Panduan Menggapai Lailatul Qadar (Malam Seribu Bulan)

Setelah disyari’atkannya ibadah puasa untuk meraih taqwa, maka Allah melengkapi nikmat-Nya dengan Lailatul Qadar (QS. Al-Qadr)

Keutamaan Lailatul Qadar:

  • Ibadah seperti shalat, tilawah Qur’an dan dzikir serta amal sosial (shadaqah, zakat, infaq) yang dilakukan itu lebih utama daripada ibadah seribu bulan (menurut Anas bin Malik ra).
  • Hanya diberikan kepada umat Muhammad SAW, yaitu sebagaimana riwayat Anas bin Malik ra. Rasulullah SAW bersabda, “Lailatul Qadar untuk umatku, dan tidak memberikannya kepada umat-umat sebelumnya”.
  • Berkenaan dengan ayat ke-4 Al-Qadr, Abdullah bin Abbas ra. menyampaikan sabda Rasulullah SAW, bahwa pada saat terjadinya Lailatul Qadar para Malaikat turun ke bumi menghampiri hamba-hamba Allah yang sedang melakukan qiyamullail dan melakukan dzikir, para malaikat mengucapkan salam kepada mereka.
  • Pada malam itu pintu-pintu langit dibuka, dan Allah menerima taubat dari hamba-Nya yang bertaubat.
  • Diampuninya dosa-dosanya yang telah lalu. Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa melakukan (qiyam, shalat malam) pada Lilatul Qadar, atas dasar iman dan semata-mata mencari ridha Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya” (HR Bukhari, Muslim dan Baihaqy).
  • Tidak ada malam yang lebih utama dari Lailatul Qadar. Ibnu Abi Syaibah menyampaikan ungkapan Hasan Al Bashri, “Saya tidak pernah tahu adanya hari atau malam yang lebih utama dari malam yang lainnya, kecuali Lailatul Qadar, karena Lailatul Qadar lebih utama dari (amalan) seribu bulan“.

Hukum Menggapai Lailatul Qadar:

Sesuai firman Allah Al-Baqarah 185, awal surat Al-Qadr, dan hadits Rasulullah SAW, maka ulama bersepakat bahwa “Lailatul Qadar” terjadi pada malam bulan Rasulullah. Bahkan oleh Ibnu Umar, Abu Dzar, Abu Hurairah, diriwayatkan bahwa Lailatul Qadar bukan hanya terjadi pada masa Rasulullah SAW saja, melainkan ia terus berlangsung pada setiap bulan Ramadhan untuk umat Muhammad sampai hari kiamat.

Adapun persisnya, ada beberapa pendapat:

  1. Lailatul Qadar terjadi pada malam 17 Rasulullah, malam diturunkan Al-Qur’an, sebagaimana disampaikan Zaid bin Arqam, Abdullah bin Zubair ra. (HR Ibnu Syaibah, Baihaqy, Bukhari dalam Tarikh).
  2. Terjadi pada malam-malam ganjil disepuluh hari bulan Ramadhan, Aisyah ra. berkata, Rasul SAW bersabda, “carilah lailatul qadar pada malam-malam ganjil disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan” (HR Bukhari, Mulim, Baihaqy).
  3. Lailatul Qadar terjadi pada malam tanggal 21 bulan Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Abu Said Al Khudri ra. yang dilaporkan Bukhari dan Muslim.
  4. Terjadi pada malam tanggal 23 bulan Ramadhan, berdasarkan riwayat Abdullah bin Unais Al-Juhany, oleh Bukhari dan Muslim.
  5. Terjadi pada malam tanggal 27 bulan Ramadhan, hadits riwayat Ibnu Umar, dari Ahmad. Dalam hadits Ibnu abi Syaibah ra. bahwa Umar bin Khathab, Huzaibah serta sekumpulan besar sahabat, yakin bahwa lailatul qadar terjadi pada malam 27 bulan Ramadhan. Rasulullah SAW seperti riwayat Ibnu Abbas juga pernah menyampaikan kepada sahabat yang telah tua dan lemah tak mampu qiyam berlama-lama dan meminta nasehat kepada Beliau kapan ia bisa mendapatkan lailatul qadar, Rasulullah SAW kemudian menasehati agar ia mencarinya pada malam 27 bulan Ramadhan (HR Thabrani dan Baihaqy).
  6. Dari riwayat Ibnu Umar dan Abi Bakrah yang dilaporkan oleh Bukhari dan Muslim, terjadinya lailatul qadar mungkin akan berpindah-pindah pada malam-malam ganjil sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Tanda-tanda Lailatul Qadar

Seperti diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi, Rasululllah SAW bersabda, “Pada saat terjadinya lailatul qadar itu, malam terasa sangat jernih, terang, tenang, cuaca sejuk tidak terasa panas dan tidak juga dingin. Dan pada pagi hari matahari terbit dengan jernih terang benderang tanpa tertutup sesuatu awan“.

Apa yang perlu dilakukan guna menggapai Lailatul Qadar?

  1. Lebih bersungguh-sungguh dalam semua bentuk ibadah pada hari-hari Ramadhan, menjauhkan diri dari semua hal yang dapat mengurangi keseriusan ibadah pada hari-hari itu.
  2. Mengikut-sertakan seluruh anggota keluarga, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.
  3. Melakukan i’tikaf dengan upaya sekuat tenaga, sebagaimana dicontohkan Nabi SAW.
  4. Melakukan qiyamullail berjamaah sampai dengan raka’at terakhir yang dilakukan oleh imam, sebagaimana diriwayatkan Abu Dzar ra.
  5. Memperbanyak doa memohon ampunan dan keselamatan kepada Allah dengan doa, “Allahumma innaka ‘afuwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni… Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha pengampun dan suka memaafkan, maka ampunilah aku…”. Hal ini yang diajarkan Rasulullah SAW kepada Aisyah ra ketika bertanya, “Wahai Rasulullah, bila kau ketahui kedatangan Lailatul Qadar, apa yang mesti saya ucapkan?” (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Tirmidzi).
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s