Mengoptimalkan Fungsi Masjid

Allah Azza wa Jalla,

“Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan masjid hanyalah (mereka) yang beriman kepada Allah, dan hari akhir, dan menegak- kan shalat serta menunaikan zakat. Dan mereka tidak takut kecuali hanyalah kepada Allah…” (At-Taubah: 18)

Di bulan Ramadhan masjid-masjid menjadi ramai dengan segala aktivitas, terbukti dengan banyaknya kegiatan serta acara selama Ramadhan. Tetapi benarkah bahwa masjid-masjid itu sudah makmur dan optimal?

Kita memahami bahwa fungsi utama masjid adalah pusat pembinaan dan pemberdayaan umat. Pembinaan tidak sebatas ibadah ritual, tetapi menyangkut seluruh aspek kehidupan. Dan pada kenyataannya masjid baru berfungsi sebagian, sementara fungsi-fungsi lain tidak (atau belum) tertegakkan. Sebagai kata mudah “orang senang untuk membangun masjid tapi masjid belum optimal untuk membangun (atau membina) umat”.

Berikut ini beberapa langkah yang dapat ditempuh untuk memberdayakan masjid. diantaranya:

1. Bidang Peribadahan

Yaitu secara menyeluruh masjid harus difungsikan untuk meningkatkan kualitas ibadah umat, yaitu dengan dilaksanakan shalat berjamaah lima waktu, tersedianya petugas mu’azhin dan imam yang berkualitas, terlaksananya shalat jum’at dengan kualitas imam, khatib dan topik khutbah yang membangun. Untuk itu perlu disusun “kurikulum khutbah” yang membangun umat. Khusus dalam bulan Ramadhan dilaksanakan shalat tarawih, tadarus, kultum, aktivitas lainnya secara optimal dan bermutu, dilaksanakannya i’tikaf di sepuluh hari terakhir, pembayaran zakat fitrah dan pembagiannya. Yang penting sekali lagi diperhatikan bagaimana mengupayakan masjid sebagai sentral peribadatan yang di dalamnya umat saling meningkatkan kualitas pribadi, keimanan dan ketaqwaan kepada Allah.

2. Bidang Pelayanan Umat

Masjid mestinya juga memberikan sumbangsihnya bagi umat, seperti perpustakaan, kesehatan, badan perekonomian (BMT). Jangan sampai masjid hanya menerima “sumbangan” dari umat sementara tidak pernah memberikan layanan. Layanan pemberdayaan hendaknya juga dilakukan, yaitu dengan pendekatan dan pembinaan masyarakat sekitar, seperti bimbingan dan penyuluhan mengenai persoalan sehari-hari, sosial kemasyarakatan, keluarga dan sebagainya.

Layanan kesehatan diberikan 24 jam stand by dengan adanya dokter jaga dan klinik kesehatan yang memenuhi syarat. Ini dilakukan dengan didukung penyadaran kesehatan secara Islam.

Juga tersedianya sarana perpustakaan yang lengkap dan berkualitas, sehingga dapat menjadi media komunikasi informasi antara pengurus dengan jamaah, antar jamaah, bahkan antar masjid.

3. Bidang Pendanaan

Masjid dapat makmur manakala dukungan dana mengalir dengan lancar dan baik. Pada umunya masjid menggunakan dananya dari kas yang berasal dari kotak infaq jum’at, kotak harian dan kegiatan insidental. Mestinya masjid dapat lebih mengembangkan pendanaan dengan dikelolanya donatur tetap, didukung wadah BMT (Baitul Maal wa Tamwil), membuka bidang usaha, koperasi, jasa sablon, pengadaan barang kebutuhan umat atau usaha-usaha lain, serta dioptimalkannya manajemen perekonomian yang terbuka. Pada kenyataannya masih banyak masjid yang tertutup dalam masalah manajemen sehingga mengurangi tingkat kepercayaan umat, sehingga mereka ragu-ragu untuk menyalurkan dananya.

Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh untuk menyehatkan dana masjid:

Pertama, sebagai langkah pemberdayaan mestinya ditegakkan open manajemen, sehingga umat dapat mengontrol dan memonitor “dana yang mereka salurkan”

Kedua,
optimalisasi dana pada kegiatan-kegiatan yang dapat dirasakan oleh masyarakat secara umum, seperti sarana perpustakaan, simpan pinjam bagi hasil tanpa bunga, sarana kesehatan “gratis”, digelar berbagai kegiatan ilmiah, kajian rutin, atau pembinaan umat yang kontinu dan sebagainya.

Ketiga, komitmen pengurus dan manajemen masjid untuk mengelola dengan serius bukan dengan tenaga sisa, bahkan bila perlu ada petugas tertentu yang digaji untuk lebih mengoptimalkan fungsinya, seperti untuk menjaga kebersihan, menjaga ditegakkan shalat jamaah lima waktu dan sebagainya.

Nah bila kondisi kontribusi keuangan (dana) dari umat diimbangi kinerja pengurus yang aktif dan dinamis niscaya tingkat kepercayaan masyarakat terus meningkat dan insya Allah dana akan terus mengalir.

