Membangun Cinta Sesama Mukmin

Rasulullah SAW bersabda,

Matsalul mu’miniina fii tawaddihim wataraahumihim wa ta’aathufihim matsalul jasadi idzastakaa minhu ‘udhwun tadaa-a lahu saa-rul jasadi bis sahari wal hummaa…
Perumpamaan orang mukmin dalam cinta dan kasih sayang serta jalinan perasaan seperti satu tubuh apabila satu bagian tubuh sakit maka demam seluruh tubuh tidak bisa tidur” (HR. Bukhari dan Muslim).Kenikmatan cinta dan ukhuwah islamiyah ini sesungguhnya karunia Allah yang sangat mahal (Ali-Imran: 103), yang tak dapat diukur dengan harta seberapa pun besarnya (Al-Anfaal: 63).

Terjalinnya cinta seorang mukmin adalah karena ikatan iman dan cinta karena Allah (Al-Hujurat: 10-13). Ikatan itu biasa disebut dengan “urwatul wutsqaa” yakni kalimah thayyibah Laa ilaaha illallahu (Al-Baqarah: 256; Ali-Imran: 100). Merekalah yang selalu berada di atas jalan yang lurus.

Karunia lain cinta karena Allah adalah dijanjikannya naungan Allah di hari akhirat, yakni termasuk tujuh golongan yang dilindungi Allah “Sab’atun yuzhil lihimullaahu fi zhillihi yauma laa zhillaa illaa zhilluuhu… salah satunya …warajulaani tahabba fillaahi ijtam’a ‘alaihi watafarraqa ‘alaihi artinya, ada tujuh golongan yang mendapat naungan Allah di hari yang tidak ada lagi naungan kecuali naungan Allah… salah satunya adalah dua orang pemuda yang saling mencintai karena Allah, bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ada beberapa cara untuk merekatkan jalinan cinta sesama mukmin:

1. Dilandasi keikhlasan

Antara sesama muslim adalah bersaudara, dan sebagai saudara haruslah selalu terbuka dan ikhlas menerima saudaranya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Sebagai prinsip dasar cinta seorang muslim harus husnuzhan (berprasangka baik) dengan sesama muslim. Cinta terendah diwujudkan dengan sikap salamatush shadri yakni membersihkan hati dari berbagai prasangka, sedang tingkatan cinta yang paling tinggi adalah itsar. Yaitu mendahulukan kepentingan saudaranya di atas kepentingan dirinya (Al-Hasyr: 7).

Munculnya keikhlasan ini adalah dari penanaman nilai-nilai iman yang benar (aqidah shahihah). Apabil aqidahnya lurus barulah orang tersebut dapat diharap keikhlasannya. Mengapa? Karena orang mukmin selalu meluruskan arah, tujuan, orientasi kehidupannya hanya kepada Allah dan akan kembali kepada-Nya… Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uuna.

2. Mewujudkan cinta dengan iman dan taqwa

Maksudnya kita sebagai muslim dan mukmin bersatu di atas landasan iman dan taqwa. Karena fitrahnya manusia akan berkumpul dengan manusia yang memiliki kesamaan karakter.”Segala yang baik akan berkumpul dengan yang baik, segala yang buruk akan berkumpul dengan yang buruk. Tidak bisa mencampur-adukkan kebaikan dengan keburukan, sebagaimana tidak akan bercampur minyak dengan air”. Di dalam Al-Qur’an disebutkan, bahwa tidak mungkin terkumpul dalam diri seseorang dua hati.

Rasulullah bersabda, “Tidak mungkin berkumpul dalam hati seseorang iman dan kedengkian“. Demikian juga, “Tidak mungkin berkumpul dalam hati seseorang iman dan sifat bakhil“.
Maka tak heran bahwa ada seorang ulama yang mengatakan bahwa, “Sesungguhnya Allah mengumpulkan hati-hati yang baik pada waktu-waktu yang baik”. Mengapa? Di saat seorang hamba Allah bermunajat dengan-Nya di malam hari, maka ia akan “berjumpa” dengan hamba Allah yang lainnya yang juga tengah bermunajat kepada Allah di malam hari, pada saat itulah maka kita perlu untuk memohon agar kita dikumpulkan dalam mahabbah-Nya, dipertemukan dalam ketaatan, dipersatukan dalam jalan dakwah, dipadukan dalam kebersamaan menolong agama Allah…Dan di bulan Ramadhan kita sering berjumpa dengan saudara kita untuk bersama-sama menunaikan ketaatan. Inilah nikmat besar yang tiada tara dimana seluruh belahan dunia secara serempak tunduk dan patuh kepada Allah, bertakbir, bertasbih, bertahmid secara kompak serempak. Allahu Akbar.

