Kaifiyat (Petunjuk Praktis) Berpuasa

Apabila kita telah masuk dalam malam pertama dari bulan Ramadhan. Berniatlah pada malam itu bahwa kita akan berpuasa pada esok hari. Mulai pada malam itu tegakkanlah shalat tarawih secara berjamaah. Disamping itu ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam melaksanakan ibadah bulan Ramadhan dengan “sukses”, sebagai berikut:

  1. Setelah masuk waktu sahur, yakni menjelang waktu subuh, hendaklah sahur, Rasulullah bersabda, “Tasahharuu fainna fissahuuri barakah… Bersahurlah karena di dalam (makan) sahur itu ada barakah” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim). “Tasahharuu walau bijur ‘atimmimmaa’in… Bersahurlah meskipun hanya seteguk air” (HR. Ibnu Hibban).
  2. Sesudah bersahur dengan memelihara adab-adabnya, bersihkanlah mulut dengan sebersih-bersihnya dan nantikanlah waktu subuh.
  3. Apabila telah terbit fajar, tahankanlah diri dari makan, minum, menyimak istri, dan segala hal yang membatalkan puasa.
  4. Seusai shalat subuh, bacalah Al-Qur’an sesuai dengan kemampuan.
  5. Di siang hari hendaklah menjauhkan diri dari perbuatan haram, bahkan menjauhkan diri dari pekerjaan yang makruh dan sia-sia.
  6. Usahakankah agar selalu shalat fardhu dapat dilaksanakan secara berjama’ah.
  7. Sedapat mungkin agar tiap hari menyediakan waktu sesudah shalat untuk membaca Al-Qur’an.
  8. Bila Matahari telah nyata terbenam, bersegeralah berbuka puasa dengan sedikit makan yang manis dan lezat. Sesudah itu tunaikan shalat maghrib. Sesudah shalat maghrib baru menyempurnakan makan dengan mengikuti adab-adab berbuka. Tiap malam kerjakan shalat lail, atau qiyam Ramadhan.
  9. Bila telah memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, tingkatkan ibadah dengan melaksanakan i’tikaf dan menggapai Lailatul Qadar yang terletak di salah satu malam ganjil pada sepuluh hari terakhir.

Kiat Menyempurnakan Puasa

Supaya puasa dapat dilaksanakan dengan sempurna, berikut ini beberapa tips tambahan yang penting diperhatikan dan dipraktekkan dalam amaliyah Ramadhan.

  1. Makan sahurlah supaya anda lebih kuat menghadapi puasa. Seluruh umat Islam menentukan sunahnya sahur dan makruh apabila ditinggalkan. Sahur ahsannya (lebih baik) dilambatkan asal jangan dekat sekali dengan fajar subuh. Apabila ragu tentang terbit fajar, maka ia boleh terus makan dan minum sampai diyakini terbitnya fajar.
  2. Berbuka bila telah nyata terbenam matahari dengan sedikit kurma dan minuman, kemudian shalat maghrib.
  3. Berdoa kepada Allah di waktu berbuka dan berdzikir di celah-celah puasa, memperbanyak taubat, memperbanyak kebajikan dan menjauhi segala yang dibenci Allah. Doa berbuka puasa,”Allahumma laka shumtu, wabika aamantu wa ‘ala rizqika aftartu fataqabbal minna innaka antassami’ul ‘aliimu… Wahai Tuhanku, untuk-Mu aku berpuasa, dan kepada-Mu aku beriman. Dengan rezeki-Mu aku berbuka, maka terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui“.
  4. Mandi sebelum fajar dari hadast besar, supaya memasuki puasa dalam keadaan suci.
  5. Menahan lidah dari perkataan dusta, bertengkar serta segala perkataan yang tidak baik dan tidak bermanfaat, seperti mengumpat, memfitnah, ghibah (menggunjing) atau memperkatakan kehormatan orang lain.
  6. Menahan diri dari pengaruh marah dan dari bersikap kurang wajar, kurang sabar dan sikap yang tidak etis lainnya.
  7. Selalu berusaha mencari ridha dan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah dan mensyukuri segala nikmat-Nnya.
  8. Bermurah-tangan, banyak membantu kesusahan dan kesibukan orang lain, bersedekah, murah senyum, dan sebagainya.
  9. Menggunakan setiap waktu di bulan Ramadhan untuk mendalami masalah agama, memperbanyak ibadah dan amal shalih, menambah persaudaraan, banyak memberikan layanan sosial pada umat.
  10. Selalu berpegang teguh untuk tidak mencari makan kecuali yang halal, suci, thayyib, bergizi tinggi, agar tidak menjadikan perut timbunan “barang haram”, serta menafkahkannya di jalan Allah.
  11. Memelihara jiwa dari berbagai macam penyakit dengki, hasad, iri, ujub, takabur, riya’, dan memelihara seluruh anggota tubuh dari berbagai kemaksiatan, selalu bersikap tenang menjaga iffah, harga diri dan kehormatan. Dan berbagai amalan ruhani, lisan maupun anggota badan yang makin menambah “nilai taqwa”.
Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s