bentangkan untuk menyeberang dan manusia pun berdesak-desakan terhadapnya. Cahaya dibagikan mengusir kegelapannya untuk dapat menyeberang, sementara api neraka menyala-nyala satu sama lain di bawahnya. Sekelompok berjatuhan dan sekelompok lain selamat. Dibukakan dalam hatinya mata yang melihat hal itu, hatinya seolah menyaksikan kejadian akhirat, peristiwa demi peristiwa dan kekekalannya, sedang dunia begitu cepat berakhir.[120]
Al-Qur’an banyak menyebutkan tentang kejadian hari akhir seperti yang terdapat pada surat Qaaf, surat al-Waaqi’ah, Al-Qiyaamah, Al-Mursalat, An-Nabaa, Al-Muthaffifîn dan At-Takwir. Demikian juga dalam kumpulan Hadits disebutkan dalam bab kiamat, padang mahsyar, surga dan neraka. Selain itu semua, perlu juga kita membaca buku-buku para ulama yang setema, seperti kitab Haadii Al-Arwah (petunjuk ruh) karya Ibnul Qayyim, An-Nihaayah fi Al Fitan  (akhir dari ujian) karya Ibnu Katsir, At-Tadzkirah fi Ahwaal Al Mauta wa Umuril Âkhirah (pengingat peristiwa kematian dan perkara akhirat) karya Qurthubi, Al-Qiyamat Al Kubra, Al-Janah wa An-Naar (Surga dan neraka) karya Umar Al Asyqari dan yang lainnya. Tujuannya adalah untuk menambah keimanan, dengan mengetahui kejadian hari kiamat seperti kebangkitan, “ma’sar” (pengumpulan), syafa’at, penghitungan, pembalasan, qishash, timbangan, telaga, daarul qarar, surga dan neraka.
 
10. Di antara perkara-perkara yang dapat memperbaharui iman, respek dengan tanda-tanda alam.
Al-Bukhari, Muslim dan selain keduanya meriwayatkan: “Bahwa Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam- jika melihat awan mendung atau angin berubah air mukanya.”
Aisyah –radiallahu’anha– berkata, “Wahai Rasulullah, aku perhatikan orang-orang jika melihat mendung gembira, berharap akan turun hujan. Namun aku perhatikan jika melihatnya engkau justru nampak khawatir.”
Nabi menjawab,
يا عائشة ما يؤمنني أن يكون فيه عذاب قد عذب قوم بالريح وقد رأى قوم العذاب فقالوا: (هذا عارض ممطرنا)    (رواه مسلم)
“Wahai Aisyah, apa yang menjamin, bisa jadi itu adalah azab. Telah diazab kaum terdahulu dengan angin, dan mereka melihat sendiri azab itu datang seraya berkata, “Ini adalah hujan yang datang.”[121]
Nabi –shalallahu alaihi wasallam– spontan berdiri ketika melihat gerhana, sebagaimana yang disebutkan dalam sahih al-Bukhari dari Abu Musa –radiallahu’anhu– katanya,
“Terjadi gerhana matahari. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- spontan berdiri, khawatir terjadi kiamat.”[122]
Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– memerintahkan kita ketika terjadi gerhana matahari maupun bulan untuk bersegera melaksanakan shalat. Beliau mengabarkan bahwa keduanya adalah tanda-tanda yang Allah berikan untuk mempertakuti hamba-Nya.
Tidak diragukan bahwa respons hati terhadap kejadian dan spontanitas memperbaharui keimanan dalam hati dan mengingatkan azab Allah, kekerasan azab-Nya, kedahsyatan-Nya, kekuatan-Nya dan siksa-Nya.
Aisyah –radiallahu’anha–  berkata, “Nabi –shalallahu alaihi wasallam– menghela tanganku kemudian menunjuk ke bulan, seraya berkata,
يا عائشة: استعيذي بالله من شر هذا فإن هذا هو الغاسق إذا وقب  (رواه أحمد)
“Wahai Aisyah, mintalah perlindungan kepada Allah dari keburukan ini, sesungguhnya ini adalah kejahatan malam jika telah gelap gulita.”[123]
Contoh yang lain:  merasakan pengaruh ketika lewat di tempat bekas bencana, azab atau kubur orang-orang yang zalim.
Ibnu Umar –radiallahu’anhuma– meriwayatkan bahwa Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– berkata kepada para sahabatnya ketika sampai al-Hijr:
لا تدخلوا عليهم هؤلاء المعذبين إلا أن تكونوا باكين فإن لم تكونوا باكين فلا تدخلوا عليهم لا يصيبكم ما أصابهم    (رواه البخاري)
“Janganlah masuk ke dalamnya, mereka itu diazab, kecuali sambil menangis. Jika kalian tidak menangis janganlah masuk ke dalamnya, agar kalian tidak mengalami apa yang mereka alami.”[124]
Demikianlah. Namun sekarang ini orang-orang mendatanginya untuk berwisata dan berfoto. Maka renungkanlah!!
 
