Lupa

Sehabis kepala dipindahkan ke lutut dan mata berpindah ke kaki, kemudian wangi daun tergilas di lumbung jalanan.
Ada pepatah bilang air beriak tanda tak dalam, entah apapun itu…
tetapi aku lupa jalan pulang, ketika tak satupun kata yang bisa ku rajut menjadi sebuah tanya.

Di ujung sana, kau terus saja memandang.
Berharap aku yang waras menjadi gila dan ketika aku gila menjadi waras.
Memasang muka manis padahal terasa pahit, katanya: yang pahit tak selalu pahit.

Bila ketika tak kenal bahasa ibu, bukan dikatakan anak.
Lalu mereka pergi pada tempat mereka menyusu.
Tertawa menangis, kemudian hilang tak tahu siapa aku.

Lupa….
ya aku lupa
tentang denyut-denyut kebisingan pembawa bahagia
tentang pohon-pohon tumbang yang menjadi penghalang
tentang air hujan yang terasa asam
tentang musim yang membuat tubuh menggigil

aku pulang Tuhan…
untuk sekadar mengingat.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s