Membangun peradaban Islam, dari tidur yang panjang

Islam meruapakan satu  peradaban yang sangat besar yang mampu berdiri sendiri di atas kebesaran pentas kejayaan peradaban dunia, bahkan dengan kehadiran Islam melahirkan corak pandangan baru dalam dunia perubahan. Dunia yang pada mulanya gelap kini menjadi bersinar dengan kedatangan Islam, sains diperkenalkan, derajat manusia ditinggikan, para pemikirnya lahir menyebar keseluruh penjuru dunia.

Jika kita kembali memutar roda sejarah, pada abad pertengahan (4 Hijriyah) dan melihat bagaimana peradaban yang berkembang di dunia Eropa  saat itu manusia tidak lebih daripada binatang, cara hidup yang mereka jalankan tak ubahnya segorombolan sapi liar yang hidup dan tidur diatas kotorannya, tempat tinggalnya kumuh tidak mengambarkan layaknya tempat tinggal makhluk yang bernama manusia.

Rumah-rumah dibangun di dataran rendah, berpintu sempit tidak terkunci dan dinding serta temboknya tidak berjendela. Udara penuh dengan polusi dan wabah penyakit menyebar bebas dan mudah menyangkit hewan ternak yang marupak sumber penghasilan yang paling utama saat itu.

Dan pada masa itu pula Eropa penuh dengan hutan-hutan belantara, sistem pertaniannya terbelakang.  Dari rawa-rawa yang terdapat dipinggran kota tersebar bau busuk yang mematikan, sungai-sungai menjadi tidak mengalir tersumbat oleh tumpukan-tumpukan sampah dan bangkai binatang liar. Lebih dari itu, penduduknya tidak mengenal isltilah kebersihan, sampah-sampah merka buang di sembarang tempat. Sungguh saat itu Mereka tidak mengenal peradaban bahkan bukan pelaku peradaban.

Sebaliknya, kerajan-kerajaan Islam tersusun rapi dan kokoh, gedung-gudungnya menjulang langit dan dilapisi oleh marmer indah dengan bintikan mutiara, jendela terhias dengan lukisan indah berbintik permata dan perumahan masyarakat yang artistik dimana ketika malam hari tiba kilauan lampu menyebar di mana-mana sehingga pejalan kaki memperoleh cahaya sepanjang sepuluh mil tanpa terputus. Lorong-lorongnya dialasi batu ubin sehingga tak sedikitpun dijumpai genangan air saat hujan turun dan sampah-sampahpun disingkirkan dari jalan-jalan.

Islam sudah memiliki ribuan sekolah, ketika di mana masyarakat Eropa waktu itu terbelenggu dengan kebodohannya. Dari waktu ke waktu lahir ratusan bahkan ribuan generasi intelek yang selalu tampil dengan gagasan-gagasan baru yang justru menjadi sumbangan besar terhadap perkembangan daulah dan kerajaan.

Di Cordoba misalnya, dipinggiran kota bagian timur terdapat sekitar 170 orang wanita penulis mushaf dengan khat Khufi. Di seluruh Cordoba terdapat 50 rumah sakit dan 80 sekolah. Orang-orang yang tidak   mampu dari segi perekonomian tetap memiliki kebebasan bersekolah secara percuma alias gratis.

Ummat Islam saat itu sangat menunjol dalam menguasai ilmu dan sains, banyak kalangan pemikr-pemikir Barat yang kemudian mengaku takjub terhadap ilmuan Islam terdahulu, sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Dr. Robert Briffault didalam bukunya “the Making Of Hummanity” bab “Dar Al-Hikmet” berkata, “Sumbangan dari peradaban Arab (maksudnya Islam) kepada dunia Barat yang paling berarti adalah sains.”

Dalam sejarah Islam itu memang tumbuh dari kawasan jazirah Arab yang kemudian berkembang pesat disbabkan oleh perjuangan para pembesar-pembesar Arab yang dikirim atau hijrah ke berbagai daerah di seluruh penjuru dunia, mulai dari kawasan Hindia hingga Asia termasuk juga Eropa. Karenanya, banyak peneliti Barat sering menyebutkan, kehabatan dan kemajuan Barat tak lain karena berhutang warisan peradaban kepada Islam.

Pakar dan ilmuan Muslim dengan berbagai penemuannya menjadi bahan acuan  orang-orang Barat untuk terus mengembangkan penemuan itu hingga kini. Dari alat medis,  alat bedah dan temuan-temuan ilmu lain. Adalah Abu Al-Qosim Al-Zahrawi (936-1013 M), beliaulah yang pertama mengenalkan terhadap dunia tentang nama penyakit hemofolia yang merupakan penyakit turunan atau genitis. Kitabnya At-tafsir diterjemahkan kedalam bahasa Latin dan kemudian menjadi bahan rujukan selama lima abad di Universitas Salerno Italia dan beberapa Universitas lain di Eropa.