11. Yang juga merupakan perkara yang amat penting dalam pengobatan lemah iman adalah zikrullah.
Ia merupakan pembersih hati dan penyembuh. Obat di kala sakit. Ia merupakan ruh amal saleh. Allah –subhânahu wata’âla– telah memerintah berzikir dengan firman-Nya,
قال تعالى : âيَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرٗا كَثِيرٗا á  (الأحزاب:41)
“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dengan sebanyak-banyaknya.” (QS.al-Ahzab:41)
Allah menjanjikan keberuntungan bagi siapa yang banyak melakukannya:
قال تعالى : âوَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٤٥ á  (الأنفال:45)
“…dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (QS.al-Anfâl: 45)
Zikrullah lebih besar dari segala-galanya:
قال تعالى : âوَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُá3  (العنكبوت:45)
“…dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain)….” (QS.al-Ankabut:45)
Ia merupakan wasiat Nabi –shalallahu alaihi wasallam– bagi yang tidak mampu menjalankan syariat Islam dengan maksimal:
لا يزال لسانك رطباً من ذكر الله   (رواه الترمذي)
“Senantiasakan lisanmu basah berzikir kepada Allah.”[125]
Zikrullah diridai Allah yang Maha penyayang dan mengusir setan, penghilang kegalauan dan kerisauan, pendatang rezeki, pembuka pintu-pintu makrifat, menjadi tanaman di surga dan sebab terselamatkan dari ketergelinciran lisan. Ia merupakan pelipur kesedihan fakir miskin yang tidak mampu bersedekah. Allah mengganti ketidakmampuannya dengan zikir, menggantikan kedudukan ketaatan badaniah dan harta.
Meninggalkan zikrullah menjadi sebab kerasnya hati.
Syair:
Lupa berzikir kepada Allah adalah kematian hati mereka
Tubuh mereka menjadi kubur sebelum perkuburan
Ruh-ruh mereka terperangkap dalam jasad
Tidak ada bagi mereka kebangkitan pada hari kebangkitan
 
