Ramadhan Dan Hijrah

“Dan katakanlah, “Ya Rabbku! Masukkan aku dengan cara masuk yang benar dan keluarkanlah aku (pula) dengan cara keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong” (Al-Isra’: 80)

Hijrah dalam pengertian bahasa berarti berpindahnya seseorang dari suatu tempat ke tempat lainnya. Namun bila kita kaji lebih jauh, makna hijrah tidak sekedar aspek fisik dan geografis. Yang lebih dalam dari makna hijrah adalah hijrah dari aspek moralitas, yaitu hijrah ma’nawiyah (konsep, prinsip dan pemahaman).Bulan Ramadhan adalah momen paling tepat untuk melakukan hijrah ma’nawiyah, yakni melakukan perubahan mendasar dan menyeluruh, dari kondisi moralitas pra-Ramadhan menuju kondisi moralitas Ramadhan. Intinya setelah Ramadhan ketaqwaan dan nilai-nilai ibadah selama Ramadhan semakin meningkat. Inilah”buah manis taqwa” yang diraih setiap mukmin yang melakukan shaum dengan benar dan sukses (Al-Baqarah: 183). La’allakum tattaquun… itulah yang mestinya senantiasa kita catat dan ingat dalam memori jiwa kita.

Disamping itu “nilai Ramadhan” yang lain juga mesti kita raih yakni, dihapuskannya dosa-dosa yang telah lalu. Man shama Ramadhana imanan wahtisaban ghufira lahu maa taqaddama min dzanbihi… barang siapa berpuasa Ramadhan dengan penuh iman dan mengharap ridha Allah (maka) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu…
Ada beberapa perubahan mendasar yang mestinya dilakukan oleh setiap pribadi muslim, yaitu:

Pertama
, dari syirik menuju tauhid.Di bulan Ramadhan ini, setiap mukmin harus memantapkan kembali loyalitas (wala’)nya kepada Allah, sebagai bukti kesempurnaan tauhidnya (Al-Baqarah: 257; Al-Maidah: 55).

Yakni tiada yang dijadikan ilah (sembahan) kecuali Allah, tiada yang paling dicintai kecuali Allah, tiada yang paling diikuti perintahnya kecuali Allah, tiada yang layak disembah kecuali Allah, meminta pertolonganpun hanya kepada Allah, iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iinu. Komitmen muslim pada kalimat “Laa ilaaha illallahu” ini akan menumbuhkan keberanian, tiada takut masalah rezeki, sikap optimis menghadapi kehidupan dan sikap tepat memandang realitas. Tiada gusar dan ragu untuk berkorban di jalan Allah, tiada bimbang untuk melangkah di atas rel kebenaran. Disamping itu pribadi yang “hijrah” ini juga melepaskan diri (bara’) dari segala sesembahan selain Allah, dari segala cinta yang tidak sesuai kehendak Allah (Al-Baqarah: 165; At-Taubah: 24; Ali Imran: 31), baik berupa harta, tahta, manusia, atau apa saja.

Kedua, Hijrah dari kafir menjadi Islam

Kafir disini mengandung pengertian pengingkaran. Sedangkan Islam berarti berserah diri total kepada Allah Azza wa Jalla. Bagi seorang mukmin, bulan Ramadhan harus menjadi sarana tarbiyah dan perbaikan diri, peningkatan prestasi dan amal shalih, bukti penyerahan diri secara total kepada Allah. Barangkali di bulan-bulan sebelumnya banyak “mengingkari” hukum dan ketentuan Allah, maka Ramadhan adalah saat yang tepat untuk bertaubat dan memulai titik awal menjadi pribadi nan fitri… yang berserah diri hanya kehadirat illahi rabbii…
Perubahan totalitas mukmin mencakup perubahan seorang mukmin dari menggunakan konsepsi, pola pikir, cara hidup yang dilandasi kekafiran menuju konsepsi, pola pikir dan cara hidup yang islami, sesuai ketetentuan Allah dan Rasul-Nya.Buah dari hijrah ini akan dapat dipetik hasilnya selama-lamanya dan setelah Ramadhan berlalu hingga ajal merenggut. Yakni menjadikan Islam sebagai pijakan dalam segenap aktivitasnya. Islam adalah satu-satunya alternatif kehidupan yang paling layak uji, lain tidak.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

“Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) daripadanya, dan di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (Ali Imran: 85).

Ketiga, Hijrah dari Nifaq menuju Shiddiq

Ciri khas paling mendasar tarbiyah Ramadhan adalah semakin kokohnya sikap dan sifat shiddiq yang mesti ada dalam jiwa mukmin. Untuk itu setiap mukmin harus mampu menghilangkan sikap ragu-ragu dan bimbang terhadap Islam menuju kemantapan untuk berislam beriman secara kaffah serta memperjuangkannya di jalan-Nya. Allah SWT berfirman,“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian dia tidak ragu dan berjihad dengan hartanya dan jiwanya di jalan Allah. Merekalah orang-orang yang shiddiq (benar-benar imannya)” (Al-Hujurat: 15).

