Mengapa Al-Qur’an Perlu Dihafal?

Para penghafal Al-Qur’an adalah mereka yang dipilih Allah untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an.

Allah Azza wa Jalla berfirman,
Sesungguhnya kami telah menurunkan Al-Qur’an dan Kami-lah yang menjaganya” (Al-Hijr: 9).
Kemudian Kitab ini Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami” (Fathir: 32).
Untuk makin memantapkan diri, berikut ini beberapa ciri atau karakteristik Al-Qur’an:
1. Al-Qur’an adalah minhajul hayyah
Al-Qur’an adalah pedoman konkrit bagi seluruh kehidupan manusia, manakala mendambakan kehidupan yang hakiki, kebahagiaan dunia akhirat. Karena hidup tanpa pedoman Al-Qur’an bagaikan hidup di hutan belantara tanpa aturan.
Karena Al-Qur’an telah memaparkan bahwa Allah telah menggariskan syari’at sekaligus memberikan manhaj sebagai juklak (petunjuk pelaksanaan).
Firman Allah, “Likullin ja’alnaa minkum syir’aatan wa miinhajan… Untuk tiap-tiap kalian telah Kami jadikan syari’at dan manhaj (juklak)nya” (Al-Maidah: 48).
Tanpa petunjuk Al-Qur’an hidup manusia bisa berakibat fatal, zhalim, fasik, kafir (Al-Maidah: 44,45,47). Atau bahkan dengan memisahkan Al-Qur’an dari kehidupan akan berakibat tamazzuq (terpecahnya kepribadian, atau dikenal dengan istilah schizhophrenia).
Al-Qur’an datang untuk dibaca, dihafal, diamalkan dan dida’wahkan agar manusia hidup dalam petunjuk yang lurus. “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus” (Al-Isra’: 9)
2. Al-Qur’an adalah Ruh Orang Mukmin
Ruhani mukmin akan menjadi hidup dan kokoh manakala Al-Qur’an telah tertanam dalam jiwa dan kepribadian, menjadi pribadi berakhlak mulia, serta menjadi panduan seluruh geraknya.
Al-Qur’an merupakan sarana pendekatan (taqarub) hamba agar ruhiyahnya bergetar dan siap melaksanakan perintah-Nya (Al-Anfal: 2). Dia tiada akan menolak segala keputusan Allah dan Rasul-Nya, karena Al-Qur’an telah menyatu dan tidak bisa dipisahkan sama sekali. Bahkan maut baginya adalah sebuah kenikmatan dalam naungan Al-Qur’an.

3. Al-Qur’an adalah Adalah Adz-Dzhikirkan

Al-Qur’an Al-Qur’an diturunkan bukan hanya digunakan saat-saat tertentu, setelah itu dicampakkan begitu saja. Sama sekali bukan! Tapi Al-Qur’an senantiasa aktual dan perlu untuk diamalkan untuk memberi peringatan kepada manusia.
Dan Al-Qur’an ini adalah suatu kitab (Adz-Zhikir, peringatan) yang mempunyai berkah yang Kami turunkan. Maka mengapa kamu mengingkarinya?” (Al-Anbiya’: 50).
Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan dan kitab yang memberi penjelasan” (Yasin: 69).
Al-Qur’an penting untuk dihafal agar memberikan atsar (pengaruh) bagi kemuliaan umat ini. Agar tidak hanya menghiasi mulut dan tenggorokkannya saja. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Mereka membaca Al-Qur’an namun tidak mampu melampaui tenggorokkannya” (HR. Muslim).
4. Al-Qur’an Sumber Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Al-Qur’an memberikan informasi aktual (terbaru) secara terperinci dalam seluruh rangkaian ayat-ayatnya. Al-Qur’an memberikan standar agar manusia:
  • Menuntut dan memperdalam ilmu pengetahuan (Al-Isra’: 36; Muhammad: 19).
  • Al-Qur’an memiliki metodologi ilmiah meski hanya garis besarnya saja. Misal tentang proses kejadian manusia (Al-Mukminun: 12-16).
  • Kalangan ulama memiliki tanggung-jawab untuk menggali kandungan Al-Qur’an secara kauniyah dan qauliyah.
  • Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat dengan Al-Qur’an ini beberapa kaum dan merendahkan dengannnya kaum yang lain.
Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s