Karenanya, siapa yang ingin mengobati lemah imannya haruslah memperbanyak zikrullah. Allah berfirman:
قال تعالى : âإِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ وَٱذۡكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلۡ عَسَىٰٓ أَن يَهۡدِيَنِ رَبِّي لِأَقۡرَبَ مِنۡ هَٰذَا رَشَدٗا ٢٤  á  (الكهف:24)
“…dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa….” (QS.al-Kahfi:24)
Allah -subhânahu wata’âla– menjelaskan pengaruh zikrullah terhadap hati:
قال تعالى : âأَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ ٢٨á  (الرعد :28)
“…Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS.ar-Ro’du:28)
Ibnul Qoyyim –rahimahullahu ta’âla– berkata mengenai pengobatan dengan berzikir,
“Pada hati ada kekerasan yang tidak bisa dilembutkan kecuali dengan zikrullah (menyebut dan mengingat Allah). Hendaklah seorang hamba mengobati kekerasan hatinya dengan berzikir kepada Allah –ta’âla-. Seseorang berkata kepada al-Hasan al-Bashri –rahimahullah-,
‘Wahai Abu Sa’id (panggilan al-Hasan), aku mengadu kepadamu akan kekerasan hatiku!
Al-Hasan menjawab,
‘Lembutkan dengan zikir’.
Karena ketika hati bertambah lalai, semakin keras pulalah ia. Jika dia berzikir kepada Allah –ta’âla-, lenyaplah kekerasan itu seperti timah yang meleleh terkena api. Tidak ada yang melembutkan kekerasan hati seperti zikrullah –azzawajalla-. Zikir adalah kesembuhan hati dan obatnya, sedangkan kelalaian adalah penyakitnya. Kesembuhan dan obat hati ada pada zikrullah –ta’âla-. Makhul berkata,
“Zikrullah (menyebut dan mengingat Allah) adalah obat, sedangkan ‘zikrunnâs’ (mengingat manusia) adalah penyakit.”[126]
Dengan berzikir seorang hamba telah mengalahkan setan, sebagaimana setan mengalahkan manusia dengan lalai dan lupa. Sebagian salafussoleh berkata, “Jika zikir telah bertempat dalam hati, tatkala setan mendekat, ia mengalahkannya, seperti manusia yang mendekat kepada setan, setan akan mengerumuninya –maksudnya mengerumuni untuk berusaha mendekati hati orang beriman-, mereka akan mengatakan, “Tidak ada peluang untuk yang ini.” Dikatakan pula, “Dia telah disusupi jiwa manusia!”.[127]
Manusia yang tersurupi setan kebanyakannya adalah yang biasa lalai dan tidak membentengi diri dengan wirid maupun zikir. Karena itulah mudah bagi setan untuk menyurupinya.
Sebagian mereka yang mengeluhkan lemah iman, terasa berat bagi mereka terapi “qiyamullail” (shalat malam) dan ibadah sunah. Sehingga cocok bagi mereka pengobatan dengan menggunakan zikrullah dan mengonsistenkannya. Hafalkan zikir-zikir mutlak dan ulang-ulangilah bacaannya, seperti:
لا إله إلا الله لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير
[laa ilaaha illallah laa syarikalahu, lahulmulku walahul hadmu wahua ‘ala kulli syai`in qodiir]
Artinya: “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah yang tidak memiliki sekutu, milik-Nya Kerajaan dan segala pujian dan Dia mampu atas segala sesuatu.”
سبحان الله وبحمده وسبحان الله العظيم
[subhanallah wabi hamdihi wa subhanallahal adzim]
Artinya: “Maha suci Allah dan segala pujian-Nya, dan Maha Suci Allah yang Maha Agung.”
لا حول ولا قوة إلا بالله
[laa haula walaa quwwata illa billah]
artinya: “Tidak ada daya dan kekuatan selain dengan kekuatan Allah.”
Serta zikir-zikir lainnya.
Hafalkan juga “zikir-zikir muqoyyadah” (zikir yang terikat dengan tempat dan waktu) yang terdapat dalam sunah, ulang-ulangi bacaannya sesuai waktu dan tempatnya, seperti zikir pagi dan petang, ketika tidur, bangun dari tidur, ketika bermimpi, ketika makan, masuk kamar mandi, melakukan safar, ketika turun hujan, ketika mendengar azan, ketika masuk masjid, beristikharah, ketika mendapat musibah, melewati kubur, ada angin kencang, melihat hilal (awal bulan), naik kendaraan, ketika bersin, mendengar kokok ayam, ringkikan keledai, penutup majelis dan melihat tempat yang terkena musibah.
Tidak diragukan, bahwa siapa yang menghafal semua doa itu akan mendapati pengaruh dalam hatinya. Syaikhul Islam Ibn Taimiyah memiliki risalah yang bermanfaat mengenai zikir yang dinamakan al-Kalim at-Thayyib, diringkas oleh al-Albani dengan nama Sahih al-Kalim at-Tayyib.
 
