Bersama Rasulullah di Akhir Ramadhan

Satu perbedaan yang menyolok antara Nabi Muhammad, para sahabat dan umatnya adalah dalam menyikapi amal shalih dan fadhilahnya. Rasulullah SAW dan para sahabat melihat amal shalih sebagai peluang yang “sangat mahal” sehingga saat kehilangan peluang tersebut mereka merasa sangat sedih, karena “belum optimal” dalam mengisinya. Maka tak heran, manusia sekaliber Rasulullah pun masih “rajin” menunaikan shalat malam sampai kaki Beliau bengkak, demikian juga para sahabat, tidak seperti kita.

Dalam menyongsong berakhirnya Ramadhan Rasulullah dan para sahabat menumpahkan kesedihan yang amat mendalam karena berlalunya Ramadhan yang “full” fadhilah dan keberkahan. Sehingga banyak diantara mereka yang menangis, takut dan khawatir, kalau-kalau di tahun berikutnya tidak bisa lagi “menemui” Ramadhan.

Anehnya di saat sekarang ini kita saksikan “akhir Ramadhan” dipandang sebagai puncak dan pintu kebebasan, sebebas-bebasnya. Yakni merasa “bebas” dari kekangan yang membatasi dirinya, seperti makan, minum, bicara, dan bergaul dengan siapa saja. Akibatnya, pasca Ramadhan banyak manusia yang kembali tenggelam dalam lautan dosa dan kemaksiatan, kembali pada keadaan sebelum Ramadhan. Sehingga “hasil” didikan Ramadhan tidak membekas sama sekali.

Untuk itu sebelum mengakhiri Ramadhan, baik sekali untuk terus menerus kita memantau dan mengoreksi diri:

  • Sudah berapa jauh tenaga, pikiran, dan perasaan yang kita curahkan untuk “menghidupkan Ramadhan?”
  • Bagaimana target-target amal kita yang sudah kita canangkan, sejauh mana tingkat keberhasilan kita?
  • Bagaimana sikap istiqamah kita dalam menjaga amalan Ramadhan, dari awal, pertengahan hingga akhirnya? Apakah kita hanya termasuk orang yang “obor-obor blarak” atau “hangat-hangat tahi ayam”, yang hanya semangat di awalnya kemudian loyo di akhirnya?
  • Memperbaharui taubat dan senantiasa menjaga diri dalam suasana taubat, sehingga merasakan setiap dosa dan kemaksiatan adalah masalah masa lalu yang mesti kita kubur dalam-dalam, sehingga kemaksiatan yang ada digantikan kebajikan oleh Allah Azza wa Jalla (Al-Furqan: 70).
  • Hendaknya selalu menjaga keikhlasan dalam amal kita, jangan sampai terjebak sikap ‘riya, ujub, maupun takabur. Barangkali kita dapat merasakan manisnya “ibadah Ramadhan”, tetapi jangan sampai hal itu membuat kita terlena kemudian ujub dan takabur, merasa diri paling…
  • Bila menyaksikan diri sudah tekun beribadah hendaknya kita bertekad untuk meningkatkannya di masa depan. Seakan-akan kita terus terngiang di telinga kita, “Wahai orang yang melakukan kebajikan, teruskan dan tingkatkanlah apa yang kamu lakukan itu. Wahai orang yang lengah dan lalai, hentikan segera kelengahan itu!”
  • Selanjutnya kita harus selalu tunduk kepada Allah seraya memohon agar Dia mengampuni dosa-dosa kita semua, menerima amalan orang yang mau beramal, menerima taubatnya orang-orang lengah, menunjukkan kita jalan yang lurus, meleburkan dosa kita dalam lautan ampunan-Nya dan menjadikan kita orang yang terbebas dari siksa neraka-Nya.
  • Bertekad dan berusaha sekuat mungkin untuk melestarikan nilai-nilai Ramadhan, diantara menjaga istiqamah dalam iman, ibadah dan amal shalih, serta melaksanakan “puasa syawal” selama enam hari, baik mulai tanggal 2 Syawal berturut-turut maupun tidak mesti berturut-turut.
Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s