Puasa Membentuk Taqwa

Allah Azza wa Jalla berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas umat-umat sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Al-Baqarah: 183)

Di dalam puasa ada rahasia yang sangat dalam yakni prientasi jangka panjang bagi terbentuknya jiwa muttaqin. Ini merupakan rahasia agung yang tidak dimiliki pada ibadah lainnya, karena Allah Azza wa Jalla sendiri yang akan membalasi orang yang berpuasa, “as-sahumu lii wa ana ajzii bihi… Puasa itu untuk-Ku dan Aku memberi balasan dengannya” (HR Bukhari dan Muslim).

Kemudian puasa dalam membentuk pribadi taqwa dapat ditinjau dari dua sisi atau dua makna yaitu:

  1. Puasa termasuk amal yang tersembunyi dan amal batin yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, sehingga tidak mudah disusupi penyakit riya atau ujub, sombong dan sebagainya. Dalam “kacamata taqwa” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan kriterianya yaitu “ittaqillaha haitsu maa kunta… bertaqwalah kepada Allah di manapun kamu berada” (HR Tarmidzi). Ini berarti tiap muslim harus merasa dalam pengwaasan Allah di manapun ia berada, karena “Dia bersamamu di manapun kamu… Wa huwa ma’akum aina maa kuntum…” (Al-Hadiid: 4).
  2. Puasa merupakan cara untuk menundukkan musuh-musuh Allah, karena sarana yang dipergunakan musuh Allah adalah syahwat. Syahwat bisa menjadi kuat karena makanan dan minuman. Selagi lahan syahwat tetap subur, maka syetan bisa bebas berkeliaran di areal yang subur itu. Tapi jika syahwat ditinggalkan, maka jalan ke sana menjadi sempit. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya syetan itu berjalan di dalam jiwa manusia melewati tempat mengalirnya darah, maka sempitkanlah jalan-jalan syetan dengan rasa lapar”
(HR Bukhari dan Muslim).

Nah, puasa sesungguhnya merupakan latihan bagi diri untuk mengendalikan syahwat guna meraih derajat yang mulia. Ibnul Mubarak berkata “Sesungguhnya orang-orang shalih dapat menghela diri mereka pada kebaikan secara sukarela, sementara kita tidak bisa menghela diri kita kecuali setelah memaksanya.”

Terminologi Taqwa dan Kaitannya dengan Puasa

Taqwa, menurut Ali bin Abi Thalib, adalah rasa takut dari ancaman, dan beramal sesuai Al-Qur’an, bersyukur dengan nikmat yang banyak, ridha dengan yang sedikit, dan bersiap-siap untuk suatu masa yang panjang.

Ini selaras dengan perintah “taqwa” dari Allah dalam Al-Hasyr ayat 18 yakni agar setiap mukmin bertaqwa dan memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok… “dan bertaqwalah kepada Allah. Juga taqwa terkait dengan masa depan kita, apakah husnul khatimah atau su’ul khotimah… ya ayyuhalladzina aamanuttaqullaa ha haqqa tuqqa tihi wala tamuutunna ila wa antum muslimun (Ali Imran: 102).

Untuk itu dalam menunaikan puasa haruslah di ikuti penghayatan mendalam bahwa taqwa merupakan tarbiyah bagi pribadinya. Dan ini dapat dilihat pasca Ramadhan, apakah amalnya meningkat atau menurun?

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s