12. Di antara perkara yang memperbaharui iman adalah bermunajat kepada Allah dan luluh di hadapan Allah –azzawajalla-.
Semakin hamba itu merendah dan tunduk, semakin dekat dia dengan Allah. Karena itu Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– bersabda,
أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد فأكثروا الدعاء   (رواه مسلم)
“Posisi seorang hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika sujud. Perbanyaklah berdoa (ketika itu).”[128]
Yang demikian karena sujud adalah posisi merendah dan menunduk, tidak seperti posisi lain. Ketika seorang hamba menempelkan keningnya di tanah –sementara Allah Maha Tinggi- menjadilah dia paling dekat dengan Tuhan-nya. Ibnul Qoyyim –rahimahullah– berkata dalam ungkapan yang indah dengan bahasa merendah dan luluh bagi orang yang bertaubat di hadapan Allah:
“Bagi Allah ucapan yang indah sebagaimana ungkapan seorang:
أسألك بعزك وذلي إلا رحمتني أسألك بقوتك وضعفي وبغناك عني وفقري إليك هذه ناصيتي الكاذبة الخاطئة بين يديك عبيدك سواي كثير لا ملجأ ولا منجا منك إلا إليك أسألك مسألة المساكين وأبتهل إليك ابتهال الخاضع الذليل وأدعوك دعاء الخائف الضرير سؤال من خضعت لك رقبته ورغم لك أنفه وفاضت لك عيناه وذل لك قلبه
“Aku memohon dengan kemuliaan-Mu dan kehinaanku agar Engkau merahmatiku. Aku meminta dengan kekuatan-Mu dan kelemahanku, dengan kekayaan-Mu dan kefakiranku kepada-Mu, ini adalah diriku yang pembohong lagi pembuat salah berada di hadapan-Mu, engkau punya hamba-hamba yang banyak selain diriku, tidak ada tempat kembali dan mengadu kecuali kepada-Mu, aku meminta kepada-Mu seperti permintaan seorang miskin, mengiba kepada-Mu pengibaan orang yang tunduk dan rendah, aku bermohon kepada-Mu dengan permohonan orang yang takut dan teraniaya, permintaan dari seorang yang merendahkan dirinya dan di bawah kendali-Mu, untuk-Mu kedua matanya menangis, dan untuk-Mu hatinya merendah .”
Manakala seorang hamba menghadap dengan ungkapan-ungkapan seperti di atas, bermunajat kepada Rab-nya, maka iman dalam hatinya akan berlipat ganda.
Menampakkan kefakiran di hadapan Allah juga menguatkan iman. Allah –subhânahu wata’âla– telah mengabarkan akan kefakiran kita dan kebutuhan kita kepada-Nya. Firman-Nya:
قال تعالى : âيَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ أَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُ إِلَى ٱللَّهِۖ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ٱلۡحَمِيدُ ١٥ á(فاطر:15)
“Hai manusia, kamulah yang berhajat kepada Allah; dan Allah, Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS.al-Fâthir:15)
 
13. Memendekkan angan-angan. Ini penting sekali dalam memperbaharui keimanan.
Ibnu Qoyyim –rahimahullah– berkata:
“Di antara yang agung mengenai hal ini adalah ayat-ayat berikut :
قال تعالى : âأَفَرَءَيۡتَ إِن مَّتَّعۡنَٰهُمۡ سِنِينَ ٢٠٥ ثُمَّ جَآءَهُم مَّا كَانُواْ يُوعَدُونَ ٢٠٦ مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يُمَتَّعُونَ ٢٠٧ á   (الشعراء :205)
“Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (QS.as-Syu’arâ`:205-207)
قال تعالى : âكَأَن لَّمۡ يَلۡبَثُوٓاْ إِلَّا سَاعَةٗ مِّنَ ٱلنَّهَارِ á(يونس :45)
“…(mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) melainkan hanya sesaat di siang hari….” (QS.Yunus:45)
Sebegitulah dunia, hendaklah manusia jangan memanjangkan angan-angannya dengan mengatakan, “Aku akan hidup dan terus hidup.”
Sebagian Salafussoleh mengatakan kepada seorang lelaki,
“Shalatlah zuhur bersama kami!”
Dia menjawab,
“Jika aku shalat zuhur bersama kalian, shalat asarnya tidak akan shalat bersama kalian!”
Maka dikatakan kepadanya: “Seolah engkau berangan-angan akan hidup sampai tiba waktu shalat asar. Kami berlindung kepada Allah dari panjangnya angan-angan.”
 
