Bersama Rasulullah Menyambut ‘Iedul Fitri

Hari Raya Idul Fitri merupakan saat-saat yang paling membahagiakan bagi kaum muslimin-mukminin, terkhusus bagi mereka yang “sukses” dalam amaliah Ramadhan. Mengapa? Karena Idul Fitri sebenarnya “milik para shaimin”, “laisal ‘iid liman labisal jadiid, walaakinnal ‘ied man thaa-atuhu yaziid… Idul Fitri bukanlah bagi mereka yang baru bajunya tetapi ‘ied yang hakiki adalah bagi mereka yang ketaatannya meningkat…”.

Hari Raya Idul Fitri berlangsung sesudah kaum muslimin menunaikan ibadah puasa sebulan penuh, pada Ramadhan yang penuh berkah, untuk memenuhi kewajiban dari Allah yang pada hakikatnya adalah kebutuhan kita, yakni beribadah dengan sebenar-benarnya untuk meraih cinta dan maghfirah-Nya.Hari Raya Idul Fitri disebut sebagai hari Jawaiz diriwayatkan dari Az-Zuhri, “Jika hari raya idul fitri tiba, orang-orang pada keluar menghadap Tuhan Yang Maha Kuat, yang tengah menampakkan diri kepada mereka seraya berfirman, “Hamba-hamba-Ku, kalian telah berpuasa untuk-Ku, beribadah malam hari kepada-Ku, maka sekarang, kembalilah kalian dalam keadaan terampuni“.

Kisah Rasul Menyambut Idul Fitri

Ada sebuah riwayat bahwa Rasulullah SAW pernah keluar dari tempat i’tikaf-nya ikut berbondong-bondong dengan segenap kaum muslimin menuju lapangan untuk shalat hari raya bersama. Hal ini untuk “mendemonstrasikan” di mata kaum kuffar, betapa banyak dan kuatnya kaum muslimin.

Beliau membolehkan kaum wanita untuk ikut keluar ke lapangan, bahkan yang haid sekalipun. Namun Rasulullah membatasi mereka untuk menyisih di pinggir bagi yang haid. Yakni agar mereka semua dapat mendengarkan khutbah, mendapatkan berkah dan doa dari kaum muslimin yang dilaksanakan kaum muslimin yang menjalankan shalat ‘ied.

Biasanya Rasulullah berkhutbah ‘id setelah melaksanakan shalat hari raya.

Rasulullah SAW pernah melakukan shalat ‘id di masjid saat dilanda musim hujan.

Dalam khutbahnya Rasulullah menasehati dan menganjurkan kepada kaum wanita agar gemar bersedekah.

Rasulullah tidak mau pulang melewati jalan yang sama ketika Beliau berangkat. Hal ini dimaksudkan agar Beliau mendapat kesempatan lebih banyak untuk bertemu orang lain dan memanfaatkan semaraknya hari raya untuk dirinya.

Pada hari raya, Rasulullah membolehkan kita bermain dan bersuka ria, berpakaian bagus, dan lain-lain, yang tidak biasanya pada hari-hari biasa.

Anjran-anjuran Rasul sebelum menunaikan shalat ‘ied diantaranya, memenuhi kewajiban zakat fitrah sebelum shalat ditunaikan, mandi sebelumnya, memakai pakaian yang terbaik yang dimilikinya, mengenakan parfum dan wewangian, makan pagi dengan beberapa butir kurma (atau sedikit makanan) sebelum berangkat ke lapangan atau masjid, berangkat dengan bertakbir, bertahmid dan bertahlil, untuk menunjukkan ‘izzah Islam dan kaum muslimin. Berangkat dan pulang, disunnahkan dengan berjalan kaki dengan jalan yang berbeda.

Kemudian ada hal-hal yang mesti diperhatikan dalam pelaksanaan shalat dan khutbah ‘ied, yakni:

  • Tidak diawali oleh azan dan iqamat
  • Tidak ada shalat sunah sebelum dan sesudahnya
  • Waktu pelaksanaan shalat ‘ied adalah dari tinggi matahari sekadar tiga meter, hingga tergelincir matahari. Tetapi yang utama adalah disegerakan.

Cara Shalat ‘Id

  • Dikerjakan dua raka’at sebagaimana shalat lainnya.
  • Di raka’at pertama dibacakan takbir tujuh kali berulang-ulang sesudah takbiratul ihram dan membaca doa iftitah sebelum ta’awudz dan qira’ah.
  • Antara dua takbir membaca “Subhanallahi walhamdulillah walaa ilaaha illallaahu Allahu akbar“.
  • Membaca ta’awudz, Al-Fatihah dan surat pendek. Yang disukai membaca surat Al-A’la pada raka’at pertama dan Al-Ghasyiyah pada raka’at kedua.
  • Pada raka’at kedua membaca takbir lima kali, yakni setelah pembacaan takbir qiyam (takbir saat bangun dari sujud).
  • Seusai shalat ‘ied, khatib naik mimbar untuk membacakan khutbah, di sela-sela khutbah dibacakan takbir. Khutbah ‘ied ada yang berpendapat “satu kali” dan yang berpendapat dua kali seperti khutbah jum’at.
  • Seusai khutbah membaca doa penutup “subhaana rabbika rabbil ‘izzati ‘amma yashifun wasalaamun ‘alal mursaliina wal hamdulillah rabbil ‘aalamien“.
  • Hendaknya kaum muslimin mengikuti dan menyimak khutbah ‘ied, karena termasuk bagian dari rukun pelaksanaan ibadah sunnah ‘ied.
  • Merapikan shaf dan menatanya dalam keteraturan yang sesungguhnya merupakan bentuk kemuliaan dan kejayan risalah Islam.
  • Memperbanyak ucapan syukur dengan bertahmid dan berdzikir. Memperbanyak mohon ampunan kepada Allah Azza wa Jalla. Ingatlah bahwa istighfar menampakkan puasa, sedangkan zakat fitrah menyucikan diri dari perkataan keji dan pebuatan tidak senonoh.

Tahniah ‘Ied (Ucapan pada Hari Raya)

Diriwayatkan dari Jubair Ibnu Nufair, bahwa “sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apa bila berjumpa satu sama lain di hari ‘ied, mereka mengucapkan taqabalallahu minnaa waminkum… semoga Allah menerima amalan kami dan amalan kalian…” (Menurut ibnu Hajar dalam Fathul Bari -Syarah hadits Bukhari- hadits ini hasan).

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s