Kala Husein Mendiamkan Abdullah

Hidup kadang seperti menyambung seribu satu rangkaian bunga yang tercecer. Butuh ketelitian, keseriusan, dan kesabaran. Sedikit saja lengah, rangkaian bunga bukan sekadar tak indah. Bahkan tak pernah jadi sama sekali.

Tak ada yang lebih gelisah dari Abdullah bin ‘Amr bin Ash ketika itu. Sahabat Rasul yang terkenal dengan kesungguhannya dalam ibadah itu merasakan ada yang lain dengan Husein bin Ali bin Abi Thalib. Sejak pecah perang Shiffin antara Ali dan Mu’awiyah, Husein tak pernah bicara dengan Abdullah.

Ada beberapa sebab. Boleh jadi karena ayah Abdullah, ‘Amr bin Ash, sebagai pendukung kuat Muawiyah untuk melawan Ali. Dan yang paling berat, Abdullah sendiri ikut sang ayah dalam barisan Muawiyah.

Abdullah benar-benar gelisah. Saat itu, ketika ia dan beberapa sahabat lain sedang ngumpul, Husein lewat. Abdullah benar-benar kikuk ketika Husein mengucapkan salam. Setelah ia jawab salam itu, Husein pun berlalu. Ketika itu juga, Abdullah mengatakan, “Akan kutunjukkan kepada kalian seorang penduduk bumi yang sangat dicintai penduduk langit. Dialah yang baru saja lewat tadi, Husein bin Ali. Sejak perang Shiffin, ia tak pernah bicara denganku. Sungguh, ridhanya padaku lebih kusukai dari barang berharga apa pun yang kumiliki.”

Ia minta tolong Abu Sa’id Al-Khudri untuk menemaninya mengunjungi Husein bin Ali. Benar saja. Dalam kunjungan itu, Husein menanyakan soal kesertaan Abdullah dalam perang Shiffin.

Abdullah mengatakan, “Suatu hari, aku diadukan ayahku, ‘Amr bin ‘Ash kepada Rasulullah saw. Katanya, ‘Abdullah ini puasa tiap hari dan beribadah sepanjang malam. Ucap Rasulullah kepadaku, ‘Hai Abdullah, shalat dan tidurlah, puasa dan berbukalah, dan taatilah ayahmu!’ Sewaktu perang Shiffin, ayahku mendesakku untuk ikut bersamanya. Aku pun ikut. Dan demi Allah, selama perang itu, aku tidak pernah menghunus pedang, melempar tombak, dan melepas anak panah!”

Sejak itu, Abdullah bisa merasa lega. Ia habiskan sebagian besar waktunya untuk bermunajat kepada Allah, memohon ampun atas kesalahannya. Ketika usianya menginjak tujuh puluh dua tahun, Allah memanggil Abdullah di saat ia sedang berdzikir di sebuah mushallah.

Itulah sepenggal rasa yang pernah dialami seorang Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash. Kegundahan bisa terjadi ketika gerak dakwah berada pada lintasan yang begitu sensitif. Ketika gerak dakwah memasuki wilayah seribu satu konflik: batin, orientasi, dan ukhuwah. Saat itulah, ruhani menjadi pertahanan terakhir. Kalau ia lemah, konflik pun menguasai seluruh potensi diri. Mungkin bukan sekadar gelisah, tapi langkah tak lagi jelas mau ke arah mana.

Tidak heran jika individu, organisasi yang begitu gigih berjuang mengatasnamakan Islam bisa berubah haluan. Tidak lagi karena ingin menegakkan kalimat Allah, tapi lebih kepada kepentingan materi. Mereka pun hanyut dalam buaian fasilitas hidup. Dan ketika kepentingan tidak lagi berjalan mulus, mereka pun rela menabrak apa pun. Walaupun yang ditabrak itu nilai-nilai Islam seperti kejujuran, keikhlasan, dan persaudaraan Islam.

Fenomena perpecahan adalah fakta yang terpampang jelas. Umat melihat itu. Mereka menyaksikan perseteruan tokoh-tokoh panutan. Tokoh-tokoh teladan pun tiba-tiba lenyap begitu saja. Tenggelam bersama kepulan debu-debu kepentingan individu masing-masing.

Siapa pun bisa mengalami ujian kepentingan seperti itu. Mungkin, itulah bagian dari sekian ujian berat hamba-hamba Allah yang ikhlas mengorbankan potensinya untuk kebaikan umat. Kalau saja tidak ada perawatan, pengawasan terhadap ruhani; ujian bisa menjadi bencana.

Allah swt. pernah mengingatkan Rasulullah dan para sahabat tentang itu. Jangan sampai, apa yang pernah dialami Yahudi dan Nasrani, bisa terulang pada kaum muslimin.

Firman-Nya dalam surah Al-Hadid ayat 16. “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.

Bergulirnya waktu yang panjang bisa memunculkan dua hal: positif dan negatif. Positif berupa tambahnya pengalaman, pemahaman, dan komitmen terhadap perjuangan. Tentu dengan satu syarat: ada perawatan dan pengawasan terhadap ruhani. Jika tidak, yang muncul nilai negatif. Yaitu, adanya pelarutan nilai. Ada eksploitasi potensi umat demi kepentingan pribadi. Itulah yang pernah terjadi pada tokoh agama Yahudi dan Nasrani.

Firman Allah swt. dalam surah At-Taubah ayat 34. “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil.…”

Adanya kata ‘hai orang-orang yang beriman’ dalam ayat ini, menurut ulama, merupakan peringatan khusus dari Allah. Bahwa, penyimpangan tokoh Yahudi dan Nasrani tidak tertutup kemungkinan bisa terjadi di kalangan orang-orang yang beriman.

Umar bin Abdul Aziz, seorang penguasa yang sukses mengontrol ruhaninya pernah mengatakan, “Waspadalah terhadap dunia ini. Ia bagaikan ular yang begitu lembut sentuhannya, tapi begitu mematikan bisanya. Hati-hatilah dengan pesona dunia, karena ia bisa menjerat Anda.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s