Antara Praktek Zaman Rasul dengan Jadwal Imsakiyah

Ada satu hal yang ingin saya tanyakan pak Ustadz. Sekarang khan kita kalo berbuka dan sahur berdasarkan jadwal imsakiyah yang banyak beredar. Tapi kalau dulu khan rasul dan sahabat berbuka dan sahur dengan mengamati langsung keadaan langit. Misalnya bersahur ketika sudah jelas perbedaan benang putih dan hitam. Nah, bagaimana dengan jadwal imsakiyah itu? Apakah itu termasuk hal yang diperbolehkan oleh syariat? Jazakallahu khoir.
Budi H

Jawab:
Idealnya memang harus ada yang memperhatikan gejala alam dalam menentukan waktu-waktu ibadah, baik waktu puasa maupun waktu shalat. Namun bukan berarti semua orang harus menatap ke langit setiap mau shalat atau mau masuk puasa. Tentu hal ini akan sangat memberatkan.

Kita bisa menentukan waktu-waktu shalat dan puasa berdasarkan informasi yang kita terima dari mereka yang memang bisa memiliki akses untuk mengamati langsung. Dan boleh juga dari jadwal yang sudah dibuat dengan perhitungan yang sedemikian detail.

Dalam menentukan jadwal shalat, kita dibenarkan bersandar kepada ilmu hisab. Sebab ilmu hisab ini lahir dari hasil penghitungan yang sudah teruji dengan baik dan bisa dibuktikan secara ilmiyah.

Keadaannya sedikit berbeda dengan penggunaan ilmu hisab dalam menentukan awal bulan Ramadhan dan awal bulan Syawwal. Sebab khusus untuk menentukan kedua waktu itu, ada hadits-hadits yang secara eksplisit memerintahkan kita untuk melakukan pengamatan bulan (ru’yatul hilal).

Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Abu Hurairah r.a.:
Puasalah dengan melihat bulan dan berfithr (berlebaran) dengan melihat bulan, bila tidak nampak olehmu, maka sempurnakan hitungan Sya’ban menjadi 30 hari. (HR Bukhari dan Muslim).

Bedanya dengan menentukan waktu shalat adalah bahwa Rasulullah tidak memerintahkan untuk melakukan ru’yah secara khusus. Waktu-waktu shalat itu hanya disebutkan gejala alamnya saja tanpa ada perintah khusus untuk melakukan ru’yah. Sehingga bila kita bisa tahu dengan melakukan penghitungan secara matematis adanya gejala alam tertentu yang menandakan masuknya waktu shalat tertentu tanpa harus melihatnya langsung, sudah dianggap memenuhi kriteria.

Sebaliknya, untuk menentukan awal puasa dan lebaran, tidak cukup hanya sekedar mengetahui secara perhitungan matematis, sebab Nabi SAW memang memerintahkan untuk meru’yat. Wassalam.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s