4. Bidang Penerangan

Sisi lain yang dibutuhkan umat adalah jalinan komunikasi informasi yang harmonis antar ta’mir masjid dengan masyarakat. Masjid sebenarnya menduduki posisi penting dan strategis dalam percaturan informasi dari masa ke masa, terlebih di era global. Bahkan ada daerah tertentu yang kepala kampung mengkoordinasikan kegiatan umat melalui masjid. Karena masjidlah tempat berkumpulnya umat dalam jumlah besar. Sebagai media komunikasi umat, di masjid dapat dihidupkan media seperti buletin atau majalah dinding, atau berlangganan koran dan majalah untuk menggalang aspirasi umat dalam suasana kritis terhadap informasi dan perkembangan kehidupan.

5. Bidang Pendidikan

Program ini penting untuk jamaah dengan pemahaman untuk jamaah dengan pemahaman Islam yang utuh dan menyeluruh, yaitu dengan terlaksananya pendidikan rutin bagi jamaah.

Pengajian anak-anak TPA untuk membentuk generasi Islam sejak dini.

Pengajian remaja untuk membekali remaja menginjak usia taklif dan dalam rangka bisa melaksanakan Islam secara utuh dan menyeluruh. Materi pengajian ini berupa aqidah sebagai landasan utama, fiqh peribadahan, Akhlaqul karimah sebagai pembentuk kepribadian dan bekal pergaulan, sejarah Nabi (sirah Nabawiyah) untuk mengenalkan pada figur teladan umat, wawasan Islam untuk membekali remaja dengan kesadaran dunia Islam kontemporer, keterampilan dan menajemen untuk bekal kehidupan (life skills), ilmu-ilmu Al-Qur’an dan Sunah guna mendekatkan pada sumber asli rujukan umat dan sebagainya. Kajian remaja lebih baik disusun perpekan atau dua pekanan secara rutin, sehingga ada hasil yang dapat diraih, yakni terbentuknya kepribadian muslim yang kaffah, utuh dan menyeluruh (syakhshiyah islamiyah syamilah mutakamilah).

Pengajian bapak-bapak dan ibu, lebih didekatkan pada amaliyah Islam sehari-hari dan melazimkan mereka dengan peribadatan secara khusus dan umum, dengan mendorong mereka pada fadhilah amal shalih dan menjauhkan dari perkara mungkar, seperti kebiasaan bohong pada anak, kebiasaan menakut-nakuti, melakukan hal-hal negatif -judi, miras, rokok, molimo (bhs. Jawa, 5M= Main, Maling, Madon, Mabuk, Madat) -yang tidak layak ditiru anak, dan sebagainya.

Kajian keputrian membahas persoalan fiqh kewanitaan dan isu-isu wanita kontemporer, serta membekali akhlaq kewanitaan (muslimah) dalam berumah-tangga, berbakti kepada suami, birrul walidain, bertetangga, bermasyarakat, mendidik anak dan berbagai persoalan keseharian.

Adapun hari-hari besar Islam secara insidental dapat lebih dioptimalkan untuk menggalang kesadaran dan tanggung jawab umat agar memahami sejarah dan mengembalikan kejayaan Islam. Selain itu menyemangati masyarakat agar lebih giat dalam berprestasi dalam ibadah dan amal shalih.

6. Bidang Sarana dan Prasarana

Sarana fisik masjid dan perlengkapan di dalamnya merupakan unsur pembantu namun juga menentukan suksesnya program masjid, seperti kebersihan masjid harus terjaga agar mendukung kekhusyu’an, “sound system” yang baik untuk lancarnya komunikasi, hijab yang bersih dan representatif untuk menjaga pandangan, dan lain sebagainya.

7. Bidang Ukhuwah Umat

Salah satu sasaran penting dalam mengoptimalkan fungsi masjid adalah sejauh mana perannya dapat memperkokoh shaf umat. Masjid didirikan di atas pondasi taqwa, maka yang pantas berdiri di atasnya juga orang-orang yang bersih dan ikhlas. Jangan sampai masjid dijadikan ajang perebutan kekuasaan atau pengaruh dan popularitas tertentu, sehingga terpecah-pecah dan terkotak, yang kita kenal dengan sebutan “masjid dhirar”, yakni masjid yang membahayakan umat dan memecah belah. Kita harus sadar dan mengikhlaskan diri bahwa apa yang kita lakukan dalam memakmurkan masjid semata-mata menggapai ridha Allah Azza wa Jalla (At-Taubah: 17-18, 103). Rasulullah menggambarkan persatuan orang mukmin seperti satu tubuh.

“Perumpamaan orang mukmin dalam satu cinta dan kasih sayang serta ikatan hati seperti satu tubuh, jika sebagian tubuh sakit maka tubuh yang lain akan ikut merasakan hingga demam dan tidak bisa tidur.”

Itulah beberapa hal yang penting diperhatikan khususnya bagi ta’mir masjid yang mengemban amanah Allah dan kepercayaan umat. Semoga Allah menggolongkan kita dalam 7 golongan yang mendapat naungan Allah di hari yang tidak ada lagi naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: “…rajulun qalbuhu mu’allaqubn fil masaajidi…laki-laki yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid”.

Allahu a’lam.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s