Ibnu Sina (980-1037 M), merupakan orang pertama yang menjelaskan ilmu kedokteran modern. Ia menjelaskan tentang radang selaput otak atau manginitis. Kitabnya,  Al-Qonun diterjemahkan kedalam bahasa Latin dan menjadi bahan rujukan di sekolah-sekolah kedokteran yang berada di Eropa mulai dari abad 12-17, bahkan ada yang menyebutkan bahwa buku ini adalah satu-satunya buku yang menjadai bahan refrensi di universitas terkemuka di Eropa dengan kurun waktu yang begitu panjang mengungguli buku-buku lain yang juga berbicara masalah pengobatan. Bahkan sampai hari ini.

Di bidang matematika, adan Mohammad Ibn Musa Al-Khawarizimi (Meninggal 480 M),  penggagas Ilmu al-jabar. Nama Al-jabar diambil dari nama buku beliau “Al-Jabar wal-Muqobilah”. Konsep algoritme diberi nama mengikuti namanya, yaitu Khawarizimi. Menurut pemikir Barat, beliau ini banyak mempengaruhi Barat dari sudut ilmu matematikanya yang bahkan mengalahkan penulis lain.

Berfikir, Bekerja dan Bangkit 

Di abad ini, dari sekian banyak sumbangan-sumbangan yang diberikan oleh pemikir-pemikir handal Muslim tersebut ternyata hanya dinikmati oleh mereka dan sekelompok orang. Sains, hari ini justru  tidak menjadi sumber inspirasi mayoritas ummat Islam. Umumnya kaum Muslim terlena dengan mimpi-mimpi yang hanya merupakan hayalan kosong yang justru menjadikan Islam menjadi tertinggal, mareka bersikap apatis terhadap sains dewasa ini.

Akibatnya ummat Islam menjadi lemah di bidang sains, dan akhirnya mereka menjadi tertinggal dan terbelakang, salah satu penyebabnya adalah tidak lain karena kita terlalu disibukkan dengan saling berdebat dan berfilosofi dengan hal yang tidak penting atau bukan hal yang utama dan tidak bermanfaat, dan sekarang, ummat Islam menjadi tertinggal.

Yang lebih memprihatinkan, sebagian kaum Muslim tidak mengenal para cendekiawan Muslim yang sumbangannya terhadap ilmu pengetahuan telah menginspirasi Barat. Sebaliknya, mereka belajar kepada Barat dan ujungnya terkagum-kagum dengannya.

Peradaban Islam akan sulit bangkit dengan cepat, jika kondisi umat kita masih seperti ini. Pekerjaan pertama adalah bertauhid secara lebih murni. Para menteri, eselon, peneliti, dosen, dokter, pengacara, insinyur, hakim, jaksa, guru, hingga kuli batu, semua lini, terutama presidennya harus ‘bertauhid’ secaca benar dahulu.

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَن شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Allah berfirman, “Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya).” (QS: Az Zukhruf [43]: 86).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mati dalam keadaan mengilmui la ilaha illallah pasti masuk surga.” (HR: Al Bukhari dan Muslim).

Dan makna yang benar dari kalimat la ilaha illallah لاَ إِلَهَ إِلاَّ الل yaitu ‘tidak ada sesembahan’, tak ada yang ‘dituhankan’ yang hak melainkan Allah Ta’ala.

Kalau masih ada di kalangan Muslim masih ‘menuhankan’ harta, ilmu atau masih ada ‘ilah-ilah’ lain selain Allah Subhanahu Wata’ala, maka mimpi kejayaan itu masih jauh, karena Allah tak akan menurunkan rahmatnya.

Kedua, perbanyak ‘menyerap energi dari Allah”  dengan cara ‘menjauhkan punggung dan lambung kita dari tempat tidur’.

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفاً وَطَمَعاً وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاء بِمَا كَانُوا يَعْمَلُون؛ث

Artinya, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap (dengan qiyamul lail, red), serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai Balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS: As-Sajdah [32]: 16-17)

Ketiga, sarat selanjutnya ya berfikir, bekerja keras, tidak bermalas-malasan serta bersungguh-sungguh. Karena itulah ciri seorang Muslim.

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS; Al Insyirah [94]: 7).

Semua yang berkenan kembalinya kejayaan peradaban Islam, harus punya niat dalam dirinya, bahwa apa yang dilakukan –apapun profesinsya, kecuali yang diharamkkan Allah– harus selalu diniatkan untuk mencari ridho Allah Subhanahu Wata’ala dan juga untuk ‘kejayaan dan kemuliaan Islam’.

Semoga kita diperkenankan Allah Subhanahu wata’ala bisa mengembalikan dan membangkitkan kejayaan dan peradaban Islam dengan ilmu dan keahlian yang kita miliki.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s