Hukum Bersentuhan dengan Lawan Jenis Saat Berpuasa

Assalamu’alaikum ustadz,

Mau tanya nih kalo pas puasa misalnya sedang di dalam bis trus bisnya penuh jadi sesak, gimana bila perempuan bersentuhan dengan laki-laki dan nggak bisa menghindarinya? Apakah puasanya batal? Terima kasih.

Wassalamu’alaikum
eka

Jawab:
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Bismillah, Washshalatu Wassalamu ‘ala Rasulillah, Waba’du

Secara hukum fiqih, selama seseorang tidak makan, minum atau melakukan hubungan suami istri secara sengaja, puasanya tidak batal.

Namun secara nilai, bila seseorang melakukan perbuatan yang haram, seperti memandang aurat lawan jenis secara sengaja dan penuh kesadaran, atau menyentuhnya atau melakukan hal-hal yang sejenisnya, tentu nilai ibadah puasanya menjadi berkurang, bahkan bisa hilang sama sekali. Meskipun secara hukum fiqih, puasanya tidak batal dan tidak ada kewajiban untuk meng-qadha’-nya di hari lain.

Sebab puasa itu bukan saja berdimensi hukum fiqih semata, melainkan juga berdimensi ruhiyah. Kalau yang hukumnya halal saja -seperti makan dan minum- harus ditinggalkan ketika berpuasa, apalagi perbuatan yang hukumnya memang haram sejak semula. Tentu lebih haram lagi bila dikerjakan saat berpuasa. Kejadian ini mengingatkan kita kepada salah satu hadits Rasulullah SAW.

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Berapa banyak orang yang puasa tapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar…”(HR. Ahmad Dalam Musnad Imam Ahmad 9308)

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Berapa banyak orang yang puasa tapi tidak mendapatkan apa-apa selain haus…”(HR. Ad-Darimi Dalam Sunan Ad-Darimi 2604)

Hal itu terjadi salah satunya karena ketika berpuasa, seseorang melakukan kemaksiatan. Rasulullah SAW bersabda,

”Puasa itu adalah benteng, sehingga bila seorang kamu berpuasa, janganlah melakukan rafats (cumbu yang diharamkan) dan berlaku jahil. …” (HR. Bukhari dan Abu Daud)

Padahal keistimewaan ibadah puasa dibandingkan dengan jenis ibadah lainnya terletak pada bentuk dan sifat pahalanya. Dimana Allah SWT sendiri yang akan menentukan bagaimana pahala itu akan diberikan. Dan tentunya, masalah nilai ibadah menjadi faktor utama, selain masalah sah dan tidak sah secara hukum fiqih.

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Allah SWT telah berfirman,” Seluruh amal anak Adam itu diberi ganjaran kecuali puasa. Karena puasa itu untukKu dan Aku lah yang memberi ganjarannya…”. (HR. Ahmad, Muslim dan An-Nasai)

Kami yakin bahwa apa yang anda alami jauh dari niat untuk melakukan hal-hal yang dilarang Allah. Namun zhuruf (kondisi) sosial di negeri kita memang seringkali kurang kondusif untuk menjalankan ajaran agama secara sempurna.

Sekedar sebuah masukan saja, kalau masih memungkinkan bagi Anda untuk mengurangi frekuensi berjejalan di dalam angkutan umum, sebaiknya anda kurangi. Ada baiknya sebagai wanita, anda lebih banyak berkonsentrasi untuk beribadah di rumah, terutama di bulan Ramadhan.
Wallahu a’lam bishshawab
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s