Bukti hijrah dan kesadaran mukmin dengan sikap shiddiqnya adalah senantiasa memohon syahid di jalan Allah bagaimanapun keadaannya, Rasulullah bersabda,

“Barang siapa yang tidak punya niat untuk syahid di jalan Allah, dan dia tidak pernah berjihad, maka dia mati dalam salah satu cabang kemunafikan” (HR. Muslim).

Disamping itu setiap mukmin, melalui madrasah Ramadhan ini, juga harus selalu menyelaraskan antara hati, lisan, dan perbuatannya dalam kesamaan persepsi, niat, ucapan dan gerak kehidupan.

Satu hal yang penting direnungkan bahwa setiap muslim mestinya hidup secara total dengan aturan Islam yang kaffah, yakni tidak mencampuradukkan Islam pada ibadah-ibadah rutin saja sementara kehidupan memakai pola jahiliyah. Akan tetapi harus menyerahkan bulat-bulat pada ketentuan Allah.

…udkhuluu fis silmi kaafah…, Iyyaaka na’buduu wa iyyaaka nas ta’iinu…, Inna shalaatii wanusukii wa mahyaaya wa mamaati lillaahi Rabbil ‘aalamien…

Keempat, Hijrah dari sikap Pengecut (jubnun) menuju Pemberani (syaja’ah)

Di bulan Ramadhan Allah mendidik pribadi mukmin untuk berani menghadapi seluruh rintangan kehidupan, tantangan realitas dan tribulasi yang terbentang di kiri-kanan. Disamping itu pribadi mukmin juga dididik untuk memilih dan meluruskan orientasinya pada jalan Allah meskipun jalan itu berat, terjal, dan berduri.“Huffatil jannaatu bil makaarihi wa huffatinnaaru bisy syahawaati… dihampari jalan menuju syurga dengan hal-hal yang kita benci dan dihiasi jalan menuju neraka dengan syahwat (yang melalaikan)” (HR. Bukhari).

Orang beriman tak kan lari, menyerah atau berputus asa menghadapi berbagai cobaan hidup. Ia juga tak mudah terpikat oleh gemerlap dunia (Ali Imran: 146; Al-Baqarah: 153-156; Al-Qhashash: 77).

Kita harus sadar sesadar-sadarnya bahwa sikap pemberani tidak mempercepat ajal seseorang, sikap pengecut juga tidak akan memperlambat ajal seseorang, karena ajal, rezeki, dan jodoh, semuanya sudah ditentukan oleh Allah. Simaklah kata-kata indah yang lahir dari pribadi pemberani merdeka, dialah Imam Syafi’i Rahimahullah.

“jika aku hidup, aku tidak takut kehilangan makanan dan jika aku mati, aku tidak takut kehilangan kuburan, sesungguhnya jiwaku adalah jiwa yang merdeka yang memandang kelemahan sebagai kekufuran…!”
Inilah yang mestinya diraih dari “hijrah Ramadhan” yang hakiki, sebagaimana firman Allah,“Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman” (Ali Imran: 139).

Kelima, Hijrah dari khianat menjadi amanat

Bagi pribadi mukmin sejati, puasa mengajarinya menjunjung tinggi kejujuran dan amanah, karena dalam puasa hanya dirinya dan Allah yang tahu “rahasia” puasanya. Ia tidak mengandalkan pengawasan orang lain karena ia yakin bahwa Allah menyertai dan mengawasinya setiap saat, setiap waktu dan setiap kesempatan. Tidak mungkin untuk mengelak dari pengawasan Allah.

Sikap minimal seorang mukmin adalah ia tidak membohongi dan menghianati dirinya. Karena kebohongan akan membuka kejahatan-kejahatan lainnya atau membuka kebohongan yang lebih besar. Maka amanat dan kepercayaan Allah mestilah dijaga, dan inilah karakter yang menyempurnakan mukmin. Tanpa kejujuran dan amanah jangan harap iman dan hidayah Allah menyertai dirinya… Mengapa? Karena sikap khianat adalah sikap buruk yang dimurkai Allah dan dibenci oleh manusia, dan termasuk dalam karakter orang-orang munafik. Rasulullah bersabda,

“Aayatul munaafiqi tsalasatsun, idza hadatsa kadzaba, wa idza wa’ada akhlafa wa-idza’tuina khaana… ciri-ciri orang munafik ada tiga: jika berkata bohong (dusta), jika berjanji ingkar, dan jika dipercaya khianat”.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui” (An-Anfaal: 27)

Contoh sikap amanah adalah sifat al-amin Rasulullah SAW yang menjaga harta orang-orang Quraisy meskipun mereka memusuhi Beliau. Juga sikap Umar bin Abdul Aziz yang tidak memakai “lentera negara” saat berbincang-bincang dengan anaknya dalam urusan pribadi…

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s