14. Merenungi kehinaan dunia, hingga pupus ketergantungan kepada dunia dari hati seorang hamba.
Allah –subhânahu wata’âla– berfirman:
قال تعالى : â… وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ ١٨٥ á 
(آل عمران:185)
“…kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS.Ali Imrân:185)
Nabi –shalallahu alaihi wasallam– bersabda,
إن مطعم ابن آدم قد ضرب للدنيا مثلاً فانظر ما يخرج من ابن آدم وإن قزحه وملحه قد علم إلى ما يصير    (رواه الطبراني)
“Sesungguhnya makanan anak Adam merupakan permisalan dunia. Lihatlah apa yang dikeluarkan anak Adam, padahal itu adalah bumbu dan garam (yang semula dimakannya), sehingga sadar akan menjadi apa dia.”[129]
Abu Hurairah –radiallahu’anhu– berkata, aku mendengar Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– bersabda,
الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله وما والاه أو علماً أو متعلماً     (رواه ابن ماجه)
“Dunia terlaknat serta apa-apa yang ada di dalamnya, kecuali zikrullah dan yang berkaitan dengannya atau ilmu atau mempelajari ilmu.”[130]
 
15. Yang juga perkara yang dapat memperbarui keimanan dalam hati, mengagungkan “hurumatillah” (hak-hak Allah).
Allah –ta’âla– berfirman,
قال تعالى: âوَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ ٣٢á  ( الحج:32)
 
 “Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS.al-Hajj: 32)
Hurumatillah adalah hak-hak Allah –ta’âla-. Bisa pada perorangan, tempat maupun pada waktu. Di antara bentuk pengagungan hak-hak Allah pada perorangan seperti menunaikan hak-hak Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam-. Di antara bentuk mengagungkan pada tempat seperti mengagungkan tanah suci (Mekkah dan Madinah), dan pada waktu seperti mengagungkan bulan Ramadhan.
قال تعالى : )وَمَن يُعَظِّمۡ حُرُمَٰتِ ٱللَّهِ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ ((الحج/30)
“…dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhan-nya….” (QS.al-Hajj:30)
Di antara bentuk mengagungkan hak-hak Allah, tidak meremehkan dosa-dosa kecil. Abdullah Ibn Mas’ud –radiallahu’anhu– meriwayatkan bahwa Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– bersabda,
إياكم ومحقرات الذنوب فإنهن يجتمعن على الرجل حتى يهلكنه    (رواه أحمد )
“Hindarilah dirimu dari dosa-dosa remeh, sesungguhnya dia terkumpul pada seseorang hingga membinasakannya.”
Rasulullah –shalallahu alaihi wasallam– memberikan contoh seperti suatu kaum yang datang ke suatu gurun, mulailah seorang demi seorang mengumpulkan ranting hingga menjadi gundukan besar, kemudian dinyalakanlah api hingga menghancurkan apa saja yang dimasukkan ke dalamnya.”[131]
Syair:
Jangan meremehkan sesuatu yang kecil
Sesunguhnya gunung berasal dari batu kecil
 
Ibnul Jauzi berkata dalam kitab Shaidul Khatr:
“Kebanyakan manusia menganggap biasa perkara-perkara remeh padahal mengandung cela pada asalnya. Seperti melepaskan pandangan pada perkara haram atau meminjam buku dan tidak memulangkannya.”
Sebagian salafussoleh berkata:
“Aku meremehkan satu suapan sehingga memakannya, dan kini aku telah berumur 40 tahun dari waktu itu.”
Ini adalah bentuk “ketawadu’annya” (kerendahan hati) –rahimahullah.
 
16. Yang dapat memperbaharui iman dalam hati: “wala’ dan baro`” yaitu bersikap loyal terhadap orang mu’min dan berlepas diri terhadap orang kafir.
Jika hati terkait dengan musuh Allah akan lemah dan pupuslah aqidah di dalamnya. Apabila loyalitas dimurnikan kepada Allah, maka akan loyal kepada hamba-hamba Allah yang beriman, membela mereka, dan membenci dan memusuhi musuh-musuh Allah, sehingga menjadi hiduplah keimanannya.
 
