Ahmed Deedat Raih Penghargaan atas Dakwah Islamnya

Sebuah forum studi sosial internasional yang berbasis di Arab Saudi memutuskan untuk memberikan penghargaan bagi seorang pendakwah Islam terkenal, Ahmed Deedat (1918-2005).

Ahmed Deedat Raih Penghargaan atas Dakwah Islamnya“Kami telah memberi penghargaan sepanjang masa ‘life time achievement award‘ pada 2012 bagi Ahmad Deedat,” kata ketua Forum Social Studies an Islamic Organization, Esam Mudeer.

Deedat adalah salah satu pendakwah Islam dunia dengan individu unggul yang mencurahkan seluruh perjuangan hidupnya untuk dakwah Islam dunia. Forum Studi Sosial Organisasi Islam adalah sebuah organisasi Islam yang didirikan pada 1986 yang memiliki perwakilan di Inggris, Kanada dan Arab Saudi.

Deedat dikenal sebagai Ulama asal Afrika Selatan keturunan India. Sejak 1970 hingga 1980-an, Deedat telah terkenal sebagai pendakwahan Islam berkeliling di negara-negara Eropa dan Amerika. Saat ini karyanya telah dijadikan panduan dalam dakwah Islam di dunia barat.

Sebelumnya pada 1986, Ahmed Deedat pernah menerima penghargaan ‘King Faisal Award‘ untuk pengabdiannya kepada Islam oleh Raja Abdullah, yang sekaligus Penjaga Dua Masjid Suci di Makkah dan Madinah.

“Saat ini semakin banyak para mualaf dan Muslim yang semakin sadar terhadap keyakinan Islam dan tantangan pengrusakan iman Islam diseluruh dunia terutama setelah 11 September,” ujar Yousuf Deedat sang anak.

Video dan rekaman Ahmad Deedat, jelas Yousef, telah menjadi referensi anak muda Islam di seluruh dunia yang telah disebarluaskan melalui media sosial seperti YouTubeFacebook dan Twitter. Dan juga menjadi sumber referensi jutaan orang yang tertarik dalam Islam.

Dalam rangka merayakan milad ke-25nya pada 2 Februari lalu, Forum ini memberikan penghargaan kepada organisasi dan individu unggulan yang memiliki pengaruh dalam perkembangan Islam di berbagai bidang. Sang anak, Yousuf Deedat, menerima penghargaan ini atas nama almarhum ayahnya.

“Sebagian warga Amerika dan Barat yang membenci Islam akan semakin tahu apa yang ia perdebatkan tentang Islam dengan keyakinan mereka. Sudah waktunya kita mendidik mereka lebih baik, dan umat Islam seluruh dunia saat ini bekewajiban membebaskan diri dari sistem penindasan dunia. Selamat Datang era baru Islam,” ujar Yousef dalam sambutannya. (republika.co.id)

Ahmad Deedat, Pendebat Islam Tiada Tandingan

Ahmad Deedat, Pendebat Islam Tiada TandinganPakar di bidang perbandingan agama. Argumentasinya mampu mematahkan lawan debatnya, baik dari kalangan Kristen/Katholik maupun Yahudi. Hidupnya diwakafkan untuk membela Islam sebagai agama yang benar.

SYAIKH Ahmad Husain Deedat (Lahir 1 Juli 1918 di distrik Surat, India), terlahir dari seorang ibu bernama Fatimah dan ayah bernama Husain Deedat. Pada tahun 1927, keluarga Deedat hijrah ke kota Durban, Afrika Selatan. Di usia sekolahnya, Ahmad Deedat dikenal sebagai seorang siswa yang cerdas. Di Durban itulah Deedat disekolahkan di Islamic Center untuk belajar dan memperdalam Al-Qur’an, hadits, dan fikih.

Orangtua Deedat tergolong sebagai keluarga kurang mampu. Karena itu, selain sekolah di pagi hari, di siang hingga sore harinya Deedat membantu ayahnya berjualan garam di kiosnya yang kecil di pinggiran kota Durban. Kios milik keluarga Deedat itu bersebelahan dengan Lembaga Seminar yang mencetak para penginjil. Dari sinilah Deedat berinteraksi dengan para murid seminari tersebut. Ia sering diejek, diajak debat,dan Nabinya pun (Muhammad SAW) jamak menjadi bahan olok-olokan mereka. Mendapat perlakukan yang kurang menyenangkan tersebut Deedat kecil hanya termenung di malam hari.

Air matanya pun kerap menetes ketika ia merasa tak mampu menghadapi segala cemoohan yang ditujukan kepada junjungannya, Rasulullah SAW.

