Salma binti Khasafah; Sumbangsih Tersembunyi dalam Perang Qadisiyah

Telah tercatat nama Salma binti Khasafah yang mengikuti rangkaian pertempuran ekspansi  Islam pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab ra. Salma mengikuti suaminya, Mutsana bin Haritsah, memimpin perang di Qadisiyah (wilayah Irak) untuk menaklukkan Persia.

Dalam sebuah pertempuran, Mutsana terluka yang semakin parah hingga ia pun syahid. Sebelum wafat, Mutsana mengamanahi saudara laki-lakinya untuk menyampaikan pesan pada Sa’ad bin Abi Waqqash yang sedang membawa ribuan pasukan ke Qadisiyah. Pesannya berisi petunjuk tentang medan perang dan pesan untuk menjaga Salma.

Sa’ad yang masih berada di daerah Syaraf, dekat Qadisiyah, terharu menerima pesan itu. Menjalankan amanah, Sa’ad menikahi Salma seusai masa iddahnya untuk menjaga kehormatan dan keselamatan Salma di tengah suasana perang.

Menjelang Perang Qadisiyah berkecamuk, penyakit Sa’ad kambuh. Meski tak memimpin perang secara langsung, dari tempat tinggi Sa’ad mengawasi jalannya perang dan memberi komando. Salma mendampinginya.

Tak jauh dari situ, seorang prajurit tangguh, Abu Mihjan, dibelenggu untuk menjalani hukumannya karena kegemarannya pada khamar. Mengetahui perang tengah berlangsung, membuatnya pilu. Jauh-jauh ia datang ke Qadisiyah untuk berjuang, tapi malah tersandung kasus.

Ia kemudian melihat Salma dan memohon kepadanya untuk membebaskan dirinya. Ia ingin ikut berperang. Tentu saja Salma menolak.

Betapa sedih Abu Mihjan hingga ia mengucapkan bait-bait kalimat yang menyayat hati tentang nasibnya. Salma merasakan kesungguhan Abu Mihjan. Akhirnya ia membebaskan lelaki itu dengan perjanjian bila selamat, Abu Mihjan harus kembali ke tahanannya. Salma juga meminjamkannya sebilah pedang Sa’ad dan kuda Sa’ad.

Abu Mihjan melesat pergi ke kancah perang dengan penutup wajah agar tak dikenali. Di sana ia mengamuk dan mengobrak-abrik pertahanan pasukan Persia. Inilah titik kekalahan Persia di Qadisiyah. Semua orang, termasuk Sa’ad, mengagumi kepiawaian prajurit itu. Sa’ad seperti mengenalinya, juga pedang dan kudanya. Namun, Sa’ad tak yakin benar.

Selepas mematahkan lawan, Abu Mihjan bergegas kembali ke tahanannya memenuhi janjinya pada Salma. Mengembalikan pedang dan kuda Sa’ad, lalu membelenggu dirinya kembali.

Salma menceritakan kepada suaminya apa yang telah dilakukannya terhadap Abu Mihjan. Sa’ad lantas membebaskan Abu Mihjan karena jasanya untuk kemenangan kaum Muslimin. Dia pun bersumpah tak akan minum khamar lagi.

Adalah Salma perantara semua kebaikan itu. Keputusannya yang tepat membawa kemenangan kaum Muslimin. Untuk seterusnya ia mendampingi Sa’ad dan melahirkan anak-anaknya. Salma wafat pada 60 H, lima tahun setelah kematian suaminya.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s