17. Kerendahan hati memiliki pengaruh dalam memperbaharui keimanan dan kemuliaan hati dari dampak kesombongan.
Karena rendah hati dalam berbicara dan bersikap merupakan cerminan kerendahan hati kepada Allah. Nabi –shalallahu alaihi wasallam– bersabda:
(البذاذة من الإيمان) رواه ابن ماجه
“Kesederhanaan pada pakaian sebagian dari iman”[132]
Artinya rendah hati pada tubuh dan berpakaian[133]
Sabda beliau pula:
(من ترك اللباس تواضعاً لله وهو يقدر عليه دعاه الله يوم القيامة على رؤوس الخلائق حتى يخيره من أي حلل الإيمان شاء يلبسها) رواه الترمذي
“Siapa yang meninggalkan berpakaian mewah “tawadu’an” (rendah hati) karena Allah sedangkan ia mampu untuk itu, Allah akan menyerunya pada hari kiamat di antara makhluk-Nya hingga dipersilahkan untuk mengenakan perhiasan iman yang dikehendakinya.” [134]
Abdurrahman ibn Auf –radiallahu’anhu– dahulu tidak dapat dibedakan dengan para hamba sahayanya jika sedang berada di antara mereka.
 
18. Ada amalan-amalan hati yang penting dalam memperbaharui keimanan seperti “mahabbatullah” (cinta kepada Allah), takut kepada-Nya, mengharap kepada-Nya, berbaik sangka kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya, rida kepada Allah dan ketentuan-ketentuan-Nya, bersyukur kepada-Nya, membenarkan-Nya, yakin kepada-Nya, percaya kepada-Nya, taubat kepada-Nya dan amalan-amalan hati lainnya.
Ada pula “maqamat” (kedudukan) yang selayaknya seorang hamba sampai kepadanya untuk menyempurnakan penyembuhan, seperti “istiqamah” (konsisten dalam beramal), “inabah” (kembali kepada Allah), mengingat-Nya, berpegang teguh kepada kitab dan sunah, khusyu’, “al zuhdu wal wara’” (sederhana dan rendah hati), dan “muraqabah” (merasa dalam pengawasan Allah).
Maqomat ini telah dipaparkan oleh Ibnul Qayyim –rahimahullah– dalam kitabnya Madâriju as-Sâlikîn.
 
19. Mengintropeksi diri juga penting dalam memperbaharui hati.
Allah –azzawajalla– berfirman:
قال تعالى : )يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ ()الحشر :18(
“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)”. (Q.S.al-Hasyr:18)
Umar ibn Khatthab –radiallahu’anhu– berkata,
“Introspeksilah (hitung-hitung) diri kalian sebelum kalian dihitung.”
Al-Hasan berkata,
“Janganlah kamu bertemu seorang mukmin kecuali introspeksilah diri.”
Maimun ibn Mahran pun berkata,
“Sesungguhnya orang yang bertakwa lebih ketat menghitung dirinya sendiri dari pada teman yang kikir.”
Ibnul Qayyim berkata,
“Celakalah jiwa yang lalai menghitung dirinya dan memperturutkan hawa nafsunya.”
Seorang muslim hendaknya meluangkan waktunya untuk “berkhalwat” (menyendiri) merenungi dirinya sendiri, mengevaluasi, menghitung dan memperhatikan keadaannya, bekal apa yang telah dipersiapkan untuk hari kiamat.
 
20. Sebagai penutup, doa kepada Allah –azzawajalla– merupakan sebab yang terkuat yang selayaknya seorang hamba mengupayakannya. Sebagaimana Nabi –shalallahu alaihi wasallam– bersabda:
إن الإيمان ليخلق في جوف أحدكم كما يخلق الثوب فاسألوا الله أن يجدد الإيمان في قلوبكم
 “Sesungguhnya iman itu diciptakan di dalam diri setiap kalian sebagaimana pakaian dibuat, maka mohonlah kepada Allah untuk memperbaharui iman dalam hati kalian.”
“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dengan nama-nama-Mu yang baik dan sifat-sifat-Mu yang tinggi agar memperbaharui iman dalam hati-hati kami. Ya Allah, jadikanlah kami cinta kepada keimanan dan hiasilah ia pada hati-hati kami. Jadikanlah kami benci kepada kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan, jadikanlah kami orang-orang yang diberi petunjuk. Maha suci Tuhan yang Maha Perkasa dari apa yang disifati-Nya dan keselamatan atas para Rasul pengemban risalah dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s