Inilah yang memicunya secara serius mempelajari Al-Qur’an dan berbagai kitab Bibel. Dalam pencariannya itulah akhirnya Deedat menemukan buku  berjudul ‘The Truth Revealed’ (Izharul Haq) karya Hamid Kadri Al-Hindi, yang berisi tentang kegiatan misionaris Kristen di kawasan yang kemudian dikenal sebagai British India. Dari buku ini pula Deedat mampu menandingi para siswa di seminari. Hasilnya cukup membanggakan.

Kalau sebelumnya para siswa seminari cenderung mencibir Islam, kini mereka melunak dan  menghormati Nabi Muhammad SAW.

Seiring dengan perubahan waktu, Deedat pun mendapat posisi penting di perusahaan meubel. Inilah yang menyebabkan ia bisa melanjutkan studinya yang terputus akibat kesulitan ekonomi waktu itu. Lalu, sambil bekerja, Deedat melanjutkan kuliahnya di Fakultas Seni yang didalamnya dipelajari pula matematika dan ilmu manajemen.

Ahmad Deedat, Pendebat Islam Tiada Tandingan

Dari kuliahnya ini pula Deedat mendapat ilmu logika yang membuatnya mampu merumuskan pikiran-pikirannya secara logis dan sistematis dalam mengemukakan gagasannya, baik tulis maupun oral. Untuk memperdalam ilmu perbandingan agamanya, Deedat terus belajar sendiri dan memperdalam bahasa-bahasa asing seperti Arab, Inggris, Perancis, Afrika, dan Ibrani. Lalu, untuk mengumpulkan dana yang lebih besar guna keperluan dakwah, Deedat mangadu nasib ke Pakistan, tahun 1949. Selama 3 tahun di Pakistan ia menjabat sebagai direktur perusahaan tekstil.

Setelah itu ia kembali ke Durban dan kembali menduduki posisi di perusahaan meubel yang dulu ia tinggalkan.

Pada tahun 1956, Deedat memutuskan menjadi seorang pendakwah, yang mengkritisi ajaran Kristen/Katholik dan Yahudi. Ada pengalaman menarik ketika Deedat merintis dakwahnya. Waktu itu ia bekerja di Beare Brothers, sebuah perusahaan milik konglomerat Yahudi di Johanersburg, Ibukota Afrika Selatan. Dari sini ia sering berdialog dengan komunitas Yahudi, baik secara formal maupun informal.

Keseriusan Deedat memperdalam ajaran Kristen dan Yahudi mengantarkannya sebagai seorang pakar di bidang kristologi dan Yahudisme. Ia lalu terjun total ke dunia dakwah Islam. Antara lain membuka kelas yang mengkaji tentang injil, memberikan ceramah dan perdebatan soal kitab suci umat Kristiani itu. Ia mendirikan pesantren pertamanya, Assalam, di bagian selatan Afrika yang memberikan pelatihan tentang pengembangan dakwah. Ia juga pendiri Organisasi Dakwah Islam terbesar di dunia, The Islamic Propagation Center International dan menjadi presiden organisasi tersebut.

Sepanjang hidupnya, Deedat sudah menerbitkan lebih dari 20 buku dan menyebarkan jutaan kopi tulisan serta pamflet ke seluruh dunia. Banyak karya-karya tulisannya yang diterjemahkan ke bahasa asing, seperti bahasa Rusia, Urdu, Arab, Bengali, Perancis, Cina, Jepang, Indonesia, Malaysia, Zulu, Belanda, Norwegia dan bahasa lainnya.

Selain itu, Deedat juga sudah memberikan ribuan ceramah dan kuliah hampir ke seluruh dunia dan namanya cukup dikenal dan dihormati di kalangan penganut Kristan Evangelis karena debat-debat publik yang sering dilakukannya. Karir Deedat dalam bidang perbandingan agama, telah membawanya melanglang buana ke lima benua. Ia melakukan dialog dengan para pemuka agama Kristen Protestan di Amerika dan Paus Paulus.

Mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela, ketika berada di Arab Saudi bahkan secara pribadi menelpon Syaikh Deedat untuk memberikan selamat atas kontribusinya dalam mengembangkan pendidikan Islam.

Ahmad Deedat, Pendebat Islam Tiada TandinganPada tahun 1986, Syaikh Deedat menerima penghargaan bergengsi King Faisal Award karena aktivitasnya yang luar bisa dalam dakwah Islam. “Dia adalah sebuh ikon. Saya pikir tidak ada seorangpun yang bisa menggantikannya,” ujar rekan Sheik Deedat, Suleiman Vahed. “Dia adalah orang yang sangat terkenal. Dia bisa saja mengendarai mobil mewah dan tinggal di rumah yang bagus, kalau ia mau. Tapi ia selalu menunjukkan kesederhanaan dan kerendahan hati sepanjang hidupnya,” kata Raihana Badat, yang pernah menjadi tetangga Deedat dan sering menghadiri kegiatan di rumah Deedat. Raihana menambahkan, dalam situasi seperti sekarang ini, umat Islam sangat membutuhkan seorang pemuka Islam seperti Deedat.