3. Berpegang teguh terhadap ajaran Islam

Disamping karena iman, taqwa dan keikhlasan, kita dipersatukan dalam “cinta” karena kita memiliki kesamaan komitmen, sama-sama berpegang-teguh terhadap Islam dan bersama-sama bercita-cita untuk meninggikan kalimatullah, li i’laa-i kalimaatillah.

Kita memiliki kesamaan arah dan tujuan hidup, baik jangka pendek bahagia di dunia, maupun jangka panjang yakni bahagia di akhirat. Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil aakhirati hasanah waqinaa ‘adzabannari. Kita juga sama-sama memiliki tujuan bahwa hidup ini adalah untuk menggapai ridha Allah, Allahu ghaayatuna… Allah tujuan hidup kita.Kita sesama muslim juga sama-sama memimpikan untuk bersanding dengan Rasulullah di syurga. Dengan berbagai cara kita berusaha untuk meneladani seluruh pribadi dan kehidupan Rasulullah. Karena Rasulullah adalah teladan paling sempurna. Maka hanya kepada Rasul SAW kita mestinya mencontoh seluruh kehidupannya. Sehingga mendapat ridha dan cinta Allah, serta diampuni dosa-dosa kita (Ali-Imran: 31).

Kita juga menjadikan Al-Qur’an sebagai undang-undang kehidupan kita, yang mengatur dan menata hidup kita mulai dari masuk WC sampai urusan sosial, ekonomi, pendidikan dan ketata-negaraan. Mengatur manusia mulai bangun tidur, bekerja, bertamu, bersahabat, bertetangga hingga seluruh urusan sampai kita tidur lagi.

Kita juga sama-sama ingin sebagai umat Islam kembali meraih kemuliaan di dunia, yakni dengan tegaknya syariat Islam dalam kehidupan kita sehingga dapat menebarkan rahmat bagi semesta alam. Yang kecil terlindungi, yang besar menyayangi, yang kaya menyatuni yang miskin dan sebagainya. Untuk itu kita mesti berupaya melakukan amar ma’ruf nahi munkar, baik dengan tangan kita, lisan atau minimal dengan hati kita, sebagai selemah-lemahnya iman.

Dan pada puncaknya kita ingin hidup kita mulia atau kalau tidak kita mendapatkan syahid di jalan Allah dalam memperjuangkan kalimah Allah. Hidup mulia atau mati syahid di jalan Allah, be a good moslem or die as syuhada.

4. Berpegang teguh pada nasihat

Umat Islam secara keseluruhan adalah seperti sebuah bangunan yang besar. Ada juga yang menjadi tiang, atap, tembok, lantai, pintu, jendela, dan sebagainya. Demikian juga kita sebagai keluarga besar masing-masing menempati pos dan bagian masing-masing, sesuai kemampuan dan kekurangan kita. Ini berarti tidak ada di antara kita yang sempurna, masing-masing saling melengkapi dan menyempurnakan. Untuk itu sesama muslim harus saling membantu dalam kebaikan dan taqwa, wa ta’aawanuu ‘alal birri wattaqwaa walaa ta’aaqanuu ‘alal itsmi wal ‘udhwaani… bertolong-tolonglah kalian dalam kebajikan dan taqwa dan janganlah bertolong-tolongan dalam dosa dan permusuhan.

Karena kondisi yang fitrah inilah maka hendaknya kita saling menasehati, tawasau bi haq, tawasau bish shabri, tawasau bil marhamah.

Bila kita sadar dengan prinsip-prinsip ini, tentunya kita tidak akan rela bila melihat sesama kita berpecah-belah. Karena kalau berpecah-belah akan menjadi peluang bagi umat non Islam untuk memecah-belah dan menjajah kita, devide at impera.

Disamping itu penting disadari bahwa meskipun orang-orang kafir tampaknya berbeda-beda akan tetapi sesungguhnya ketika memusuhi Islam mereka bersatu-padu, al kuffru millatun waahidatun… dan bersatu-padunya mereka sebenarnya hanya seperti rumah laba-laba. Sehingga bila kita dapat dikalahkan oleh orang-orang kafir, bukan karena orang kafir itu kuat, akan tetapi karena kita yang lemah dalam ukhuwah dan cinta karena kita tidak mengikuti perintah Allah.

Sadarilah, seorang ulama pernah berpesan,

Orang-orang barat akan maju manakala mereka meninggalkan kitab suci mereka, akan tetapi umat Islam justru akan mundur manakala meninggalkan kitab sucinya“.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s