Kesuksesan Syaikh Deedat ternyata tidak lepas dari dukungan sang isteri. Menantu perempuannya, Yasmin mengungkapkan, ibu mertuanya adalah kekuatan bagi Syaikh Deedat. “Beliau adalah seorang yang sangat positif dan terus bersikap positif ketika mendampingi sang suami sakit, beliau tidak pernah mengeluh dengan kondisi suaminya,” papar Yasmin. Deedat dikenal sebagai seorang yang serius menekuni dan mengkritisi doktrin-doktrin teologi Kristen yang menurutnya banyak diselewengkan. Untuk kepentingan itulah  Deedat mendirikan Islamic Propagation Center Internasional, yaitu sebuah lembaga dakwah Islam yang berpusat di Durban, Afrika Selatan. Lebih dari 20 buku berhasil ditulisnya.

Sementara jutaan ekslempar buku itu dan rekaman video dibagi-bagikan ke seluruh penjuru dunia secara gratis. Debat-debat Deedat dengan sejumlah pendeta telah banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa asing lainnya. Selain itu, dia juga memberikan ceramah ke sejumlah negara khususnya negara-negara Barat yang menganut agama Kristen. Karir keterlibatan Deedat dalam meluruskan doktrin Kristen itu pertama kali terjadi di Amerika, yakni saat ia terlibat dialog dengan Paus II.

Pada tahun 1980, nama Deedat kian berkibar setelah terlibat debat panas dengan pendeta Jimmy Swaggart. Karena keberanian dan caranya berdebat yang kerapkali membuat para pendeta terpojok, Deedat pernah dilarang masuk ke Perancis dan Nigeria dengan alasan dapat memicu kerusuhan sipil.

Ahmad Deedat, Pendebat Islam Tiada Tandingan

Karya-karyanya
Antara karya beliau yang masyhur ialah seperti ‘The Choice Between Islam and Christianity’, ‘Is the Bible God Word?’, ‘What is His Name?’ dan ‘al-Quran, The Miracles of Miracles’.

Kembali ke haribaan-Nya

Syaikh Anmad Deedat memperjuangkan dakwah hingga ajal menjemput dirinya. Setelah menderita sakit dan kelumpuhan hampir 10 tahun lamanya, pada hari Senin, 8 Agustus tahun 2005 Syaikh Ahmad Deedat berpulang ke rahmatullah menemui Sang Khalik. Ribuan orang dari seluruh Afrika Selatan mengantar jenazah Syaikh Ahmad Deedat ke tempat peristirahatan terakhirnya. Keranda yang membawa tokoh cendiakawan muslim ini ditutupi kain berwarna hijau dan diusung dari tempat kediamannya di Verulam, Afrika Selatan, sekitar pukul 17.00 sore,  untuk disholatkan di mesjid Wick Street. Sholat jenazah itu diikuti oleh sekitar 1.000 orang jamaah dipimpin oleh ulama terkemuka asal Zambia Mufti Ismail Menk. Setelah itu jasadnya dimakamkan di pemakaman umum Islam
Verulam.Banyaknya para pelayat yang mengantarkan kepergiaan Syaikh Ahmad Deedat dikarenakan dirinya sangat dikenal sebagai pejuang dakwah. Kiprahnya dalam dakwah berhasil meningkatkan status warga muslim di Afrika Selatan, namanya dikenal juga oleh komunitas muslim di Asia.Umat Islam sedunia berduka dengan kepergiaan Syaikh Ahmad Deedat. Deedat yang lama terbaring setelah diserang stroke pada tahun 1996, akhirnya wafat pada Senin pagi di usia 87 tahun.

Sebelum meninggal, da’i yang terkenal dengan serangan-serangannya terhadap teologi Kristen itu masih sempat melawat ke Australia. Anak lelaki Deedat, Yusuf, mengatakan bahwa ayahnya merasakan sakit sangat serius sejak tiga pekan sebelum ajal menjemputnya. “Dia wafat akibat gagal jantung,” tambahnya. “Ibu saya dan saya bersamanya ketika ia wafat,” ujar Yusuf. Meninggalnya Deedat memberi inspirasi kepada banyak pendakwah di berbagai belahan dunia, bahwa mempelajari kitab agama lain adalah senjata untuk membela kebenaran Islam.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s